Spiritualisme Kritis Ayu Utami

Posted on 24 Juli 2008. Filed under: Apa&Siapa |

Bilangan FU Ayu Utami

Bilangan Fu Ayu Utami

Ada bilangan baru. Namanya bilangan Fu. Fu artinya bunyi hidung sebagai variasi dari bunyi Hu dan sebagai sumber pernafasan. Oleh karena itu, Fu bermakna bunyi ruh.

Bilangan Fu pada awalnya berinisial Jalur 13. Namun, Ayu Utami  menganggap angka 13 sebagai angka sial. Angka ini sebenarnya embrio yang ingin diperkenalkan oleh Ayu Utami sebagai angka permainan dengan bilangan berkesan angker. Stigma keangkeran angka itu sanggup memerdayainya untuk menggunakan atribut bilangan 13. Atas dasar itu, “Bilangan Fu” berkonotasi sebagai bilangan metaforis dan spiritual berkembang menjadi serbaneka hidup dan kehidupan yang akrab dengan sikap kritis. Jadi, spiritualisme kritis menjelma sebagai tema novel terbaru Ayu Utami. “Saya menawarkan spiritualisme kritis,” ujar novelis “Bilangan Fu” yang dibanderol seharga Rp60.000,00, 547 halaman 13,5 x 20 sentimeter.

Pada peluncuran novel “Bilangan Fu” di Jakarta, Ayu Utami mengemukakan bahwa manusia harus menyadari apa yang mendesak dilakukan sekarang. “Selamatkanlah bumi, bukan akhirat,” pesan anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2006–2009 seraya menambahkan, “Kesadaran kritis menjadi hal paling utama dari kesadaran modern yang sebenarnya. Untuk itu, kemampuan kritis harus digenjot.”

Novel Terbaru Ayu Utami

Novel Terbaru Ayu Utami

Kami kritik nafsu-nafsu yang menguasai kita, tegas Ayu Utami. Ia mempersembahkan novel ini bukan hanya untuk Erik Prasetya yang mewujud baginya bak sebuah cerita, melainkan juga untuk negeri gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharjo, Indonesia, yang dengan sedih Ayu cintai. Erik Prasetya menurut Ayu Utami sebagai partner mendaki gunung yang merupakan ayah dari novel ini. “Ia memberi saya benih bagi kisah cinta roman ini, dan merawat saya selama mengandung novel ini,” tulis Ayu Utami pada halaman terima kasihnya dan menambahkan, “Usaha pembuahannya yang berkali-kali gagal makan waktu empat tahun, proses mengandung-menuliskannya, menghabiskan sembilan bulan.”***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to “Spiritualisme Kritis Ayu Utami”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

ne wordprees tambah keren aja…bisa jadi privat cyber magazine.
Suggest ya Pak Herf…

aku sudah baca bilangan fu. bagus. memang beda
banget dgn saman dan larung. mungkin karena ayu utami pake sudut pandang laki-laki. buat yang belum baca, silakan beli. tidak akan rugi kok.

salam

gw dah baca novel ini. dan ini berbeda ma larung ato saman. kritis banget n gw lg garap ini jadi skripsi, khusus soal kritik atas monotheisme. gmn menurut Anda…

Agama? Bukannya sudah ada di tempat sampah? Atau malah sudah ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bantargebang? Agama adalah satu2nya produk budaya yang membolehkan manusia berlaku tidak manusiawi tapi mendapat pujian dan hadiah.

bilangan fu memang tidak serenyah saman atau larung tetapi jauh lebih menarik sebagai bahan refleksi untuk melihat bagaimana pemahaman kita kepada ajaran agama kita selama ini. bahwa ‘perasaan’ sudah menemukan kebenaran itu sendiri justru melumpuhkan…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: