Prospek Pasar Modal Indonesia

Posted on 9 November 2008. Filed under: Berita |

Resesi ekonomi atau krisis keuangan saat ini sebagai akibat resesi global yang berpusat dari Negeri Paman Sam. Kasusnya bermuara pada kredit perumahan subprime bernilai lebih dari $1.400 miliar. Pertanyaannya, apakah gelombang pasang resesi ekonomi atau krisis keuangan menerjang Indonesia? Pakar ekonomi mengurai dalam Seminar Sehari dengan moderator Drs. Satrio Prasetyo, ME yang bertajuk “Prospek Pasar Modal Indonesia dalam Keadaan FInansial Dunia yang Bergejolak” di Atmajaya Jakarta (7/11).

Edison Hulu, Chief Economist (kanan) bersama Drs. Satrio Prasetyo, ME (moderator)

Edison Hulu, Chief Economist (kanan) bersama Drs. Satrio Prasetyo, ME (moderator)

Edison Hulu, Chief Economist PT Bursa Efek Indonesia atau BEI menggarisbawahi, fundamental emiten BEI cukup baik, pemerintah berpengalaman menghadapi krisis 1998, dan indikator makro 2008 lebih baik dibandingkan dengan indikator makro 1998. Kesimpulan ini muncul sehubungan dengan kesiapan masyarakat bangsa dan negara RI menghadapi krisis keuangan global. Asumsi dasarnya berkaitan dengan fundamental emiten yang cukup baik dan serbaneka indikator makro serta perbankan. BEI memiliki langkah-langkah lebih memperketat pengawasan pasar, khususnya terkait dengan short selling, pengkajian kembali batas auto rejection, dan mereview peraturan yang ada (bila dipandang perlu). “Bagi kebanyakan investor, moto investasi menjadi pedoman, seperti pengetahuan yang cukup tentang investasi, dana yang cukup memadai, dan waktu yang cukup untuk berkonsentrasi pada investasi yang menguntungkan,” kata Edison Hulu.

Harunsyah, Menyikapi Resesi Global

Harunsyah, Assistant Vice President Danareksa (kanan) Menyikapi Resesi Global

Harunsyah, Assistant Vice President Head of Retail Distribution Development PT Danareksa Sekuritas mengurai latar belakang resesi global. Keadaan saat ini, katanya, terjadi penurunan harga saham, kebijakan Pemerintah RI, krisis 1998 versus 2008, dan fundamental emiten. Dalam kebijakan Pemerintah RI, Harunsyah menggarisbawahi bahwa global wealth management banking dilonggarkan, buy back program saham badan usaha milik negara, auto rejection system (untuk menertibkan yang emosional, panic selling, dengan penaikan jumlah penjaminan dana di bank), penaikan jumlah penjaminan dana di bank menjadi dua miliar rupiah, dan buy back program SUN (pembelian kembali surat utang negara).

Perbandingan Krisis 1998 dengan 2008

Indikator

1998

2008

Pusat Krisis

Indonesia

Amerika Serikat

Inflasi

77,60%

12%

Pertumbuhan PDB

-13,30%

6,30%

Deposito 3 bulan

40%

10%

Cadangan Devisa

US$ 20Miliar

US$ 55Miliar

Penurunan IHSG

65,5% (14 bulan)

50,7% (10 bulan)

Sektor terburuk

Bank Property

Pertambangan, Perkebunan

Menurut Harunsyah, dengan sejumlah dana yang memadai, investor dapat mengatur pasar potensial. Atas dasar itu, filosofi investasi pada saham berorientasi pada kejujuran terhadap diri sendiri. Pikirkan risikonya, jangan berbisnis kalau enggak mau ambil risiko, pesan Harunsyah seraya menambahkan, pasar modal saat ini betul-betul jatuh karena memang banyak pemodal berutang. “Sekarang saatnya untuk membeli saham dan obligasi. Tapi tidak asal beli. Kalau tidak mengerti apa-apa.”

Rantai investasi, mempersyaratkan tiga hal, di antaranya:

a. dana yang didapat hendaklah dana sisa dari uang gaji dikurangi belanja, tabungan, deposito dan asuransi keluarga;

b. dana tersebut dialokasikan untuk investasi dengan horizon jangka panjang;

c. diversifikasi risiko pada beberapa instrumen.


Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: