Pesona Kabuki di Tanah Air

Posted on 4 Desember 2008. Filed under: Apa&Siapa |

Ayah yang bersusah hati melindungi gadisnya yang jatuh cinta pada pendeta musafir.

Ayah bersusah hati melindungi gadisnya yang jatuh cinta kepada pendeta musafir.

Pameran Nishiki-E

Topi ala Kabuki

Pemeran tarian Kabuki

Pemeran Tarian Kabuki

Pamusuk Eneste, pemerhati sastra dan budaya Jepang mengabadikan foto pameran Nishiki-E.

Pemerhati sastra & budaya Jepang mengabadikan foto pada Pameran Nishiki-e & Tarian Kabuki.

Wardah, pendukung Pameran dan Pementasan Nishiki-E dan Tarian Kabuki.

Wardah, Pendukung Pameran & Pementasan Nishiki-e & Tarian Kabuki.

Nishiki-e dan Tarian Kabuki di Bentara Budaya Jakarta atau BBJ (27/11–5/12) berlangsung untuk memperingati 50 tahun hubungan persahabatan Indonesia-Jepang. Melalui pameran dan pementasan atas kerja sama BBJ dengan The Japan Foundation, acara ini menampilkan pesona Kabuki kepada masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia.

Rakyat Jepang pada zaman Edo menikmati Kabuki melalui Nishiki-e Kabuki yang menggambarkan adegan pementasan Kabuki. Kabuki Kyogen atau teatrikal Kabuki modern merupakan salah satu seni tradisional Jepang yang dilahirkan pada zaman Edo (1603-1868). Pada umumnya, rakyat Jepang membeli Nishiki-e Kabuki bergambar pemain favorit. Pameran karya Nishiki-e di BBJ menampilkan zaman Edo dan Meiji (1868–1913) yang dimiliki oleh National Theatre of Japan. Pengunjung dapat turut menikmati Kabuki dan Nishiki-e sebagai bagian dari seni dan budaya Jepang. Selain pameran Nishiki-e dapat disaksikan juga Lektur dan Demonstrasi tarian Kabuki. Tarian ini dipentaskan oleh Bando Kotoji, dkk. yang menampilkan karya-karya yang terkait dengan lukisan yang dipamerkan. Sementara itu, lektur disampaikan oleh staf National Theatre of Japan.

Kabuki merupakan teater pada tradisi Jepang yang teregistrasi sebagai bagian dari World Heritage UNESCO (2005), selain Kabuki Nohgaku (2001) dan Ningyo joruri Bunraku (2003).

Sejarah Kabuki, seperti yang tertera pada Katalog Pameran dimulai pada 1603, ketika Okuni, seorang miko (perawan pelayan) atau kawaramono (pekerja untouchable) di kuil Shinto Izumo Taisha menarikan Kabuki untuk pertama kali.

Pada tahapan berikut, sejak 1629 pemerintahan militer melarang wanita mementaskan Kabuki seiring dengan perkembangan pertunjukan yang dianggap dapat merusak moral penonton. Pada 1659, pemerintah kembali melarang laki-laki muda untuk mementaskan Kabuki dengan alasan perusak moral. Setelah itu, Kabuki berkembang menjadi bentuk yang sama dengan masa kini, yaitu diperankan oleh pria dewasa.

Di dalam pentas Kabuki pemain laki-laki dapat memerankan sebagai pria atau wanita. Melalui segala upaya pada zaman Edo (1603-1868) dan campur tangan berbagai pihak, Kabuki berkembang menjadi sebuah seni tari yang serius, sekaligus menjadi bentuk teater yang disukai.

Dalam proses terbentuknya Kabuki modern, dapat dikatakan jika teater Kabuki terbentuk melalui dua periode, yaitu bentuk teater Kabuki hingga dilarangnya pria muda berpentas dan teater Kabuki yang terbentuk setelah pria dewasa saja yang dapat memainkan. Ketika pria muda dilarang mementaskan Kabuki, lalu berkembang beberapa fakta yang salah satunya mewajibkan pemain menampilkan Monomane Kyogen Zukushi yang mengutamakan permainan teater. Padahal, sebelumnya pementasan Kabuki lebih mengutamakan gerak tari. Pementasan ini dianggap dapat merusak moral sehingga pemerintah melarang. Pementasan Kabuki yang lebih menitikberatkan nilai hiburan dianggap tidak cocok ditampilkan di panggung teater Noh yang mengagungkan nilai seni. Dengan latar belakang sejarah seperti itu didirikan panggung teater khusus Kabuki.

Di panggung khusus segala bentuk adegan dapat dipentaskan, misalnya Hikimaku (tarian penutup sebuah babak adegan) memisahkan satu adegan dengan adegan lain sehingga adegan berikut yang cukup kompleks dapat saling terkait. Pementasan teater Kabuki juga kerap menggunakan Hanamichi, jalan yang dibuat di antara tempat penonton manakala pemain Kabuki berjalan ketika keluar atau masuk panggung. Dengan demikian, teater Kabuki mampu memberikan dimensi yang lebih luas daripada jenis teater lain. “Sen” adalah cara pemunculan pemain dari bawah lantai panggung ke permukaan dengan lift dan Chuzuri adalah salah satu adegan manakala pemain digantung dengan tali atau kabel dari atas panggung. Hal ini menjadikan Kabuki dikenal sebagai teater tiga dimensi. Dengan beberapa cara itu Kabuki menjadi teater yang sangat mewah di Jepang.

Kabuki Kyogen atau Teatrikal Kabuki modern diciptakan pada zaman Edo. Kabuki Kyogen dikategorikan ke dalam jenis awal Ningyo Joururi (bunraku) atau teater boneka Jepang yang kemudian diadaptasi dalam pertunjukan Kabuki. Karya yang diadaptasi dari teater Ningyojoruri ini dikenal dengan sebutan Honmarumono. Dalam teater Ningyojoururi semua kalimat dialog disampaikan oleh Dayu atau pemain musik, sedangkan di dalam teater Kabuki, Dayu hanya bertugas menjelaskan situasi dari setiap adegan dan sang aktor atau pemain yang mengucapkan dialog Honmarumono.

Jenis isi naskah Kabuki misalnya Jidaimono yang disusun berdasarkan peristiwa dalam sejarah atau Sewamono yang diciptakan dari kejadian keseharian dalam kehidupan masyarakat pada zaman Edo.

Pada zaman Edo pemerintah hanya mengizinkan tiga orang Zamoto atau pemilik teater yang dapat menyelenggarakan pertunjukan teater Kabuki secara tetap. Nama tiga Zamoto tersebut: Nakamura Kanzaburo, Ichikawa Uzaemono dan Morita Kanya yang mendirikan gedung teater, Nakamura-za, Ichikawa-za dan Morita-za. Tiga gedung Kabuki itu dikenal dengan sebutan Edo Sanza. Jika salah satu zamoto tidak bisa menyelenggarakan pertunjukan karena ada masalah yang tak bisa dihindari, zamoto lain segera ditentukan sebagai pengganti.

Untuk menghindari kekacauan di malam hari pemerintah di zaman Edo hanya mengizinkan pertunjukan Kabuki untuk dipentaskan sejak matahari terbit hingga terbenam. Dengan demikian, karya Kabuki yang diciptakan pada zaman itu relatif panjang, di luar waktu yang dibutuhkan untuk pergantian di antara babak adegan. Bagi penonton di masa itu, pertunjukan Kabuki adalah hiburan sepanjang hari. Lain halnya dengan pertunjukan Kabuki di masa kini yang jarang memperlihatkan karya keseluruhan, tetapi kerap hanya mengambil adegan-adegan yang populer, atau dikenal dengan istilah namanya Midori (berasal dari kata Yoridori Midori yang berarti memilih seseorang yang disukai).

Musik Kabuki dimainkan oleh Gidayu yang bermain di sayap kiri panggung dan Shimoza Ongaku yang bermain di sayap kanan panggung serta Deba-yashi atau Degatari yang bermain di atas panggung.

Judul babak pertunjukan Kabuki disebut Gedai. Kebanyakan Gedai dituliskan dengan jumlah karakter kanji ganjil karena orang Jepang percaya jika angka ganjil lebih menguntungkan. Ada pula Judul yang sengaja dipanjangkan dengan cara menambah karakter kanji agar jumlah karakter menjadi ganjil. Oleh karena itu, ada banyak judul yang sulit dimengerti, bahkan oleh orang Jepang sekali pun.

Pada zaman Meiji, penggemar Kabuki tetap banyak, di lain sisi karya-karya Kabuki kerap dikritik oleh para cendekiawan. Isi kritik serbaragam, mulai dari kritik pada isi yang bertentangan dengan peradaban karena dinilai terlalu kuno atau menyimpang dari kenyataan kehidupan sehari-hari. Trik-trik pertunjukan yang digunakan pun dinilai tidak lazim (istilah untuk ini adalah Keren), misalnya Chunori, artinya pemain yang digantung melayang di atas panggung atau Hayagawan, yakni pemain yang berganti baju dengan cara yang sangat cepat. Penggunaan cara-cara seperti itu dianggap bukan cara penyutradaraan yang benar. Berdasarkan kritik-kritik itu berkembang gerakan perbaikan materi teater Kabuki pada zaman Meiji.

Di tengah perang dunia kedua, pemerintah mengeluarkan peraturan untuk teater, seperti mengatur pertunjukan karya tertentu. Dengan kondisi seperti itu, Kabuki sulit dipentaskan. Lagipula ada banyak bencana serangan udara yang menimpa gedung teater atau para pemain Kabuki. Setelah perang dunia kedua berakhir, GHQ (General Headquarters) — militer Amerika yang mematahkan pertahanan Jepang — membatasi pertunjukan Kabuki karena isi karyanya yang dianggap terlalu feodal dan tidak sesuai dengan era demokrasi. Walaupun demikian, bawahan Mc Arthur, Faubion Bowers berusaha mengembalikan pentas Kabuki. November 1947 karya Kabuki “Kanadehon Chushingura” dipen­taskan kembali dengan menampilkan “seluruh aktor papan atas”. Kesempatan ini menyelamatkan Kabuki dari krisis pemusnahan.

Pada 1960-an dan 1970-an Jepang menjadi sangat maju dan dunia Kabuki mengalami banyak perubahan. Setelah zaman Meiji gerakan untuk mengembalikan gaya asli Kabuki semakin meluas. Hal ini sebelumnya kurang mendapat perhatian. Pada 1940 pemerintah Jepang mendaftarkan Kabuki sebagai important intangible cultural heritage. Pada 1941 National Theatre Jepang dibuka di Tokyo. National Theatre berhasil menampilkan pertunjukan Fukkatsu Kyogen yang mementaskan kembali gaya teater lama atau Tooshi Kyogen yang mementaskan naskah panjang secara keseluruhan. Setelah itu, produksi Kabuki kembali berkembang seiring dengan pembukaan gedung teater baru, misalnya Shochiku-za di Osaka atau Hakata-za di Fukuoka.

Penonton dapat menyaksikan pentas teater Kabuki di enam lokasi berikut.

Tokyo: Kabuki-za, National Theater, Shinbashi Enbujo, Aasakusa Kokaido, Mitsukoshi Theater dan Zensin-za Theater

Aichi: Misono-za dan Chunichi Theater

Kyoto: Minami-za

Osaka: Osaka Shochiku-za dan National Bunraku Theater

Kagawa: Kanamaru-za (dulu Kompira Ooshibai)

Fukuoka: Hakata-za

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: