Mengendalikan Stres di Kalangan Wanita

Posted on 17 Juli 2008. Filed under: Advertorial |

Jenny Chang

Jenny Chang

Menangis sejadi-jadinya. Cemberut tiba-tiba. Amarah suka muncul mendadak. Kegundahan hati dan kegelisahan hidup mengisi hari-harinya yang panjang. Begitu itulah pada mulanya. Rasa kecewa muncul pada awalnya. Dalam hidup dan kehidupan sikap kecewa itu biasa. Lantas, kekecewaan hati sulit teratasi kemudian muncul stres. Manakala stres menjadi-jadi sedemikian sulit diatasi, ia menaik lagi intensitas kekecewaannya menjadi depresi. Rasa depresi yang tak berkesudahan lama-kelamaan siap mengganggu orang lain. Oleh karena itu, sejumlah kiat bagaimana mengendalikan stres jadi menarik perhatian bagi kebanyakan orang. Majalah femina nomor 29 menyampaikan tulisan bertajuk “Siapa Lebih Stres? Ibu Rumah Tangga vs Ibu Bekerja”. Berikut ini resumenya.

Stres itu berbahaya. Sejumlah ilustrasi yang menyokong kadar bahaya suatu stres pun dapat dianalisis. Selidiki penyebabnya. Ibu rumah tangga yang jenuh menghadapi rutinitas. Wanita karier yang terbebani tumpukan pekerjaan. Wanita lajang yang panik tak kunjung punya pasangan hidup, boleh jadi petunjuk kadar stres yang masih ringan. Jika keringanan kadar bahaya stres tak segera diatasi, ia meningkat menjadi depresi. Tingkatan depresi setali tiga uang dengan keadaan stres yang berlangsung terus-menerus. Namun, Ratih Ibrahim, Psikolog Personal Growth Consultant menggarisbawahi bahwa ketika kehidupan sedang tidak menyenangkan, wanita cenderung cemburu pada kehidupan orang lain. Ia mulai membuat perbandingan.

Metode perbandingan sama tuanya dengan umur kehidupan makhluk hidup di dunia ini. Setelah dibandingkan akan tampak hasil stres mana yang lebih tinggi. Dalam kaitan dengan kadar stres kepada siapa yang tinggi, sedang, rendah, ternyata menurut Julianne Holt-Lunstad, Profesor Psikologi dari Brigham Young University — seperti yang dituliskan oleh Fatimah N. Lubis — wanita lajang justru bisa lebih stres daripada wanita menikah.

Tiga kesaksian wanita saat mengatasi stres muncul dalam boks. Evi Yuliati, 33 tahun, ibu rumah tangga mengatakan saya merasa beruntung memiliki suami yang bersedia membantu mengurus anak-anak sepulang dari kantor. Di saat-saat inilah saya berusaha mencuri waktu untuk bersantai. Ketika stres melanda dan suami belum pulang, saya juga bisa tiba-tiba keluar rumah. Anak-anak saya titipkan  ke nanny mereka. Saya biasanya menuju mal, dan di sana saya bisa muter-muter sendirian. Kalau pikiran sudah lebih relaks, barulah saya pulang.

Desi Astuti, 33 tahun, menikah, Analis Keuangan mengurai bahwa melepas stres dan capek itu penting. Dulu, katanya, waktu masih lajang dan belum punya anak, hampir setiap weekend saya ngumpul bareng teman. Sekarang rasanya sulit. Satu cara yang saya pakai untuk “liburan” sesaat lepas dari urusan rumah dan kantor adalah makan malam bersama suami setiap Jumat. Si kecil saya titipkan pada ibu.

Titi Kusbandiyah, 33 tahun, lajang, Sekretaris Presiden Direktur menyampaikan caranya lari dari stres. Pertama, mencoba untuk tidak terlalu memikirkan masalah pekerjaan. Kedua, membaca sambil mendengarkan musik. Ini terapi relaksasi buat saya, katanya seraya menambahkan, “Saat ini saya menjalani hidup dengan mengikuti arus. Masalah jodoh juga tidak lagi memenuhi pikiran. Saya tidak mau stres lagi karena membuat badan susah gemuk dan sedih terus. Prioritas hidup saya saat ini adalah membahagiakan orang tua.”***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: