Reportase Perjalanan: Menapaki Jejak Raja Ali Haji pada Prakonvensi HPN 2015

Posted on 16 Februari 2015. Filed under: Blogstop |

Tokoh Pers & Pengurus FBMM Pusat

Tribuana Said, Tarman Azzam, Nurul, TD Asmadi, Totok Suhardiyanto, Jajat Sudrajat

Seusai makan siang di rumah singgah

Rombongan pekerja media menuju Pulau Penyengat

Riwayat Pulau Penyengat

Apolo Lase, Nasrulah Nara, Wina Armada, Priyantono Umar, Tarman Azzam

Foto bersama di lobi hotel Harmoni One

Kompleks Makam

Masjid Raya Sultan Riau

Pekerja Media siap Prakonvensi

Pagi amat cerah. Rombongan siap berangkat pukul 6.11 dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Satu demi satu, Rita Sri Hastuti, Sekretaris Komisi Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan Linda Andriani, Sekretaris Forum Bahasa Media Massa (FBMM) bersama Winarti, Sekretaris PWI Pusat mendata kehadiran nama-nama penumpang yang hendak menuju ke Bandara Internasional Hang Nadim di Kepulauan Riau.

Kecerahan cuaca tidak mengubah jarak antara Jakarta dan Batam. Rombongan tiba di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) pukul 8.09 hanya sekitar dua jam waktu tempuh perjalanan udara dengan maskapai Garuda Indonesia. Seluruh penumpang selanjutnya menaiki bus yang menjemput rombongan menuju ke Harmoni One Hotel. Perjalanan darat dengan bus memuat 50 pekerja media yang tiba pukul 9.21. Hanya mencapai sekitar satu jam. Namun, ketika tiba di hotel, ternyata waktu masuk ke hotel, belum semua pekerja media dapat langsung mengisi kamar. Ada beberapa kamar berpenghuni menunggu batas waktu keluar hotel. Sebagian pekerja antarmedia yang belum mendapat kamar, lalu memanfaatkan waktu tunggu di lobi. Rombongan spontan mengisi waktu memotret sana-sini, entah bersama-sama entah ber-selfie. Selain mengurangi kepenatan juga dapat menjadi ajang silaturahim bagi pekerja antarmedia. Kreativitas menjadi kebiasaan bagi pekerja media yang tengah menunggu narasumber.

Jumat pagi (12/12/14) waktu menunjukkan pukul 10.33. Ketika rombongan mulai memasuki ruang besar (ballroom) untuk mengikuti Prakonvensi Bahasa Media bertema “Bahasa Melayu untuk Indonesia yang Bahari dan Baharu”. Tiba di ruang besar lebih awal kebanyakan yang hadir jauh lebih siap warga Batam sendiri. Turut  bergabung dengan “tuan rumah” mulai dari pengajar, pakar bahasa, pemerhati atau pencinta bahasa, akademisi, wartawan hingga redaktur bahasa media massa di Tanah Air.

Ketua PWI Kepri, Ramon Damora pukul 10.35 menyampaikan peringatan Hari Pers Nasional 2015 dengan tekad mengembalikan bahasa Indonesia sebagai bahasa sesungguhnya. “Bahasa Indonesia merupakan bahasa Melayu,” kata Ramon Damora dalam sambutannya dan menambahkan, “Kita ingin menawarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa baik. Karena banyak saat ini bahasa Indonesia sudah tidak sesuai lagi.”

Rombongan prakonvensi berjumlah 50 pekerja media meliputi peserta FBMM (pengurus pusat dan 21 pengurus cabang) plus pengurus PWI dan peserta lain, seperti guru-guru, pemerhati bahasa, tokoh Pulau Penyengat, tokoh Kepri, serta pejabat kebahasaan dan kebudayaan.

Tentang istilah bahari sarat makna dengan kekayaan ikan, ibaratnya tiada habis-habisnya memberi makan pada penghidupan masyarakat di Kepulauan Riau. “Bahasa Melayu Indonesia yang Bahari dan Baharu” mencerminkan kemakmuran dan kesejahteraan penduduk. Laut sebagai pergulatan hidup masyarakat di sekitar Kepulauan Riau guna menyambung kehidupan.

Tentang pilihan tema itu, Ramon Damora melanjutkan, tujuannya melihat dan membuka mata masyarakat bahwa bahasa Melayu sangat kaya. Bahkan dengan mudah bisa menjangkau isu-isu kemaritiman dan kesiapan menyambut Masyarakat Ekonomi Asia. “Bahasa Melayu juga sudah pernah digulirkan isunya sebagai cikal bakal bahasa Asia, hanya saja belum ditemukan bentuk yang pas. Pada prakonvensi bahasa Melayu yang ditaja, pendekar-pendekar bahasa menggali dan mendedah serta menelaah ranah bahasa Melayu tidak hanya dalam konteks sejarah, tetapi juga aplikasinya di masa kini,” ujar Ramon Damora yang juga Ketua Panitia Pelaksana Daerah HPN 2015 sambil menambahkan, “Tidak hanya membahas bahasa Melayu, dalam prakonvensi juga diumumkan sayembara jurnalistik SITI Award (Silaturahmi Hati) memperebutkan hadiah puluhan juta rupiah.”

Tarman Azzam, Ketua Dewan Penasihat PWI Pusat menyampaikan sambutan pukul 10.46. Pada tahun 2007 saat menghadiri Konfederasi Wartawan ASEAN di Bangkok, katanya, pihak Thailand sebagai tuan rumah menekankan pentingnya persatuan ASEAN. “Tapi ketika menyangkut soal bahasa, mereka sangat hati-hati. Tidak ada rumusan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu ASEAN.”

Tentang MEA yang dimulai pada akhir 2015, Tarman Azzam menggarisbawahi persoalan bahasa nyaris tidak disinggung oleh para penguasa ASEAN ketika menyepakati MEA. “Konsep tentang bahasa tertinggal,” tegasnya.

Dalam sambutan Prakonvensi Bahasa pukul 11.16, H. Muhammad Sani, Gubernur Kepri melantunkan Gurindam Pasal Kelima.

Jika hendak mengenal orang berbangsa

Lihat kepada budi dan bahasa

 

Jika hendak mengenal orang mulia

Lihatlah kepada kelakuan dia

 

Jika hendak mengenal orang yang berilmu

Bertanya dan belajar tiadalah jemu

 

Jika hendak mengenal orang yang berakal

Di dalam dunia mengambil bekal

 

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai

Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

 

Hadirin terhibur dengan lantunan gubernur. Seakan-akan Raja Ali Haji yang mengingatkan pada makna pengembangan bahasa Indonesia. Gubernur menyampaikan gurindam kelima sarat makna penuh perasaan amat santun. Kata sambutan gubernur bertajuk “Hubungan Antara Bahasa Melayu Kepulauan Riau dan Bahasa Indonesia” (12/12/14).

Gubernur Kepri menegaskan, Raja Ali Haji membina bahasa Melayu Kepulauan Riau menjadi bahasa Melayu Tinggi atau bahasa baku. Kemudian menjadi bahasa Nasional dengan sebutan bahasa Indonesia. “Gus Dur pun mempertegas asal bahasa Indonesia dari bahasa Melayu Kepulauan Riau yang dibina dan dikembangkan oleh Raja Ali Haji dan dijadikan pemersatu bangsa Indonesia,” ujarnya.

Pemerintah Republik Indonesia mengapresiasi jasa Raja Ali Haji dalam mempersatukan bangsa dan menciptakan bahasa Nasional. “Tanpa jasa beliau itu, kita belum tentu menjadi bangsa yang kokoh seperti sekarang ini,” kata gubernur mengutip Gus Dur saat membuka Temu Akbar I Thariqat Mu’tabarah se-Sumatera di Masjid Agung Annur, Pekanbaru (29/4/2000).

Mohammad Hatta, Proklamator Kemerdekaan Indonesia dan Wakil Presiden Pertama, kata Gubernur juga menegaskan, Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Kepulauan Riau dialek Pulau Penyengat. Di Pelangi (1979), lanjut gubernur, Bung Hatta menulis bahwa pada permulaan abad ke-20 bahasa Indonesia belum dikenal. Yang dikenal sebagai lingua franca ialah bahasa Melayu Riau. Orang Belanda menyebut Riouw Maleisch. Bahasa itu berasal dari logat sebuah pulau kecil yang bernama Pulau Penyengat dalam lingkungan Pulau Riau.

Karena bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Kepulauan Riau, tak ada perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Melayu (Kepri). Hal itu ditegaskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana melalui majalah Pujangga Baru (1933). “Malaysia sendiri bahkan sudah mendukung kalau bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Melayu mana? Itu Melayu Kepri di sebuah pulau kecil, yaitu Pulau Penyengat,” ungkap gubernur.

Demikian H. Muhammad Sani, Gubernur Kepulauan Riau dalam kata sambutan “Prakonvensi Bahasa” .

Seusai pembacaan doa, ishoma atau salat Jumat, pukul 13.35 dimulai diskusi sesi pertama. Pembicara pakar bahasa Melayu dari Jakarta, Riau dan Pulau Penyengat. Tampil sebagai pembicara linguis dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Dr. Totok Suhardiyanto bertopik ”Bahasa Melayu sebagai Bahasa ASEAN”. Kemudian Abdul Malik, budayawan dan cendekiawan Melayu (Kepri) membahas topik ”Bahasa Melayu Kepulauan Riau sebagai Asal Muasal Bahasa Indonesia: Mencari, Sekaligus Menciri Bukti”. Moderator Rita Sri Hastuti.

Kapan tepatnya bahasa Melayu dikenal di muka bumi ini, menurut Abdul Malik, bahasa Melayu diperkirakan sudah ada sejak 4000 tahun silam. Hal itu didasari oleh kenyataan pada abad ketujuh (Sriwijaya), bahasa Melayu mencapai kejayaan. ”Ini ‘kan menjadi jelas bahwa tak ada bahasa di dunia ini yang dapat berjaya secara tiba-tiba tanpa melalui perkembangan tahap demi tahap,” ujarnya.

Abdul Malik memaparkan sejarah perjalanan dan perkembangan bahasa Melayu dari masa ke masa. Dari bahasa Melayu zaman Sriwijaya (633) hingga persiapan bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional, bahasa pemersatu bangsa. “Penyebaran bahasa Melayu yang telah terjadi berabad-abad karena salah satunya kesederhanaan susunan dan sedap bunyinya. Tidak ada bunyi yang sulit diucapkan oleh orang asing,” tutur dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji itu seraya menambahkan, “Tetapi patut pula kita akui, pembinaan yang intensif yang dilakukan oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawan ketika di Kerajaan Riau-Lingga sejak abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20 yang memungkinkan bahasa Melayu terpelihara dengan baku, yang kemudian disebut Bahasa Melayu Tinggi. Bahasa Melayu inilah yang pada Kongres I Pemuda Indonesia 2 Mei 1926 diberi nama baru, dan pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1982 dikukuhkan sebagai bahasa Nasional.”

Pada masa kecil pernah hampir lima tahun tinggal di Tanjungpinang, demikian Dr. Totok Suhardiyanto, Ph.D. yang mewacanakan mungkinkah bahasa Melayu sebagai bahasa antara bangsa? Linguis Universitas Indonesia ini menyebutkan bahasa Melayu memiliki ketahanan yang luar biasa. Maka kedudukannya sebagai bahasa lingua franca tidak pernah bergeser. Hanya saja untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa antara bangsa, berbagai tantangan muncul, di antaranya persaingan dengan bahasa Inggris, perbedaan etno-linguistik di antara suku bangsa di Asia Tenggara, persoalan sejarah dan politik dalam negeri dan atau kawasan, persoalan ekonomi di kawasan dan dalam negeri, bahkan pengaruh bahasa slang atau dialek Jakarta.

“Ada pekerjaan besar yang kemudian harus dilakukan untuk menjawab tantangan itu. Misalnya, mendorong terus dan menambah intensitas kerja sama kebahasaan, kesusasteraan dan kependidikan di antara negara-negara berbahasa Melayu, mendirikan pusat-pusat kajian Melayu di negara-negara ASEAN, dan berupaya menyatukan dunia Melayu yang ada di kawasan Asia,” kata Totok.

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 hanya tinggal selemparan batu. Saat itulah negara-negara di Asia Tenggara seolah tak bersepakat karena memiliki pasar tunggal yang membuka arus perdagangan jasa, barang dan tenaga kerja. Pertanyaannya, mungkinkah bahasa Indonesia yang digunakan mayoritas penduduk di ASEAN menjadi bahasa pengantar di kawasan ini? Pakar bahasa dari Universitas Indonesia itu mewacanakan kemungkinan prestisius ini. “Saya yakin potensinya ada,” ujarnya.

Pertimbangan yang mendasari berkiblat pada besarnya pengguna bahasa Melayu, sebagai cikal bakal bahasa Indonesia. Secara sosial ekonomi jumlah penutur aktif dan pasif bahasa Melayu sekitar 268 juta atau 40% persen dari populasi di ASEAN. Jumlah penutur Melayu tersebar di lebih dari 50 persen wilayah Asia Tenggara, termasuk Kepulauan Kokos (Keeling), Pulau Chrismas, Andaman, Srilanka, dan banyak lagi, selain Indonesia dan Malaysia. “Apalagi GNP negara dengan bahasa kebangsaan bahasa Melayu mendominasi lebih kurang 50 persen dari total GNP Asia Tenggara,” ujarnya.

Menurut Totok, ada juga potensi kultural yang memungkinkan bahasa Melayu yang di negara kita berkembang menjadi bahasa Indonesia bergerak sebagai bahasa paling berpengaruh di ASEAN. Pertama, bahasa Melayu menjadi lingua franca di sebagian wilayah Asia Tenggara lebih dari 1000 tahun. Kedua, fonologi dan struktur gramatikal bahasa Melayu yang mudah. Ketiga, semakin banyaknya peminat dan pembelajar bahasa Indonesia.

“Namun tidak bisa dimungkiri menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di ASEAN bukan perkara mudah. Hal ini karena bahasa kita memakai nama negara, yaitu bahasa Indonesia, yang tentunya tidak setiap negara tetangga bersedia menerimanya karena ego kebanggaan kepada bangsanya sendiri. Beda dengan bahasa Inggris yang disebut English, alias tidak memakai nama negara asalnya, yaitu British atau United Kingdom. Karena itulah bahasa tersebut bisa diterima di banyak negara Barat dan belahan bumi lainnya,” tutur Totok, peneliti bahasa seraya mempertanyakan, “adanya hambatan ego kebangsaan, apa solusinya? Kita bisa mengakali dengan strategi budaya.”

Inspirasinya bersumber dari Korsel yang kini berpengaruh kuat karena terobosan budaya lewat drama dan musik (K-Pop). Strategi ini, kata Totok membuat banyak anak muda tertarik mengenal Korsel lebih dalam dan bahasa Korea menjadi bahasa yang sangat diminati. “Masyarakat Indonesia yang harus lebih dulu masuk lewat budaya. Jika virus budaya Indonesia sudah menyebar, maka pemerintah mau tidak mau akan turun tangan untuk menyokong. Saya rasa lewat kebudayaan adalah strategi yang paling cocok,” ujarnya.

Pada bagian lain, Totok menyambut baik kebijakan pemerintah menerapkan Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI) saat MEA diberlakukan. “Nanti setiap tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia harus mengikuti uji itu,” kata Totok dengan menggarisbawahi UKBI selain melindungi tenaga kerja dalam negeri, juga menempatkan bahasa Indonesia sebagai tuan di negeri sendiri.

Pukul 15.05 seusai pertunjukan kesenian dan rehat kopi, acara dilanjutkan pukul 15.20 dengan diskusi sesi kedua. Novelis, esais dan kolumnis sepak bola, Zen R.S. dari Jawa Barat menyampaikan topik “Bahasa Melayu, yang Sungkan dalam Sukan”. Ketua FBMM Pusat, Tahir Djawahir Asmadi bertopik “Menyorot Peran Media Massa dalam Memartabatkan, Memperkasakan, juga Merawat Bahasa Melayu dari Gempuran Bahasa Asing”. Budayawan dan sastrawan Riau, budayawan asli Melayu, yang lahir dan besar di tanah Melayu, mantan wartawan harian Kompas, Taufik Ikram Jamil bertopik ”69 Tahun Indonesia: Bahasa Melayu Ditusuk dari Belakang?” Seniman dan penyair Riau, Marhalim Zaini bertopik ”Bahasa Melayu dan Tradisi Sastra Maritim”. Moderator, Ramon Damora, Ketua PWI Kepri.

Harapan untuk mengembalikan kegemilangan dan kemuliaan bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia serta untuk menangani lintang pukang dan pembantaian bahasa Indonesia hari ini, menurut Taufik Ikram Jamil adalah jurnalistik. “Jika kita mengakui jurnalistik pilar keempat dari demokrasi, maka harapan keberlangsungan bahasa Melayu tergantung dari media massa sebab diyakini sekali hari ini, jurnalistik bisa mencerahkan dan melakukan apa yang tidak terbayangkan sebelumnya,” kata budayawan Riau ini.

“Dan kita melihat hal itu, makanya saya punya harapan. Tetapi harapan harus juga dibarengi dengan usaha dan upaya. Artinya, ketika media massa harus bertempur pula dengan kapitalisme apakah kemudian mereka juga dalam waktu yang sama memikirkan bahasa. Sebab begini, kecenderungan media massa saat ini yang saya tangkap adalah mengadopsi bahasa pasar. Tidak lagi seperti di zaman reformasi, sebagai bahasa aksi. Tapi saat ini hanya bahasa respons sehingga banyak bahasa pasar yang  diangkat ke bahasa media,” ucap seniman asal Riau sambil mencontohkan “kata seronok yang pada hari ini menjadi bermakna atau berbau pornografi yang jelas-jelas telah lepas dari makna sebenarnya.”

Sementara itu, Marhalim Zaini menegaskan, justru tempat menggantungkan harapan atas keberlangsungan dan pembinaan bahasa Melayu itu kepada karya sastra. Hal itu sudah terbukti dalam sejarah dengan beberapa tokoh yang berperan penting di dalamnya. Terlebih lagi menurut penyair asal Riau itu, semua tulisan adalah sastra, adalah berita.

“Kandungan isi karya sastra tertulis yang mengandung pesan-pesan, informasi, nasihat, mitos, sejarah, adat-tradisi, alam, nilai-nilai, seni adalah informasi atau berita tentang realitas sosial-budaya masyarakat. Maka terlepas dari bagaimana sejarah jurnalistik Melayu berjalan dengan caranya sendiri sampai masuk ke zaman percetakan, saya melihat dari perspektif kesusastraan dan dunia keberaksaraan Melayu, bahwa antara sastra dan berita, fakta dan fiksi, sejarah dan mitos, sampai kini pun tidak benar-benar dapat terurai dengan sempurna. Bahkan ketika sebuah media menerapkan istilah jurnalisme sastra atau sastra jurnalistik sesungguhnya tengah “mengembalikan” makna awal dari dunia keberaksaraan kita,” tutur seniman dan penyair Riau ini.

Pembicara dari Jawa Barat, Zen R.S. memandang pembantaian bahasa Melayu dari perspektif bahasa media, terutama di berita olahraga. “Tantangan serius yang dihadapi bahasa Melayu salah satunya adalah berita sepakbola, yang merupakan medan pembantaian bahasa Melayu karena banyak bahasa istilah-istilah yang masuk hanya dicomotkan begitu saja, tanpa ada filter. Diperparah lagi, kemunculan media baru yang menempatkan otoritas sepenuhnya kepada si pemilik, misalnya media sosial. Perkembangan istilah-istilah digital yang juga merupakan momok bagi bahasa Melayu,” jelas esais tersebut.

Sejalan dengan pemikiran Taufik Ikram Jamil, Ketua Yayasan Sagang, Kazzaini Ks pada kesempatan itu menyatakan, media sebagai salah satu tempat untuk mengawal “pembantaian” bahasa Melayu yang terjadi hari ini. Tampak seperti ada ketidakikhlasan segelintir orang untuk mengakui bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Padahal, sesungguhnya sejarah telah mencatat hal itu.

Media sangat berperan untuk mengawal “kezaliman” bahasa Melayu yang sedang terjadi. Ketika menjabat sebagai redaktur di Riau Pos, Kazzaini Ks selalu mengadakan pelatihan-pelatihan kepada wartawan terkait dengan bagaimana menjaga dan meningkatkan kepedulian terhadap penggunaan bahasa. Bahkan ada standar untuk pemilihan dalam penggunaan kata-kata. “Ini menurut saya penting seperti acara seminar ini. Kepedulian terhadap bahasa agar dapat menghindari serbuan-serbuan dari bahasa asing dan menjaga kokohnya bahasa Indonesia, bahasa Melayu yang seharusnya menjadi tempat kembali. Diibaratkan rumah, bahasa Melayu menjadi tempat kembali dari segala penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, menjadi tempat rujukan kembali,” ucap Ketua Dewan Kesenian Riau.

Jumat petang pukul 17.00 acara Prakonvensi Bahasa Media selesai. Kemudian Sabtu pagi (13/12/14) pukul 7.00 rombongan menikmati sarapan di Bamboe Cafe and Restaurant. Pagi itu amat cerah. Rombongan mengikuti perjalanan budaya. Mentari pagi menghangatkan perjalanan rombongan budaya berjuluk “Madrasah Samudera: Belajar dan Berlayar”. Berangkat dari Harmoni One Hotel menuju ke pelabuhan di pantai timur pulau Batam,

Lima puluhan pekerja media Sabtu (13/12/14) siang itu menapaki jejak sejarah peradaban Melayu. Menempuh perjalanan kira-kira satu setengah jam dari Batam untuk tiba di Pulau Penyengat. Perjalanan laut transit di dermaga Telagapunggur. Rombongan menggunakan kapal besar armada laut Baruna Jaya. Tiba di tempat transit, rombongan berpindah menaiki tiga kapal kecil. Berangkat bersama dengan sejumlah 50 pekerja media pengurus FBMM, PWI, dan pekerja media lain. Rombongan siap sejak pukul 8.00, kemudian menuju ke pelabuhan Telagapunggur tiba pukul 9.36.

Sejarawan Kepulauan Riau, Aswandi Syahri menjadi pemandu perjalanan. Sepanjang perjalanan, rombongan kerap berdiskusi, berdialog, dan bergerak ke sana kemari mencari dan membidik pose terbaik dari atas kapal. Selama perjalanan budaya, semarak biru putih awan berarak mulai terasa penat. Awan di angkasa melingkupi perjalanan di kaki langit dari dermaga Telagapunggur. Langit cerah mengantar rombongan dengan kapal yang digerakkan oleh generator kecil. Kata awak kapal, perjalanan siang ini menyengat kulit karena tujuannya ke Pulau Penyengat. Itu menyenangkan karena angin laut mengurangi sengatan. Rombongan pun menyusuri pulau dan sungai dengan kapal kecil.

Mula-mula naik kapal kecil berkapasitas maksimal lima belas penumpang menyenangkan juga. Namun, lama-kelamaan terasa membosankan. Pemandu perjalanan terus berusaha menyampaikan daya tarik Pulau Penyengat. Rombongan pun berdialog memanfaatkan setiap informasi, selain untuk mengusir rasa bosan juga menuliskan tiap informasi yang berguna bagi medianya.

Selama perjalanan pemandu menjelaskan panjang-lebar perihal keadaan, kebijaksanaan, dan tujuan ke Pulau Penyengat dan Sungai Carang. Bungkusan kuliner berisi nasi campur ikan khas Pulau Penyengat ikut menemani dan mengisi perut. Makanan dan minuman disajikan di atas kapal sehingga rombongan mampu melanjutkan dan menikmati perjalanan dengan energi baru. Udara yang menyengat dengan semilir angin laut membuat perut rombongan memang cepat lapar.

Tiba di Pulau Penyengat, Rita Sri Hastuti, yang juga Ketua II FBMM, bersama T.D. Asmadi dan pekerja media lain menuju ke kompleks makam Raja Hamidah (Engku Puteri, 12/7/1844), Pemegang Regalia Kerajaan dan Permaisuri Sultan Mahmudshah III, Riau, Lingga (1760—1812). Di lokasi itu juga dimakamkan Raja Ahmad selaku Penasihat Kerajaan, Raja Ali Haji selaku Pujangga Kerajaan, Raja Abdullah YDM Riau Lingga IX dan Raja Aisyah, Permaisuri.

Sebelum memasuki area kompleks makam, rombongan mampir ke rumah singgah sekadar mengisi perut. Penganan disediakan per kelompok untuk empat orang. Rumah singgah ini berjarak sekitar 200 meter dari kompleks makam. Waktu menunjukkan pukul 11.00. Namun, sebagian pekerja media menjalani salat, sebelum menyantap hidangan istimewa di Pulau Penyengat.

Kompleks makam merupakan bangunan bersejarah. Dinding makam bernuansa kuning-biru. Setiap makam berbatu nisan, berpenutup kain kuning, dan berpengikat cungkup nisan. Uksu Suhardi, Redaktur Bahasa Tempo sejenak terpatri. Ia segan beranjak menjauh dari dinding Gurindam 12. Tampak cermat mengamati bait per bait, gurindam demi gurindam. Suasana hening, khusyuk. Lalu ia beranjak sejenak menuju ke ruang makam Raja Hamidah. Bergeser sedikit, ia melanjutkan membaca khidmat karya Raja Ali Haji. Hanya sebentar-sebentar ia melafalkan gurindam kesatu, kedua, hingga kedua belas.

Rombongan tim prakonvensi masing-masing asyik mencermati setiap uraian pemandu. Seusai mengitari teks gurindam sebagai bacaan yang menyentuh hati sanubari terdalam, kemudian Mohammad Nasir, Sekretaris Redaksi Kompas didaulat oleh rombongan untuk memimpin doa. “Pak Kiai” demikian ia kerap dijuluki tengah menikmati jejak langkah Gurindam 12. Doa dikumandangkan di hadapan makam Raja Hamidah. Doa pun dilafazkan bersama-sama menambah kedalaman relung hati secara khidmat.

“Inilah Gurindam Dua Belas” mengungkap persimpanan yang indah-indah sebagai ilmu yang memberi faedah. Raja Ali Haji (1808—1873), pengarang Gurindam Dua Belas hendak bertutur akan gurindam yang beratur. Demikian bunyi teks yang diterakan di dinding kompleks makam tempat Raja Hamidah itu dikubur.

Perjalanan laut menuju ke pelabuhan Sri Bintan Pura; pelabuhan yang menghubungkan kota Tanjungpinang dengan pelabuhan-pelabuhan di sebelah utara kepulauan di sebelah barat. Berangkat pukul 11.08 sampai di Senggarang pukul 12.06; desa kecil di Pulau Bintan, dengan penghuni lebih banyak oleh etnis Tionghoa. Tempat ini memiliki berbagai vihara dan patung Buddha. Selain itu, Senggarang mempunyai banyak makanan khas, seperti He Moi (Bubur Udang), He Kuei (Kue Udang), Shua He Pia (Gorengan Hiu). Rombongan menyusuri Pulau Penyengat, tiba pukul 14.17. Lalu pukul 15.20 kembali ke Pelabuhan Sri Bintan Pura. Pukul 10.00 sampai pukul 13.00 melanjutkan perjalanan laut sampai ke Sungai Carang.

Sabtu 13/12 rombongan menikmati makan malam di Yong Kee Istimewa Souf Seafood pukul 19.19. Kemudian Ahad 14/12 pukul 15.21 rombongan bermigrasi dari Harmoni One Hotel ke Ggi Hotel.

***

Selain acara seminar, pada malam harinya, rombongan yang terdiri atas para pendekar bahasa, wartawan, sastrawan membacakan puisi dalam helat yang diberi tajuk Hempasan Puisi Para Munsy yang diselenggarakan di De’Patros Café.

Sabtu (13/12/14) malam datang. Pukul 19.30 setelah hampir delapan jam menapaki kompleks makam Raja Ali Haji, rombongan dari Harmoni One Hotel berangkat ke Harbour Bay, Batam. Rombongan siap menghadiri jamuan makan malam yang dipersembahkan pada “Hempasan Puisi Para Munsyi Sempena Prakonvensi Bahasa Melayu Menyambut Hari Pers Nasional 2015” di De Patros Cafe bersama Walikota Kepri. Saat-saat menikmati makan malam merupakan saat yang menyenangkan. Namun, tiba-tiba blackberry messenger Linda Andriani menyampaikan pesan dari Ketua FBMM Pusat, “Teman-teman pada kemana Lin?” Mendadak si penerima pesan kaget karena menyangka T.D. Asmadi juga berada di dalam bus yang menuju ke Harbour Bay. Rupanya ia tertinggal karena tertidur pulas bersama mimpi.

Lokasi cafe di pinggir pantai dengan sajian musik menampilkan parade sajak para penyair dengan hempasan puisi. Pukul 20.43 Rita Sri Hastuti, penyair wanita turut menyumbangkan puisi bergantian dengan penyair dan budayawan Kepri. Ramon Damora, Ketua PWI Kepri memandu jamuan makan malam dengan pembacaan puisi persembahan peserta dan pembicara Prakonvensi Hari Pers Nasional.

Wali Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Ahmad Dahlan memberikan buku “Sejarah Melayu” yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Buku 400 halaman ini menambah rujukan sejarah Melayu. “Saya menulis buku ini waktu menjadi staf Badan Otorita Batam. Sebelum 1998, kesulitan saya menemukan nama-nama pahlawan Melayu. Padahal, B.J. Habibie mantan Kepala Badan Otorita Batam perlu memberi nama jembatan yang akan diresmikan di Batam,” kata Ahmad Dahlan sebelum memberikan buku karyanya kepada empat tokoh pers dan budaya dalam jamuan makan malam pukul 21.30.

Sunyi senyap keadaan di sekeliling Harmoni One Hotel tempat rombongan beristirahat. Keheningan malam seakan-akan mengantar rombongan jatuh tertidur di kamar hotel, lalu menidurkan diri dalam ketenteraman bersama mimpi. Namun, Uksu Suhardi merangsek ke kamar hotel hendak menawarkan diri sambil menyebut makanan durian sebagai daya tarik. Hermawan Aksan, Wartawan Tribunnews Jawa Barat menolak tawaran mencari durian. Ia lebih memilih meneruskan istirahat di kamar, sementara Linda Andriani, Sekretaris FBMM Pusat enggan meneruskan perjalanan pada malam Jumat itu.

Tengah malam Sabtu (13/12/14) di Sungai Panas (Sei Panas), akhirnya Uksu Suhardi, Djony Herfan, Totok Suhardiyanto, dan Rudi Kurniawan Sabri Adjar, wirausahawan  dari Riau, pukul 23.59 menikmati durian dan mangga. Pukul 00.16 menuju Nagoya, kawasan jantung kota Batam yang dikelilingi hotel, perkantoran, perbankan, rumah sakit, dan terminal feri bermoto “One Stop Shopping and Fun”.

Kesenyapan malam mengantar rombongan kembali ke Jakarta, Ahad (14/12/14) seraya membawa harapan Gubernur Kepri, “Bahasa Melayu tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk masyarakat ASEAN.” Bertolak ke Hang Nadim pada Ahad 14/12 pukul 6.18, rombongan berangkat dengan Garuda Indonesia pukul 7.02. Kemudian tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 9.26. Prakonvensi bahasa media pun berakhir.

Terima kasih kepada PWI yang menjadikan bahasa Melayu sebagai materi prakonvensi, demikian gubernur dalam sambutannya. Hasil prakonvensi dipersiapkan untuk konvensi bahasa dengan melibatkan beberapa negara lain. Menurut Gubernur, H.M. Sani tujuannya untuk memperkuat eksistensi bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. “Khusus bahasa perlu jadi prioritas. Bahasa Melayu tidak hanya dalam konteks pengembangan pariwisata, yang berkaitan dengan kemaritimandan Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA,” kata gubernur.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: