Pandora: Cermin Perjalanan Hidup Perempuan

Posted on 2 Juni 2008. Filed under: Apa&Siapa | Tag:, |

Pandora juga merupakan sebuah perjamuan, dengan tubuh memenuhi daftar seluruh menu, tulis Yos Rizal Suriaji.Kotak Rahasia Pandora Oka RusminiTokoh Pandora yang menyibak kotak rahasia menimbulkan bencana tak terelakkan di mana-mana. Ciptaan Zeus dalam mitologi Yunani, Pandora ini menimbulkan serbaneka kesulitan hidup tiada berkesudahan atas keburukan tabiat dasar manusia. Oleh karena itu, hendaklah rahasianya tertutup rapat-rapat. Namun, Oka Rusmini, 41 tahun, penulis puisi, novel dan cerita pendek menyibak Pandora dalam kumpulan puisi sejak 1999–2008. Ia membukukan dengan apik dan ciamik gulungan rahasia Pandora berilustrasi sampul “Gravitation” atas karya lukis Wolfgang Windmoser. Berikut ini sibakannya.

 

PANDORA

 

: AP

 

 

Li, haruskah kita telan asam tembaga? Atau kita tenggelamkan pulau. Meletuskannya di telapak kaki. Kau terus menggenggam keris. Ketika mata kita bertatapan, kautusukkan ke jantungmu. Kauharap aku mabuk dan menenggak cairan sumsummu. ”Aku ibu. Perempuan dengan mahkota maharatu.” Mungkin kaulupa sebuah dongeng. Ketika Jupiter menitipkan peti, kitalah Pandora yang membuatkan pagar untuk para laki-laki. Juga dunia.

 

Li, apakah segenggam perca kecengengan mampu mengupas wujud kita? Orang-orang hanya pandai menghitung jarinya di setiap lubang tubuh kita. Kupikir kita perlu laut luas dengan hiu yang siap mencabik-cabik tubuh. Mungkin kita akan menelan samudra. Atau menghidangkan pulau.

 

Li, ketika aku kehilangan seorang perempuan, orang-orang mengiris nadiku. Bahkan ayahku meminta jantungku. Anak-anaknya memeras butir keringatku, menelannya. Yang kupunya hanya cairan otak yang menjelma jadi aku-aku baru. “Ke mana perempuan yang mengandungmu?” tanyamu, selalu dengan lidah penuh bara. Kulihat naga-naga kecil kaumuntahkan dari kepingan wajahmu. Diam-diam kau pun senang membakar tubuh, selagi kita saling melekatkan kulit.

 

Kubuka e-mailmu tadi pagi. Seperti biasa, warna muram dan rintik hujan di matamu. Kebakaran di kepalamu. Badai mengamuk di mulutmu. Aku pun mereguknya. Menuangkan cairan tubuhmu. Seperti biasa. Sebelum mulai bersetubuh, kau menggigil, ”Lelaki itu menguras tubuhku.”

 

Saat perempuan mencangkul puisi, lelaki mengeram sambil mendekap seluruh akar-akar tubuhnya. Kita menghidangkan dunia. Meremas seluruh lubang tubuh agar hidup tetap bergulir. Aku tidak punya tongkat, sering kuingin meminjam tongkatmu. Seorang gadis kecil datang. Tubuhnya berlumur lemak kegelapan. Dia mahir menelan seluruh sunyi dunia. “Kutanggalkan perempuan kecilku. Kucari serat benang untuk menutupi tubuh telanjangku.”

 

Ombak, mata air, letusankah yang telah melahirkan rohmu? Atau rasa lapar itu?

 

Li, kau terus telanjang. Memagut seluruh tubuh.

 

 

1999

 

Menurut Oka Rusmini selaku perempuan pekerja kantor yang juga seorang ibu, menulis puisi adalah hal rumit dan mahal. Menulis puisi perlu waktu khusus untuk kontemplasi, tulis penerima penghargaan Penulisan Karya Sastra lima tahun silam itu. Ia membiasakan menampung ide yang muncul biar tidak lewat begitu saja, kemudian menggarapnya sampai matang. “Saya tidak punya banyak waktu untuk itu. Saya terus direcoki urusan yang bagi perempuan lain mungkin jadi alasan untuk tidak berpuisi lagi setelah menikah, terlebih bila ada anak. Saya harus membagi waktu untuk urusan domestik, tugas kantor, pergaulan sosial. Segala tetek-bengek keseharian yang terasa dangkal, tapi harus dilakoni dan sangat mencekik waktu kreatif saya.”

Novelis “Erdentanz” edisi Jerman dari “Tarian Bumi” edisi Indonesia ini berujar, untungnya, beragam kesibukan yang merepotkan itu ternyata justru menjadi ladang kreatif dan penyucian otak dan jiwa saya. Menjadi roh dalam proses kreatif saya sebagai seorang perempuan. Barangkali karena setumpuk kerepotan itu sesungguhnya tak terpisahkan dari proses perkawinan, mengandung, dan memuntahkan makhluk hidup dari tubuh: rangkaian peristiwa besar yang hanya dimiliki perempuan.

Buku puisi “Pandora” pada pengantar “Menjelang Kata” ditulis oleh Oka Rusmini sebagai hasil kontemplasi yang panjang. Sebuah renungan tentang perjalanan hidup perempuan: hasrat dan cintanya, konflik dan luka. Juga tanggapan terhadap berbagai kasus dan berita yang mengguncangkan pikiran dan perasaan saya sebagai perempuan, di sebuah masa ketika dunia mulai rajin membunuh anaknya sendiri.

Pandora sengaja saya pilih menjadi judul buku puisi saya, karena tokoh mitologi Yunani ini adalah perempuan yang dianggap menaburkan dosa, derita, aib, dan beragam keburukan lain. Terpikir oleh saya, mungkinkah ada perempuan yang tak memiliki setetes pun perasaan? Kenapa berbagai mitologi cenderung menggambarkan perempuan sebagai makhluk sial atau sialan? Hawa, Drupadi, Gandari, Dirah? Seolah tak ada perlunya menyuarakan kebajikan perempuan yang memuntahkan gumpalan daging-hidup dari rahimnya: bagaimana tubuh perempuan tercabik, dicincang, diiris, dan hatinya ditanami panah — demi kelanjutan riwayat manusia di bumi.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: