Agung Adiprasetyo: Bicara Fakta, Bukan Gosip

Posted on 15 Februari 2009. Filed under: Berita |

Agung Adiprasetyo berbincang Franz Magnis-Suseno, S.J. menjelang tampil selaku pembicara.

Agung Adiprasetyo berbincang Franz Magnis-Suseno, S.J. menjelang tampil selaku pembicara.

Kini banyak orang bertanya, bagaimana menciptakan peluang pada saat menghadapi krisis global? Pertanyaan ini menjadi tema seminar memperingati 40 tahun Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Agung Adiprasetyo, Pimpinan Tertinggi Kompas Gramedia mengurai apa dan bagaimananya “Krisis Global, Peluang dan Tantangan: Pengalaman Kompas Gramedia Group” pada sesi II, pukul 13.30–15.00 WIB, Kamis 12/2 di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.

gambar21


“Mengapa masih bicara krisis hari ini?” demikian pertanyaan utama sebagai pembuka pembicaraan awal seminar sesi kedua dari Agung Adiprasetyo, Pimpinan Tertinggi (Chief Executive Officer Kompas Gramedia Group).

Menurut Agung Adiprasetyo, turbulensi terjadi setiap saat, bukan hanya karena ada gelombang besar krisis ekonomi global. Oleh karena itu, patut mendapat perhatian serius bahwa turbulensi terjadi karena perubahan pada:

  1. Organisasi intern perusahaan itu sendiri;
  2. Kompetitor;
  3. Lingkungan sosial;
  4. Teknologi dan sistem informasi.

Dalam turbulensi, baiklah dicermati apa yang dilakukan Michael O’Leary, CEO Ryanair tahun 2003 untuk membawa perusahaan menikmati

Profit margin 31%, sementara BA 3,8%, Southwest 8,6%

Sebagai data dan fakta pendukung, Agung Adiprasetyo mengajukan angka kunci perbandingan antara 1998 dan 2008, seperti berikut ini.

  1. Pertumbuhan ekonomi -13,2% (1998); 6% pada 2008
  2. Ekspor (USD Miliar) 50,4 (1998); 72 s.d. Juni 2008
  3. Cadangan devisa (USD Miliar) 0 (1998); 50,58 s.d. Oktober 2008
  4. Kurs dolar (US/Rp) 8.025 (1998); 9.398 s.d. Oktober 2008
  5. Inflasi (%) 77,63 (1998); 11,10 s.d. November 2008
  6. Gross Domestic Product (Rp triliun) 943 (1998); 2.353 s.d. Juni 2008
  7. Utang Luar Negeri (USD Miliar) 151 (1998); 147 pada 2008

Landasan berpikir yang mengacu pada peluang dan tantangan dalam menghadapi krisis global, Agung Adiprasetyo menawarkan suatu pola. Adapun pola berpikir yang dimaksud adalah “berpikir keluar dari kotak” yang meliputi

  1. Kultur;
  2. Proses/keyakinan lama;
  3. Aturan perusahaan/aturan main.

Untuk itu, ada cara tersendiri yang dapat dilakukan, antara lain

Driving against traffic, dengan membalik paradigma

  1. Menyiasati perang tarif;
  2. Ekspansi ketika pasar lesu;
  3. Inovasi di produk, proses, people.

Akan tetapi, tak semudah dalam pelaksanaannya. Pada kenyataannya, sebagian besar orang lebih suka asal bicara untuk mengusulkan sesuatu, tanpa data dan fakta memadai. Atas dasar itu, data dan fakta patut mendapat perhatian serius, sekecil apa pun nilai data dan fakta yang dilontarkan oleh karyawan di tingkat terendah sekalipun.

Bicara fakta, bukan gosip!

  1. dengar-dengar atau katanya ….;
  2. myopia, keputusan hari ini untuk masa depan;
  3. stereotyping, me too yang kurang cerdas;
  4. filosofis versus pragmatis;
  5. pengamat versus lapangan.

You are what you think .… Sebenarnya hanya tidak mau bagi kebanyakan orang untuk melaksanakan pekerjaan dengan hasil yang baik. Jadi, bukan ia tidak bisa.

Hindari bilang sulit, tidak mungkin, tidak masuk akal dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai hasil yang baik.

Fransiscus Welirang dan Agung Adiprasetyo di mimbar seminar 40 tahun STF Driyarkara.

Fransiscus Welirang dan Agung Adiprasetyo di mimbar seminar 40 tahun STF Driyarkara.

Sebagai catatan, pada Mei 1954, “Bannister miracle” terjadi di Oxford Track yang memecahkan rekor empat menit untuk berlari satu mil, menjadi 3’59.4”. Kemudian tiga tahun setelah itu, 16 rekor pecah.

Agung Adiprasetyo juga menguraikan sejumlah perubahan mendasar berdasarkan pengalaman di Kompas. Apa yang dialami berkaitan dengan opini bahwa hanya orang redaksi yang memiliki kemampuan menulis. Padahal, bagian iklan juga mampu melakukan promosi lewat tulisan. Oleh karena itu, perubahan mendasar di Kompas yang memberdayakan staf bagian iklan, akhirnya juga memiliki kemampuan menulis. Dahulu, hal seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh orang iklan. Kini, semua tulisan dapat dilakukan oleh bagian iklan. Bahkan sejumlah media mengikuti pengelolaan media dengan perubahan mendasar seperti yang terjadi pada harian Kompas. Berikut ini contoh model iklan dan sejumlah iklan hasil tulisan staf bagian iklan.***

gambar3 gambar5 gambar7 gambar8 gambar9 gambar10

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Agung Adiprasetyo: Bicara Fakta, Bukan Gosip”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

Just dropping by.Btw, you website have great content!

______________________________
Have You Ever Stayed Awake at Night Stressing About Whether or Not Your Marriage Will Last … And What You Can Possibly Do to Save It?

apa yg kau katakan tak sesuai kenyataan juga, kau memang pembohong ulung…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: