Sastra Indonesia ke Sastra Dunia

Posted on 2 November 2008. Filed under: Bahasaku-Bahasamu |

Jan van der Horst, Ulrich Kratz, Muh. A. Khak (pemandu), Hein Steinhauer membicarakan peran sastra Indonesia di Jakarta

Jan van der Horst, Ulrich Kratz, Muh. A. Khak (pemandu), Hein Steinhauer membicarakan peran sastra Indonesia di Jakarta

Semangat zaman selalu mengondisikan perilaku manusia, seperti yang terjadi pada 1905, ketika Jepang mengalahkan Rusia dalam perang Tsusima. Dalam perang ini, Jepang dianggap mewakili Timur, sedangkan Rusia mewakili Barat. Kekalahan Rusia terhadap Jepang mewakili situasi dan kondisi baru. Saat itu, Barat ternyata tidak mungkin lagi mendominasi Timur. Kekalahan Rusia menciptakan sebuah semangat zaman baru, yaitu timbulnya rasa percaya diri pada bangsa-bangsa Asia. Rasa percaya diri ini yang kemudian menimbulkan gelombang nasionalisme di Asia, termasuk Indonesia, demikian Budi Darma dari Universitas Negeri Surabaya menyampaikan makalah berjuluk “Sastra Indonesia dan Sastra Dunia” pada Kongres IX Bahasa Indonesia, Kamis 30/10/08 di Jakarta.

Sekarang dunia sedang dilanda oleh semangat zaman baru, yaitu hasrat untuk menjadikan bangsa-bangsa di dunia ketiga menjadi warga dunia. Individu pun ingin menjadi warga dunia yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan individu lain dalam masyarakat dunia. Semangat zaman (spirit of the age) ini yang kemudian memicu sastrawan ingin masuk ke tataran global, dan memicu sastra nasional berbagai bangsa untuk menjadi warga sastra dunia. Agar sastra nasional dapat masuk ke jajaran sastra dunia, tentu menuntut banyak cara. Salah satu caranya memperkenalkan sastra nasional ke dunia luar melalui terjemahan.

Darah Segar

Sebuah tesis menyatakan, sastra negara-negara Barat kehabisan darah segar. Oleh karena itu, tidak lagi banyak berkutik. Proses penipisan darah segar mulai tampak ketika London dihujani roket oleh Hitler pada Perang Dunia II. London, ibu kota Inggris, sebuah negara yang terkuat dan terluas daerah jajahannya, ternyata rentan terhadap kekuatan Hitler. Negara-negara penjajah lain, yang kedudukannya lebih rendah daripada Inggris, juga mengalami nasib sama: negara-negara jajahan mereka di Asia diobrak-abrik oleh Jepang, dan jajahan-jajahan mereka di Afrika ternyata juga goyah karena gempuran-gempuran Hitler. Akhirnya Hitler dan Jepang kalah. Namun, kekalahan ini justru menggarisbawahi fakta yang tampak sejak berakhirnya Perang Dunia I, yaitu lunturnya nilai-nilai spiritual pada kebudayaan Barat.

Kebudayaan Barat selepas Perang Dunia I, sebagaimana yang secara implisit dinyatakan oleh T.S Eliot dalam puisi “The Hollow Men” dan The Wasteland, adalah milik orang-orang yang spiritualismenya kosong (hollow), dan sekedar tampak gagah dari luar, tapi sebenarnya keropos. Kebudayaan Barat bagaikan tanah (wasteland) tandus, dan tidak mempunyai kekuatan untuk menciptakan harapan. Hemingway, yang namanya sangat lekat dengan label The Lost Generation (Generasi yang Hilang), juga menengarai betapa muram kebudayaan Barat selepas Perang Dunia I. Namun, akhir Perang Dunia I tidak serta merta menumbangkan dominasi negara-negara Barat sebagai negara-negara penjajah. Dominasi negara-negara Barat tetap berjalan, antara lain, karena kedudukan mereka sebagai negara penjajah masih tetap kokoh. Akan tetapi, segera setelah Perang Dunia II berakhir, kedudukan ini runtuh. Mau tidak mau negara-negara Barat harus melepaskan negara-negara jajahan untuk menjadi negara-negara merdeka.

Bagi John F. Kennedy, seorang mahasiswa cemerlang yang kemudian hari menjadi presiden Amerika, Inggris gagal dalam mencegah perang dengan Jerman. Kesalahan atas kegagalan ini tidak mungkin ditimpakan pada seorang pemimpin atau sekelompok pemimpin semata, tapi kesalahan semuanya. Kegagalan Inggris untuk mencegah perang inilah yang kemudian diangkat oleh Kenedy dalam buku Why England Slept (Mengapa Inggris Tidur) sebuah alusi dari buku Winston Churchill sebelumnya, dengan judul sama, Why England Slept. Inggris tidur dan menjadi lembek karena kesalahan Inggris.

Begitu Perang Dunia II berakhir, berakhir pula paradigma Eurosentrisisme. Ketika paradigma Eurosentrisisme masih berlaku, segala sesuatu harus berorientasi pada standard Eropa/Barat: hanya ada satu bangsa, yaitu sekelompok bangsa-bangsa penjajah, dan di luar itu, yaitu bangsa-bangsa yang dijajah, bukanlah bangsa. Papan pengumuman “anjing dan pribumi dilarang masuk” pada tempat-tempat hiburan orang-orang Belanda sebelum Perang Dunia II meletus menunjukkan bahwa pribumi tidak lain hanya makhluk yang sama derajatnya dengan anjing.

Fakta baru setelah Perang Dunia II menunjukkan, bahwa makhluk yang derajatnya dianggap sama dengan anjing ternyata mampu menjelmakan diri mereka, baik lewat revolusi maupun diplomasi, menjadi manusia, menjadi bangsa. Oleh karena itu, bangsa tidak hanya satu, tapi banyak. Karena bangsa ternyata banyak, maka, kebudayaan juga banyak. Kebudayaan, dengan demikian, bukan semata milik bangsa-bangsa penjajah, sebab bangsa-bangsa yang kemudian merdeka pun mempunyai kebudayaan.

Paradigma kebudayaan, di antara sesama bangsa-bangsa Eropa/Barat mengalami perubahan. Sebelum Perang Dunia II, misalnya, musik hanyalah satu, yaitu musik klasik. Musik non-klasik bukanlah musik, kecuali yang sudah disofistikasi, misalnya karya Eva Bartok. Namun, setelah kelompok musik rock The Beatles, The Platters serta Elvis Presley muncul, yang pengaruhnya benar-benar luar biasa, mata kesadaran Barat mau tidak mau terbuka. Rock and roll tidak lain adalah musik juga. Seni adiluhung yang lain juga bukan satu-satunya seni karena semua seni pada hakikatnya adalah seni.

“Kemunduran” Inggris sebagai negara penjajah yang paling kuat dan daerah jajahannya paling luas sekaligus merupakan kemunduran negara-negara bekas penjajah/Barat. Kebudayaan Barat bagaikan hidup di tanah gersang (wasteland), orang-oranya tampak gagah, tapi kosong (the hollow men) dan para pelakunya hanya orang-orang dari generasi yang hilang (the lost generation). Inilah tanda-tanda bahwa Barat pada hakikatnya kehabisan darah segar.

Di satu pihak kebudayaan Barat kehabisan darah segar, di pihak lain ekonomi melaju dengan cepat. Sebagaimana yang dituturkan oleh Arthur Miller dalam drama All My Sons, dengan mengorbankan moral, inilah sisi kebudayaannya, industri suku cadang pesawat tempur Amerika justru maju. Kendati ekonomi Amerika/Barat mengalami masa-masa pasang surut, secara keseluruhan amat bagus, dan karena itu tercipta istilah affluent society, masyarakat yang kemakmurannya berlebih-lebihan.

Ketika Amerika dilanda depresi ekonomi yang berkepanjangan menjelang Perang Dunia II, presiden Amerika Franklin D. Roosevelt dalam pidato pelantikan“The Inaugural Address of Franklin D. Roosevelt” pada 4 Maret 1933 menyatakan, “Happiness lies not in the mere possession of money.” (kebahagiaan tidak semata terletak pada kepemilikan uang). Betul, uang bukan segala-galanya. Namun, dengan tekad itu, justru dia berhasil membebaskan Amerika dari depresi ekonomi yang berkepanjangan. Uang adalah alat, bukan tujuan, dan alat itu mau tidak mau harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Tujuh tahun sebelum Roosevelt mengucapkan pidato itu, sebagai akibat dari Perang Dunia I, banyak individu yang sekonyong-konyong menjadi kaya, sebagaimana yang tercermin dalam novel Hemingway, The Sun Also Rises. Kendati sekian banyak orang menjadi kaya mendadak, karena mereka tidak memiliki landasan spiritual, akhirnya mereka hanya mampu menghambur-hamburkan uang mereka semata untuk kesenangan duniawi, seperti misalnya pesta dari bar ke bar, dan pemuasan seks dari satu lelaki ke lelaki lain. Inilah yang kemudian, dalam sastra, dikenal sebagai “The Lost Generation” (“Generasi yang Hilang”).

Kenyataan bahwa negara-negara Barat, khususnya Amerika menjadi negara-negara affluent setelah Perang Dunia II, justru menjadi pertanda bagi kemerosotan sastra Barat.

Affluent society, dengan orientasi “kejar uang” tidak mampu lagi melahirkan sastrawan-sastrawan seperti T.S. Eliot dan Hemingway sebagai produk Perang Dunia I, dan Sartre serta Albert Camus sebagai produk dari Perang Dunia II. Sastra negara-negara Barat, dengan demikian, pada hakikatnya telah kehabisan darah segar.

Hukum alam, sementara itu menetapkan, di mana ada gula pasti ada semut. Kendati titik berat gula adalah kemakmuran ekonomi, gula dalam konteks ini dapat pula bermakna kebebasan manusia dari berbagai tekanan non-demokrasi. Gula ini menciptakan daya tarik orang-orang dunia ketiga untuk bermigrasi ke negara-negara Barat. Dari para imigran itulah, kemudian, sastra Barat memperoleh darah segar baru. Di Amerika ada Amy Tan dan Bathara Mukerjee, di Inggris ada Salman Rushdie dan V.S. Naipaul, di Perancis ada Go Xingjian.

Penjajahan

Penjajahan teritorial, selepas Perang Dunia II sudah berakhir. Oleh karena itu, dunia memasuki tahap baru, yaitu pascakolonialisme. Akan tetapi, ternyata, penjajahan dalam bentuk lain tetap berlaku, misalnya penjajahan politik, ekonomi, dan, dalam konteks kebudayaan, penjajahan mental. Sebagaimana yang ditengarai oleh Homi Bhabha, orang-orang bekas jajahan tetap dikuasai oleh sindrom mimicry, yaitu keinginan untuk meniru-niru orang Barat. Salah satu contoh dalam kehidupan sehari-hari tampak, misalnya, keinginan wanita-wanita untuk mengecat rambut menjadi blond, dan merawat kulit dengan white cleansing, agar penampilannya mirip dengan penampilan orang Barat.

Juga, sebagaimana yang ditengarai oleh Frantz Fanon dalam Black Skin White Mask, untuk menutupi fakta bahwa kulit orang-orang hitam memang hitam (black skin), mereka berlagak seperti orang-orang kulit putih (white mask), sebagaimana yang tampak dalam novel-novel Chinua Achebe, sastrawan Afrika asal Nigeria. Penjajahan mental, dengan demikian, tetap berlaku.

Justru karena penjajahan dalam bentuk lain masih berlaku, maka pascakolinialisme pada hakikatnya tidak terpisahkan dari kolonialisme. Itulah sebabnya, disiplin ilmu pascakolonialisme disatukan dengan disiplin ilmu kolonialisme, menjadi pasca/kolonialisme. Sementara itu, aspirasi pasca/kolonialisme, yaitu keinginan dari bangsa-bangsa penjajah untuk tetap menjajah dalam bentuk lain, dan kesediaan negara-negara bekas jajahan untuk dijajah dalam bentuk lain pula tidak lepas dari aspirasi globalisme. Salah satu simpul globalisme adalah kenyataan, semua orang, pada hakikatnya, ingin menjadi warga masyakakat global atau internasional.

Aspirasi globalisme bisa dilihat, antara lain, dari contoh kecil, yaitu cara seseorang menulis alamat pos-el (imel/e-mailnya). Orang itu tetap warga lokal, tanpa pernah ke luar negeri, tapi, pada alamatnya dikesankan, bahwa misalnya dia tinggal di Perancis <fr>, Jerman <de>, atau Belanda <nl>. Karya sastra juga dipenuhi dengan adegan-adegan dengan tokoh-tokoh asing di luar negeri, seperti Rusia dan berbagai negara lain, sementara pengarangnya belum pernah ke luar negeri, dan juga belum pernah berkenalan dengan orang-orang dari negara-negara seberang itu.

Bukan hanya itu. lembaga-lembaga di berbagai negara dari dunia ketiga, baik swasta maupun milik pemerintah, berusaha keras agar sastra negaranya menjadi warga sastra dunia. Berbagai forum diselenggarakan untuk menyuarakan aspirasi ini. Rata-rata kesimpulannya agar karya negara-negara itu perlu diterjemahkan ke dalam bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, agar dapat dibaca oleh khalayak dunia. Namun, usaha memperkenalkan sastra ke jajaran dunia dengan jalan penerjemahan ini tampaknya juga tidak mencapai sasaran. Mengapa? Mungkin karena khalayak sastra di dunia mempunyai standard sendiri, dan sastra dari dunia ketiga tidak termasuk dalam pertimbangan. Tengoklah di toko-toko buku di berbagai negara. Buku-buku sastra dunia ketiga pada umumnya dipasang di tempat-tempat yang kurang menarik. Kalau dipasang di tempat-tempat menarik pun, tetap tidak menarik perhatian khalayak.

Asal usul dari rasa tidak tertarik ini salah satunya adalah penerbit. Pengalaman Hamsad Rangkuti, misalnya, menggambarkan sikap penerbit Barat pada umumnya mengenai sastra dunia ketiga. Sebagai pemenang Khatulistiwa Literary Award beberapa tahun lalu, Hamsad Rangkuti mendapat bonus untuk mengunjungi Inggris. Lalu, pergilah dia ke Inggris, dengan membawa salah satu naskah karyanya. Tapi, sebagaimana yang diberitakan oleh BBC siaran bahasa Indonesia, semua penerbit bukan hanya menolak untuk menerbitkan naskahnya, namun, inilah lucunya, hanya menengok naskahnya pun para penerbit itu tidak mau.

Chinua Achebe V.S. Naipaul dan Pramoedya Ananta Toer

Apa sebetulnya kriteria sastra yang diminati oleh khalayak sastra dunia dapat terjawab dengan menengok kasus Chinua Achebe, para sastrawan migran, dan khusus untuk Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Chinua Achebe, sastrawan Nigeria yang karena keistimewaannya dianggap mewakili sastra Afrika, berhasil menjinakkan dunia dengan novel All Things Apart mengenai Okonkwo, disambung oleh dua novel lain mengenai keturunan Okonkwo, yaitu No Longer at Ease dan Arrow of God. Dari sastrawan-sastrawan migran dapat diambil satu contoh, yaitu V.S. Naipaul, pengarang berdarah India kelahiran Trinidad, kemudian menetap di Inggris. Karya Pramoedya Ananta Toer, sementara itu, siterjemahkan ke dalam banyak bahasa asing dan mendapat sambutan.

Chinua Achebe dilahirkan di Nigeria, sebuah negera jajahan Inggris yang pengaruh Inggrisnya amat kuat. Untuk itu, bahasa Inggris menjadi bahasa sehari-hari. Dalam semua novelnya Chinua Achebe mempergunakan bahasa Inggris, bahasa yang identik dengan bahasa ibu, dan bahasa yang dimengerti oleh seluruh dunia. Chinua Achebe, dengan demikian, tidak mengalami kendala bahasa. Oleh karena itu, tidak mengalami kendala pula dalam menghayati kerangka berpikir Barat, dan juga sastra Barat. Judul Things Fall Apart sendiri, tidak lain adalah alusi dari puisi penyair Barat, W.B. Yeats mengenai kehancuran yang pasti akan terjadi manakala kekuatan sentrifugal tidak ada lagi.

Bagi orang Barat, Things Fall Apart sangat menarik karena tiga alasan. Pertama, novel ini ditulis dalam bahasa Inggris. Kedua, novel ini mengenai Afrika menjelang zaman kolonialisme, dan karena itu, eksotik. Eksotisme dalam novel bukan eksotisme yang benar-benar asing, tapi mempunyai hubungan emosional dengan orang-orang Amerika dan orang-orang Eropa lain yang dahulu menjajah Afrika. Di Amerika banyak orang kulit hitam asal Afrika, yang langsung atau tidak banyak mewarnai kebudayaan Amerika. Hubungan emosional tidak mungkin dihindari, demikian pula hubungan emosional orang-orang Barat yang pernah menjajah Afrika. Chinua Achebe, serta merta diterima oleh khalayak sastra Barat, dan penerimaan oleh khalayak sastra Barat identik pula dengan penerimaan oleh sastra dunia.

Kelanjutan Things Fall Apart, yaitu No Longer At Ease dan Arrow of God juga menarik khalayak sastra, karena dua novel itu mengenai orang-orang muda Afrika yang belajar di Eropa, kemudian menjadi “lebih Eropa” daripada orang Eropa sendiri. Katagori Frantz Fanon dalam White Mask Black Skin amat tepai diterapkan pada anak turun Okonkwo dalam dua novel selepas Things Fall Apart itu. Dari segi fisik, anak turun Okonkwo adalah orang Afrika dank arena itu berkulit hitam (black skin), tapi sikap mentalnya benar-benar meniru sikap mental orang-orang Barat (white mask). Dikotomi antara perwujudan fisik dan sikap mental ini menjadikan mereka tokoh-tokoh anomali, tidak tahan dan akhirnya terjerumus dalam korupsi. Eksotisme semacam ini, yang langsung atau tidak menyiratkan dominasi kekuatan mental orang-orang Barat, dengan sendirinya menarik pula bagi khalayak Barat.

Sekarang tengoklah V.S. Naipaul, seorang pengarang migran yang mempunyai kedudukan penting. Dia berdarah India, dilahirkan di Trinidad, di kalangan orang-orang India berbahasa Inggris. Lalu dia pindah ke Inggris dan menetap di sana. Bahasa Inggris, baginya identik dengan bahasa ibu. Dengan bahasa Inggris yang identik dengan bahasa ibu, maka kerangka berpikirnya adalah kerangka berpikir Inggris pula. Penghayatannya terhadap sastra Barat, seperti misalnya Proust dan Moliere, benar-benar mantap. Namun, ikatan darahnya dengan India yang mewakili dunia Timur, tetap melekat, dan ini sangat penting baginya untuk menyajikan unsur-unsur eksotik yang menarik perhatian khalayak sastra Barat pula.

Naipaul sangat menyadari, bahwa bangsa, khususnya bangsa-bangsa Dunia Ketiga, terjebak ke dalam masalah budaya, dan hanya bisa “diselamatkan” oleh bangsa lain, dan bangsa lain ini tentunya bangsa Barat. Standard kehidupan, termasuk standard sastra, dengan demikian, ditentukan dengan kriteria Barat pula. Naipaul memahami benar makna kata-kata ini, dan dengan bakat yang bagus, dia mampu memasukkan implikasi makna kata-kata ini dalam novel-novelnya.

Melalui trilogi novel Chinua Achebe, sekali lagu, dapat diketahui bahwa tokoh-tokoh tipe “black skin white mask” diterima dengan baik oleh khalayak sastra Barat. Kendati sastrawan-sastrawan migran tidak menyajikan tokoh tipe ini. Ada persoalan yang juga menarik, baik bagi khalayak pembaca Barat maupun Timur, yaitu pergulatan untuk identifikasi jatidiri. Pengarang-pengarang migran banyak menyajikan novel multikultural, yaitu novel mengenai pertemuan antara dua kebudayaan atau lebih. Novel Naipaul, misalnya, menggambarkan tokoh pendatang di Inggris, yang di satu pihak masih terikat kebudayaan asalnya, dan di pihak lain harus berhadapan dengan kebudayaan baru, kebudayaan tempat tokoh bermigrasi. Pertemuan dua kebudayaan atau lebih, dengan sendirinya, memunculkan masalah jatidiri.

Sebelum menengok ke Pramoedya Ananta Toer perlu dipertimbangkan, bahwa kedudukan Indonesia dalam hubungan dengan Barat termasuk unik. Para penyair Pujangga Baru, misalnya, yang mengaku terpengaruh oleh penyair-penyair romantisisme Barat, sebetulnya hanya menerima sisa-sisa semangat romantisisme yang sudah pudar, bukannya semangat romantisisme dalam arti yang sebenarnya. Mereka mendapat pengaruh melalui penyair-penyair Belanda, sementara romantisisme di Belanda pada waktu itu hanya sisa-sisa romantisisme negara-negara Eropa lain, seperti Perancis dan Inggris. Dalam konstelasi Barat, pengarang Belanda juga tidak ada yang hebat, dan dari pengarang-pengarang yang tidak hebat itulah, semangat dalam sastra Barat masuk ke Indonesia.

Itulah keunikan kedudukan Indonesia dalam hubungan dengan Barat. Sementara Afrika, sebagaimana yang tampak pada kasus Chinua Achebe, dan India sebagaimana yang tampak pada kasus V.S. Naipaul, Indonesia tidak pernah benar-benar menyerap pengaruh Barat. Dalam percaturan internasional pun, bahasa Belanda, berbeda dengan bahasa Inggris, tidak mempunyai peran apa-apa. Kerangka berpikir Barat seperi yang dimiliki oleh Chinua Achebe dan V.S. Naipaul, juga berbeda.

Keunikan ini ditambah keunikan lain, yaitu kenyataan bahwa bangsa Indonesia tidak pernah memperoleh kemerdekaan, tapi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah melalui revolusi. Dengan sendirinya, kaitan antara revolusi dan nasionalisme amat kuat. Unsur-unsur inilah yang kemudian menjiwai karya Pramoedya Ananta Toer. Sejarah, nasionalisme, semangat untuk melawan penjajah, amat mewarnai novel-novelnya. Bukan hanya itu. Lepas dari masalah tema, Pramoedya Ananta Toer, pengarang yang amat berbakat. Karena itu, pengungkapan tema-temanya menjadikan novel-novel dia, khususnya seri Pulau Buru, menjadi novel-novel yang benar-benar berbobot. Tapi, dalam konstelasi Barat, Indonesia tidak dikenal, dan juga tidak mempunyai ikatan emosional. Unsur-unsur yang dimiliki oleh Chinua Achebe dan V.S. Naipaul, tidak dimiliki oleh Pramoedya Ananta Toer. Bagi pembaca di luar Indonesia khususnya di Barat, Pramoedya Ananta Toer dikenal bukan semata karena bobot novel-novelnya. Inilah ironinya, kedudukan sebagai pengarang disiden. Di sini tampak, unsur ekstrinsik lebih diperhatikan daripada unsur intrinsik.

Sastra Nasional ke Sastra Dunia

Sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris menyatakan, “if you don’t act, you will be a looser,” yaitu, kalau Anda tidak bertindak, Anda akan merugi. Bertindak apa? Sesuai dengan semangat zaman (spirit of the age) sekarang, bertindak disini adalah berusaha untuk memperkenalkan karya sastra ke lingkungan sastra dunia, dan menjadikan sebuah sastra nasional menjadi sastra dunia. Cara memperkenalkan yang paling cepat adalah menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa asing, khususnya Inggris. Tentu saja tindakan ini sangat bagus karena hanya melalui terjemahan sebuah sastra nasional dapat dikenal oleh kalangan sastra dunia.

Ujung tombak sastra adalah bahasa, ujung tombak terjemahan adalah bahasa. Seorang pengarang tidak mungkin menulis novel tanpa menggunakan bahasa, dan untuk memahami sastra asing tanpa melalui bahasa asing itu juga tidak mungkin. Bahasa, tampaknya, memegang peran amat penting, tapi sebetulnya ada yang lebih hakiki, yaitu gagasan yang akan dituangkan ke dalam sastra melalui bahasa. Kendati bahasa adalah penting, pada hakikatnya bahasa hanya alat untuk menyampaikan gagasan.

Karena bahasa hanyalah alat, maka sebuah terjemahan akan kurang bermakna manakala yang diterjemahkan bahasanya semata, tanpa menerjemahkan gagasannya. Mungkin saja gagasan dalam sastra dapat diterjemahkan dengan baik, tapi masalahnya, apakah gagasan itu “in tune,” yaitu sejalan atau tidak dengan latar belakang kebudayaan pembacanya dan harapan pembacanya. Novel-novel Chinua Achebe dan V.S, Naipaul bukan sekedar “in tune” dalam bahasanya, yaitu bahasa Inggris, namun “in tune” juga dengan pengalaman budaya masyarakat dunia, khususnya masyarakat Barat. Antara novel mereka dan pembaca sastra dunia, sekali lagi, ada ikatan emosional.

Kendati eksotisme bisa menjadi daya tarik, tidak semua eksotisme menarik. Eksotisme bisa menarik apabila eksotisme itu juga bisa menciptakan ikatan emosional. Situasi dan kondisi Afrika, misalnya, bagi pembaca Barat menarik bukan semata karena novel-novel tersebut menggambarkan masa lampau dan hal-hal yang asing, tapi juga karena dari benua Afrika, Barat, khususnya Amerika dulu memperoleh budak-budak belian. Prosa lirik Linus Suryadi Pengakuan Pariyem tahun 1970-an, misalnya, menurut Umar Kayam berdasarkan pengamatannya di negeri Belanda, sangat menarik perhatian orang-orang Belanda tua di negeri Belanda, karena secara emosional mereka terlibat dalam eksotisme bekas negara jajahan. Novel Pramoedya Ananta Toer Gadis Pantai, menurut A. Teeuw, juga memikat kalangan orang-orang tua di negeri Belanda karena novel ini mampu menggali eksotisme yang menimbulkan gairah emosional.

Lepas dari masalah ikatan emosional, ada lagi syarat yang harus dipenuhi, yaitu secara intrinsik karya sastra mempunyai bobot mantap, ditulis oleh pengarang yang bakatnya mantap. Katakanlah, misalnya novel Ayu Utami Saman dapat dianggap berbobot, dan bakat Ayu Utami dapat dianggap bagus. Berkat novel Saman, Ayu Utami diundang ke Belanda untuk mendapat penghargaan. Tapi, penghargaan itu bukan untuk bobot novelnya, melainkan untuk keberanian Ayu Utami dalam mengungkapkan masalah seks. Penghargaan, dengan demikian, tidak berdasarkan nilai intrinsik novel, tapi karena unsur lain. Novel ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan oleh staf penerbitnya terjemahan ini dibawa ke Australia. Apa yang terjadi? Pembeli novel terjemahan ini hanya satu, yaitu orang Australia. Bobot ada, bakat ada, tapi karena ikatan emosional dengan pembaca tidak ada, penerjemahan itu akhirnya tidak memenuhi sasaran.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: