Pola Keberhasilan Penulis dengan Penerbit

Posted on 13 September 2008. Filed under: Karangan Khas |

Mau tak mau pada era digital mengubah pola penjualan buku. Mau tak mau pula penulis perlu aktif menjajakan karya intelektual. Entah penerbit entah penulis, keduanya saling menjajakan karya intelektual. Bersinergi. Bahu-membahu. Bekerja sama. Oleh karena itu, sinergisme antara penulis dan penerbit mampu mengubah pola penjualan tradisional menjadi pola penjualan modern. Sesuai dengan tuntutan zaman, tidak mengherankan jika karya intelektual penulis ada yang mendapat respons luarbiasa, ada pula yang mendapat respons yang sungguh-sungguh memprihatinkan alias no-response. Pada era digital ini respons pembaca boleh jadi sangat cepat datang daripada respons penerbit, bahkan penulisnya sendiri yang telat, mengapa demikian?
Sepuluh Buku Terlaris

Pada 1970 sampai dengan 1980 penulis pada umumnya hanya pasif. Menunggu laporan dari penerbit. Berdiam diri saja sudah cukup. Yang aktif hanya penerbit. Istilahnya, penulis ongkang-ongkang kaki. Namun, era penulis yang menunggu laporan dari penerbit saat ini sudah berubah total. Penerbit sangat mengandalkan kepiawaian penulis untuk membuat bukunya dapat dicetak lagi. Buku laris tercipta atas peran sangat besar dari penulis. Penulis aktif cenderung menyampaikan keberhasilan karya intelektualnya untuk diuji kembali oleh pembaca. Ujian terbesar sebuah karya intelektual berterima atau bertepuk sebelah tangan muncul dari pembaca. Pembaca menjadi penilai yang objektif. Penulis pasif cenderung menunggu saja, sejauhmana penerbit melakukan promosi atas buku barunya itu urusan penerbit sepenuhnya. Tidak mengherankan promosi yang menggebu-gebu tak jua membantu buku terjual. Demikian pula, penulis aktif tak berdaya menemukan bukunya yang dicari-cari oleh pembeli atau pembacanya. Jika karya intelektual penulis sulit ditemui di lapangan atau di pasaran, itu pertanda buruk bagi penulis. Baik di toko buku resmi maupun di toko buku penjual eceran, bahkan di gerai pameran, jika buku yang dicari-cari tidak ada satu eksemplar pun, keprihatinan pembeli mulai terjadi. Atas dasar itu, peran aktif antara penulis dan penerbit sanggup menyapa pembeli buku yang menjadi sasaran utama.

Ketika hubungan antara penulis dan penerbit sedemikian harmonis, langkah meraih citra buku terlaris atau best-seller hanya soal waktu. Tidak perlu lagi waktu berlama-lama guna meraih keberhasilan. Meski pada awalnya buku yang ditulis dan dirancang sedemikian rupa elok disertai dengan tenaga penjual siap tempur mempromosikan dan menjual — keserentakan dengan daya gerak yang cepat dan kreativitas menjajakan karya intelektual penulis (ditambah dengan atribut bermutu) — sulit mencapai keberhasilan, jika sasaran utama belum terusik terhadap kebutuhan dasar atas bacaan.

Keberhasilan gampang berubah menjadi kegagalan. Buku yang gagal dibaca oleh sasaran utama pembacanya sangat banyak jumlahnya, sedangkan buku yang berhasil mencapai sasaran pembacanya hanya sedikit. Biasanya hanya dapat dihitung dengan jari tangan. Dari ratusan buku yang diterbitkan pada contoh berikut ini, ada sepuluh yang masuk kategori terlaris. Buku terlaris ini kiriman hasil pemantauan bagian pemasaran terhadap hasil kinerja tenaga penjualan buku di wilayah Ibu Kota. Hasil penjualan bertolok ukur atas dasar keberhasilan penjualan nasional untuk buku referensi (penjualan secara eceran atau retail).

Kekaguman dan Keprihatinan

Kecepatan akses pembaca yang muncul di luar dugaan memang sering mengagumkan, sekaligus memprihatinkan. Kekaguman bagi penulis muncul ketika bukunya segera dicetak lagi atau dicetak ulang. Pada kesempatan ini, penulis memiliki peluang yang sangat besar untuk memperbaiki data dan fakta yang kurang lengkap. Pada kesempatan ini pula, penulis merasa lebih percaya diri bahwa karya intelektualnya mendapat umpan balik yang sah, yakni pembaca setianya. Hukum kepercayaan atas karya intelektual senantiasa berkorelasi dengan respons pembaca. Jika buku tidak pernah dicetak ulang itu artinya indikasi bahwa karya intelektual seseorang belum berterima bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, penulis boleh kagum jika respons pembaca membuat karya intelektualnya perlu dicetak lagi. Sebaliknya, buku yang tidak pernah dicetak lagi sebagai indikasi yang memprihatinkan, entah bagi penulis entah bagi penerbit. Prihatin manakala karya intelektual yang sedemikian baik dan runtut uraiannya tak berterima segera.

Pada kondisi buku yang tidak pernah dicetak ulang, sebetulnya tidak tepat juga jika dikatakan karya intelektualnya kadaluwarsa alias ketinggalan zaman. Menurut catatan penjual buku di toko-toko buku ternama seringkali sebuah karya intelektual pada zamannya dilirik sebelah mata. Namun, pada masa mendatang bisa juga terbukti karya intelektual yang agak diabaikan justru dicari-cari oleh pembacanya. Itulah sebabnya, antara penulis dan penerbit seringkali sulit melakukan prediksi yang akurat bahwa buku yang akan dijual atau diedarkan menjadi terlaris atau malahan setia menumpuk di gudang saja. Sebuah pertanyaan yang memerlukan penelitian lebih lanjut, sejauh mana daya tarik karya intelektual mendapat respons yang efektif dari pembaca?***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: