Pendidikan Kewirausahaan Sejak Usia Dini

Posted on 19 Juni 2008. Filed under: Advertorial |

Membentuk Jiwa Pengusaha Sejak DiniSejak usia belia pendidikan watak yang baik menghasilkan perilaku yang terpuji. Selain terpuji, mental pun teruji. Jika sudah teruji, ketahanan mental dapat memperlancar roda ekonomi perusahaan di kemudian hari. Sayangnya, roda ekonomi menjadi kian terpuruk manakala perilaku usaha dipimpin oleh pengusaha berwatak kerdil. Satu per satu unit usaha bertumbangan. Rontok. Kalah bersaing. Ketahanan mental pimpinan sebagai imbasan watak pimpinan yang buruk jadi penyebab melorotnya pencapaian target. Boleh jadi sejak usia dini jiwa pengusaha belum lagi mendapat perhatian yang serius. Oleh karena itu, tulisan bertajuk “Jiwa Pengusaha Bisa Dibentuk Sejak Kecil” menambah kontribusi bagi masyarakat bangsa dan negara RI ditengah-tengah kepungan mentalitas yang menerabas. Mau cepat untung saja. Berikut ini resumenya.

Bintang televisi si kembar Olsen dari serial Full House menurut Petty Siti Fatimah Tunjungsari, Pemimpin Redaksi femina (19–25 Juni), memulai karier sejak kecil. Mary-Kate dan Ashley Olsen, gadis 21 tahun menduduki peringkat ke-11 dan termuda usia dari 20 orang terkaya dunia (Forbes 2007). Prediksi kekayaannya dari perusahaan Dualstar Entertainment mencapai seratus juta dolar Amerika. Ternyata, enterpreuneur (wirausaha) muda ini mengalami didikan kewirausahaan sejak masih dalam gendongan. Bahkan ketika belum lancar bicara, tulis Petty Siti Fatimah Tunjungsari, keduanya sudah diajak “ngantor” dan ikut menentukan barang yang layak jual. Selanjutnya, pada usia belasan mendapat peran bisnis yang kian membesar. Ia menjadi produser serial video dan creative director produk garmen, misalnya.

Di bawah judul “Kidpreuneur Calon Pengusaha Masa Depan” pada halaman 38, Veronica Wahyuningkintarsih, penulis liputan khas menggarisbawahi bahwa lewat pengalaman menjadi kasir atau permainan menarik, anak bisa mendapat ilmu bisnis dengan cara yang menyenangkan. Bukan lagi hanya berkutat pada keinginan bahwa sang anak kelak menjadi dokter atau arsitek — seperti impian ibu zaman sekarang — melainkan keinginannya menjadi pengusaha.

Menurut pakar marketing, Rhenald Kasali, Ph.D. untuk menjadi enterpreneur sejati yang berperan bukan hanya bakat atau genetika, melainkan juga pengaruh interaksi dengan lingkungan. “Manusia itu menjadi sesuatu bukan by nature, melainkan by nurture,” ujar Ketua Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.

Rhenald Kasali lalu bercerita tentang kebiasaan anak pengusaha tekstil sukses di Pekalongan. Sewaktu kecil, setiap kali pulang sekolah, si anak menjadi kasir di toko. Sedikit lebih besar, ia membantu memonitor harga-harga di pasar. Saat mendapat informasi bahwa harga naik, ia melapor kepada ayahnya di pabrik. Ia dilatih ke pasar setiap hari, mendengarkan para pedagang mengobrol. Lama-kelamaan, anak ini pun melihat cara orang berdagang. Pasar itu menjadi semacam sekolah interaktif.

Seorang anak petani, kalau besarnya di kampung terus, dia akan jadi petani karena bergaul di lingkungan petani. Tapi ketika disuruh orang tuanya merantau, ia bisa jadi pebisnis, meskipun tak diwarisi bakat bisnis. “Sebagai perantau, ia belajar hidup mandiri. Di sinilah, ia akan mengenal rasa takut. Misalnya, bila telah berkeluarga, ia akan merasa takut tak memberi anak istrinya makan atau menyekolahkan anaknya. Percaya atau tidak, rasa takut itu menjadi modal awal untuk meraih kesuksesan,” ujar Rhenald Kasali.

Pada boks tulisan “Ini Strategi Mereka” sejumlah kiat untuk menjadikan anak sebagai pengusaha senantiasa dikaitkan dengan pemahaman konsep uang. Oleh karena itu, sejumlah tokoh pengusaha perlu mengajarkan prinsip dasar mengelola uang. Shantica Warman, 37 tahun, pengusaha baju anak menegaskan, saya sering membuat garage sale bersama teman-teman. Dika, 12 tahun membantu di bagian kasir. Menerima uang dan menghitung untuk memberi uang kembalian. Lucunya, ia juga ikut menjual barang miliknya, seperti boneka Barbie dan mainan lain. Dijualnya dengan harga murah, hanya seribu sampai lima ribu rupiah. Meski keuntungannya tak banyak, ia senang bisa mendapat tambahan uang saku.

Velly Kristanti, 33 tahun, pengusaha burger mengajak Muhammad Rakha Abyan, 6 tahun dan Shafira Azzahra Khairunnisa, 4 tahun untuk mengembangkan jiwa bisnis. “Saya membuka peluang bagi mereka untuk bereksplorasi. Misalnya, membelikan laptop agar mereka bisa menjalani internet, termasuk games. Mereka lalu menemukan bahwa games di internet itu sangat beragam, bahkan ada games tentang cara membuat burger, cake, dan sushi. Siapa tahu hal itu nanti bisa berguna,” ujarnya.

Saat berbisnis perlengkapan kamar tidur anak, kata Dinar Esfandiari, 35 tahun, staf marketing, saya berpromosi door to door. Alif, 9 tahun, katanya, sering bertanya kenapa saya bawa banyak barang. Saya jelaskan, ini cara mencari uang. Ia pun tak keberatan membantu menyebarkan brosur produk dari satu apartemen ke apartemen lain. Ketika itu, saya sekaligus menjelaskan pentingnya brosur sebagai jalan berpromosi agar orang tertarik.***

 

 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Pendidikan Kewirausahaan Sejak Usia Dini”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

sekolah juga bisa berperan dalam mengenalkan dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan. di sekolah interaktif gemilang mutafannin, setiap bulan dilaksanakan market day yang bersamaan waktunya dengan acara parenting class. ada anak (murid) yang karena harus habis jualannya, berani menawarkan person to person. bukankah keberanian semacam ini akan menjadi modal berharga?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: