Bebek Belur Tanpa Babak Belur

Posted on 7 April 2010. Filed under: Karangan Khas | Tag:, |

Boleh saja penonton film “Bebek Belur” berasosiasi pada motor bebek yang babak belur. Pasalnya, setelah motor bebek produk tertentu memasyarakat, ternyata belakangan omset melorot tajam. Bukan lantaran motor bebek kurang peminat, melainkan motor bebek bergeser pola pengguna: dari motor bebek manual (pakai kopling) beralih ke bebek matik (motor otomatis). Nah, penurunan tajam terjadi setelah produsen asal Jepang bersaing ketat dengan sesama produsen dari negeri Sakura. Atau produsen Honda dengan Yamaha, misalnya. Akibatnya, manajemen Honda total berubah besar-besaran, saat produksi menurun tajam, tanpa inovasi. Produsen Yamaha melesat tajam menyusul pemimpin pasar motor bebek yang terlena, tanpa inovasi itu. Kini Yamaha melebarkan sayap berkiprah dalam dunia perfilman Nasional. Melalui “Bebek Belur” manajemen Yamaha melakukan promosi elegan, tanpa norak, penuh dengan sisi kreativitas dan inovatif.

 

Pemain film bioskop persembahan Yamaha Motor ikut menyaksikan tayang perdana Selasa malam di bioskop XXI Djakarta. Tema pokok film pada kejenakaan dan kegalauan Cinta Abadi. http://www.bebekbelur.com/web/bioskop_global.html

Hubungan asmara bermuara pada kisah Rini Yulianti dan Mario Irwinsyah. Dua sejoli ini menjadi fokus cerita. Mengambil latar alam pedesaan. Kehidupan yang guyub dari warga desa di kawasan Jawa. Nyaman tenteram, asli memesona dengan gemericik air sawah berpanorama keindahan alam khas Tanah Air.

Hubungan asmara kedua insan berlangsung penuh dengan sisi romantis. Ketika Sari (Jeng Rini) dan Dadang (Mario Irwinsyah), montir motor saling berbagi kasih dengan teman istimewanya. Terjalin mesra. Jalinan kisah ini berlangsung singkat. Berangkat dari Desa Cibebek. Berorientasi asrama berkonflik manakala lelaki beristri mampir ke Desa Cibebek jatuh hati kepada gadis desa, Sari. Kejadian demi kejadian penuh kelucuan, kegelian, dan kejutan-kejutan.

Pada dasarnya kehidupan desa warganya selalu rukun. Guyub. Satu sama lain saling bertegur sapa, bahkan saling mengingatkan jika ada marabahaya. Lantas, kedatangan Pak Toro yang menggunakan nama inisial atau populer (Toro Margens) bertambah angkuh, ingin merengkuh kebahagiaan dengan mengiming-imingi harta. Tawarannya sangat ampuh, ketika Ibunda Ully Artha terpesona dengan duniawi yang sesaat indah semata.

Lantas perjuangan hidup-mati pun dilakoni dalam balur cerita rancak, apik, yang tetap berperilaku sopan tetap terjaga. Pemeran utama Pak Toro menjadi kunci cerita yang bergulir, mengalir lancar. Perjuangan sang pejabat tinggi untuk melengkapi nafsu syahwat sesaat. Kagum pada kemolekan dan keayuan Sari.

Valen dan Bajaj ikut menambah peran film sarat dengan watak jadi bermakna tinggi. Slamet Rahardjo ikut mendramatisasikan kisah-kisah antara Sari dan Dadang berbalut cinta abadi. Penokohan lain yang membuat alur cerita kian bertaji dengan tampilnya Gigi (Armand Maulana), pemusik andalan. Ada Gigi palsu ada Gigi asli. Gigi palsu menghibur dua sejoli. Toh kepalsuan tidak berlangsung lama. Nyatanya warga desa tetap menghormati Gigi asli.

Lantas, kehendak Sang Pemilik alam raya dan segala isinya punya rencana sendiri. Bobot cerita jadinya tambah manusiawi. Bahwa manusia boleh berencana, Allah jua yang menjadi penentu. Rima Melati yang penyabar, penyayang, dan pemeran istri Pak Toro tak tanggung-tanggung jadi kunci cerita. Apalagi Didi Petet dan Deddy Mizwar ikutan menampilkan peran watak asli cerita tambah bergigi.

Watak dasar Jajang C. Noer yang teatrikal tak dapat disembunyikan. Sebagai ibunda Dadang dapat menjaga jalinan kisah-kasih. Antara kesedihan dan kesenangan tampil apa adanya sebagaimana adanya. Ida Kusuma pun mengisi kekosongan peran yang kocak. Lepas, bebas tanpa syarat. Cerita “Bebek Belur” betul-betul tanpa babak belur. Sam Bimbo menenangkan dan menjaga alur cerita. Alunan suara bariton yang sempurna mengakhiri cerita dengan penuh syukur. Di atas segala kerisauan dan kecemasan hati, hanya Allah Sang Penentu.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: