Pekerja Digital Tanpa Kantor

Posted on 3 Juli 2008. Filed under: Advertorial |

Pekerja digital mending diam di rumah saja. Untuk apa berkeliaran di sentra-sentra Banjir order bagi Carissa Putri usai Ayat-Ayat Cinta.bisnis untuk menghabiskan waktu, apalagi kondisi lalulintas di Ibu Kota yang padat menimbulkan kemacetan di mana-mana. Perjumpaan dengan klien hanya diperlukan jika mendesak sifatnya. Waktunya pun berlangsung singkat. Praktis. Bebas ongkos. Aman dan nyaman. Oleh karena itu, pekerja digital memiliki seperangkat kemudahan demi mempercepat hasil kerja yang berkualitas. Komputer jinjing atau laptop, personal digital assistant, handphone smartphones, kamera digital, dan bahan presentasi yang lain adalah sejumlah gadget yang patut jadi penunjang mobilitas pekerja digital. Namun, apa gadget yang cocok sebagai teman setia pekerja digital dan bagaimana menyiasati kelambanan tingkat kepercayaan klien? Ulasan femina 3–8 Juli patut menjadi pegangan bagi pekerja digital tanpa kantor.

“Dari Redaksi” Petty Siti Fatimah Tunjungsari mengurai bahwa bekerja sama dengan ngantor mirip dengan berbaju rapi serupa dengan bertemu muka. Namun, bagi sebagian dari kita, itu sudah menjadi cerita masa lalu. Dewiq, pencipta lagu terkenal, tulisnya, bekerja dari rumah atau dari mana saja ketika inspirasi datang. Samuel Mulia, konsultan media bahkan lebih banyak ngantor di dalam taksi di tengah kemacetan Jakarta. Mira Lesmana, Nia Dinata ngantornya bisa di mana saja. Dari Belitong sampai Pasar Senen, ketika sebuah produksi film sedang dikerjakan. Transaksi dan komunikasi bisnis seperti apa pun bisa dilakukan virtual.

Menurut Petty Siti Fatimah Tunjungsari, Pemimpin Redaksi femina, wajah dunia kerja memang berubah. Suka tidak suka, semua orang didorong ke arah yang sama: efisien, efektif, dan melek teknologi. Jangan heran, tulisnya, kalau Anda masuk hotel sekarang, apalagi dalam perjalanan bisnis, pertanyaan pertama pada resepsionis bukan hanya, “Di mana gym atau restoran?” tapi, “Di sini (ada) wifi enggak ya?”

“Berkantor di Kafe dan Resto” kerap mendapat sebutan “mobile office” demikian judul utama yang ditulis oleh C. Ruth Elisabeth dan Tina Savitri. Berkantor di kafe dan resto lebih praktis, dinamis, dan ekonomis. Itulah alasan mengapa mobile office kini makin menjadi pilihan. Alasannya, tanpa biaya sewa kantor, bebas gaji sekretaris plus tanpa tagihan listrik. Sementara itu, perjumpaan dengan klien atau relasi dilakukan di kafe, resto, taman, atau di dalam taksi.

Megawati, 33 tahun, Konsultan Desain Interior menyempatkan diri menemui klien yang jauh dari rumah sekalipun. “Kalau jadwal kosong, saya pasti tak menolak ajakan bertemu klien, biarpun jauh dari rumah,” kata arsitek yang menjalani kantor berjalan selama delapan tahunan. Meski demikian, Megawati tetap menyediakan kantor sebagai tempat workshop atau tempat pengerjaan desain. Pada umumnya, klien yang berwarga negara asing ingin melihat proses pengerjaan desain.

Samuel Mulia, 44 tahun, Media and Brand Consultant mengaku sering ngantor di taksi. Kendati tanpa kantor, ia membuktikan bahwa dirinya efektif menjalankan bisnis. Taksi pun bisa menjadi kantor, katanya. Sebelumnya, Samuel Mulia dikenal sebagai fashion editor dan pengamat gaya hidup. “Ini adalah pekerjaan yang bersifat konseptual. Jadi, bisa saya kerjakan sendiri di mana saja.” Meski demikian, ia berusaha tepat waktu pada setiap kali ada pertemuan dan kerap mengirim progress report tertulis kepada klien sebagai bukti pertanggungjawaban.

Ninie, 36 tahun, Wedding and Event Consultant menjalankan usaha tanpa kantor. “Pertimbangan saya supaya efisien. Saya jadi tak harus membayar staf untuk mengurus kantor. Ia mengakui hal tersulit tanpa kantor manakala meraih kepercayaan klien. Oleh karena itu, ia berusaha profesional. Misalnya menyiapkan diri sebaik-baiknya dalam presentasi. “Saya pun harus berusaha memberi jawaban memuaskan,” ujar Ninie yang selalu membawa komputer jinjing seraya mengakui bahwa kompetitor bisnisnya cukup banyak. Ia pun menangani pernikahan cara Indonesia, selain pesta pernikahan cara India, Jepang, dan Eropa.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: