Tergoda Pesona Kota Tua

Posted on 9 Januari 2012. Filed under: Apa&Siapa |

Eksotisme Model

Sudah sering saya melewati kawasan Kota Tua, baik waktu remaja maupun seusia saya sekarang. Tapi, kompleks bangunan tua yang sarat sejarah dan cerita budaya ternyata belum sempat saya telusuri. Padahal, predikatnya sebagai kawasan wisata terkenal di Jakarta cukup sering terdengar. Mungkinkah, pepatah lama ‘tak kenal maka tak sayang’ berlaku bagi saya. Berbekal perlengkapan kunjungan apa adanya-sebagaimana adanya, saya membulatkan tekad ke Kota Tua untuk mengenal lebih dekat. Tergodakah saya pada pesona Kota Tua?

Pesona Kota Tua

Dari kawasan Serpong, saya naik bus Trans trayek BSD (Bumi Serpong Damai)–Mangga Dua, untuk nantinya turun di Stasiun Kota. Biaya sebesar Rp12.000,00,- pun keluar dari kantong untuk 60 menit perjalanan. Selain bus, sebenarnya untuk mencapai Kota Tua bisa saja saya naik kereta api diesel Rangkas Bitung—Jakarta Kota yang melewati Stasiun Rawabuntu—BSD. Biayanya lebih murah, cuma Rp1.500,00,- (kereta Odong-Odong). Pas pukul 15.00 WIB, saya turun dari bus dan menginjakkan kaki di Stasiun Kota, yang termasuk salah satu kawasan Kota Tua. Untunglah tidak hujan. Seakan cuaca mendukung niat saya untuk santai menikmati Wisata Kota Tua untuk pertama kali. Dalam hati saya memuji keputusan saya memilih datang sore hari karena konon matahari sore sangat bagus untuk pemotretan. Saya berharap, foto-foto hasil jepretan ponsel cukup indah untuk dilihat. Untungnya lagi, hari ini Kota Tua terbuka untuk umum. Menurut Nurdin, penjaja jasa sewaan sepeda Ontel, Kota Tua tidak pernah dibuka untuk umum pada hari Senin, sejak dulu sampai sekarang. Semua museum juga ditutup. “Saya enggak tahu kenapa ditutup hari Senin,” ujar Nurdin sembari menambahkan, “Emang dari sononya sejak dulu.”

Lebih Cantik dan Ramai

Remaja Bergaya di Kota Tua

Dari tempat turun bus, gedung-gedung bersejarah kota tua mulai tampak. Tidak seperti biasanya, mungkin karena ada niat untuk mengenal lebih dekat, saya mencoba dengan mengamati lebih seksama, lebih dari biasanya. Ternyata, balutan cahaya keemasan matahari sore hari, membuat tampilan bangunan-bangunan tua semakin eksotis dan misterius. Saya jadi ingat. Dulu, saat saya kecil, sering ke gedung BNI (1946) lama tempat ayah pernah bekerja. Dari salah satu jendela gedung BNI, mata bocah saya sering memandangi bangunan-bangunan peninggalan belanda yang ada. Gedung tampak tua dan sepi. Kini, sekian tahun kemudian, siapa sangka, gedung BNI tampak lebih cantik dan lumayan terawat. Mungkin karena dipoles dan dibenahi di sana-sini untuk memenuhi syarat sebagai tempat wisata. Saya mulai optimis. Ada juga rasa senang. Setidak-tidaknya saya tidak perlu khawatir lagi bahwa bangunan tua bersejarah yang bernilai tinggi ini pamornya akan memudar.

Kota Tua Kian Memesona

Selain lebih cantik dan enak dilihat, kawasan Kota Tua juga terasa ramai. Kehadiran pengunjung membuat bangunan-bangunan tua  tak tampak sepi lagi. Di halaman dan sudut-sudut gedung diadakan bermacam-macam kegiatan atau pergelaran. Ada pengunjung yang asyik mengabadikan lanscape gedung dengan kamera atau ponsel miliknya, atau sekadar duduk-duduk menikmati suasana. Ada yang asyik mengobrol, entah membicarakan masa depan entah berdiskusi tentang keadaan negara. Ada yang membuka bekal dan menikmati bekal dengan nyaman. Ada yang bercengkerama dengan kekasih tanpa peduli keadaan di sekeliling. Ada penjual jasa yang membuat tato, penyewaan sepeda ontel. Keunikan dan kekhasan gedung tua di Kota Tua ini juga sering jadi sasaran fotografer untuk mendapat foto yang cantik. Banyak pasangan calon pengantin yang memanfaatkan sebagai latar belakang foto pre­wedding.

Model cantik menarik berlenggang-lenggok mencoba mencari pose terbaik. Ada juga jasa penyewaan mobil tua untuk latar belakang pemotretan. Sungguh, usia setua ini Kota Tua masih saja mempunyai daya tarik dan pesona. Belum lagi, Wisata Malam Kota Tua. Ah, bisa jadi itu agenda jalan-jalan saya yang berikut.

Sejarah Kota Tua

Sebelum menjelajahi, saya sempatkan mempelajari sejarah kawasan wisata ini, dari berbagai referensi. Menurut Wikipedia, Kota Tua Jakarta dikenal juga dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia). Dengan luas sekitar 1,3 km persegi wilayah ini terletak di area Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Pada abad ke-16, Kota Tua Jakarta menjadi pusat perdagangan benua Asia karena lokasi yang strategis dan sumber daya melimpah. Tak heran bila para pelayar Eropa menjuluki “Permata Asia” atau “Ratu dari Timur”.

Pos Indonesia di Kota Tua

Batavia sebutan untuk kota Jayakarta yang dihancurkan VOC di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Batavia berpusat di sekitar tepi Timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah. Penduduknya disebut Batavianen, yang dikenal sebagai suku Betawi. Batavia dibangun dengan gaya Belanda Eropa sehingga terdapat benteng (Kasteel Batavia), dinding, kota dam kanal. Kota baru ini akhirnya menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta.

Konon, atas perintah Gubernur Jenderal, Johan van Hoorn, Kota Tua dibangun pada 1707–1710 sebagai Balai Kota. Bentuknya serupa dengan istana Dam di Amsterdam, Belanda. Gedung ini merupakan kantor Gubernur Batavia yang meliputi bangunan utama (bagian timur dan barat) dan bagian sanding (kantor, ruang pengadilan, ruang bawah tanah, dan penjara). Bertahun-tahun kemudian, dalam upaya pengembangan daerah, beberapa bangunan atau tempat di Kota Tua dihancurkan oleh pemerintah provinsi Jakarta, antara lain Benteng Batavia, Gerbang Amsterdam (di pertigaan jalan Cengkeh, jalan Tongkol dan jalan Nelayan Timur) dan jalur trem Batavia. Pada 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin mengeluarkan dekrit resmi yang menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan, untuk melindungi sejarah arsitektur kota yang belum hancur. Meski dekrit gubernur dikeluarkan, di masa lalu Kota Tua tetap terabaikan. Banyak warga yang menyambut hangat dekrit ini, tetapi tidak banyak yang dilakukan untuk melindungi warisan era kolonial Belanda ini.

Kantor Gubernur di Kota Tua

Secara administratif, penguasaan perencanaan penataan kawasan Kota Tua seluas hektare ada pada pemerindath daerah Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Wilayah Kota Tua meliputi paling Utara Luar Batang dan Pelabuhan Sunda Kelapa, paling Selatan jalan Gajah Mada pada titik lokasi bangunan Candranaya, sedangkan paling Barat dan Timur dibatasi dengan sungai. Kini beberapa situs dan bangunan bersejarah yang berada di Kota Tua dan sekitarnya, yang masih ada antara lain Gedung Arsip Nasional, Gedung Chandranaya, Vihara Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti), Petak Sembilan, Pecinan Glodok dan Pinangsia, Gereja Sion, Tugu Jam Kota Tua Jakarta, Stasiun Jakarta Kota, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Standard-Chartered Bank, Kota’s Pub, VG Pub Kota, Toko Merah, Cafe Batavia, Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah (bekas Balai Kota Batavia), Museum Seni Rupa dan Keramik (bekas Pengadilan Batavia), Lapangan Fatahillah, Replika Sumur Batavia, Museum Wayang, Kali Besar (Grootegracht), Hotel Former, Nieuws van de Dag, Gedung Dasaad Musin, Jembatan Tarik Kota Intan, Galangan VOC, Menara Syahbandar, Museum Bahari, Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Masjid Luar Batang.

Tergoda Pesona Kota Tua

Sebagian dari bangunan bersejarah yang tersisa kondisinya makin memburuk karena termakan usia dan kurang mendapat perawatan, seperti bekas Balai Kota Batavia (sekarang Museum Sejarah Jakarta), Museum Maritim Nasional, Pelabuhan Sunda Kelapa dan Hotel Omni Batavia.

Cafe Batavia Kota Tua

Kini, beberapa pihak berusaha mengembalikan warisan Kota Tua sehingga kini beberapa bangunan bersejarah masih bisa dikunjungi dan dinikmati keindahannya. Bangunan kantor pos “Pos Indonesia” di depan Museum Fatahillah, misalnya konon itu bekas penjara Hindia Belanda. Saat ini, fisik bangunan tampak kokoh. Memiliki keindahan arsitektur dengan rancangan bangunan tahan gempa. Membaca sekilas sejarah kota ini membuat saya makin bersemangat menyusuri kawasan Kota Tua. Bangunan demi demi bangunan yang saya singgahi menambah wawasan dan kekaguman saya pada kekayaan sejarah Indonesia, khususnya kota Jakarta.

Museum Fatahillah

Museum ini awalnya balaikota. Diresmikan sebagai Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974 oleh Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta. Pada halaman depan terdapat air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat pada masa itu. Pada halaman belakang terdapat Patung Dewa Hermes (dalam mitologi Yunani merupakan Dewa Keberuntungan dan Perlindungan bagi kaum pedagang), Penjara Bawah Tanah, Meriam Si Jagur, dan Prasasti Pecah Kulit. Harga tiket masuk museum Rp2.000,00.- Pada sore hari atau malam, halaman museum ini sering dijadikan tempat melting point, sebagai sarana berkumpulnya warga ibu kota dari aneka golongan dan profesi. Pengunjung dan penjual jasa penyewaan sepeda ontel atau mobil tua saling berinteraksi. Pedagang kaki lima pun ramai menjajakan dagangan aneka souvenir atau pun makanan.

Museum Wayang Kota Tua

Museum Wayang

Dari depan Taman Fatahillah, saya mulai melangkah ke Museum Wayang. Secara etimologi, ‘wayang’ berasal dari kata bayang-bayang. Awalnya, wayang digunakan untuk melakukan komunikasi dengan roh leluhur atau nenek moyang. Perantaranya disebut dalang. Namun, berkembang menjadi sebuah sarana hiburan, pendidikan, media informasi dan ajaran moral. Museum Wayang terletak di kawasan Kota Tua Batavia. Searea dengan Museum Fatahillah (di sebelah kiri), berdekatan dengan Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri dan Museum Keramik. Museum ini menyimpan koleksi wayang dari daerah-daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera dan juga luar negeri, antara lain Malaysia, Suriname, Kelantan, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggis, Amerika dan Thailand. Jumlah koleksi sekitar 5.147 wayang yang diperoleh dari pembelian, hibah, sumbangan dan titipan. Dibangun pada 1640 dan diberi nama De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Tua Belanda). Tahun 1732 gedung ini diperbaiki dan berganti nama menjadi De Nieuwe Hollandsche Kerk (Gereja Baru Belanda). Gedung ini diresmikan menjadi Museum Wayang pada 13 Agustus 1975. Museum Wayang di kawasan Kota Tua diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Museum ini sebelumnya disebut Museum Batavia yang dibuka pada 1939 oleh Gubernur Jenderal Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Gedung ini dibangun pada 1912 bergaya Neo Renaissance. Kemudian pada 1938 dipugar dan disesuaikan dengan gaya rumah Belanda. Gedung ini bukan merupakan bekas gedung gereja Belanda, karena gedung gereja sudah runtuh akibat gempa. Namun, berdiri di atas tanah bekas Gereja Belanda Baru atau Nieuwe Hollandse Kerk (1736) dan Gereja Belanda Lama atau Oude Hollandse Kerk (1640—1732).

Menyusuri Jejak Kota Tua

Setelah membayar biaya masuk (untuk umum Rp2.000,00,- mahasiswa Rp1.000,00,- anak-anak Rp600,00,-) , saya memasuki gedung museum dan menerima sambutan sepasang Ondel-Ondel (kesenian tradisional Betawi). Selain wayang, seluruh perlengkapan seputar perwayangan juga dipajang di museum ini. Mulai dari alat penerangan untuk wayang kulit, untuk membuat bayangan di belakang layar yang disebut Lampu Blencong, juga terdapat alat musik pengiring, seperti gamelan, dan panggung (yang dipakai untuk panggung boneka). Koleksi wayang di dalam museum meliputi seperangkat wayang kulit, wayang golek, berbagai topeng, wayang kaca, wayang seng, lukisan dan boneka-boneka luar negeri. Beberapa koleksi langka dari Nusantara, antara lain Wayang Intan, Wayang Suket, Wayang Beber dan Wayang Revolusi. Di dalamnya ada boneka si Unyil, yang ditayangkan oleh TVRI pada 1980-an. Di tengah gedung lantai dasar Taman Museum Wayang, ada beberapa prasasti peninggalan Belanda, di antaranya Jan Pieterszoon Coen (1634). Selain itu, ada Ruang Punakawan yang dimanfaatkan untuk seminar, sarasehan, pergelaran, pertunjukan mini. Secara berkala Museum Wayang menampilkan pertunjukan pada pukul 10.00–14.00 WIB, minggu kedua (Pergelaran Wayang Golek) dan minggu terakhir (Pergelaran Wayang Kulit).

Ontel Memesona Kota Tua

Museum Wayang diperluas ke gedung baru dengan desain modern. Dilengkapi lift untuk memudahkan pengunjung lanjut usia. Di lantai bawah terdapat kios yang menjual beberapa cenderamata berupa Wayang Golek, Wayang Kulit, buku pewayangan, gantungan kunci, dan pajangan. Toilet juga tersedia dengan gratis, cukup memadai, bersih, meski saya mengamati banyak orang bebas merokok di ruang depan toilet yang masih berada dalam gedung museum.

Museum Bank Indonesia 

Persinggahan ketiga, saya menyusuri gedung Escompto Bank. Tiba Jalan Bank saya pun menyusuri jalan melewati Museum Bank Indonesia (de Javasche Bank yang didirikan pada 1828 bersamaan dengan era Perang Diponegoro; konon Belanda membutuhkan sumber keuangan untuk membiayai perang). Bank Indonesia bukan merupakan bank sentral Belanda di Batavia, melainkan bank swasta yang berfungsi sebagai penghimpun dana asing ke Batavia. Bangunan yang cukup megah dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya ini kini menjadi Museum Bank Indonesia. Hal yang membedakan antara Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri terletak pada isi dari museum.                                                 

Walaupun sama-sama museum berbasis perbankan, perbedaan terletak pada tema dari konten museum. Museum Bank Mandiri lebih menunjukkan model sistem perbankan tempo dulu, sedangkan Museum Bank Indonesia menampikan sistem teknologi perbankan era modern. Museum Bank Indonesia, meski berada di Kota Tua merupakan museum paling modern. Ruang ber-AC dan barang-barang koleksi ditata rapi. Daya pesona museum juga terletak pada ruang nuministik; ruang yang memamerkan uang kertas dan koin pada zaman dahulu atau dari berbagai macam zaman. Dibuka Selasa s.d. Kamis, pukul 8.30–14.30 WIB, Jumat pukul 8.00–11.00 WIB, dan Sabtu–Minggu pukul 9.00–16.00 WIB. Telepon 021 2600158.

Kota Tua yg Menggoda

Jembatan Beton Kali Besar 

Persinggahan ketiga, saya tiba di Jembatan Beton Jalan Kali Besar (Grootegracht)—tepat di depan jalan tersebut membentang kali besar yang merupakan muara dari sungai Ciliwung yang membentang dari Asemka sampai ke Pasar Ikan. (Kali besar menjadi jalur transportasi yang banyak dilintasi oleh kapal-kapal yang membawa barang dan penumpang menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa). Namun, sekarang tinggi kali mencapai 0,5 meter akibat endapan lumpur dan sampah. Di tempat ini, konon terjadi pembantaian etnis Tionghoa di Kota Batavia, peristiwa bersejarah pada 1740. Kota Batavia terdiri atas tiga etnis, yaitu etnis Eropa, Tionghoa dan Arab, sedangkan warga pribumi asli yang mendiami kota Batavia merupakan para budak yang bekerja di Batavia.

Standard-Chartered Bank 

Daya pesona lain di sepanjang jalan Kali Besar menunjukkan banyaknya bangunan tua, mulai dari Gedung Chartered Bank (yang memiliki bangunan dengan desain interior New Classical Renaissance, kemudian bangunan Toko Merah—yang  didirikan pada 1730 yang sempat dihuni oleh beberapa gubernur Batavia—Hotel Batavia (konon bernama Hotel Omni. Pada awalnya, gedung ini merupakan salah satu kantor Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM). Kantor pusat NHM berada di gedung yang saat ini menjadi Museum Bank Mandiri. NHM merupakan reinkarnasi VOC yang bangkrut akibat korupsi yang tidak mengenal batas.

Sewa Ontel Memikat Pencinta Kota Tua

Jembatan Kota Intan 

Persinggahan keempat, saya tiba di Jembatan Kota Intan (Kote Inten, sebutan dengan dialek Betawi). Jembatan ini merupakan jembatan Jungkat, saat kapal-kapal melewati kali besar jembatan terangkat. Meski sekarang tidak berfungsi lagi. Asal usul kata Kota Intan konon di tempat itu terdapat Diamond Castile, yang merupakan kediaman jenderal-jenderal Belanda. Namun, ketika pusat pemerintahan Batavia dipindahkan ke pusat kota Weltevreden (di derah Lapangan Banteng dan sekitarnya), Gubernur Willem Daendels mulai menghancurkan Kastil Intan tersebut. Usai menyusuri Jembatan Kota Intan, selanjutnya kembali menuju ke Taman Fatahillah dengan persinggahan sejenak ke Gedung Cipta Niaga.

Museum Bahari 

Persinggahan kelima, saya menuju Museum Bahari. Letaknya dari museum yang lain sekitar satu kilometer di sebelah utara stasiun kereta Jakarta Kota. Museum Bahari meliputi dua bangunan utama, di lantai dasar dipamerkan aneka replika kapal dan peralatan navigasi kuno. Tiket masuk Rp2.000,00,- untuk umum dan Rp500,00,- untuk pelajar. Buka pukul 9.00–15.00 WIB, Selasa s.d. Minggu. Telepon 021 6693406.

Museum Bank Mandiri 

Museum Bank Mandiri menjadi persinggahan keenam. Terletak di seberang stasiun Kota. Koleksi yang ditampilkan merupakan rekaman coretan sejarah perkembangan perbankan dunia. Ada barang yang dipamerkan berupa mesin hitung kuno, komputer dan pencetakan yang berusia cukup tua. Museum Bank Mandiri buka setiap Selasa—Minggu, pukul 9.00–16.00 dengan tiket masuk Rp2.000,00 untuk umum dan gratis untuk pelajar dan nasabah yang menunjukkan kartu Anjungan Tunai Mandiri dari Bank Mandiri. Di dalam Museum Bank Mandiri ini kita bisa melihat mesin-mesin dan kegiatan perbankan dari jaman dahulu sampai sekarang. Telepon 021 690200.

Pukul 20.00 WIB, perjalanan wisata berakhir. Akhirnya, hasrat saya untuk mengenal lebih dekat Kota Tua dapat saya penuhi. Meski di sana-sini ada sedikit rasa kecewa, karena terlihat bahwa kawasan wisata ini kurang dikelola dengan baik. Namun, saya bertekad akan memperkenalkan kepada generasi muda, agar lebih mengenal dan menghargai kekayaan sejarah Kota Tua. Minimal, saya memperkenalkan kepada putri saya. Saya percaya, setiap bangunan menyimpan cerita kisah di baliknya. Bisa yang membahagiakan, mungkin juga yang menyedihkan. Begitulah kehidupan. Siapa pun asyik mempelajarinya, dengan lebih mengenalnya, lebih memahaminya. Mari berwisata ke Kota Tua, tempat aneka pelajaran kehidupan terpendam, tersembunyi di dalamnya.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Tergoda Pesona Kota Tua”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

wah-wah sungguh memesona pak, kapan ya saya bisa ke sana


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: