CIA versi Tim Weiner

Posted on 26 November 2008. Filed under: Apa&Siapa |

CIA versi Tim WeinerIsi buku menarik perhatian banyak orang manakala memuat data dan fakta terbaru. Informasi terbaru yang berdaya tarik tinggi  sungguh-sungguh menyita waktu, tenaga, dan ongkos untuk memperbincangkan isi pernyataannya. Sisi lain lagi ketika isi pernyataannya mengundang polemik tentang profil tokoh yang dilibatkan dalam peristiwa atau sejarah bangsa membawa akibat  bukunya semakin sulit dicari di toko buku. Selain menarik perhatian orang, harga buku menjadi selangit. Buku bersampul merah berlogo Central Intelligence Agency atau CIA bertajuk “Membongkar Kegagalan CIA” bukan hanya buku yang mengubah pandangan orang tentang CIA, melainkan buku yang menjadi polemik bagi masyarakat bangsa dan negara RI.

Tiada rahasia yang tak terungkap oleh waktu, demikian Jean Racine dari Britannicus, 1669. Sementara itu, CIA di bawah Pemerintahan Truman (1950–1953) menuliskan, “Awalnya, Kami tidak tahu apa-apa.” Kedua isi pernyaatan itu menggarisbawahi dua kutipan juru ulas buku seperti berikut ini.

“Buku ini menyertakan sejumlah informasi dan analisis luar biasa mengenai keterlibatan CIA di Indonesia, terutama berkaitan dengan peristiwa Pemberontakan Daerah tahun 1950-an dan Tragedi Kemanusiaan tahun 1965.”

(Baskara T. Wardaya, sejarawan, penulis buku Cold War Shadow: United States Policy Toward Indonesia, 1953–1963)

“… Tim Weiner benar, CIA saat ini tak lebih dari puing-puing keruntuhan yang sebentar lagi mungkin berubah menjadi debu.”

(Budiarto Shambazy, wartawan Kompas, kolumnis “Politika”)

Pusat pertanyaan kritisnya, mengapa negara AS seolah-olah tidak berdaya menghadapi CIA? Mengapa pula agen-agen CIA beroperasi sembarangan? Ternyata pertanyaan ini terjawab dengan nada penuh keprihatinan. Sejarah operasi intelijen CIA, menurut buku ini justru dianggap memangsa bangsa AS sendiri.

Tim Weiner, wartawan peraih Hadiah Pulitzer membawa bukti-bukti tentang betapa memalukan kerja CIA, seperti agen CIA mengetahui Tembok Berlin, simbol totalitarianisme rezim komunis Eropa Timur, runtuh pada 1989 dari siaran televisi, bukan dari pasokan analisis spionase bawah tanah; rontoknya Wall Trade Center pada 11 September 2001 memperlihatkan kepada dunia bahwa agen CIA kurang mumpuni sehingga lolos dari buruan terorisme.

CIA berperilaku yang dianggap terparah pada sejarah perkembangan spionase, yang berbohong tentang keberadaan senjata nuklir Irak. Tragedi serbuan ke Irak ini menjadi basis pengambilan keputusan politik keliru pada sejarah kepresidenan George Walker Bush (yang dilahirkan di New Haven, Connecticut, 6 Juli 1946), setelah menumbangkan Saddam Hussein, Presiden Irak yang diawali dengan penyerbuan besar-besaran. Luarbiasa. Peristiwa demi peristiwa memilukan terus-menerus berlangsung penuh kecaman. Ternyata peristiwa serbuan ke Irak bukan satu-satunya peristiwa yang mencekam, melainkan juga skandal penyiksaan tawanan di penjara Guantanamo, Kuba; prajurit AS terbukti melakukan penyiksaan terhadap para tahanan di penjara yang terkenal sebagai penjara untuk menyekap orang yang mendapat label teroris. Tambahan lagi dengan pengungkapan identitas agen rahasia Valerie Plame. Pengungkapan itu muncul bersamaan dengan investigasi yang dilakukan oleh Departemen Kehakiman AS.

dsc09161Buku 857 halaman ini dibanderol seratus dua puluh ribu rupiah. Penulisnya Tim Weiner, pemenang Hadiah Pulitzer dengan judul “Legacy of Ashes the History of CIA” (2007). Dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Akmal Syamsuddin yang menjadi “Kegagalan CIA: Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya” diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2008).

Pada halaman 333 mengungkap dialog dalam rapat rahasia di ruang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS di Washington, D.C. pada 1967. Ketua komite itu, Senator J. William Fulbright dari Arkansas mempertanyakan:

“Kita terlibat dalam kudeta itu?” tanyanya.

“Tidak, Pak,” jawab Duta Besar Green.

“Apakah kita terlibat dalam percobaan kudeta sebelumnya?” Senator kembali bertanya,

“Tidak,” ujar Duta Besar. “Saya kira tidak.”

“CIA tidak punya peran apa-apa dalam kudeta itu?” Fullbright bertanya lagi.

Sementara itu, halaman 330 berkaitan dengan isi pernyataan yang melibatkan profil tokoh nasional, Adam Malik terungkap:

“Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” ujar McAvoy dalam sebuah wawancara pada 2005. “Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut.”

Konon wartawan peraih Hadiah Pulitzer yang pernah berkunjung ke Afghanistan untuk investigative reporting operasi CIA dari tangan pertama ini meramu 50.000 arsip CIA, mewawancarai ratusan veteran CIA, dan mengorek pengakuan sepuluh direktur CIA. Dengan demikian, isi buku ini menjadi lancar gaya penulisannya sehingga Tim Weiner, reporter The New York Times layak dan pantas disebut pencerita jempolan.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “CIA versi Tim Weiner”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

Saya tak ragu dengan kemampuan investigatif reporting koran sekelas New York Times. Agen CIA di Indonesia ada di mana-mana, mulai dari tokoh LSM, anggota DPR, eksekutif… wah jangan2 CIA mampu juga menanamkan agennya sampai ke level presiden! Di mana kekuatan intelejen kita?

Ngeri saya sama daya tahan nasionalisme kita.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: