Berlebaran ala femina

Posted on 21 September 2008. Filed under: Berita |

Lebaran bercita rasa penuh pada kesemarakkan. Lebaran berakrab-akraban dengan sesama. Oleh karena itu, berlebaran sarat dengan puji syukur. Memuji segala kebesaran dan karunia-Nya seraya mensyukuri tersedianya serbaneka hidangan khas plus saling memaafkan. Yang pokok, berlebaran menjaga tradisi leluhur sembari melepaskan rindu kepada sanak famili dan bersilaturahim dengan sesama. Di bawah tajuk “Lebaran Meriah Tanpa Jor-joran” sebuah Liputan Khas femina nomor 38 menggarisbawahi bahwa berlebaran identik dengan tradisi menghabiskan uang. Padahal, dengan sedikit keberanian, pemborosan dapat dibalik menjadi penghematan, yang mampu menutupi utang atau menambahi tabungan dari tunjangan hari raya.

Sesil Istari, 23 tahun, Pemenang Busana Nasional Terbaik femina

Sesil Istari, 23 tahun, Pemenang Busana Nasional Terbaik femina

Jajak pendapat berlebaran hemat ala pembaca femina menjangkau kepada 80 responden. Hasilnya mengungkap bahwa hasrat responden yang wajib ada memiliki cara berhemat pada saat berlebaran. Yoseptin Pratiwi, penulis liputan khas ini menuliskan tradisi berlebaran yang wajib ada dengan cara berhemat sebagai berikut.

Ketupat dan lauk pauk dimasak bareng keluarga besar; kue kering diganti dengan kue berharga lebih murah, seperti kuping gajah, kue tambang, dan telur gabus; THR pembantu diberikan satu kali gaji (minimal); mengirim uang untuk orang tua dicicil sejak tiga bulan (sebelum berlebaran); mudik, baju lebaran, salam tempel untuk keponakan/anak kecil dan antaran dihemat dengan kreativitas pemberi disesuaikan dengan kebutuhan saja.

Sementara itu, cara berhemat yang tidak wajib ada, seperti baju berlebaran, pergi ke salon, mudik, dan peralatan salat, antara lain mengenakan pakaian lama, mem-blow rambut dan make up di rumah, memanfaatkan telepon atau ber-SMS-ria, dan mengenakan mukena lama yang dicuci bersih terlebih dahulu dengan menambahkan pewangi.

Empat responden yang menjadi narasumber mengemukakan cara berhemat seperti yang Yoseptin Pratiwi tuliskan pada boks [Menghemat, Selalu Bisa Dicoba]

  • Sylvina, 33 tahun, konsultan karier [MEMBAWA BINGKISAN SAAT SILATURAHMI]

Hanya menggunakan 3/4 dari THR adalah prinsip saya. Sisanya, masuk tabungan. Pengeluaran wajib Lebaran saya adalah untuk THR para PRT dan beberapa orang rumah, membeli kue kering, salam tempel bagi keponakan dan baju baru untuk orang tua. Untuk saya dan suami, baju Lebaran tidak penting. Sudah lima kali Lebaran kami tidak beli baju baru. Untuk mempercantik rumah, satu rangkaian bunga untuk meja tamu, rasanya sudah cukup. Anggaran yang cukup besar justru untuk antaran bag) kerabat atau sahabat saat kami silaturahmi. Rasanya kurang pantas jika datang tanpa membawa buah tangan. Meski biayanya cukup besar, saya mempertahankannya untuk menguatkan tali silaturahmi.

  • Yussi, 35 tahun, Ibu rumahtangga [TIDAK BELI PERNAK-PERNIK RUMAH]

Pengeluaran ekstra saya Justru setelah Lebaran. Karena para PRT belum kembali, saya sekeluarga memilih sarapan, makan siang dan makan malam di luar.

Pengeluaran ini cukup besar. Sekali makan, minimal Rp200.000 melayang. Namun, saya dan suami tidak tertalu memikirkan jumlah uang yang keluar. Pasalnya, di luar hari libur seperti Lebaran, suami jarang punya waktu luang untuk anak-anak.

Memang sih, timbul sedikit rasa sesal melihat uang habis terpakai. Rencananya, tahun ini saya mencoba lebih hemat dalam mengatur pengeluaran. Rencananya, ada beberapa pos pengeluaran yang akan saya kurangi, seperti membeli pernak-pernik untuk mempercantik rumah dan kue-kue Lebaran.

  • Lala Gunawan, 32 tahun, Pengusaha [TAK HARUS BAJU BARU]

Anggaran terbesar Lebaran adalah biaya mudik ke rumah mertua di Bandung. Karena tidak ada kamar tersisa di rumah mertua, saya dan keluarga terpaksa menginap di hotel bintang lima di Bandung. Belum lagi buah tangan yang harus dibawa, serta salam tempel untuk para keponakan.

Saya justru jarang rnengeluarkan biaya untuk baju Lebaran. Suami saya, Gunawan, beberapa kali mendapat hadiah baju Lebaran dari perusahaan yang memakainya sebagai bintang iklan. Saya juga mendapat baju baru.

Sementara, untuk anak-anak memang tidak dibiasakan membeli baju baru saat Lebaran. Biasanya, mereka memakai baju-baju yang ada di lemari mereka saja. Kedua anak saya, Khayru dan Khayra, sejauh ini tidak pernah prates berlebaran tanpa baju baru.

  • Venna Melinda, 35 tahun, artis [MEMANJAKAN KELUARGA]

Kami punya tradisi membeli parsel untuk diri sendiri. Biasanya saya membeli dua atau tiga parsel yang berisi makanan dan akan dibuka bersama saat Lebaran tiba. Tradisi ini sengaja saya adakan lebih untuk menyenangkan anak-anak.

Biaya untuk membeli kebutuhan pribadi, THR hingga bingkisan sembako buat orang yang tak mampu sudah pasti menelan biaya besar.

Bisa dipastikan uang THR plus bulanan dari suami akan amblas. Bahkan, sering kali saya menambah dari uang pribadi.

Besarnya dana Lebaran merupakan hal wajar. Lebaran momen bagi saya dan untuk memanjakan diri. Saya percaya, uang masih bisa dicari, sementara kebahagiaan batin mahal untuk didapat.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: