Bara Panas di Ibu Kota

Posted on 22 Oktober 2008. Filed under: Unek-Unek |

Suhu udara minta ampun. Panas terik kian meninggi, Batuk, flu, demam, mulai menyerang. Di luar atau di dalam ruang, setali tiga uang, suhu yang lembab dan panas kian menyengat. Sengatan mentari di Ibu Kota, seperti Jakarta terasa amat menyiksa. Apalagi panas-panas membara di ibu kota ini rada unik. Konon panas-panas di Ibu Kota berlangsung sampai dengan awal November. Alamak.

Suhu udaranya mencapai tiga puluh lima derajat selsius. Rasa panas terik ini bisa berubah agak sejuk pada dini hari saja. Di gerbong kereta ekonomi sangat terasa bara panas. Panas-panas kian membara manakala penumpang di kelas menengah ke bawah asyik merokok. Kepulan asap seolah-olah tak peduli terhadap penumpang lain yang kepanasan. Di gerbong kereta ekonomi yang berpenyejuk ruang pun seolah-olah tak peduli, penumpang panas-panas membara manakala penyejuk ruang nirfungsi alias mati total. Akh, kegerahan berselimut keringat di mana-mana mulai meruak di Ibu Kota. Di rumah sakit tak kalah sengsaranya manakala sengsara jauh dari kenikmatan. Gangguan kesehatan bertambah-tambah pelik dan pusing tujuh keliling manakala panas-panas membara menyengat anggota badan yang lagi lara. Di dalam kantor berpenyejuk ruang tak kalah merana manakala panas-panas membara mengalahkan suhu penyejuk ruang. Turunkan suhu derajat selsius biar fungsi dingin terasa menusuk kalbu, akh itupun taklah membantu. Apalagi ruang tanpa penyejuk ruang atau ase/AC (air conditioning).

Pohon Tinggi Sejuk-Segar

Pohon Tinggi Sejuk-Segar

Rasa sejuk asli baru terasa manakala pohon tinggi-rindang melindungi tubuh. Mimpi indah di siang bolong seakan-akan menerbangkan tinggi udara panas. Padahal, di Ibu Kota jarang pohon tinggi lagi. Kalau gedung tinggi menjulang mudahlah dicari. Rumah tinggi bertingkat juga mudah menemukan lokasinya. Oleh karena itu, kesadaran menikmati hawa segar berpenyejuk dengan sumber pepohonan wajib menjadi skala prioritas. Gedung atau rumah berpenyejuk ruang tak banyak menolong. Pohon teduh, tinggi, rimbun, dan kokoh baru menjadi “dewa penyelamat” yang menyejukkan dan menyegarkan. ***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: