Menjalani Sinergisme Ritual Fotografi

Posted on 22 Mei 2008. Filed under: Apa&Siapa |

Nokia N82. Storytelling rediscoveredRitual FotografiKhas gaya fotografer profesional. Namanya Ray Bachtiar Dradjat. Ia malang-melintang dalam potret-memotret. Tak mengherankan jepretan yang jempolan bermunculan seolah-olah dipamerkan dalam persembahan bertajuk “Ritual Fotografi”. Padat warna-rancak, berpadu penuh warna (full-face), yang biasa disebut “eye-catching”. Begitulah semarak penampilan khas jepretan fotografer profesional. Detail sentuhan jemari yang divisualkan muncul dengan jepretan tajam pada “CHIP Foto-Video Digital Spesial”. Sederhana dan bergaya “anak muda banget”. Namun, banderolan tujuh puluh ribuan seeksemplar bagi sebagian “anak muda” berat juga, meski pehobi fotografi taklah sebanding dengan seabreg isi, entah sentuhan fotografi entah kronologi isi pernyataan dalam rupa perjalanan rekam lensa. Kalau mau tahu teks yang dituliskan oleh Ray Bachtiar Dradjat, inilah resumenya.

Bukalah halaman pertama pada sampul, mau tak mau teks “tersebutlah sang pangeran berhasil menemukan karpet terbang” muncul sebagai kata pembuka. Mau tak mau pula, iklan Nokia yang menghiasi sampul kedua pada buku berformat majalah 33 x 22 cm tak beranjak dari persoalan teknologi fotografi. Pada halaman isi pernyataan “alat adalah alat” dan “ruang tak berbatas” Nokia N82 sebagai advertorial mengisi sehalaman penuh.

Tercatatlah sebagai prolog pada zaman baheula, 1960-an (1970-an) untuk membuat pas foto hitam putih perlu seminggu. Cetaknya kudu pergi sampai ke kota kabupaten. Dari pengalaman ini kemudian jadi cerita sahibul hikayat bahwa fotografer muda wajib menghayati esensi fotografi sebagai perjuangan. Cerita ini berlatar belakang pada pengalaman “pertama-tama memotret” dalam jalinan kisah seorang anak pada saat ini yang berkamera telepon selular. Praktis. Gampang.

Peradaban dan seni dokumentasi, renaissance, rentang sejarah fotografi, perkembangan dan teknologi fotografi, fotografi memasuki dunia industri, kefotografian dalam wawasan, catatan sejarah konsep, konsep dan kecenderungan global, konsep fotografi di Indonesia, dan ritual fotografi. Demikian halaman berwarna dasar cream berteks hitam dan penuh dengan permainan teks berakhir pada ritual fotografi.

Kita sering mendengar orang mengucapkan kata ritual tradisi, ritual keagamaan, atau juga upacara ritual, demikian Ray Bachtiar Dradjat menulis seraya menambahkan, kadang-kadang ada pula yang menggunakan kata ritual dalam menggambarkan suatu acara dengan tahapan-tahapan dan suasana penuh kekhidmatan, seperti acara ritual perpisahan. “Kata ritual mengandung makna khusus dengan penekanan pada pengkhidmatan, kebersungguh-sungguhan, penghayatan proses.”

Fotografi bukan sekadar memotret, melainkan juga “proses penciptaan” karya. Oleh karena itu, perlu pengkhidmatan dan kebersungguh-sungguhan. Proses penciptaan merupakan kerja besar secara “simultan” dan bersinergi seluruh peralatan rohani. Untuk itu, perlu kedewasaan jiwa, penghayatan, sikap smart dan concern terhadap persoalan yang digeluti. Jadi, muncul kedalaman dan terbangun mekanisme pengenalan objek bervibrasi pada pengenalan diri sendiri. Dengan demikian, lahir karya dengan ketegasan dan keteguhan sikap kreator. Artinya, karya-karya kreatif-inovatif lahir dari seorang kreator yang “Menjalani Ritual Fotografi”.

Banderolan harga tujuh puluh ribuan seeksemplar membuat fotografer “anak muda banget” jadi kemahalan. Padahal, apalah arti sepulsa prabayar yang biasanya menghabiskan nilai rupiah beratus-ratus sekali pakai. Nilai pasnya enam puluh sembilan ribu delapan ratus rupiah, tak sebanding dengan ritual fotografi yang memanjakan pemotret untuk menikmati persembahan “karya ritual Ray Bachtiar Dradjat”. Lengkap berkonsep asli, nirplagiat. Asli karya “anak muda” (pada zamannya).

Halaman ritual fotografi yang lain sangat esensial untuk berlalu tanpa makna. Ada seabreg lagi, mulai dari experimental batin, pergolakan bingkai merah, Anton Medan, Wanita di Mata Pria, Experimen Majalah “tiara”, memasuki dunia fotografi komersial, bertemua “dewi ibu”, gigalitikum, Jakarta bermain tidak main-main, menghadap kamera digital, memasyarakatkan kamera lubang jarum, memotret tanpa kamera, camera atau phone kamera, kamera lubang jarum, awal perjalanan komunitas lubang jarum Indonesia, dokumentasi budaya, seni kolaborasi, momotret model dengan KLJ, circle handphone, flora-fauna makanan, arsitektur dan landscape, still life, gong xi fa cay, sampai dengan hunting, family, infrared, digital imaging, fotoscan, test fotoscan, aksesoris kamar gelap digital.

Upacara ritual baru berakhir dengan berkata penutup, ketika Ray Bachtiar Dradjat http://www.raybachtiar.com Jalan Pariaman Nomor 11, Pasar Rumput Jakarta Selatan 12970 (021 8303688) berterima kasih pada Yang Maha Kreatif, Tuhan Seru Sekalian Alam karena ia telah diberi izin untuk menerbitkan sepermiliar titik atom dari ilmu-Nya. “Motivasi memotori sebuah perbuatan. Ide melahirkan konsep yang menciptakan karya. Fotografi menjadi sebuah perbuatan yang kreatif tatkala berawalkan ide yang segar dan asli. Kreativitas hanya berbatas imajinasi, dan imajinasi hanya berbatas kebebasan. Ketika fotografi menjadi nirkreatif, buku ini menerbitkan motivasi baru untuk berkarya seraya membebaskan imajinasi,” demikian Kristupa Saragih, fotografer dan founder http://www.fotografer.net pada halaman sampul belakang satu dari sembilan penulis yang tertera sebagai sinopsis buku dengan 130 halaman full color dan kertas isi matt paper 100 gram bersampul art carton 300 gram.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to “Menjalani Sinergisme Ritual Fotografi”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

gile…70 ribu, tempo aja yang bikin edisi khusus cuma 25 ribu 😀

allo comment allez vous.

bro, boleh ga saya kirim poto kemari. saya sdg belajar-belajar moto.

mas salam kenal ya… saya dari aceh ni…

ya, aku udah beli dan udah baca. Kereng banget!! walau harganya agak mahal tp gpp. lumayan nambah referensi buat makalah ttg Pin Hole 😛

gua beli tapi awas kalo ga bagus….

gambar bagus banget… gua juga dah langganan majalah Foto Vidio juga dah lama


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: