Memotivasi Balita Berkacamata

Posted on 29 Mei 2008. Filed under: Advertorial | Tag: |

Delapan Jawaban Jitu Soal KehamilanGenerasi digital informatika serbacepat. Gerak cepat, kerja cepat, jalan cepat, lari cepat. Apa pun kegiatannya terukur sebagai yang tercepat. Generasi baru, generasi muda, yang cepat dilahirkan ke dunia ini memilih serbacepat. Menjelang lahiran sang anak, dokter kandungan atau bidan cenderung memilih jalan pintas, termasuk calon ibu dengan bedah caesar. Persalinan normal atau melahirkan alami bukan zaman lagi, zaman digital melahirkan generasi instan. Semua serbacepat dan serba tergesa-gesa. Tak mengherankan pula jika  Ayahbunda berjargon “bacaan pasangan muda” menerakan tajuk “Siap-Siap bila si Balita harus Berkacamata”. Berikut ini resumenya.

Tajuk info kelahiran “Rame-Rame Caesar” pada halaman 66 menggarisbawahi angka perbandingan antara persalinan alami dan caesar di Indonesia relatif sama. Namun, di luar negeri, tulis Ayahbunda 26 Mei–8 Juni, peminat caesar terus bertambah. Misalnya, Australia di Queensland terjadi kenaikan dua persen setiap tahun. Padahal, katanya, persalinan caesar lebih berisiko dibandingkan dengan alami. “Idealnya, sebelum memutuskan jenis persalinan, gali lagi informasi sebanyak-banyaknya dan wajib diketahui apa saja yang Anda perlukan. Jadi, bukan sekadar ikut tren.”

Balita Kita sebagai rubrik “Si 5 Tahun” mengungkapkan bahwa si kecil perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan berkacamata. Teras beritanya menampilkan “jika ia harus berkacamata, Anda perlu membimbingnya agar terbiasa.” Tulisan pada rubrik ini disampaikan oleh Esthi Nimita Lubis. Ia menegaskan, seorang anak berkacamata minus dua memiliki persoalan, bagaimanakah membiasakan anak lima tahun berkacamata? 

Meski sang ayah dan bunda berkacamata sejak kecil, tetap muncul persoalan lain bahwa berkacamata sejak balita akan tampak berbeda dengan teman sebaya. Sejumlah pertanyaan bakal mengalir lancar dari mulut teman sebaya perihal kewajiban berkacamata. Oleh karena itu, ada cara lain bahwa berkacamata demi memperjelas apa yang dilihat agar si anak lebih mudah memahami penjelasan guru di sekolah. Selain itu, peran orangtua sangat menenteramkan hati anak dengan pernyataan pujian, seperti berkacamata menambah cantik atau gagah. “Jika diperlukan, ajak orang terdekat yang berkacamata untuk berbagi pengalaman untuk menepis keraguan anak berkacamata.”

Esthi Nimita Lubis selanjutnya memberikan pedoman bagi anak yang bisa karena biasa berkacamata. “Agar anak lebih termotivasi, biarkan ia memilih sendiri bingkai kacamata yang disukai. Pilih bingkai yang ringan, kacamatanya dari plastik. Lengkapi dengan tali yang pas di kepala agar tidak mudah terlepas ketika bermain-main dan berlari-lari bersama teman sebayanya. ”

Pada bagian lain, Esthi Nimita Lubis menjelaskan, cara berkacamata yang baik, cara membersihkan dan bahan pembersih kacamata agar terhindar dari goresan lap pada permukaan kaca. “Dengan bantuan Anda untuk mengingatkan ditambah dengan berlalunya waktu, sang anak semakin terbiasa berkacamata. Memang perlu waktu cukup lama bagi anak untuk menyesuaikan diri berkacamata,” demikian Esthi Nimita Lubis menutup artikel pada halaman 114.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: