Ekonomi Kreatif Antara Anyer & Panarukan

Posted on 17 November 2008. Filed under: Berita |

Anyer-Panarukan, Jalan untuk Perubahan

Anyer-Panarukan, Jalan untuk Perubahan

Jalan raya Trans Jawa menghubungkan Pulau Jawa menjadi pusat ekonomi kreatif. Dari Anyer hingga Panarukan, Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal yang berkuasa selama tiga tahun empat bulan di Hindia Belanda (1808–1811) meninggalkan jejak rekam dari Anyer di barat hingga Panarukan di timur. Jalur yang meretas jalan perubahan yang melintasi area pegunungan, pinggang bukit dan menerabas rawa. Ekspedisi Anyer–Panarukan ini mengenang jasa gubernur jenderal yang membawa perubahan menuju ekonomi kreatif. Waktu tempuh antarbarang dan antarjasa dari kawasan Jawa terpangkas sedemikian singkat. Ekspedisi Anyer–Panarukan mengurai jejak rekam dua ratus tahun perjalanan ekonomi kreatif yang berubah fantastis saat itu.

 

 

Jalan untuk Perubahan menjadi tema sentral “Ekspedisi Anyer–Panarukan”. Perjalanan ini menggarisbawahi pentingnya pembangunan Jalan Raya Pos bersamaan dengan matinya kota-kota. Jalan yang membujur dari Anyer di barat ke Panarukan di dsc09135_edited1ujung timur Pulau Jawa. Seiring dengan perkembangan jalan raya itu, dari Jalan Daendels ke jalan tol Trans-Jawa, muncul ekonomi kreatif dengan mempersingkat waktu tempuh. Memanjang seribu seratus kilometer sebagai akses penting bagi pelintas batas utama jalan di sepanjang Pulau Jawa.

Stasiun Anyer Kidul di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Serang, Banten

Stasiun Anyer Kidul di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Serang, Banten

Mirip dengan judul utama “Tol Picu Konversi Lahan Sawah: Kereta Api Bukan Menjadi Pilihan” (Kompas 17/11) boleh jadi jejak rekam jalur ekspedisi Anyer-Panarukan membuktikan bahwa Pulau Jawa sejak dahulu asal-muasalnya dari Pulau Padi

Reportase perjalanan jurnalistik Kompas 2008.

Reportase perjalanan jurnalistik Kompas 2008.

yang berubah fantastis menjadi Pulau Kota. Apalagi dalam setiap pembangunan kerap bersanding penggusuran. Oleh karena itu, jalur penumbuh, sekaligus pembunuh kota menjadi gambaran kota-kota Jawa yang melenyap sekaligus menggeliat dan menggerakkan ekonomi kreatif.

Ratna Sri Widyastuti dari bagian penelitian dan pengembangan Kompas menuliskan pada halaman 391, “Pisau bermata dua telah diciptakan Daendels. Jika suatu kota mampu memaksimalkan fungsi jalan yang

Buku "Ekspedisi Anjer--Panaroekan"

Ekspedisi Anjer--Panaroekan, Laporan Jurnalistik Kompas

telah dirintisnya sebagai alat pembuka pasar bagi kota lain, peluang untuk tumbuh dan membesar akan terbuka lebar. Sebaliknya jika tidak, meskipun sebuah kota dilewati jalan penting ini, ia tidak akan berarti apa-apa. Jalur ini pun telah menjadikan ekonomi Jawa timpang. Bisa seperti Bandung, dapat pula seperti Panarukan” (Ekspedisi Anjer-Panaroekan, Laporan Jurnalistik Kompas, xvii + 445 halaman, Rp86.000,00).

Bersamaan dengan peluncuran bukunya, Pameran Foto bertajuk “Jalan Perubahan” (15–22 November, pukul 10.00–18.00 di Bentara Budaya Jakarta) mengabadikan peristiwa dan kenangan yang menyentuh hati. Satu per satu bidikan Agus Susanto, Lucky Pransiska, Totok Wijayanto, Raditya Helabumi, Riza Fatoni dan Bahana Patria Gupta memperlihatkan sentuhan kemanusiaan, sekaligus menggali potensi ekonomi kreatif sebagai kawasan wisata dan investasi besar-besaran.

Sejumlah 40 wartawan terlibat pada ekspedisi jurnalistik ini. Melelahkan dan mengundang kerisauan dengan kecemasannya manakala menyusuri jalan yang dipotret. Rentangan jalan dari ujung

Jalan raya Puncak berkelok dari kawasan Megamendung menghubungkan Cisarua--Cipanas di Jawa Barat.

Jalan raya Puncak berkelok dari kawasan Megamendung menghubungkan Cisarua--Cipanas di Jawa Barat.

barat sampai ke ujung timur sejauh seribu seratus kilometer mengingatkan bahwa darah dan air mata pada masa penjajahan merebakkan ekonomi kreatif bagi masyarakat di sekitarnya. Penuh dengan foto berita dan potret keindahan alam di sepanjang jalan dengan peninggalan sejarah yang menggelorakan ekonomi kreatif. Rekaman lensa ini juga mengingatkan tema perubahan bisa berkonotasi bukan hanya pada manajemen sumber daya manusia, melainkan pada perubahan manajemen penataan kota dan jalur utamanya.

Jalur jalan bersejarah yang berubah cepat sebagai atribut jalan untuk perubahan seperti pos-pos untuk peristirahatan atau pergantian kuda, kini tidak ada lagi. Demikian pula dengan kanopi pohon asam jawa yang memayungi ruas jalan, kini hanya tinggal kenangan terindah, meski di beberapa ruas masih bertengger

Trans Jawa yang menjalin kesatuan.

Trans Jawa yang menjalin kesatuan.

peninggalan sejarahnya. Potongan-potongan prasasti atau puing plus sepenggal kisahnya sebagai bukti “Jalan Perubahan” yang membangkitkan ekonomi kreatif.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: