Peran Redaktur Bahasa Sangat Penting

Posted on 4 Juli 2008. Filed under: Bahasaku-Bahasamu |

Bahasa! Kumpulan 69 Tulisan di Majalah Tempo

Bahasa! Kumpulan 69 Tulisan di Majalah Tempo

Bagi sebagian orang, komitmen untuk ikut terus-menerus merawat dan memberikan perhatian penuh pada perkembangan bahasa Indonesia tidak dapat ditawar-tawar. Namun, alangkah buruknya bagi sebagian orang yang berbahasa sehari-hari semau-maunya, ternyata jumlahnya juga semakin menjadi-jadi. Majalah Tempo sejak Oktober 2005, menurut Bambang Bujono dan Leila S. Chudori selaku editor memuat rubrik “Bahasa”. Rubrik yang bertujuan untuk memelihara, mencatat, mendebat, mengevaluasi, menimbang, mempertanyakan, menggugat berbagai perkembangan yang terjadi pada bahasa Indonesia. Dalam kecermatan dan ketelitian kebahasaan itu, peran redaktur bahasa Tempo terasa semakin mumpuni. Oleh karena itu, kumpulan 69 tulisan di majalah Tempo patut dibaca dan perlu disimak dengan saksama. Sebuah buku yang layak dan pantas dimiliki.

 

 

Sejumlah tulisan dalam kolom Bahasa! yang memiliki persamaan dan persinggungan dibagi dalam tiga kelompok tulisan. Isi pernyataannya berkaitan dengan bahasa dari sisi ilmu bahasa, perihal kebahasaan, dan dialog pengaruh antara bahasa dan budaya. Tiga bagian besar pengelompokan kebahasaan itu embrionya pada kepedulian majalah Tempo terhadap bahasa Indonesia.

Sejak awal diterbitkan, 6 Maret 1971 kepedulian majalah Tempo pada bahasa Indonesia sudah muncul. Kepedulian ini berkaitan dengan menumpuknya informasi, fakta, dan pendapat. Oleh karena itu, untuk menghindari kesalahpahaman serbaneka data dan fakta diupayakan dengan memakai bahasa yang jernih. Peran redaktur bahasa menjadi sama kedudukannya dengan fungsi wartawan. Pada akhir 1970-an majalah Tempo sudah memiliki redaktur bahasa.

Pada kebanyakan media yang dilahirkan di Tanah Air cenderung mengabaikan peran redaktur bahasa. Padahal, redaktur bahasa sangat penting. Tugasnya menjadi penyaring dalam hal yang berkaitan dengan kebahasaan. Meski secara umum tulisan seorang penulis mampir dulu ke redaktur dan redaktur pelaksana atau redaktur senior, posisi redaktur bahasa sangat vital. Ia memeriksa keseimbangan pengalimatan dan memperlancar kebahasaan, ejaan, istilah, dan tata bahasa sebelum majalah tiba di tangan pembaca.

Peran penting redaktur bahasa di majalah Tempo, ternyata juga mendapat perhatian serius di surat kabar seperti harian Kompas. Media tanpa redaktur bahasa ibarat media yang tak bertanggung jawab. Ia mengabaikan hak pembaca memperoleh informasi dan komunikasi yang interaktif. Sarana dialog. Kebijakan redaksional tanpa menyertakan peran redaktur bahasa sebagai cermin media yang dikelola tanpa visi dan misi demi mencerdaskan pembaca. Pada kebanyakan media yang menyepelekan peran redaktur bahasa cenderung berorientasi pada segi pendapatan semata. Pada sisi ini sering muncul keprihatinan bahwa mengelola media massa sebagai industri bukan hanya mencari pendapatan sebanyak-banyaknya, melainkan juga berunsur sosial yang tinggi yang mencerahkan dan menghibur pembaca. Untuk itu, peran redaktur bahasa sangat penting. Di majalah SWA, peran redaktur bahasa juga mendapat perhatian yang tinggi, demikian pula dengan koran Pikiran Rakyat. Tampaknya media elektronik dan portal kerap kali mengabaikan peran redaktur bahasa, di samping sejumlah media cetak yang masih menganggap sepele peran itu.

Bahasa! Kumpulan 69 Tulisan di Majalah Tempo

Bahasa! Kumpulan 69 Tulisan di Majalah Tempo

Redaktur bahasa sebagai garda terdepan. Ia memeriksa kembali tulisan yang berkaitan dengan tanda baca, ejaan, nama jabatan, bahkan menanyakan kembali kepada editor atau penulis, bila muncul pengalimatan yang macet. Apalagi tulisan yang logika bahasanya kacau. Artinya, menurut editor buku Bahasa! ini sebuah artikel Tempo akan lebih “enak dibaca dan mudah dipahami” pembaca apabila sudah melewati penyuntingan oleh beberapa kepala, termasuk penyuntingan bahasa.

Di Tempo, tulis Bambang Bujono dan Leila S. Chudori selaku editor buku Bahasa!, sang pelopor yang berbahasa “enak dibaca dan akurat” itu, selain pendiri Tempo, Goenawan Mohamad ialah Slamet Djabarudi. Pak Slamet, sapaannya kerap kali mencermati tulisan para wartawan. Buku ini, antara lain sebagai kenangan kepada Pak Slamet.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: