Memotivasi Generasi Instan Mencapai Keberhasilan Terus-menerus

Posted on 26 Juni 2008. Filed under: Berita |

Motivasi diri sebagai bagian mencapai sukses menjadi kegagalan manakala tanpa insentif yang memadai. Oleh karena itu, faktor yang lain demi mencapai kesuksesan sering bersinggungan amat erat untuk mempertahankan motivasi. Faktor itu berkaitan erat dengan visi dan misi pribadi, kemampuan profesional, modal usaha atau modal kerja, rancangan kerja, maka keberhasilan terus-menerus tak lagi menjadi sesuatu yang sulit diraih. Kerja sama antarbagian ini menjadi keutuhan yang tiada tandingan dalam dunia usaha yang sering berhadap-hadapan dengan kenyataan. Dalam praktiknya, faktor pengganggu untuk mencapai keberhasilan pada akhirnya berfokus pada motivasi pribadi seseorang. Di bawah rubrik “Dari Redaksi” Petty Siti Fatimah Tunjungsari, Pemimpin Redaksi femina (26 Juni–2 Juli) mengurai seputar motivasi. Berikut ini resumenya.

Untuk sukses, tulis Petty Siti Fatimah Tunjungsari, melakukan apa saja dengan bersemangat dan berorientasi pada hasil, setiap orang butuh motivasi. Susahnya, pemimpin redaksi ini, dengan berbagai alasan, motivasi tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. Terlalu takut atau gengsi kalau tidak berhasil, malas bekerja keras, nrimo nasib, maunya yang instan, dan banyak lagi alasan sebetulnya manusiawi. Namun, tentu saja tidak produktif. “Rendahnya motivasi ternyata menjadi lahan bisnis. Lihat saja, begitu banyak pelatihan dengan berbagai kemasan dan harga ditawarkan,” demikian Petty Siti Fatimah Tunjungsari menuliskan seraya menambahkan, “Bagi generasi instan seperti kita, iming-iming pelatihan itu sangat menggiurkan karena menjanjikan sukses, bahagia, bahkan uang, dalam waktu cepat. Pelatihan yang benar dan tepat, justru bisa bermanfaat seumur hidup. Namun, yang terbaik, tetap berusaha sendiri agar motivasi bisa datang kapan saja kita membutuhkan.”

Dalam boks sebagai ilustrasi dicontohkan, dengan motivasi untuk menghasilkan angle foto terbaik Jane Djuarahadi, fotografer femina, mau repot memakai jarik dan bersanggul sambil tetap memanggul kamera yang berat. “Tetap manis kok,” komentar Petty Siti Fatimah Tunjungsari. Pada femina terbaru faktor motivasi ini muncul dalam kulit muka yang berjuluk “Training Motivasi Diri: Perlu atau Buang Waktu?”

Akan tetapi, faktor memotivasi diri sebagai liputan khas mendapat pertanyaan kritis dari Yoseptin Pratiwi dengan judul yang mempertanyakan bahwa “Berburu Motivasi, Apa yang Dicari?” (halaman 46) Meski pelatihan-pelatihan motivasi semakin mengundang minat peserta yang melimpah, entah yang berbiaya tinggi entah yang gratisan, kecenderungan pelatihan sebagai pengganti “dosen” informal ini sungguh menggerakkan roda ekonomi pada sektor riil, terutama pada sektor jasa dan pelatihan.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: