SDM Penerbitan Pers yang Kreatif

Posted on 7 Juni 2008. Filed under: Berita |

Dr Agus Sardjono, Ir Djoko Agung MM, Frans Asisi Datang, Ali Muakhir, Sukardi Darmawan, Subiyanto Isu permasalahan subsektor penerbitan dan percetakan mengemuka dalam lima pertanyaan pada lokakarya Pekan Produk Budaya Indonesia bertajuk “Warisan Budaya Indonesia Inspirasi Kebangkitan Ekonomi Kreatif”, Jumat 6/6, pukul 14.00–16.30 di Jakarta. Kelima pertanyaan ini meliputi bagaimana meningkatkan kuantitas dan kualitas penulis, editor, penerjemah di subsektor penerbitan dan percetakan? Bagaimana bentuk dan dukungan atas perlindungan karya kreatif dan insan kreatif di subsektor pernerbitan dan percetakan baik secara digital maupun cetakan? Bagaimana strategi meningkatkan minat baca dan budaya menulis di masyarakat Indonesia? Selain itu, bagaimana meningkatkan permintaan dalam negeri? Insentif apa yang dibutuhkan oleh subsektor penerbitan dan percetakan terkait dengan diterbitkannya peraturan presiden tentang Kebijakan Pengembangan Industri Nasional? Bagaimana mengkampanyekan pemanfaatan media digital untuk menyajikan konten? Pertanyaan-pertanyaan ini mendapat jawaban Sukardi Darmawan dari Serikat Penerbit Suratkabar. Berikut ini resume jawabannya.

Dr Agus Sardjono, Ir Djoko Agung MM, Frans Asisi Datang, Ali Muakhir, Sukardi Darmawan, Subiyanto -2 Hari kedua lokakarya tentang subsektor penerbitan dan percetakan bertema Komitmen Triple Helix dalam Penguatan Pondasi dan Pilar Subsektor Penerbitan dan Percetakan demi Tercapainya Sasaran Pengembangan 2015 menampilkan Dr. Agus Sardjono dari Direktorat Jenderal Hak Cipta Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, Ir. Djoko Agung, M.M. dari Departemen Komunikasi dan Informasi, Frans Asisi Datang dari Pusat Studi Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Langit Kresna Hariadi selaku penulis novel Gadjah Mada, Sukardi Darmawan, Sekretaris Jenderal Serikat Penerbit Suratkabar, Subiyanto dari Penerbit Ganeca Exact, dan Ali Muakhir sebagai moderator. Berikut ini penjelasan Sukardi Darmawan yang mengungkap lima pilar jawaban.

  1. Bagaimana meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM (penulis, editor, penerjemah) di subsektor penerbitan dan percetakan?

Kualitas SDM penerbitan pers (wartawan maupun non wartawan) secara berkala perlu ditingkatkan melalui berbagai kegiatan. Dalam konteks kelembagaan di SPS, secara berkala melalui inisiatif sendiri atau dukungan dari funding, sejak dulu SPS Pusat telah mengadakan sejumlah kegiatan peningkatan kompetensi atau kualitas SDM penerbit pers di seluruh Indonesia. Antara lain dalam bentuk lokakarya manajemen pers bagi penerbit lokal.

Sementara dalam upaya memenuhi kebutuhan kuantitas SDM penerbitan pers yang profesional, SPS mendorong agar lembaga-lembaga pendidikan kewartawanan yang ada (seperti LPDS, LP3Y) dan lembaga pendidikan manajemen pers lain, terus-menerus meningkatkan kualitas pendidikan. Agar output dari SDM penerbitan pers semakin meningkat, mengikuti tuntutan dinamika industri pasar yang terus berkembang.

  1. Bagaimana bentuk dan dukungan atas perlindungan karya kreatif dan insan kreatif di subsektor penerbitan dan percetakan, baik secara digital maupun cetakan?

Setiap karya penerbitan tentu dilindungi oleh UU Hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Karenanya, SPS Pusat mendorong agar setiap penerbit pers anggota SPS mendaftarkan karya cipta intelektualnya. Agar tidak terjadi potensi pelanggaran atas HAKI masing-masing penerbit oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

  1. Bagaimana strategi meningkatkan minat baca dan budaya menulis di masyarakat Indonesia (serta meningkatkan permintaan dalam negeri)?

Tren penurunan pembaca media cetak secara nasional dan global, telah menjadi perhatian serius para penerbit di dunia atau di Indonesia. Karena itu, dibutuhkan sebuah prakarsa untuk mendorong dan mengkampanyekan agar generasi mendatang tetap mau membaca media cetak.

Guna memberikan dukungan konkret atas kampanye tersebut, sejak 2003, SPS Pusat telah mengadopsi sebuah program global bertajuk Newspaper in Education (NiE). NiE adalah program global yang di-endorse oleh World Association of Newspaper (WAN), asosiasi penerbit suratkabar seluruh dunia. Melalui NiE ini, yang dalam konteks Indonesia diterjemahkan dalam bentuk Koran Masuk Sekolah (KMS), SPS Pusat meminta para penerbit media cetak untuk membuka halaman-halaman tentang anak-anak sekolah di media mereka masing-masing.

Halaman-halaman tersebut, melibatkan secara langsung anak-anak sekolah (mulai tk SD – SMA) dalam proses manajemen pemberitaan (dari reportase, menulis, memotret, dan mendesain). Kini, sampai Desember 2007, tercatat sudah ada 27 penerbit media cetak (koran, tabloid, dan majalah) di seluruh Indonesia yang telah membuka halaman-halaman untuk anak-anak sekolah, dengan nama rubrik yang berbeda-beda. Misalnya Harian Riau Pos memiliki suplemen bernama Masa Depan. Jawa Pos dengan rubrik Deteksi. Harian Pikiran Rakyat dengan rubrik Belia.

Diharapkan melalui upaya seperti ini, kelak tercipta pertumbuhan pembaca-pembaca muda baru, yang pada akhirnya mereka bakal menjadi pembaca setia setiap media cetak di wilayah masing-masing.

  1. Insentif apa yang dibutuhkan subsektor penerbitan dan percetakan terkait dengan diterbitkannya Perpres tentang Kebijakan Pengembangan Industri Nasional?

Tax insentive adalah prioritas bagi industri media cetak nasional saat ini. Terutama menyangkut pembebasan atas PPN kertas koran, pencetakan, dan penjualan media cetak. Selama ini, pengenaan PPN (value added tax/VAT) atas penjualan suratkabar harian, misalnya, dinilai SPS Pusat tidak tepat, karena secara nyata suratkabar harian dijual di bawah harga produksi. Dengan demikian, tidak terdapat nilai tambah yang harus dikenai pajak pada penjualan koran harian. Ini mungkin berbeda dengan penjualan majalah atau tabloid.

Sementara PPN atas kertas dan pencetakan juga perlu diberikan kepada industri media cetak. Agar para pelaku industri bisa menjangkau harga kertas koran yang terus melejit seiring dengan kenaikan secara signifikan dan terukur bahan-bahan baku pembuatan kertas koran atau migas secara global.

Lewat pemberiaan insetif-insentif perpajakan dimaksud, SPS Pusat memproyeksikan akan semakin luas jumlah audiens yang bisa menikmati informasi dari media cetak dengan harga tetap terjangkau.

Secara kelembagaan, upaya mewujudkan tercapainya pembebasan PPN terhadap kertas koran, pencetakan, dan penjualan suratkabar harian itu, dilakukan SPS melalui kampanye Bebas Pajak untuk Ilmu Pengetahuan (No Tax on Knowledge), yang bermuara pada usulan amandemen pasal-pasal mengenai PPN tersebut dalam RUU PPN yang akan segera dibahas di parlemen.

  1. Bagaimana mengkampanyekan pemanfaatan media digital untuk menyajikan konten?

Seiring dengan perkembangan IT dan fenomena digital di seluruh dunia, SPS Pusat memandang perlunya konvergensi dalam pengelolaan atau manajemen media massa di Tanah Air. Platform konvergensi media ini justru merupakan upaya untuk mengembangkan pembaca media cetak di satu sisi, sekaligus meningkatkan aksesibilitas dan penetrasi pengguna versi online (digital) media cetak bersangkutan.

Hari ini, setiap kehadiran penerbitan media cetak (koran, tabloid, dan majalah), selalu diikuti dengan penerbitan versi online mereka. Di masa depan, versi online tersebut diharapkan akan menyumbang kuantitas dan kualitas konten media, atau meningkatkan pendapatan baru (dari bisnis online) perusahaan media itu. SPS Pusat pun mendorong seluruh penerbit media cetak yang menjadi anggotanya untuk menghadirkan versi digital mereka, sekaligus menjawab tantangan kebutuhan pembaca-pembaca muda (baru) yang merupakan generasi Google. Sebuah generasi yang lebih melek internet ketimbang generasi terdahulu.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: