Transportasi Kereta bagi Pekerja Ibu Kota — Catatan Akhir Tahun

Posted on 23 Desember 2009. Filed under: Karangan Khas |

                 

Moda transportasi kereta menjadi andalan bagi pekerja di Ibu Kota. Padahal, tahun 1990-an pilihan berkereta ke lokasi kerja bukan prioritas, melainkan salah satu alat transportasi saja. Namun, tarif angkut kini menjulang selangit yang menyebabkan kocek pekerja ludes sekejap — jika menggunakan ongkos di luar angkutan kereta. Perbandingannya cukup signifikan, jika terus-menerus ongkos tergerus memakai angkutan nonkereta. Sejauhmana pekerja di Ibu Kota memanfaatkan angkutan kereta dengan efektif, catatan berikut ini sekadar memberi gambaran deskriftif sebagai catatan akhir 2009.

Selepas salat subuh, Sukun (sebut saja begitu) mempersiapkan diri berkereta ke tempat ia bekerja. Dari tempat tinggal di kawasan Bumi Serpong Damai, hanya lima menit tiba di stasiun Rawa Buntu, Serpong, Tangerang Selatan. Rutinitas kerjanya antara Stasiun Rawabuntu dan Stasiun Soedirman.

Ongkos kereta Sukun yang melewati stasiun hanya ada dua, yang seribu lima ratus atau empat ribu lima ratus. Tarif kedua ongkos sama saja menuju ke tempat ia bekerja.

Tentang jadwal pemberangkatan, kalau pertanyaannya, jadwal kereta jam berapa saja yang melewati stasiun, biasanya hanya pada kisaran sebagai jawaban. Jadwal resmi dari PT KAI pukul 6.37 misalnya, pilihan Sukun hanya pada kisaran antara pukul 6.15 datang atau 6.45 berangkat. Jadi, jadwal yang tepat sangat jarang terjadi dalam setahun, ia bekerja. Lantas, pekerja Ibu Kota biasanya juga menyiasati waktu menuruti kebiasaan kira-kira saja.

Di dalam kereta ekonomi peninggalan zaman Belanda dikenal kereta Odong-Odong. Konon bunyi nyaring suara kereta dan deru mesin berdetakan membuat kereta Oranye jurusan Rangkasbitung ke Jakarta disebut kereta Odong-Odong. Di dalam kereta ada rupa-rupa dagangan, mulai dari penganan, asongan sampai dengan jualan buah. Katanya pedagang menyetor sejumlah rupiah tertentu pada waktu diminta oleh kondektur, kalau izin berjualan diperoleh. Namun, pada kereta rel listrik pedagang tidak leluasa bergerak lagi. Larangan untuk berjualan di dalam kereta agak ditaati oleh pedagang, kecuali penjaja koran atau majalah.

Sukun tiba di tempat ia bekerja di kawasan Kuningan hanya empat puluh menit. Jauh dari kesan terlambat, malah paling pagi Sukun tiba di kantor. Dari Rawabuntu naik kereta menuju ke Tanah Abang (Tenabang), kemudian melanjutkan kereta lain menuju ke stasiun Dukuh Atas, stasiun Soedirman, Jakarta Selatan. Dulu, pernah ada kereta yang menuju ke Stasiun Soedirman dari stasiun Rawabuntu. Entah pencapaian target penumpang tak mencukupi, entah kepadatan jadwal di lintasannya, yang jelas kini tak ada lagi jurusan kereta dari Rawabuntu langsung ke Soedirman.

Tarif yang dikenakan bagi penumpang Odong-Odong seribu lima ratus, kalau naik kereta ekonomi berpendingin ruang atau berkipas angin menjadi empat ribu lima ratus rupiah. Kalau berkereta Odong-Odong bisa membayar di atas kereta, sedangkan kereta ekonomi berpendingin atau berkipas angin dikenakan denda jika penumpang tak berkarcis.

Konon Juli 2010 tarif kereta akan dinaikkan sebesar 12,5 persen hingga 50 persen. Alasan kenaikkan untuk menutupi biaya operasional dan meningkatkan pelayanan. Alasan kenaikan bagi Sukun menggelisahkan hati. Pasalnya, dulu kenaikan tarif juga berorientasi pada kenyamanan dan keamanan penumpang. Namun, janji tinggal janji selangit yang hangat di atas kertas, tetapi lemah ketika dilaksanakan. Meski demikian, Sukun mengakui tarif kereta ekonomi pernah diturunkan pada 2008. Yang terpenting, bagi Sukun perbaiki kinerja pegawai kereta dan kesejahteraan terlebih dahulu, barulah tarif disesuaikan.***

       

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Transportasi Kereta bagi Pekerja Ibu Kota — Catatan Akhir Tahun”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

beginilah transportasi di negeri kita

ya ampun… di kereta sempet2nya ambil gambar mas??? ahahhaha.. jadi kangen naek kereta….


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: