Mengenang Semangat Mochtar Lubis

Posted on 19 Mei 2008. Filed under: Makalah |

Jika ia masih dikaruniai umur oleh Yang Maha Kuasa, maka 7 Maret 2008 Mochtar Lubis genap berusia 86 tahun. Sayangnya, Mochtar Lubis meninggal pada 2 Juli 2004. Namun, kita mungkin bisa bertanya, apakah warisan semangat dan laku Mochtar Lubis yang masih relevan kita bicarakan sekarang? Makalah bertajuk “Mengenang Semangat dan Laku Mochtar Lubis” oleh Ignatius Haryanto1 berikut ini dapat menjadi sumber inspirasi yang menari.

Mochtar Lubis adalah sosok yang multi talenta. la menjadi seorang wartawan dengan sikapnya lebih keras dari batu granit. la pun menjadi seorang sastrawan. Mochtar Lubis telah menunjukkan dengan semangat dan lakunya bahwa pers harus independen dari pengaruh kekuasaan mana pun, dan untuk itu ia berani memikul risikonya. la dipenjara 10 tahun pada masa Orde Lama (1958–1968 dan beberapa bulan pada masa Orde Baru (1975).

Dalam majalah IPI Report (The International Journalism Magazine), edisi paruh kedua tahun 2000, Mochtar Lubis adalah satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam kategori “50 Press Freedom Heroes”, dijajarkan dengan 49 tokoh kebebasan pers lain di dunia. Jadi Mochtar Lubis tak hanya dikenal dalam jajaran nasional, tapi namanya telah lama melambung di dunia internasional.

          Harian Indonesia Raya yang dipimpinnya telah menjadi salah satu ikon perlawanan pers terhadap kekuasaan yang mencengkeram. Hidup dalam dua periode waktu (masa Sukarno dan masa Orde Baru), Indonesia Raya melontarkan kritik-kritik tajam atas ketidakberesan pemerintah yang ada. Pemerintah pun gerah dengan kritik-kritik tajam dan selalu berusaha untuk menutup media ini.

        Zaman Orde Baru pun tak jauh beda. Pemerintahan Suharto sudah lama menandai koran yang membongkar perkara korupsi di Pertamina (antara tahun 1969 hingga 1973) tersebut. Akibatnya, ketika koran ini melaporkan apa adanya kondisi protes mahasiswa di Jakarta atas kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, koran ini malah ditutup bersama dengan 11 koran lain di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Makassar.

Penuturan mantan Menteri Penerangan kala itu, Mashuri Saleh, Suharto yang memerintahkan penutupan belasan koran pada tahun 1974. Surat kabar Pedoman sebagai salah satu koran yang ditutup, sebenarnya sudah meminta maaf kepada Suharto lewat beritanya di hari terakhir, namun tak ayal koran ini juga harus ditutup.

Sejak itu, peraih penghargaan tahun pertama Ramon Magsaysay, dan sejumlah wartawan lain dari koran Indonesia Raya dilarang untuk masuk ke dalam media massa lagi. Sebuah pengekangan hak masyarakat sipil yang sudah biasa dilakukan Suharto pada zaman itu. Jadilah Mochtar Lubis menulis di terbitan luar negeri dan lebih aktif mengurusi penerbitan Yayasan Obor yang ia dirikan pada 1978.

Di luar karier kewartawanan, Mochtar Lubis juga seorang sastrawan dengan kritik sosial yang tajam seperti dalam buku Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung ataupun Harimau-Harimau. Namun, sebagai budayawan ia pun dikenal sangat tajam, terutama dengan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Juli 1977 berjudul Manusia Indonesia.

Mochtar Lubis mengritik tajam perilaku masyarakat Indonesia yang ia sebut sebagai feodal, dan munafik. Tak urung pernyataan tajam tersebut mengundang diskusi ramai kala itu, dan sejumlah pihak memperdebatkan pernyataan tersebut.

Relevansi kini

Zaman ketika Mochtar Lubis berkarya dengan masa sekarang pastilah jauh berbeda. Era industrialisasi dalam media tak pernah sekeras seperti zaman sekarang. Zaman Mochtar Lubis jadi wartawan dan pemimpin redaksi, koran-koran tampil sederhana, para pemilik modal banyak tak mau campur tangan dengan isi pemberitaan, kecuali koran-koran milik partai. Namun yang penting adalah bagaimana orang seperti Mochtar Lubis bersikap dalam kondisi demikian. Berani berkorban, tak segan menunjukkan ketidaksukaan terhadap penyelewengan kekuasaan dan bentuk-bentuk manipulasi lainnya.

Semangat seperti itu rupanya sangat dibutuhkan pada masa sekarang, dalam era ini justru modal demikian kuat mencengkeram media massa. Pertimbangan apakah pemberitaan dilakukan untuk membela kepentingan public mungkin sekarang telah dipinggirkan dengan pertimbangan pasar (rating, kalau bahasa awak televisi). Demikian pula soal pemberitaan dalam media elektronik.

Dalam bahasa seorang teman produser di media elektronik, pemberitaan di televisi, dalam segmen pertama harus menampilkan ‘gebuk-gebukan’ (entah perkelahian mahasiswa, pergumulan antara Tramtib dan Pedagang kaki lima, atau kekisruhan akibat pengumuman hasil Pilkada). “Karena kalau tidak, penonton pada kabur, pindah ke channel lain …” Dugaan saya, sejumlah pimpinan di televisi nasional berpikir bahwa ‘gebuk-gebukan’ tadi akan mengundang penonton dan menyetel salurannya. Apakah ‘gebuk-gebukan’ tadi ditelusuri lebih jauh masalahnya atau digambarkan kepentingan publiknya, tak jadi soal betul. Gambar di televisi dianggap jadi barang jualannya, dan untuk itu gambar harus ‘eye-catching’ dan itulah mengapa gebuk-gebukan harus masuk segmen pertama pemberitaan televisi.

Betapa menyedihkan kondisi ini. Media yang demikian maju dan menjadi salah satu yang bisa menyediakan informasi paling cepat, hams terjebak dengan logika ‘gebuk-gebukan’ tersebut. Apa yang salah di sini?

Beranikah pengelola media hari ini menerima risiko berhadapan dengan kekuasaan dan akhirnya hams menutup koran atau menerima resiko dipenjara? Mungkin itu tantangan yang terlalu ekstrem, tetapi esensinya, apakah pengelola media sekarang masih punya idealisme?

Betul kita bisa berdebat panjang lebar, apa yang kita maksudkan sebagai idealisme, atau apa sih rumusan hari ini atas yang disebut ‘idealisme’ itu? Apakah berani berkata ‘tidak’ pada kepentingan ekonomi dan politik sang pemilik media, juga menjadi suatu idealisme? Atau malah dianggap sebagai kekonyolan?

Di sinilah kita perlu menimbang semangat dari seorang Mochtar Lubis. Orang yang tegar menghadapi kekuasaan, dan tenang menjalani risiko pilihannya. la tetap orang yang santun, berwawasan terbuka, dan memiliki argumen rasional atas pilihannya. Memang tak semua orang akan setuju dengan rumusan ini. Di masa lalu, Mochtar pun terlibat pertengkaran dengan orang seperti Pramoedya Ananta Toer, atau Goenawan Mohamad.

Kita mungkin akan bertanya, apa sikap Mochtar Lubis jika melihat kondisi pers Indonesia hari ini yang makin hari makin dicengkeram modal-modal besar? Mungkin Mochtar juga tak akan suka, tapi jika ia masih aktif dalam dunia pers hari ini, pastilah ia akan melawan dan menuliskan kritik yang tak kalah tajamnya atas dominasi modal dan keinginan para pemilik media yang serakah dan punya banyak agenda-agenda politik tersembunyi.

Dengan kelahiran Mochtar Lubis 86 tahun yang lalu, kita diingatkan tentang riwayat seorang putra Indonesia yang sepanjang hidupnya menunjukkan kekonsistenan hidupnya, dan untuk itu generasi yang lebih muda perlu banyak menimba semangatnya dan lakunya yang kritis dan konsisten.

Ignatius Haryanto

(Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, Direktur Program Mochtar Lubis Award, menulis skripsi dijurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Emu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, tentang koran Indonesia Raya, skripsi tersebut kemudian dibukukan – LSPP1996 dan edisi 2 LKiS 2006).

1  Pengantar pembicaraan dalam peluncuran buku Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru, Jakarta: LSPP & Yayasan Obor Indonesia, 2008, di Bentara Budaya Jakarta, 7 Mei 2008

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: