Jejak Mochtar Lubis

Posted on 14 Mei 2008. Filed under: Apa&Siapa |

Siang ini (Rabu 7/5) sebagai Ketua Yayasan Obor — yang dulu dipimpin oleh almarhum Mochtar Lubis dan PK Oyong — dilaksanakan peluncuran buku “Nirbaya”. Diprakarsai oleh Ignatius Haryanto dan Yayasan Obor akan diselenggarakan pemberian Hadiah Jurnalistik Mochtar Lubis (Mochtar Lubis Journalism Award). Kategori penerima hadiah meliputi berita nasional atau daerah tentang isu pelayanan publik, tulisan karangan khas terbaik, liputan investigasi terbaik, foto berita terbaik, dan kategori khusus laporan mendalam berita elektronik, demikian Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia dalam kata sambutan pada peluncuran buku “Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru” di Bentara Budaya Jakarta seraya menambahkan, batas waktu pengiriman karya pada Jumat 13/6.

 

Menurut Jakob Oetama, Dewan Pengawas Mochtar Lubis Award, Atmakusumah Astraatmadja, Maria Hartiningsih, Aristides Katoppo, Susanto Pudjomartono, dan Maria Hartiningsih. Mereka tokoh dalam bidang jurnalistik yang sepenuh-penuhnya berdedikasi pada jurnalistik.

 

Pada bagian lain, Jakob Oetama menuturkan bahwa Mochtar Lubis sikapnya prorakyat. Inilah nilai-nilai kehidupan yang tetap diperlukan saat ini. Meski teknologi berubah, gaya berubah, adonannya berubah dalam bidang media, tetapi Mochtar Lubis tetap komit. Berpegang pada kode etik jurnalistik. Oleh karena itu, kita semua pada tempatnya mewarisi apa yang telah dilakukan oleh Mochtar Lubis, pesan Jakob Oetama.

 

Diskusi dan Peluncuran Buku Nirbaya, Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru menampilkan pembicara Masmimar Mangiang (pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI), Adnan Buyung Nasution (pernah sepenjara dengan Mochtar Lubis), Ignatius Haryanto (Direktur LSPP), dengan moderator Gita Widya Laksmini Soerjaatmodjo, pukul 12.00—16.00 WIB.

 

Peluncuran itu menurut Ignatius Haryanto bersamaan dengan peringatan Yayasan Obor 30 tahun dan rangkaian dari kegiatan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan. Pokok permasalahan yang relevan dipersoalkan pada saat ini, menurut Ignatius Haryanto, pers bersama-sama berjuang lebih profesional dan bertanggung jawab. Namun, setelah bebas, lalu apa? Pertanyaan ini mendapat peneguhan dari Mochtar Lubis bahwa almarhum adalah ikon yang tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional. “Kami ingin mewarisi nilai-nilai perjuangan Mochtar Lubis,” ucap Ignatius Haryanto seraya menyebutkan hadir pada kesempatan itu, dua putra (Indrawan Lubis dan Arman Lubis) dan satu putri Mochtar Lubis.

 

Arman Lubis, putra keluarga almarhum Mochtar Lubis mengucapkan teirma kasih atas nama keluarga. Menurut Arman, pada saat catatan harian Mochtar Lubis muncul kemudian diterbitkan dalam bahasa Belanda. Saat ini terbit dalam bahasa Indonesia. “Bapak sangat berani. Tegas memegang prinsip dan menyayangi keluarga,” ujar Arman seraya mengharapkan terbitnya Nirbaya semoga bermanfaat bagi kita semua.

 

Marmimar Mangiang menyampaikan bahwa Mochtar Lubis sebagai tokoh pers Indonesia yang sukses. Dipenjara sepuluh tahun pada masa Orla dan dua tahun pada masa Orba. Lalu Nirbaya diterbitkan dalam bahasa Belanda, dan saat ini akan diadakan Mochtar Lubis Award. “Jurnalis muda bisa belajar dari Mochtar Lubis,” pesannya. Pokok-pokok yang menjadi perhatian Mochtar Lubis bahwa catatannya pendek-pendek. Ditata dengan kata-kata yang gamblang, ekspresif. Tidak sulit untuk memahami paragraf demi paragraf. Sederhana. Masalah pokok yang diungkapkan berat. Sangat serius. Siapa pun yang ia hadapi, ia tidak pernah mundur. Ia tokoh besar. Teladan yang sangat sulit diteladani bagi kebanyakan orang. Karakter koran “Indonesia Raya” adalah karakter Mochtar Lubis. Pada buku “Catatan Subversif” menampilkan bahwa Mochtar Lubis seorang otodidak.

 

Bagi Ignatius Haryanto, Mochtar Lubis berani dipenjara. Terima risiko. Tetap tegar. Ia menceritakan bahwa dirinya pernah menaruh minat untuk membuat sejarah sebuah koran. Hasrat ini mendapat respons. Kecuali itu, kalau diingat pada masa yang telah lalu, Ignatius Haryanto menuturkan bahwa buku “Pers dan Wartawan” yang ditulis oleh Mochtar Lubis membuat ia tertarik ke dalam dunia jurnalistik. Namun, Ignatius Haryanto mempertanyakan, cepat dan akurat pada saat ini, apakah sekarang sedemikian cepat tanpa akurat? Mochtar Lubis menurut Ignatius Haryanto akan memilih akurat.

 

Leo F. Batubara sebagai peserta mempersoalkan investigatif reporting. Ia menganggap media massa yang siap berinvestigasi, siap-siap juga menjadi Mochtar Lubis. “Sampai sekarang yang siap-siap adalah Tempo,” katanya. Ia mengutarakan penyebabnya antara lain penyelenggara negara RI bersendikan hukum pada KUHP 37 pasal bahwa yang bisa mengantar investigasi siap-siap mengikuti jejak Mochtar Lubis. Apalagi undang-undang informasi dan telekomunikasi mengancam penjara enam  tahun. Tambahan pula ada undang-undang pemilu bahwa media cetak akan dibreidel. Jurnalisme investigasi yang sungguh-sungguh ada di koran Indonesia Raya.

 

Taufik Ismail, penyair mempertanyakan kenapa Mochtar Lubis berani? Kenapa dia berterus terang melihat ketidakadilan. Ia menguraikan bahwa selama tiga puluh delapan tahun hidup bersama Mochtar Lubis membangun majalah sastra Horison. Mochtar Lubis sebagai wartawan, seniman, sastrawan kalau menghadiri rapat-rapat di Horison, Mochtar Lubis selalu merasa lega. Sementara itu, kalau di Indonesia Raya, Mochtar Lubis merasa dikejar-kejar ini-itu.

 

Pertanyaan kenapa Abang berani, waktu Taufik Ismail berusia tiga belas tahun kepada Mochtar Lubis mendapat jawaban, “Bacalah Kuli Kontrak!” Meski Taufik Ismail mengaku sudah membaca buku itu, Mochtar Lubis menegaskan, bacalah lagi buku itu. Ternyata buku ini yang menjadi kecambah. Waktu itu, Mochtar Lubis orang tuanya demam di Sumatra Barat. Rumahnya luas. Menguasai bahasa Indonesia, Minang, Belanda, Inggris. Kemudian suatu hari Mochtar Lubis dari balik pagar tinggi yang ada penjara di sekitar rumah melihat seorang tahanan. Di bagian belakang, dibaringkan. Dipecuti, dicambuki. Si tahanan itu menjalani hukuman. Lantas, Mochtar Lubis tidak tahan melihat perlakuan terhadap tahanan seperti itu. Ayah Mochtar Lubis pun menasihati. Ia tidak marah terhadap Mochtar Lubis yang memanjat pagar dan menyaksikan perlakuan seperti itu. Ayahnya berkata, “Itu kezaliman. Ketidakadilan.” Peristiwa inilah yang membekas dan Mochtar Lubis ingat seumur hidup. Lawan penjajah. Apa yang dialami selagi kecil, itu membekas. “Mudah-mudahan arwah Mochtar Lubis diterima Allah,” ujar Taufik Ismail.

 

Adnan Buyung Nasution pada kesempatan ini ingin mempopulerkan “Salam Kasih”. Kasih sayang pada kita semua, katanya seraya menyebut Mochtar Lubis sebagai Jenderal Wartawan. Ayahnya Ahmad Nasution, tambahnya, ketua umum serikat penerbit suratkabar terakhir yang dipilih secara demokratis. Bang Mochtar idola Adnan Buyung Nasution sejak kecil, dan Indonesia Raya sebagai koran pertama yang melakukan investigasi reporting. Membongkar korupsi Pertamina, skandal Soedarsono. Yang paling hebat membongkar korupsi yang dipimpin oleh Zulkipli Lubis, bapak kepala intelijen. Mochtar Lubis juga berani membongkar menlu yang menerima uang di airpor. Sayang tidak diadili karena Soekarno ikut menangani memilih jalan damai.

 

Saat bercerita tentang lembaga bantuan hukum (LBH) tahun 1970-an yang ia prakarsai, orang pertama yang ia hubungi ialah Mochtar Lubis. Namun, Mochtar Lubis berkomentar, cita-citamu untuk rakyat kecil, rakyat miskin yang tidak mampu itu bagus. Tapi bagaimana asap dapur tetap mengepul, kalau punya istri dan anak, masak mau hidup dari LBH, ujarnya.

 

Saat bercerita tentang buku “Nirbaya” Adnan Buyung Nasution menggarisbawahi halaman 78—79. Ceritanya di rumah sakit angkatan darat Gatot Subroto setahun enggak mau cukur rambut. Jadi rambutnya panjang. Sejak hari pertama ditangkap, paginya rambut Adnan Buyung Nasution mau dicukur. “Saya marah,” katanya, “emangnya saya kriminal. Saya tidak mau dicukur. Digunduli. Jangan coba-coba potong rambut saya.” Kemudian Mochtar Lubis bilang, “Buyung jangan terlalu keras. Kita dipenjara. Dibunuh, siapa yang tahu. Kita ini para tahanan. Enggak ada gunanya.”

 

Protes Adnan Buyung Nasution berkaitan dengan kenyataan bahwa ia ditangkap tanpa pernah ada prosedur yang sah. Tengah malam dicomot. Digrebek. “Saya protes.” Tapi kalau saat dicomot saya lawan, lalu ditembak di depan anak-istri. Saya rasa itu enggak baik, tambahnya seraya menambahkan ada satu truk dan satu jip yang menggrebek ke rumahnya. Lalu dua puluh dua bulan dipenjara. Kemudian dibebaskan. Dijemput oleh Benny Moerdani, disuruh teken setia pada Pancasila, UUD ’45, dan pada negara RI. Tapi Adnan Buyung Nasution tidak mau. Sampai dua kali dibujuk tetap tidak mau, dan cuma ia yang menolak. Harapannya, semoga wartawan muda dapat meneladani sikap kritis Mochtar Lubis, yang berani berkorban sebagai pejuang wartawan.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: