Strategi Bertahan bagi Industri Kecil

Posted on 5 Desember 2008. Filed under: Makalah |

Strategi bertahan atau survival yang diterapkan oleh perusahaan terkait erat dengan kemampuan bertahan atau bertahan dari perusahaan, demikian Y. Sri Susilo mengawali uraian pada sesi paralel “Pertanian dan Ekonomi Pedesaan” di Hotel Nikko, Jakarta, pukul 13.00—15.00 WIB, Rabu, 4/12/08.

Kemampuan bertahan lebih dimiliki oleh industri kecil-menengah karena sifat bisnis itu sendiri yang langsung dimanajemeni oleh para pemilik sehingga fleksibel dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan mempunyai kecepatan dan tekad (speed and passion). Kemampuan bertahan industri kecil ini sejalan dengan pendapat Audretsch (1997) yang menyatakan bahwa bertahan suatu perusahaan tergantung dari: (1) the startup size, banyaknya jumlah karyawan yang dimiliki pada waktu perusahaan dimulai, (2) capital intensity, mencerminkan biaya produksi yang harus dikeluarkan, terutama untuk biaya-biaya tetap, dan (3) debt structure, struktur modal, terutama yang disebabkan oleh banyaknya bunga utang sebagai beban tetap yang harus ditanggung. Perbedaan nilai dari ketiga unsur itu menyebabkan perbedaan tingkat bertahan suatu perusahaan.

Riset itu, Y. Sri Susilo bersama A. Edi Sutarta dan Amiluhur Soeroso dari Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jogjakarta melanjutkan, dalam proses penyelesaian dan dalam tahap pengolahan data berdasarkan jadwal penelitian, seperti yang dituliskan pada makalah bertajuk “Strategi Bertahan Industri Kecil, Pasca Kenaikan Harga Pangan dan Energi: Kasus Industri Makanan di Jogjakarta”. Penelitian ini harus selesai September 2008 yang dibiayai oleh Dana Insentif Universitas Atma Jaya, Jogjakarta.

Perusahaan kecil yang tidak dibebani oleh banyaknya beban tetap terhindar dari kesulitan, menanggung semua biaya pada kondisi ekonomi memburuk, walaupun perusahaan kecil sering mengalami kesulitan dalam mengelola skala ekonomi dan sulit bersaing dengan perusahaan berskala ekonomi besar. Struktur utang (debt structure) mempunyai pengaruh positif terhadap kesempatan suatu perusahaan untuk survive melalui dua alasan. Pertama, atas dasar agency theory dalam keuangan yang menyatakan bahwa makin tinggi perbandingan utang dengan modal sendiri, yang mengakibatkan tingginya bunga utang akan membatasi arus kas yang tersedia di dalam perusahaan sehingga perusahaan kehilangan kesempatan untuk menginvestasikan arus kas itu ke dalam proyek investasi yang lebih menguntungkan. Kedua, menurut Caves dan Porter (1976), investasi yang besar dapat mencegah pesaing-pesaing baru masuk, sekaligus menghalangi perusahaan untuk secara fleksibel keluar dari industrinya.

Dari kedua pendapat Jensen (1986) serta Caves dan Porter (1976) terlihat bahwa perusahaan kecil lebih luwes untuk mengalihkan arus kas ke proyek yang lebih menguntungkan karena barrier to exit-nya tidak tinggi, berbeda sekali dengan perusahaan besar yang lebih kaku. Besarnya beban utang dan beban tetap lain menyebabkan perusahaan sulit mengatasi masalah keuangan, jika kondisi ekonomi memburuk. Dalam kondisi ekonomi membaik perusahaan besar dengan skala ekonomi besar mudah menanggung semua beban berat tersebut dan dapat lebih efisien dalam produksi.

Pemerintah selama kurun waktu 2005–2008 menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebanyak tiga kali: Maret 2005, Oktober 2005, dan Mei 2008. Demikian pula dengan harga gas elpiji (LPG) dan tarif dasar listrik (TDL) pernah juga dinaikkan beberapa kali. Harga pangan, terutama tepung terigu, kedelai, gula, dan minyak goreng dalam kurun waktu terakhir juga melonjak dengan signifikan. Kenaikan harga pangan dan energi itu berpengaruh terhadap biaya operasi dari unit-unit usaha, termasuk industri makanan skala mikro-kecil di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta. Pada dasarnya, kenaikan harga pangan dan energi mendorong meningkatnya biaya produksi. Kondisi ini mendorong kenaikan harga jual produk (cost-push inflation).

Kajian mengenai strategi bertahan pada usaha skala kecil menjadi hal yang menarik. Setidaknya ada tiga alasan: (1) usaha mikro-kecil relatif lebih mampu bertahan terhadap perubahan lingkungan ekonomi. misalnya krisis ekonomi, daripada usaha menengah-besar, (2) usaha mikro-kecil relatif dinamis dan adaptif terhadap perubahan lingkungan ekonomi yang terjadi, dan (3) usaha mikro-kecil mampu menyerap tenaga kerja, terutama tenaga kerja tidak terampil. Untuk mempertajam analisis, maka dilakukan riset mengenai strategi bertahan dari industri makanan skala kecil di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta.

Lokasi penelitian dipilih sentra industri makanan dalam riset ini yang meliputi industri makanan, seperti industri tahu (kabupaten Bantul), bakpia (kota Jogjakarta), roti dan kue (kota Jogjakarta, kabupaten Sleman), tempe (kabupalen Kulonprogo, kabupaten Bantul), kerupuk (kabupaten Bantul, kabupaten Sleman), dan makanan gorengan (kota Jogjakarta, kabupaten Kulonprogo).

Survei dilakukan terhadap dua ratus produsen makanan skala kecil untuk mencari data dan informasi yang sesuai dengan tujuan studi. Besar atau ukuran sampel (sample size) untuk masing-masing kelompok industri makanan adalah bakpia (40 produsen), roti dan kue (30 produsen), tahu (30 produsen), kerupuk (30 produsen), tempe (30 produsen), dan makanan gorengan (40 produsen). Survei dilakukan dengan cara melakukan wawancara berdasarkan kuesioner yang disiapkan. Survei dilakukan pada Juni–Juli 2008. Penentuan sampel, khususnya untuk jenis dan lokasi industri makanan dilakukan dengan metode purposive samplIng. Untuk responden produsen makanan, penentuan sampel ditentukan dengan cominience sampling.

Analisis penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Dalam riset yang menggunakan analisis deskriptif pada dasarnya mengidentifikasi karakteristik dari fenomena yang diamati atau melakukan eksplorasi kemungkinan hubungan dua atau lebih fenomena. Kemudian analisis secara deskriptif dapat juga dilakukan dengan teknik statistik yang relatif sederhana, misalnya menggunakan tabel, grafik, dan ukuran tendensi sentral, yaitu nilai rata-rata, nilai tengah, dan modus.

Strategi bertahan yang diterapkan oleh responden pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi dua: (1) menaikkan harga jual produk, dan (2) tidak menaikkan harga produk. Dari hasil survei ternyata sebanyak 178 responden (89%) menyatakan menaikkan harga, sedangkan 22 responden menyatakan tidak menaikkan harga (11%). Untuk kelompok responden yang menaikkan harga, strategi bertahan yang diterapkan mencakup: (1) menaikkan harga saja (41,57%) (2) kombinasi harga naik dan mengurangi marjin keuntungan (25,28%), (3) harga naik dan mengecilkan ukuran produk (20,22%), dan (4) kombinasi harga naik, mengurangi marjin keuntungan, dan mengecilkan ukuran produk sebanyak 12,93%. Temuan studi ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh Y. Sri Susilo, dkk. (2002) serta penelitian Y. Sri Susilo dan Sri Handoko (2002) yang menyatakan agar tetap mampu bertahan produsen industri kecil dan kerajinan rumah tangga (IKKRT) menerapkan strategi kenaikan harga untuk menutup kenaikan biaya produksi. Hasil kajian Kaballu dan Kameo (2002) serta Y. Sri Susilo dan Ariani (2001) juga memperkuat temuan hasil riset ini.

Dalam penelusuran lebih jauh, sebagian besar responden tidak ada yang menerapkan strategi bertahan dengan mengurangi tenaga kerja (PHK) atau mengurangi jam kerja. Temuan ini tidak sejalan dengan riset Y. Sri Susilo, dkk. (2002) serta kajian Y. Sri Susilo dan Sri Handoko (2002) yang menemukan bahwa salah satu strategi bertahan yang dilakukan oteh IKKRT adalah dengan mengurangi tenaga kerja (PHK) dan mengurangi jam kerja. Perbedaan ini dimungkinkan karena pada kedua studi itu mengamati strategi bertahan dalam konteks menghadapi krisis ekonomi tahun 1998 manakala dampak negatifnya bagi produsen lebih besar daripada dampak kenaikan harga pangan dan energi.

Strategi lain yang diterapkan adalah menekan biaya produksi dan melakukan efisiensi dalam produksi. Biaya yang dapat ditekan adalah biaya promosi dan biaya yang dikeluarkan dalam konteks memberi sumbangan kepada berbagai pihak, baik yang bersifat formal maupun informal. Menekan marjin keuntungan, juga diterapkan kepada pengecer atau tenaga penjualan. Sebagal contoh tenaga penjualan keliling pada industri roti dan kue harus menerima kenyataan marjin keuntungan yang ditetapkan produsen dikurangi. Upaya Strategi lain yang dilakukan dengan mengurangi kuantitas produksi. Hal ini dilakukan karena modal terbatas, dan biaya produksi meningkat. Dari hasil survei lapangan temyata sebanyak 27 responden (13,5%) menyatakan melakukan pengurangan kuantitas produksi.

Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden, harapan mereka jika harga bahan baku melonjak pemerintah perlu membantu produsen skala kecil dengan operasi pasar dan subsidi harga. Dengan kebijakan itu pasokan barang di pasar terjamin dengan harga menjadi relatif teijangkau. Responden juga mengeluh dalam beberapa kasus pasokan LPG tiba-tiba menjadi langka di pasar. Kondisi itu kemudian menyebabkan harga LPG meningkat. Demikian pula pemadaman listrik secara bergilir sedikit banyak juga mengganggu aktivitas produksi, terutama untuk industri bakpia serta industri roti dan kue.

Bagaimana dengan respons konsumen atau pembeli? Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, pada umumnya konsumen memahami kenaikan harga jual dan produk-produk makanan. Konsumen juga mengetahui bahwa harga bahan baku serta ongkos produksi juga meningkat. Harapan konsumen agar produsen tetap mempertahankan kualitas produk mereka, terutama dan sisi rasa, kebersihan, dan kesehatan.

Strategi bertahan yang diterapkan oleh responden dengan menaikkan harga produk dan atau dilakukan dengan menerapkan strategi bertahan yang lain. Strategi bertahan yang lain dengan menerapkan harga yang tetap atau tidak berubah atau diterapkan dengan strategi bertahan yang lain. Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar responden, yaitu 89% menerapkan strategi menaikkan harga produk, sisanya sebanyak 11% mengaku tidak menaikkan produk. Berbagai macam strategi bertahan yang diterapkan oleh responden pada dasarnya ditujukan agar usahanya tetap dapat beroperasi atau berproduksi.

Saran yang dapat direkomendasikan adalah kebijakan kenaikan harga energi yang dilakukan oleh pemerintah harus dilakukan dengan waktu yang tepat. Kenaikan harga BBM jangan bersamaan atau berjarak terlalu dekat dengan kenaikan harga energi yang lain, tarif dasar listrik (TDL) dan elpiji (LPG). Jadi, beban konsumen energi, terutama produsen skala mikro-kecil, menjadi tidak berlebihan. Untuk produsen makanan, strategi bertahan yang diterapkan sudah rasional dan hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas produk, khususnya keamanan produk, harus menjadi perhatian agar tidak merugikan konsumen.

Keterbatasan riset ini terutama pada besar sampel dan jumlah kelompok industri makanan yang menjadi sampel masih terbatas. Untuk riset selanjutnya agar dapat dipertimbangkan menambah besar sampel dan jumlah kelompok industri yang dijadikan sampel. Riset ini juga menarik untuk diterapkan pada kelompok industri pengolahan lain yang mengkonsumsi energi yang cukup besar. Untuk alat analisis juga dapat dikembangkan dengan alat analisis yang lain, misalnya analisis conjoint dan analytical hierarchy proceeds (AHP) dan menggunakan metode focus group discussion (FGD) untuk menggali informasi yang lebih mendalam.

——————–

BBM yang disubsidi oleh pemerintah adalah minyak tanah. solar, dan premium Sejak Agustus 2005 pemerintah menetapkan BBM bersubsidi hanya untuk sektor rumah tangga dan sektor transportasi. termasuk untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Untuk industri pengolahan skala menengah dan besar dikenakan harga BBM non-subsidi, yaitu harga BBM yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah (crude oil) dunia. Kenaikan harga BBM bersubsidi itu rata-rata sebesar 28% (Maret 2005), 126% (Oktober 2005), dan 28,9% (Mei 2008).

Harga pangan selama kurun waktu 2007–2008 mengalami kenaikan rata-rata 35%, bahkan ada produk pangan yang harganya naik di atas 100% kenaikan harga pangan setidaknya oleh lima hal: (1) penggunaan biofuel yang menggunakan input pangan asing lainnya, (3) meningkatnya harga minyak dunia, (4) menurunnya subsidi pertanian di AS dan negara-negara Eropa. dan (5) kondisi cuaca dan musim akibat dan dampak pemanasan global.

Pendekatan cost push mengemukakan bahwa inflasi terjadi karena naiknya biaya produksi atas barang dan jasa. Kenaikan harga-harga input atau faktor produksi mendorong kenaikan biaya produksi. Kenaikan biaya produksi ini selanjutnya menyebabkan penurunan penawaran atas barang dan jasa. Jika penawaran berkurang, sedangkan permintaan relatif tetap, maka harga barang atau jasa naik, ceteris paribus.

Strategi bertahan adalah tindakan atau cara yang dilakukan oleh produsen agar usaha tetap berproduksi, beroperasi atau berjalan.

Bakpia merupakan makanan khas untuk oleh-oleh dari Jogjakarta terbuat dan terigu, gula, dan isinya dapat berupa kacang hijau, cokelat atau keju.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Strategi Bertahan bagi Industri Kecil”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

saya sangat respon terhadap permasalahan uang menyangkit tentang strategi bertahan.
jika ada bahan mengenai konsep strategi bertahan atau teori survival yang sifatnya lebih ke basic sosial atau sosiologi saya akan sangat berterima kasih jika anda mengirimkannya ke e-mail saya: adeyakuza.jr@gmail.com
terimakasih sebelumnya.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: