Saya Tergoda Pesona Kota Tua

Posted on 6 November 2012. Filed under: Apa&Siapa |

Feature Sejarah dan Budaya

Sudah sering saya melewati kawasan Kota Tua, baik remaja maupun setua ini. Namun, saya tidak begitu tertarik terhadap Kota Tua. Kata pepatah lama, tak kenal maka tak sayang, terbukti membuat saya tertarik pada bangunan yang terletak di sebelah gedung lama Bank Negara Indonesia 1946. Saya jadi tergoda menyusuri kawasan Kota Tua. Mengapa saya tergoda pada pesona Kota Tua?

image

Pemanggilan ingatan yang telah lalu membuat saya datang ke Kota Tua. Seolah-olah kedatangan saya menunjukkan tingkat kepedulian tinggi pada sejarah dan budaya Kota Tua. Apalagi bangunan Kota Tua semakin dipercantik, dipoles dan dibenahi di sana-sini. Kepedulian saya menimbulkan partisipasi untuk ikut menyemarakkan aneka kegiatan di Kota Tua. Dari sudut-sudut kota tampak bermacam-macam kegiatan dengan pergelaran yang mengundang massa untuk meninjau peninggalan bangunan bersejarah. Pesonanya kian menggoda.

image

Kunjungan ke Kota Tua membuat saya tertarik pada bangunan di sekitarnya. Saya tidak perlu mengkhawatirkan lagi bahwa bangunan tua bersejarah dengan kebudayaan bernilai tinggi di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, pamornya kian memudar. Pemanggilan diri pada ingatan berpuluh tahun yang lalu menggali lagi kecintaan saya pada sejarah dan budaya.

Bangunan Kota Tua ditentukan dari sejarah dan budaya setempat. Konon mustahil membangun Indonesia manakala pejabat setempat tidak mengerti sejarah dan budaya Kota Tua. Meski demikian, intensitas kepedulian Pemerintah DKI dapat mengangkat dan mengabadikan bangunan Kota Tua. Bangunan kantor pos “Pos Indonesia” di depan Museum Fatahillah, misalnya konon bekas penjara Hindia Belanda. Menarik dan pesonanya kian menggoda. Fisik bangunan tampak kokoh. Memiliki keindahan arsitektur dengan rancangan bangunan tahan gempa.

Daya pesona Kota Tua kelihatan juga pada bangunan yang memiliki penjara bawah tanah di halaman Museum Sejarah. Ketika saya berwisata sejarah mengunjungi museum-museum yang terdapat di Kota Tua Jakarta terasa menjadi kenangan tersendiri. Sepanjang perjalanan yang menarik justru bukan hanya pada bangunan fisik, melainkan juga pada kesan sekian lama mengendap terpatri dalam benak bahwa bepergian ke museum sejarah otomatis memanggil kembali ingatan berpuluh tahun lalu. Nilai sejarah dan budayanya begitu memesona. Selain itu, mengunjungi bangunan bersejarah menjadi penting untuk mengetahui kondisi Jakarta.

Tentang biaya yang saya keluarkan untuk ke Kota Tua relatif sedikit. Apalagi perjalanan ke kawasan Kota Tua semakin dimudahkan dengan tersedianya berbagai jenis angkutan umum. Meski demikian, kemacetan lalu lintas membuat perjalanan agak tersendat. Jarak tempuh kawasan Serpong dari Bumi Serpong Damai (BSD City) menuju ke kawasan Kota Tua, Jakarta Pusat mencapai 60 menit dengan bus Trans BSD. Tingkat kepadatan kendaraan yang agak lengang membuat akses ke Kota Tua agak lancar. Boleh jadi pada jam kerja berbeda dengan mengalami kemacetan luarbiasa. Kalau mau bebas macet saya dapat mengunjungi Kota Tua pada hari Minggu. Hari Senin sejak dahulu sampai sekarang, menurut Nurdin, penjaja jasa sewaan sepeda Ontel Kota Tua tidak pernah dibuka untuk umum. Semua museum ditutup. “Saya enggak tahu kenapa ditutup hari Senin,” ujar Nurdin sembari menambahkan, “Emang dari sononya sejak dulu begitu.”

Model remaja bergaya

image image image

Variasi pengunjung Kota Tua memberi daya tarik yang menghibur. Unsur hiburan terpenuhi saat area publik menjadi ajang aktivitas kreativitas komunitas pehobi dan pencinta Kota Tua. Aktivitas fotografer dan model, misalnya menambah eksotisme pesona Kota Tua. Banyak fotografer memanfaatkan Kota Tua sebagai latar belakang.

Saya pun tergoda ikut memotret dan mengabadikan model remaja dari Kota Tua. Gaya remaja ini menimbulkan kesan malu-malu. Hasil pemotretan justru jadi menarik dan tampak wajar. Kepribadian atau karakter model remaja malahan kian kuat memancar keluar, apalagi ketika para model bergaya dengan memanfaatkan Kota Tua sebagai latar belakang.

Penghuni tetap di Kota Tua tak lepas dari keunikan sepeda Ontel. Menurut Kardi, penjaja sepeda Ontel, ada kesan bahwa kebanyakan pengunjung datang lantaran bosan dengan maraknya swalayan, mal, ruko, dan pusat perdagangan. Jadi, mereka lebih tertarik ke museum. Penjaja jasa sepeda ontel, seperti Kardi kerap bekerja sama dengan pencinta sejarah dan budaya Kota Tua. Kalau ada event sepeda Ontel Kardi jadi laris yang menghiasi pesona Kota Tua.

Eksotisme Sepeda Ontel

Ada perbedaan latar belakang pendidikan dan pengalaman dari karakteristik pengunjung. Heterogenitas pengunjung, misalnya justru menambah daya pesona. Jenis pengunjung Kota Tua, ada yang datang sendiri, ada berpasangan suami-istri, ada juga sepasang kekasih, dan ada yang datang sekeluarga. Mereka berkumpul jadi satu untuk menikmati pesona Kota Tua.

Homogenitas pengunjung tampak juga pada komunitas fotografi, pencinta sejarah dan budaya, serta forum kajian. Komunitas ini selalu datang dalam jumlah agak besar dan rombongan.

image

Persinggahan pertama saya dari depan Taman Fatahillah, kemudian dilanjutkan dengan melewati Museum Wayang. Wayang secara etimologi berasal dari kata bayang-bayang. Awalnya, wayang digunakan untuk melakukan komunikasi dengan roh leluhur atau nenek moyang. Perantaranya disebut dalang. Namun, berkembang menjadi sebuah sarana hiburan, pendidikan, media informasi dan ajaran moral.

image

Museum Wayang dinobatkan terbaik di Indonesia oleh salah satu majalah terkenal. Tampil di dalam museum ini koleksi wayang kulit dan wayang golek, selain juga memamerkan wayang-wayang luar negeri. Tarif masuk untuk dewasa Rp2.000,00,- mahasiswa Rp1.000,00,- anak-anak Rp600,00,- Selasa—Minggu, pukul 9.00–15.00 WIB. Senin dan Hari Besar ditutup, telepon 021 6929560/6927289.

image

Museum Wayang berlokasi di kawasan Kota Tua Batavia. Satu area dengan Museum Fatahillah (di sebelah kiri), berdekatan dengan Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri dan Museum Keramik. Museum ini menyimpan koleksi wayang dari daerah-daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera dan juga luar negeri, antara lain Malaysia, Suriname, Kelantan, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggis, Amerika dan Thailand. Jumlah koleksi sekitar 5.147 wayang yang diperoleh dari pembelian, hibah, sumbangan dan titipan.

image

Dibangun pada 1640 dan dinamakan De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Tua Belanda). Tahun 1732 gedung ini diperbaiki dan berganti nama menjadi De Nieuwe Hollandsche Kerk (Gereja Baru Belanda). Gedung ini diresmikan menjadi Museum Wayang pada 13 Agustus 1975. Museum Wayang di kawasan Kota Tua diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, H. Ali Sadikin. Museum ini sebelumnya disebut Museum Batavia yang dibuka pada 1939 oleh Gubernur Jenderal Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Dibangun pada 1912 bergaya Neo Renaissance. Pada 1938 dipugar dan disesuaikan oleh pemerintah dengan gaya rumah Belanda. Gedung ini bukan merupakan bekas gedung gereja Belanda, karena gedung gereja sudah runtuh akibat gempa. Namun, berdiri di atas tanah bekas Gereja Belanda Baru atau Nieuwe Hollandse Kerk (1736) dan Gereja Belanda Lama atau Oude Hollandse Kerk (1640–1732).

image

Saat memasuki gedung museum, saya menerima sambutan sepasang Ondel-Ondel (kesenian tradisional Betawi). Selain wayang, seluruh perlengkapan seputar perwayangan juga dipajang di museum ini. Mulai dari alat penerangan untuk wayang kulit, untuk membuat bayangan di belakang layar yang disebut Lampu Blencong, juga terdapat alat musik pengiring, seperti gamelan, dan panggung dipakai untuk panggung boneka.

image

Koleksi wayang di dalam museum meliputi beberapa perangkat wayang kulit, wayang golek, berbagai topeng, wayang kaca, wayang seng, lukisan dan boneka-boneka dari luar negeri. Beberapa koleksi langka dari Nusantara, antara lain Wayang Intan, Wayang Suket, Wayang Beber dan Wayang Revolusi. Di dalamnya juga ada boneka terkenal, seperti si Unyil dan teman-temannya, yang ditayangkan oleh TVRI pada 1980-an.

Di tengah gedung lantai dasar Taman Museum Wayang, ada beberapa prasasti peninggalan Belanda, di antaranya Jan Pieterszoon Coen (1634). Selain itu, ada Ruang Punakawan yang dimanfaatkan untuk seminar, sarasehan, pergelaran, pertunjukan mini. Secara berkala Museum Wayang menampilkan pertunjukan pada pukul 10.00–14.00 WIB, minggu kedua (Pergelaran Wayang Golek) dan minggu terakhir (Pergelaran Wayang Kulit).

Museum Wayang diperluas ke gedung baru dengan desain modern. Dilengkapi lift untuk memudahkan pengunjung lanjut usia. Di lantai bawah terdapat kios yang menjual beberapa cenderamata berupa Wayang Golek, Wayang Kulit, buku pewayangan, gantungan kunci, dan pajangan. Toilet juga tersedia dengan gratis, cukup memadai, bersih, meski saya mengamati banyak orang bebas merokok di ruang depan toilet yang masih berada dalam gedung museum.

Persinggahan kedua, saya menyusuri gedung Escompto Bank. Kemudian tiba di Jalan Bank, lantas menyusuri jalan melewati Museum Bank Indonesia (de Javasche Bank yang didirikan pada 1828 bersamaan dengan era Perang Diponegoro; konon Belanda membutuhkan sumber keuangan untuk membiayai perang). Bank Indonesia bukan merupakan bank sentral Belanda di Batavia, melainkan bank swasta yang berfungsi sebagai penghimpun dana asing ke Batavia. Bangunan bersejarah yang cukup megah dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya. Bangunan ini menjadi Museum Bank Indonesia. Hal yang membedakan antara Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri terletak pada isi dari museum. Walaupun sama-sama museum berbasis perbankan, perbedaan terletak pada tema dari konten museum. Museum Bank Mandiri lebih menunjukkan model sistem perbankan tempo dulu, sedangkan Museum Bank Indonesia menampikan sistem teknologi perbankan era modern.

Persinggahan ketiga, saya tiba di Jembatan Beton Jalan Kali Besar — tepat di depan jalan tersebut membentang kali besar yang merupakan muara dari sungai Ciliwung yang membentang dari Asemka sampai ke Pasar Ikan. (Kali besar menjadi jalur transportasi yang banyak dilintasi oleh kapal-kapal yang membawa barang dan penumpang menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa). Namun, sekarang tinggi kali mencapai 0,5 meter akibat endapan lumpur dan sampah. Di tempat ini, konon terjadi pembantaian etnis Tionghoa di Kota Batavia, peristiwa bersejarah pada 1740. Kota Batavia terdiri atas tiga etnis, yaitu etnis Eropa, Tionghoa dan Arab, sedangkan warga pribumi asli yang mendiami kota Batavia merupakan para budak yang bekerja di Batavia.

Daya pesona lain di sepanjang jalan Kali Besar menunjukkan banyaknya bangunan tua, mulai dari Gedung Chartered Bank (yang memiliki bangunan dengan desain interior New Classical Renaissance, kemudian bangunan Toko Merah — yang didirikan pada 1730 yang sempat dihuni oleh beberapa gubernur Batavia — Hotel Batavia (konon bernama Hotel Omni. Pada awalnya, gedung ini merupakan salah satu kantor Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM). Kantor pusat NHM berada di gedung yang saat ini menjadi Museum Bank Mandiri. NHM merupakan reinkarnasi VOC yang bangkrut akibat korupsi yang tidak mengenal batas.

Persinggahan keempat, saya tiba di Jembatan Kota Intan (Kote Inten, sebutan dengan dialek Betawi). Jembatan ini merupakan jembatan Jungkat, saat kapal-kapal melewati kali besar jembatan terangkat. Meski sekarang tidak berfungsi lagi. Asal usul kata Kota Intan konon di tempat itu terdapat Diamond Castile, yang merupakan kediaman jenderal-jenderal Belanda. Namun, ketika pusat pemerintahan Batavia dipindahkan ke pusat kota Weltevreden (di derah Lapangan Banteng dan sekitarnya), Gubernur Willem Daendels mulai menghancurkan Kastil Intan tersebut. Usai menyusuri Jembatan Kota Intan, selanjutnya kembali menuju ke Taman Fatahillah dengan persinggahan sejenak ke Gedung Cipta Niaga.

Persinggahan kelima, saya menuju ke Museum Bahari. Letaknya dari museum yang lain sekitar satu kilometer di sebelah utara stasiun kereta Jakarta Kota. Museum Bahari meliputi dua bangunan utama, di lantai dasar dipamerkan aneka replika kapal dan peralatan navigasi kuno. Tiket masuk Rp2.000,00,- untuk umum dan Rp500,00,- untuk pelajar. Buka pukul 9.00–15.00 WIB, Selasa s.d. Minggu.

Museum Bank Mandiri menjadi persinggahan keenam. Terletak di seberang stasiun Kota. Koleksi yang ditampilkan merupakan rekaman coretan sejarah perkembangan perbankan dunia. Ada barang yang dipamerkan berupa mesin hitung kuno, komputer dan pencetakan yang berusia cukup tua. Museum Bank Mandiri buka setiap Selasa—Minggu, pukul 9.00–16.00 dengan tiket masuk Rp2.000,00 untuk umum dan gratis untuk pelajar dan nasabah yang menunjukkan kartu Anjungan Tunai Mandiri dari Bank Mandiri. Di dalam Museum Bank Mandiri ini kita bisa melihat mesin-mesin dan kegiatan perbankan dari jaman dahulu sampai sekarang.

Museum Bank Indonesia, meski berada di Kota Tua merupakan museum paling modern. Ruang ber-AC dan barang-barang koleksi ditata rapi. Daya pesona museum juga terletak pada ruang nuministik; ruang yang memamerkan uang kertas dan koin pada zaman dahulu atau dari berbagai macam zaman. Dibuka Selasa s.d. Kamis, pukul 8.30–14.30 WIB, Jumat pukul 8.00–11.00 WIB, dan Sabtu–Minggu pukul 9.00–16.00 WIB.

imageimageimage

Kota Tua dalam perkembangan sering digunakan untuk acara-acara dan tempat pra-wedding. Pesona Kota Tua mengundang sektor informal yang sangat ramai pedagang. Sejarahnya, konon atas perintah Gubernur Jenderal, Johan van Hoorn, Kota Tua dibangun pada 1707–1710 sebagai Balai Kota. Bentuknya serupa dengan istana Dam di Amsterdam, Belanda. Gedung ini merupakan kantor Gubernur Batavia yang meliputi bangunan utama (bagian timur dan barat) dan bagian sanding (kantor, ruang pengadilan, ruang bawah tanah, dan penjara; penjara bawah tanah berbeda dengan penjara halaman belakang Museum Fatahillah. Penjara ini diisi air dan terdapat banyak lintah).

 

Diresmikan sebagai Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974 oleh Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta. Pada halaman depan terdapat air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat pada masa itu. Pada halaman belakang terdapat Patung Dewa Hermes (dalam mitologi Yunani merupakan Dewa Keberuntungan dan Perlindungan bagi kaum pedagang), Penjara Bawah Tanah, Meriam Si Jagur, dan Prasasti Pecah Kulit. Harga tiket masuk museum Rp2.000,00.-

Kota Tua Jakarta dikenal sebagai Batavia Lama (Oud Batavia). Kota ini merupakan wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi dengan melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka).

Pelayar Eropa memberi julukan “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur” pada abad ke-16. Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena berlokasi strategis dengan sumber daya yang melimpah.

Fatahillah (1526) dikirim oleh Kesultanan Demak untuk menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Luas kota ini 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Pada 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieters zoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung atau Lapangan Fatahillah. Penduduk Batavia disebut “Batavianen”, kemudian dikenal sebagai suku Betawi, yang terdiri atas etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.

Pada 1635, kota ini meluas hingga ke tepi barat Sungai Ciliwung pada reruntuhan bekas Jayakarta. Rancangannya bergaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Kota Batavia selesai dibangun pada 1650. Batavia menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota yang sanitasinya buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi pada 1835 dan 1870 yang mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Selama pendudukan Jepang (1942), Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.

Pada 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota. Meski dekrit gubernur dikeluarkan, Kota Tua tetap terabaikan. Banyak warga yang menyambut hangat dekrit ini, tetapi tidak banyak yang dilakukan untuk melindungi warisan era kolonial Belanda.

Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 34/2006 tentang misi dan visi Kota Tua.

Misi

1. Konservasi dan revitalisasi;

2. Menghidupkan aktivitas seni dan budaya;

3. Sosial dan kemasyarakatan;

4. Pengembangan bisnis dan ekonomi;

5. Peningkatan infrastruktur;

6. Mengatur hukum dan manajemen perkotaan;

7. Living in the city — hidup dan kehidupan di kota.

Visi

Terciptanya kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta sebagai daerah tujuan wisata budaya yang mengangkat nilai pelestarian dan memiliki manfaat ekonomi yang tinggi.

Tentang penguasaan perencanaan penataan kawasan Kota Tua 846 hektare yang terletak di Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Wilayah ini meliputi paling Utara Luar Batang dan Pelabuhan Sunda Kelapa. paling Selatan jalan Gajah Mada pada titik lokasi bangunan Candranaya, sedangkan paling Barat dan Timur dibatasi dengan sungai.

Papan petunjuk dengan mudah ditemukan. Beberapa bangunan dengan gaya art deco juga menjadi penanda sangat gampang. Asal mula Kota Tua dibangun pada 1600-an oleh pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, bangunan-bangunan bersejarah ini sangat tampak karakter art deco, seperti juga semua bangunan yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda.

Bangunan-bangunan yang menjadi pesona Kota Tua, misalnya stasiun Jakarta Kota, Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia. Dari bangunan tersebut, Museum Sejarah Jakarta yang dikenal dengan nama Museum Fatahillah bisa disebut sebagai pusat. Di depannya ada halaman seluas lapangan bola.

Di depan museum yang awalnya balaikota inilah warga, pengunjung atau penjual jasa dan penjaja makanan berkumpul. Museum Fatahillah menjadi melting point. Penjaja ojek dan sepeda ontel bersanding dengan tukang tato temporer, penjual minuman, penjaja manisan. Namun, Kota Tua tidak terlalu memperlihatkan sebagai daerah tujuan wisata yang dikelola dengan baik. Dari Kota Tua, dengan berjalan kaki menuju Pelabuhan Sunda Kelapa berjarak sekitar dua kilometer. Jalur antara Kota Tua menuju Pelabuhan Sunda Kelapa jelas tak ramah bagi pejalan kaki. Tak ada trotoar nyaman, apalagi menyenangkan pengguna jalan atau wisatawan.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Saya Tergoda Pesona Kota Tua”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

memang kota tua tersebut sangat unik tapi kota gedung – gedungnya cukup megerikan karena sudah puluhan tahun hawatir rapuh karena jika di benahi juga nilainya akan pudar bukan

Thanks infonya min 🙂
Menikmati nuansa Kota Tua Jakarta, serasa hidup di masa lalu..

Agan-agan juga bisa melihat Museum Fatahillah dengan foto virtual. Lihat di sini:

http://indonesiavirtual.com/index.php?option=com_jumi&fileid=11&Itemid=109&id_img=82

Salam Kenal 🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: