Menjawab Tantangan Zaman

Posted on 10 November 2011. Filed under: Apa&Siapa |

Sesuai dengan sifat dasar sebagai pemikir, mahasiswa sering dianggap sebagai pembawa perubahan. Perubahan besar bisa berupa pemikiran dalam bentuk kreativitas, aktivitas, produktivitas dan sportivitas. Dalam suasana akademik, mahasiswa dapat melakukan perubahan sistem melalui karya ilmiah, skripsi, tesis dan tugas akhir. Namun, perubahan demi perubahan yang berasal dari mahasiswa bisa juga berupa aksi. Belakangan ini marak aksi demi aksi berkembang menjadi seolah-olah tradisi kaum intelektual. Dalam keadaan normal — entah masyarakat entah negara tanpa konflik horisontal-vertikal — aksi mahasiswa jadi pertarungan terbuka secara intelektual. Ketika aksi diprioritaskan sebagai cara menuntut pemecahan masalah dengan segera, mahasiswa terjebak dalam tuntutan yang sulit dipenuhi. Oleh karena itu, kembali ke habitat mahasiswa yang berpikir akan lebih elok jika tradisi keilmuan yang diprioritaskan ke pentas. Jauhi ketergesa-gesaan meminta secepat-cepatnya tuntutan dipenuhi.

Aksi mahasiswa berkembang sebagai jawaban atas situasi. Sejatinya mahasiswa enggan beraksi di hadapan masyarakat yang tidak diwakilinya. Aksi mahasiswa kerap mengajukan tuntutan keadilan, keamanan, kesejahteraan masyarakat. Ketika aksi mengabaikan aspek kepentingan masyarakat otomatis masyarakat sikapnya tak mendukung aksi mahasiswa. Oleh karena itu, pada waktu merespons perkembangan politik, budaya, sosial, dan teknologi, mahasiswa patut diakomodasi dan didialogkan kepentingannya. Kemampuan merespons serbaneka perkembangan ini bukan hanya membuka wawasan, melainkan juga meningkatkan kualitas diri dan memenangkan persaingan agar mahasiswa siap berkontribusi dalam dunia pemikir atau intelektual, dunia kerja dan dunia kecendekiaan.

Mahasiswa dari pelbagai jurusan atau fakultas juga diharapkan mampu merespons serbaneka perkembangan strategis, taktis, kritis, khususnya perkembangan dunia global. Tidak hanya perkembangan di Tanah Air, tetapi juga perkembangan yang terjadi di negara lain. Toh pada era digitalisasi setiap pergeseran atau perubahan berdampak luas.

Salah satu perubahan signifikan telah terjadi dalam digitalisasi media massa. Pada awalnya media massa, khususnya media cetak selalu identik dengan penggunaan kertas. Mulai dari kertas lontar bertuliskan tangan hingga serbaneka kertas dengan bermacam tinta sesuai dengan permintaan pasar (pembaca). Kertas menjadi sarana mutlak, bahkan kertas menjadi bahan pertimbangan utama pada industri penerbitan. Tanpa kertas tak ada perkembangan yang berarti dalam media cetak. Pemakaian kertas jadi semakin meningkat. Hutan dieksploitasi untuk memenuhi permintaan akan kertas hingga akhirnya disadari bahwa jika dibiarkan, suatu saat hutan tak ada lagi.

Bagaimana menyiasati kertas yang tidak ada lagi bersamaan dengan menyusutnya stok koran, buku, majalah, tabloid? Jika tidak dapat diterbitkan lagi, media virtual menjadi medium pengganti. Kesadaran menurunnya produksi kertas menggelitik para pakar untuk menciptakan industri penerbitan tanpa kertas atau nirkertas. Bebas kertas. Selain raja mesin pencari google yang menjadi penggerak buku elektronik (e-book atau electronic book) melalui pembaruan teknologi digital, maka Amazon Kindle juga menjadi salah satu perangkat teknologi revolusioner. Industri penerbitan pada buku elektronik yang berlayar tajam dan beresolusi tinggi, sekarang semakin mudah digunakan tanpa komputer dan tanpa kabel. Grup iPhone produk persembahan Steve Jobs sudah merespons dengan perangkat iPad. Selain bebas kertas, e-book memiliki kelebihan-kelebihan lain. Pembuatan buku semakin dipermudah, ketebalan naskah tak dirisaukan, koreksi naskah menjadi lebih singkat, dan penerbit tidak memerlukan gudang penyimpan. Para pembaca hanya memerlukan perangkat lunak. Para pencinta bacaan elektronik tinggal memilih dan mengunduh buku sesuai dengan selera atau hobi. Bacaan dapat dinikmati tanpa harus dibawa dalam bentuk fisik buku. Era buku nirkertas telah dimulai. Kini, siapkah mahasiswa menyongsong era digitalisasi ketimbang terjebak dalam pusaran permainan elite politik dan partai politik tertentu? Industri penerbitan di Indonesia sudah merespons melalui penerbitan buku elektronik.

Buku nirkertas edisi virtual bisa dianggap sebagai respons positif akan perubahan. Kini mahasiswa wajib bersiap diri untuk menerbitkan karyanya dalam bentuk buku elektronik. Dengan demikian, buku nirkertas karya mahasiswa sungguh-sungguh membanggakan hati. Aktivitas mahasiswa dalam pembuatan media cetak tidak hanya diperlukan kepintaran merangkai dan mengolah kata, tetapi juga kemauan dan ketekunan untuk mengenal dan mengakrabi teknologi digital nirkertas sebagai sarana mutlak penerbitan. Semoga langkah ini mampu menambah wawasan dan memberi dorongan bagi mahasiswa untuk terus-menerus meningkatkan kualitas diri hingga mampu menjawab tantangan zaman.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: