Menangkis Madesu dengan Berbisnis EO

Posted on 24 Mei 2008. Filed under: Advertorial |

Peluang Bisnis Penyelenggara AcaraSerbamudah itu kata kunci. Serbaneka kemudahan itu muncul belakangan ini. Zaman serbamudah kerap melancarkan serbaneka aktivitas, entah aktivitas sekadar kumpul-kumpul arisan keluarga, entah aktivitas yang berhubungan dengan anggota keluarga yang berulang tahun. Segalanya serbamudah. Mau ngapa-ngapain udah ada yang ngurusin, buat apa ngurus diri sendiri lagi, demikian komentar seorang karyawan dalam suatu rapat tentang pelatihan yang akan berlangsung di lembaga bisnisnya. Mengapa segalanya menjadi serbamudah? Jawabannya lantaran sekarang tersedia tim kreatif yang siap sedia mempermudah serbaneka aktivitas dengan serbaneka permasalahannya. Namanya penyelenggara acara (event organizer atau EO). Edisi khusus Kontan April—Mei 2008 memampangkan potret sebuah pameran jepretan Carolus Agus W. dengan desainer Albert Yudhistira. Pertanyaan intinya, siapa yang mengincar peluang bisnis event organizer? Berikut ini resumenya.

 

Penyelenggara acara “One Stop Service” sanggup memenuhi serbaneka permintaan. “Pasarnya besar, untungnya pun legit”, demikian subtajuk Kontan. Namun, subtajuk ini pada halaman empat berubah dengan tajuk “Dari Satu Pintu saja Puasnya Selangit” dengan subtajuk “menelisik peluang bisnis one stop service event organizer. Pada teras beritanya, Femi Adi Soempena menggarisbawahi bahwa banyak orang enggan ribet dan berhubungan dengan banyak EO kala membikin acara. Makanya, peluang EO one stop service atau EO serbabisa makin menganga.

 

Sementara itu, Arief Artiansyah dan Ali Imron Hamid mengurai EO musik dan prospek bisnisnya. Dalam laporannya yang bertajuk “Memacu Adrenalin di Bisnis Hiburan”, teras beritanya menggarisbawahi bahwa sukses sebuah konser besar tak bisa lepas dari tangan dingin promotor. Karena bila gagal, katanya, mereka sendiri yang menanggung rugi sekaligus caci makin penonton. Oleh karena itu, sejumlah keuntungan yang diraih oleh promotor dalam menata bisnisnya berkaitan dengan fee promotor dan keuntungannya, modal awal, kiat berburu artis, biaya produksi, mencari sponsor, promosi dan ticketing.

 

“Panen Duit Melimpah bila Pameran Meriah” menjadi dambaan bagi penyelenggara acara. Oleh karena itu, Hari Widowati, Dyah Megasari, dan A. Syalabi Ichsan menyampaikan seluk beluk penyelenggara pameran. Bisnis pameran, tulisnya, rasa-rasanya makin merekah. Di Jakarta saja hampir setiap pekan kita temuai berbagai pameran. “Kalau Anda berniat masuk ke bisnis ini, yuk, belajar pada ahlinya,” pintanya.

 

Di bawah boks, “Siapkan Rencana, Ikuti Langkah, Sukses Bakal di Depan Mata” dan “Menyusun Anggaran Pameran, yuk!”, para pelaku bisnis pameran optimistis bahwa prospek bisnis EO cerah seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, seluk beluk bisnis pameran dari pengalaman pribadi empat pemain kawakan menjadi patut diteladani. Debindo Multi Adhiswasti disebut pemain besar bisnis pameran. Perusahaan hasil patungan Dwi Karsonno, Effi Setiabudi, dan Budyarto Linggowiyono ini berdiri pada 2 Maret 1987. Sementara itu, Mediatama Binakreasi di bawah Presiden Direktur Mediatama Bramantyo W. mengatakan, ketika mendirikan perusahaannya pada 1989, modal awalnya kepercayaan. Namun, EO yang fokus pada pameran bertema teknologi dan multimedia ternyata ada PT Dyandra Promosindo. Didirikan pada 1994 oleh Rina Maksoem, Dannya Budihardjo, dan Arif Pribadi. Pameran pertama yang digarap Dyandra adalah pameran properti. “Karena baru pertama kali, ya, kurang berhasil,” kata Soehoed Kosasih, Chief Operational Officer Dyandra. Meski awalnya memusatkan perhatian pada komputer, fotografi, otomotif, dan seluler, lalu Dyandra memenuhi permintaan dari divisi Gramedia Majalah untuk membuat pameran Bobo Fair, Wedding Fair, Franchaising, Syariah. Satu lagi pemain besar di bisnis pameran berasal dari Panorama Convex Indah pada tahun 2000. Debutnya menurut Niekke W. Budiman, Manajer Senior Eksibisi Panorama Covex, seperti Holiday Expo, Renovation Expo, Grand Wedding Expo, dan Franchise and Business Opportunity Indonesia Expo. “Yang terbesar adalah Grand Wedding Expo. Karena banyak permintaan, setahun bisa dua kali,” ujar Niekke seraya menambahkan, dalam setahun rata-rata ada 10—11 acara.

 

Rubrik “Refleksi” yang tampil pada edisi khusus penyelenggara acara ditulis oleh Lidia Evelina, MM., praktisi dan dosen matakuliah Event Management Universitas Pelita Harapan. Di bawah tajuk “Bisnis Bermodal Kreatif dan Jaringan”, Lidia menggarisbawahi bahwa tim yang bergabung pada EO harus terlihat kompak dalam mengambil kebijakan.

 

Dalam pekerjaan sebagai EO, kata Lidia Evelina, ada banyak aspek yang harus diperhatikan. Beberapa di antaranya manajemen waktu, jalinan komunikasi, jalinan relasi, dan berani mengambil risiko. Disiplin adalah kata kunci dalam mengelola EO. Pasalnya, EO berkaitan dengan jadwal yang ditentukan. Jadi, setiap anggota tim harus memiliki tingkat disiplin yang tinggi. Selain disiplin, komunikasi dengan berbagai pihak yang terkait merupakan keharusan. Untuk itu, relasi dalam tugas sebagai EO yang sukses bergantung pada relasi internal dan eksternal yang dimiliki. Jika relasinya baik, EO bisa mengatur pembayaran yang disesuaikan dengan kondisi keuangan, harga yang murah, selain dukungan untuk kesuksesan acaranya. Namun, kesuksesan EO bukan tanpa risiko. Oleh karena itu, risiko tetap ditempatkan pada aspek “kerugian itu sebagai sebuah pelajaran”. Lidia Evelina pun mengajak sekaligus mengimbau, “Jika Anda sudah siap dengan risiko dari EO, dan mempunyai semua aspek EO, mengapa tidak segera memulai bisnis ini?”

 

Edisi khusus EO halaman 39 menampilkan agenda tempat pameran dan harga plus jadwal pameran. Pada halaman 40 sampul penutup “Selebiz”, Kontan menerakan tajuk “Smash ala Angie Menangkal Madesu” bersubjudul “mantan petenis Agelique Widjaja merintis bisnis event organizer olahraga”. Pada teras berita Dwin Gideon Sitohang menggarisbawahi bahwa pensiun dari dunia olahraga, banyak atlet menjalani madesu alias masa depan suram. Tapi, itu tidak berlaku bagi Angelique Widjaja. Mantan petenis ini menangkis madesu dengan berbisnis EO.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: