Mencari Kata Baku — Catatan Diskusi Akhir Tahun

Posted on 22 Desember 2009. Filed under: Berita |

Akhir tahun 2009 menjadi penting manakala lembaga nirlaba mengevaluasi hasil kegiatan. Oleh karena itu, lembaga yang memusatkan perhatian pada perkembangan kebahasaan di Tanah Air mengadakan kegiatan tutup tahun. Bertajuk “Catatan Diskusi Akhir Tahun” Forum Bahasa Media Massa atau FBMM bidang Kajian Bahasa Media Massa membahas “Mencari Kata Baku” di gedung Dewan Pers, Lembaga Pers Doktor Soetomo, Jakarta, Rabu, 16 Desember 2009, pukul 13.00–17.00 WIB. Tujuan diskusi bukan hanya mencari kata baku, melainkan juga pemersatu bahasa Indonesia di antara pemakai bahasa media massa. “Karena media sebagai corong untuk mencerdaskan masyarakat,” ujar Linda Andriani Sjafiq, Sekretaris FBMM yang menyampaikan catatan akhir tahun berikut ini.

T.D. Asmadi, Ketua FBMM

  • Bahan rekomendasi bahasa diambil dari senarai surat (mail list, milis) selama satu tahun. Milis ini sudah ada sejak 2002 sampai sekarang.
  • FBMM sudah ada cabang di empat belas daerah. Terakhir yang baru dilantik pengurusnya adalah pengurus FBMM DI Yogyakarta pada 15 Desember 2009.

Amarzan Loebis, Majalah Tempo

  1. Saya sering disebut sebagai Redaktur Senior majalah Tempo, tapi saya lebih suka disebut sebagai redaktur tua. Karena senior tidak melihat usia.
  2. Saya bertanya pada Bapak Gunawan Muhammad, bagaimana sikap bahasa Tempo. Menurut beliau, Tempo menganut sikap bahasa yang hidup. Jadi kalau suatu kata sudah hidup di masyarakat, kita akan pakai, tidak perlu menunggu masuk kamus. Contoh: kata mejeng.
  3. Kehidupan wartawan dan redaktur bahasa di Tempo dinamis.
  4. Saya curiga dengan kalimat agar ada keseragaman bahasa dalam media massa. (selanjutnya saya kurang jelas….)
  5. Pembaharuan itu perlu, tapi tidak terjadi pembekuan.
  6. Dalam jurnalistik kita mengembalikan makna kepada kata, beda dengan Sutarji (dengan segala hormat untuk beliau) yang membebaskan kata dari makna.
  7. Tempo makin menjawa, kenapa? So what gitu, loh? Karena penulis dan pembaca Tempo paling banyak orang Jawa. Mengalah-mengalah sedikitlah dengan orang Jawa.
  8. Tempo mengutamakan efisiensi kata dan efisiensi kalimat. Bicara dari aspek jurnalistik. Kompas menggunakan meninggal dunia, tapi Tempo menggunakan meninggal saja. Karena tidak ada meninggal akhirat.
  9. Tempo tidak pakai kalimat-kalimat berikut.
  10. Sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. Karena sudah menjadi Undang-Undang pasti sudah berlaku.
  11. Oleh karena itu… atau oleh sebab itu…. Cukup dengan karena itu… atau sebab itu.
  12. Untuk menghindari konflik yang ada.

· Pembuka kalimat Sementara itu, Di samping itu, Dalam pada itu. Ini pembuka kalimat jadul, Tempo tidak pakai lagi. Karena merupakan pembuka kalimat orang-orang yang berputus asa. Tempo meninggalkan kejadulan karena Tempo mencari pembaca baru. Tempo berusaha memperbaharui bahasa.

· Inflasi kata sangat banyak terjadi pada kata untuk. Hal ini perlu disosialisasikan.

· Tempo sangat menyiasati kata yang, dengan, atas, terhadap, bagi, dan.

· Saya mencurahkan isi hati saya kepada dia. Kalimat ini masih rancu.

· Tifatul datang ke KPK untuk membicarakan rancangan. Kalimat ini pun masih rancu mestinya ditambahkan Perundang-undangan.

· Saya sangat terharu setelah datang di forum ini. Saya jadi tahu mengapa Uu (Suhardi, Redaktur Bahasa Tempo) begitu kuat memperjuangkan tata bahasa…..

Anton Moedardo Moeliono, Pakar Bahasa

· Salam sejahtera bagi Anda sekalian. Saya suka kalimat Pak Asmadi ini. Karena memang salam untuk Anda bukan kita.

· Mustahil masyarakat Indonesia dapat berbahasa Indonesia yang baik. Karena warga Indonesia memakai bahasa Indonesia dalam bermain tanpa latar pendidikan yang baik.

· Media massa harus mencerdaskan bangsa Indonesia lewat berbahasa. Media massa adalah angkatan yang paling besar berperan di masyarakat.

· Ada bahasa Indonesia sehari-hari yang mempunyai hak hidup untuk sementara dibiarkan hidup.

· Kata mejeng dipakai di ranah mana harus diteliti dulu.

· Ragam bahasa Indonesia yang tinggi dipakai di antaranya dalam pendidikan dan departemen.

· Mati banyak macamnya karena orang Indonesia menganggap alam baka sebagai suatu alam yang khusus dalam kehidupannya sehari-hari.

· Tulis nulis, sapu nyapu, dong, deh, sih, tidak dipakai dalam bahasa Indonesia formal.

· Apakah bahasa harus seragam? Yang harus seragam adalah norma dan satuan-satuannya.

· Oleh karena itu apa lebih elok daripada karena itu? Ini bukan salah atau betul, tapi soal gaya. Jika Tempo menggunakan sebab itu, sementara Kompas menggunakan oleh sebab itu, ini masalah gaya. Kata selalu dan senantiasa juga masalah gaya bahasa.

· Bahasa tidak bisa semau gue. Forum ini bisa membuat buku panduan. Jadi jangan sampai bingung menggunakan bergantung pada, bergantung dari, berterima kasih atas, rindu pada/atas bukan rindu terhadap.

· Bahasa Indonesia mudah jika mengacu pada bahasa Indonesia sehari-hari karena tidak ada kaidah yang mengikat.

· Presiden bertemu wapres lebih baik bila Presiden bertemu dengan wapres atau Presiden menemui wapres.

· Seseorang bangga dapat berbahasa Arab, Prancis, dan lain-lain, tapi tidak bangga berbahasa Indonesia.

· Ubah berubah peubah yang berubah.

Ihwal berubah perubahan.

· Ubahan analogi kirim – mengirim – pengiriman – kiriman, tulis – menulis – penulisan – tulisan, beri – memberi – pemberian – berian.

· Salah satu beda ragam baku dan tidak baku adalah dalam suku kata. Kompleks komplek, universitas unipersitas.

· Hendaknya kita taat asas. Hal ini cabaran bagi warga media massa.

· Perancis atau Prancis? Kaidah jika di dalam satu suku kata ada gugus gabungan konsonan di awal disisipi dengan e pepet (kelas, setop), jika ditambah dengan mengjadi mengelaskan, menyetop. Klakson mengelakson.

· Bahasa Indonesia menjawa, Jawanisasi. Mungkin untuk beberapa orang mengatakan so what? Jika kita ingin mempertahankan persatuan dalam negara kita, jangan ada satu suku pun yang merasa dijajah oleh suku lain.

· KBBI ibarat kamus Oxford berdasarkan sejarah. Dalam kamus besar itu tercantum bahasa Indonesia. Kebanggaan orang yang mengatakan 99.000 masukan, mungkin yang dipakai hanya 40.000-an kata.

· Canggih dulu cerewet, suka campur tangan, sekarang berpadan dengan sophisticated.

· Jika situasi mendesak memerlukan padanan kata, jangan tunggu ‘Rawamangun’.

· Memper- bertalian dengan menjadikan: mempertemukan menjadikan bertemu, memperjuangkan menjadikan berjuang.

· Pembelajaran Proses membelajarkan. Belajar mempelajari ada i di belakang menjadikan belajar.

· Bertunjuk-tunjukkan, berlihat-lihatan, berpandang-pandangan, ada bentuk awalan ber-.

· Berhati-hati menjadi memperhatikan.

Tanya-Jawab

Mulyo Soenyoto (Antara)

  • ·Saya sangat setuju dengan sikap kebahasaan Pak Anton. Jurnalis mencerdaskan masyarakat lewat bahasa.
  • “Siapa namamu?” “What’s your name?” Nama nomina. Dia hanya mau tanya nama, bukan mau tahu siapa.
  • Untuk Pak Marzan, Semboyan Tempo: Enak dibaca dan perlu sehingga ada hal yang kadang dibanding dengan, Tempo memilih dibanding saja, untuk tata bahasa tidak bisa diganggu. Penggunaan kata jangan merupakan kalimat perintah dalam bentuk larangan. Koran bisa membuat jangan menjadi deklaratif.

Irmina Irawati, Redaktur Bahasa Majalah SWAsembada

  • Pak Anton selalu menegaskan cenderung pada Perancis daripada Prancis, mengelakson, menyetop, memproduksi….
  • Apa beda memberi dan memberikan?
  • Penyingkatan yang berlebihan pada Bandara Suta untuk Soekarno Hatta, Protap untuk Provinsi Tapanuli.
  • Saya setuju dengan Pak Amarzan mengenai untuk yang mubazir. Saya lupa untuk makan. Kepada yang mubazir, banyak yang mestinya menggunakan pada.

Amarzan Loebis

  1. Apakah dalam menyerap bahasa dalam masyarakat mengikuti tata bahasa? Tidak, tapi Tempo berusaha ketat termasuk mengutip kalimat asli. Quotation bisa diedit atau tidak, di Tempo bisa.
  2. Saya setuju pengayaan bahasa digali dari bahasa Melayu, tapi ada masalah dengan bahasa Melayu sebaiknya Redaktur Bahasa juga memakai Kamus Dewan.

Anton Moedardo Moeliono

  1. Soal siapa namamu? Siapa nama Anda? Dalam budaya kita, nama memiliki eksistensi sendiri. Siapa namamu ini kaitannya dengan orang. Yang penting, siapa, apa, diikuti yang. Siapa takut? Kalimat ini salah. Berapa yang diambil? Bukan berapa diambil?
  2. Tentang Jangan, bahasa itu hidup. Agar jangan menyesal. Kita tidak perlu konservatif terhadap yang memakai agar tidak menyesal.
  3. Saya diberi, saya ditugasi, jangan mencampuradukkan ditugasi dengan ditugaskan, dihadiahi dengan dihadiahkan. Menugasi kepada orang, menugaskan kepada pekerjaan.
  4. Parkir berasal dari bahasa Belanda memarkir, memahami, memikirkan.
  5. Produksi pada bahasa Melayu jarang memakai gugus konsonan jadi memproduksi.
  6. Sejajar-menyejajarkan. Kalau mau teratur, semua disisipi e pepet. Kalau bunyinya satu di awal, tidak masalah.
  7. Kata untuk yang mubazir asal mulanya karena tiap to diterjemahkan menjadi untuk.
  8. Tentang akronim, sebenarnya tiap akronim harus mengikuti kaidah kalau tidak, hanya dipahami oleh yang membuat. Akronim pun terikat pada kaidah. Markus ada unsur permainan bahasa. Kalau mau, maksus.
  9. Soal pada, dalam pemakaian bahasa Indonesia, ada kaidah yang bisa dipakai:
  10. Di + pada menjadi pada
  11. Ke + pada menjadi kepada
  12. Kepada disingkat pada
  13. Daripada disingkat dari
  14. Pemberian dari saya ini, pemberian daripada saya. Dulu pakai daripada.
  15. Lari ke bus bukan kepada bus.
  16. Kita kumpulkan ungkapan-ungkapan tetap.
  17. Asrul Sani, “Kami ini ahli waris bangsa sehingga akan membuang petatah petitih Melayu.” Ini sayang warisan bahasa jadi hilang.
  18. Bahasa Indonesia seperti bahasa pidato sehingga dianggap menjadi penyebab susastra Indonesia menjadi tidak maju. Penjajaran bahasa Indonesia terlalu kering yang menyebabkan susastra Indonesia menjadi kering.

Doddi Barnas (Warta Kota)

  • Pemendekan, penyingkatan kepada menjadi pada hanya cocok pada puisi atau lagu karena bila dibebaskan dalam media massa, bila seseorang memahami kepada menjadi pada akan merepotkan.
  • Peluluhan k, p, s, t, kalau diberikan awalan me- apa ini kaidah atau gaya bahasa? Untuk penggunaan di Tempo, kata yang berawalan k, p, s, t tidak diluluhkan.
  • Pengubahan dalam bentuk lain tidak hanya di DPR tapi juga di media massa.
  • Akhiran –kan dan akhiran –lah merupakan virus Ungu: Tuhan, berikan aku…. Di FBMM juga harus dibahas. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Tuhan, berilah kami kesabaran.

Djony Herfan, Editor Gramedia

  • Mengenai Tempo, pada saat itu dulu sangat akrab dengan bahasa. Namun, kini gaya tulisan Tempo kurang mengikuti zaman.
    Seharusnya sastra jurnalistik berubah menjadi sastra elektronik; sastra informasi dan komunikasi.
    Bahasa media massa menjadi rujukan.
    Pak Anton menyebut buku panduan ungkapan-ungkapan tetap. Ini senada dengan Tempo seperti membaca novel dari A sampai habis. Sekarang ini masih ada pada tulisan-tulisan tertentu.
    E-mail surel. Pernah ada pos-el. Di Gramedia,ditulis imel saja. Di kartu nama sudah tertulis imel.

Amarzan Loebis

  1. Ini masalah sejarah karena generasi pertama adalah sastrawan sehingga muncul generasi sastrawi.
  2. Tempo pertama kali menggunakan aduhai. Pernah seorang penulis kehilangan kata ketika menggambarkan seorang penari, lebih dari cantik, lebih dari molek, jadi bagaimana? Aduhai, ya sudah tulis aduhai.
  3. Setelah muncul generasi baru yang berasal dari eksakta, berubahlah gaya bahasa. Jadi dipakai bahasa baku. Apakah akan kering? Tentu tidak, kita mulai dari forum ini
  4. Kita menyerap bahasa birokrat yang tiap hari kita hadapi Mengkritisi anak bangsa muncul dari para birokrat.
  5. Peluluhan k, p, s, t, ini hanya gaya, mentoleransi diubah menenggang.

Anton Moedardo Moeliono

  1. Soal kepada yang berkembang di masyarakat berdampingan.
  2. Ahli bahasa sering dicap memaksa. Memakai kaidah sering dianggap pemaksaan.
  3. Kepala negara takut mencampuri urusan bahasa Indonesia dengan dalih investor takut datang. Investor tidak datang bukan karena takut bahasa Indonesia, tapi karena tidak ada kepastian hukum.
  4. Tulis – menulis – penulis – penulisan
  5. Pemanasan global atau kenaikan suhu.
  6. Global warning tak transitif.
  7. Tahan panas kepanasan.
  8. Seharusnya penaikan bukan kenaikan, penurunan harga bukan keturunan harga, penaikan harga bukan kenaikan harga.
  9. Berikan bisa berilah. Yang perlu diusahakan dulu bahasa jurnalistik….
  10. Pencuri itu berusaha ditangkap polisi.
  11. Pencuri itu berhasil ditangkap polisi.
  • Sejarahnya pimpin – pemimpin – pimpinan terpengaruh dari bahasa Belanda. Misal ada konser di bawah pimpinan Adi M.S bergeser menjadi yang memimpin. Hasil memimpin adalah pimpinan.
  • Pakai saja dapat ditangkap….
  1. Pelecehan dianggap hina. Sexual harassment justru yang sangat menggairahkan bukan menghina. Perundungan seksual daripada pelecehan seksual. Yang bisa dipakai melecehkan mahkamah.
  2. Soal buku panduan ungkapan kita bisa mulai dari kamus. Tiada gading yang tak retak.
  3. E-mail menjadi imel, pada akhirnya akan bersaing. Siapa yang menang pos-el, sur-el, atau imel. Saya lebih senang pos-el karena e-mail tidak selalu berisi surat.

Tendy Kusuma Somantri (Pikiran Rakyat)

  1. Gaya bahasa beda dengan gaya penulisan dikaitkan dengan gaya selingkung. Dalam hal ini media dikaitkan dipersalahkan karena dianggap merusak bahasa Indonesia.
  2. Memperhatikan berubah menjadi memerhatikan terus berubah lagi menjadi memperhatikan.
  3. Museum Konperensi Asia Afrika, Proponsi di papan-papan nama masih dipakai.

Anton Moedardo Moeliono

  1. Media massa mempunyai kedudukan yang sangat strategis.
  2. Telefon ketaatasasan pemerintah rendah. Memesonakan. Soal perhati, redaktur ahli tidak terbuka pada masukan. Perhati tidak ada.
  3. Memperistrikan beristri. Saya memperistrikan anak laki-laki. Saya mempersuamikan anak perempuan. Saya memperistrii menjadi saya beristri
  4. Mempertemukan bertemu
  5. Memperhatikan – berhati-hati.
  6. Palagan menjadi perlagaan.
  7. Anutan bukan panutan menganut.
  8. Sok – asok
  9. Pasok pasokan
  10. Petualang dasarnya tualang – bertualang – pertualangan. Pertualangan/petualangan hanya variabel.
  11. cundang – mencundang – pecundang bukan mempercundang
  12. Bersatu – persatuan
  13. Bergunung – pergunungan. Daerah yang bergunung pegunungan.
  14. Perairan daerah yang berair.
  15. Pegadaian/pergadaian tempatnya. Penggadaian proses.
  16. Dalam bahasa Indonesia pelaku dengan per- tinggal beberapa.
  17. Bersedih – persedih
  18. Bertapa – pertapa

Immanuel Umbu Rey (Antara)

  1. Perkotaan banyak kota
  2. Pergunungan banyak gunung
  3. Perdesaan banyak desa
  4. Percobaan coba-coba
  5. Perkiraan kira-kira

Anton Moedardo Moeliono

  1. Tidak begitu sejarahnya.
  2. Berhati-hati – perhatian bukan penghatian.
  3. Perbukitan/pebukitan daerah yang berbukit.
  4. Per-an dan pe-an merupakan selingan atau varian.
  5. Harus ber kalau per-an.
  6. Pe-an berarti tempat.
  7. Berkawin atau bernikah tidak ada karena peristiwanya perkawinan dan pernikahan bukan pekawinan dan penikahan.
  8. Ada kelompok terbatas atau tertutup. Bentuk seperti tetangga, jejaring, bisa dihitung, tidak produktif.
  9. Peer padanan dalam bahasa Belanda.
  10. Tara – setara, baya – sebaya.
  11. Talk show gelar bincang.
  12. Road show promosi keliling.
  13. Ada yang mempertimbangkan bahasa Arab tetap dipakai secara emosional, yang mempertahankan kemurnian atau kesucian ajaran Islam dengan mempertahankan bahasa Arab bukan dengan pertimbangan intelektual.
  14. Ada seorang menteri di Malaysia melarang umat Nasrani di sana memakai nama Allah. Padahal orang Nasrani di Arab menggunakan Allah. Ada yang mengatakan, Allah bukan berasal dari bahasa Arab tapi dari bahasa Ibrani. Bahasa Arab, bahasa Ibrani, bahasa Arab merupakan satu rumpun bahasa. Allah Al + ilah (sesembahan). Islam hanya mengakui satu Allah karena tidak ada ilah-ilah.
  15. Idul Id: hari raya, fitri fitur: penghentian puasa. Idulfitri = idul sagir; Iduladha = idulkabir. Idul Ummi: Hari Ibu, Idul Istiqlal: Hari Kemerdekaan.
  16. Umat, tentara, armada kolektif, kumpulan.
  17. Jemaah calon haji bukan calon jemaah haji. Berjemaah: bersama-sama.
  18. Anggota tentara. Karena tentara bermakna jamak. Ketentaraan: Sifat-sifat tentara tampak.
  19. Polisi bermakna tunggal.
  20. Ilmu ilmi, din dini, abi abi.
  21. Engineering rekayasa. Cara mencari kata ini mulai dengan mencari definisi pada kamus bahasa Inggris-bahasa Inggris. Yang paling baik kamus Webster.
  22. Waspada tidak boleh mewaspadai.
  23. Setiap bahasa mempunyai empat lingkaran atau lapisan.
  1. Lapis pertama bahasa Melayu
  2. Lapis kedua menerjemahkan bahasa asing.
  3. Lapis ketiga kata yang diserap tapi dipertahankan aslinya. Contoh: struktur.
  4. Lapis keempat kosa kata asing yang jadi penghuni tetap bahasa Indonesia. Contoh: Assalammualaikum, de jure, de facto, face to face.
  • Kecelakaan di betulan tanjakan.
  • Pengujung seperti pelaut yang melaut. Mengujung: menuju ke ujung. Pengujung: yang di ujung.
  • Catering: Jasa boga. Tapi masyarakat tetap memakai katering.
  • CEO: Pejabat eksekutif utama.
  • Kata-kata Di-PTUN-kan, di-pulau buru-kan, sedapatnya dikurangi.
  • Teks deskriptif mesti menggunakan bahasa baku.
  • Bahasa cakapan boleh tidak bahasa baku.
  • Tulisan melintasi tempat dan waktu. Visual melewati batas-batas waktu dan tempat.
  • Lafal bisa beda, tulisan tetap sama. Pertimbangan hanya bagaimana bisa langgeng. Beralih dari lafal ke tulisan. Mengapa masyarakat kita kembali ke bunyi karena kita belum cerdas.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Mencari Kata Baku — Catatan Diskusi Akhir Tahun”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

Menarik sekali🙂 Asyik juga mengikuti perkembangan bahasa di media massa😀

Terima kasih, aku ijin save ya untuk referensi😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: