Menggusur Sekolah Elite di Selatan Jakarta

Posted on 20 Juli 2008. Filed under: Unek-Unek |

SMAN 6 Jakarta

SMAN 6 Jakarta

Apakah cukup mengherankan jika pemerintah menggusur tempat tinggal? Kenapa ada penggusuran? Bagaimana solusi yang berimbang untuk mengatasi penggusuran yang memihak kepada salah satu penguasa? Jawaban atas pertanyaan itu agak mudah manakala program penggusuran berkaitan dengan permukiman warga. Apalagi jika penggusuran berlangsung untuk kepentingan jalan umum, misalnya untuk jalan bebas hambatan. Namun, belakangan ini marak menjadi bahan diskusi berkaitan dengan penggusuran. Penggusuran yang marak didiskusikan berkaitan dengan sekolah menengah yang berada di kawasan elite, persisnya di Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Lokasinya strategis pas di keramaian kawasan Selatan Jakarta. Pusat budaya dan seni yang menjadi kawasan terkenal, yang terdekat dengan lokasi jantung Ibu Kota. Lokasi sekolah ini  sebagai wacana yang berkembang pesat untuk siap digusur. Apakah sekolah menengah elite  berhasil digusur atau gagal digusur?

Enhakam sebagai akronim enam Mahakam yang berarti sekolah menengah tingkat atas enam di kawasan Mahakam nomor satu Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Sekolah ini memiliki kegiatan pencinta alam beratribut Trupala. Selain berlokasi di kawasan Mahakam, kawasan sekolah ini juga akrab dengan sebutan Bulungan. Di belakang sekolah, siswa dapat akses menuju ke Gelanggang Remaja Bulungan. Selain itu, di belakang sekolah atau di sebelah kiri sekolah berdampingan dengan Kejaksaan Agung RI.

Sejak 1952 sekolah menengah tingkat atas enam ini berdiri. Lokasinya dekat dengan restoran “Ayam Bulungan” dan bioskop ternama “New Garden Hall”. Selain dikelilingi oleh tempat hiburan ternyata lokasinya juga berdampingan dengan Taman Christina Martha Tiahahu plus air mancur yang khas di kawasan Blok M ini. Tempat ibadah yang dekat dengan sekolah ini, selain masjid di Kejaksaan Agung, juga dekat gereja Katolik Santo Johannes Penginjil Kebayoran Baru serta taman bunga, tempat berjual beli aneka satwa burung-unggas, tanaman dan ikan hias. Lokasinya dekat juga dengan Sekretariat ASEAN dan kantor pembangkit listrik negara. Yang paling berpengaruh, lokasi sekolah ini berdampingan dengan sekolah menengah atas (SMA) Negeri IX dan XI.

Suasana sekolah untuk belajar dan mengajar sangat kondusif. Selain memiliki lokasi strategis yang mudah dicapai, juga membuat minat orang tua dan siswa, seperti Adnan Buyung Nasution, Rano Karno, Yessy Gusman, Lidya Ruth Elisabeth Kandau, Linda (Agum Gumelar), Dadang Kafrawi, Dibyo Widodo, Dede Yusuf, Christine Hakim, dan Maudy Koesnadi ikut menikmati masa-masa sekolah di SMA itu. Masa bersekolah dalam kisah-kasih di sekolah menengah ini pernah dilantunkan dalam tembang terindah oleh Obbie Messakh.

Pola persaingan dari ketiga sekolah antarsiswa sungguh-sungguh “ksatria”. Kalau ada perselisihan di antara siswa, biasanya dihadapi satu lawan satu. Perkelahian sangat jarang melibatkan gerombolan, apalagi antarsekolah. Jika ada perselisihan diselesaikan oleh kedua pihak yang berselisih saja. Imbas persaingan semacam itu berembus bak angin segar di keramaian bagi siswanya. Di antara siswanya, lahirlah pecatur andal seperti Utut Adianto. Iklim persaingan saling mengguli satu sama lain, yang juga berimbas ke sekolah tetangga, seperti SMAN IX dan SMAN XI. Tenaga pengajar pun menanamkan cara belajar “unggul”. Oleh karena itu, lahirlah siswa-siswa yang unggul juga. Prestasi akademiknya membuat orang tua siswa bangga. Gampang lulusannya diterima di universitas ternama, entah yang negeri entah yang swasta. Itulah sekolah unggulan yang menjadi favorite bagi siapa pun.

Pada 1981 kedua sekolah SMAN IX dan XI merger menjadi SMAN 70. Sekolah inipun bertaburan dengan alumni tokoh, seperti Bella Safira, Nadia Safira, Bunga Citra Lestari, Reza Artamezia, Terre, J.S. Prabowo, Hayono Isman. Sementara SMAN 6 tanpa perubahan nama. Yang berubah cuma angka. Sebelumnya menggunakan angka Romawi, lalu berubah menjadi angka Arab. Rupanya kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau akronimnya Depdikbud berlaku umum untuk penamaan semua sekolah negeri. Staf dan jajaran manajemen dinas pendidikan menengah dan tinggi Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta pun berubah.

Kini akronim Depdikbud menjadi akronim Depdiknas. Bioskop nomor satu di Selatan Jakarta di depan sekolah menjadi pusat perbelanjaan Blok M Plasa. Pola perkelahian yang pernah terjadi juga berubah menjadi perseteruan antarsekolah berupa tawuran. Area pusat budaya dan seni di kawasan Selatan Jakarta menjadi kawasan bisnis strategis bernilai jual sangat tinggi. Perubahan demi perubahan terus-menerus bergulir. Boleh jadi akumulasi perubahan yang akan datang lebih memancing debat panjang. Apakah sekolah menengah yang berlokasi strategis di pusat kota Selatan Jakarta akan hilang melesap? Pertanyaan ini mengemuka tatkala pihak Kejaksaan Agung menginginkan lokasi sekolah elite ini sebagai lahan parkir dan rumah tahanan. Mengorbankan sekolah menengah yang menyimpan kenangan ceria di masa silam, sekaligus sekolah unggulan di masa lalu, kini, dan mendatang atau tanpa mengorbankan sekolah. Jadi, Kejaksaan Agung hanya merenovasi gedung menjadi bertingkat-tingkat menjulang tinggi. Walahualam bissawab.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: