Memperingati 76 Tahun Umar Kayam

Posted on 21 April 2008. Filed under: Apa&Siapa |

Lima tahun sejak kepergian Umar Kayam, karya sastranya selalu aktual jadi bahan pembicaraan. Ia berpulang ke hadirat Ilahi pada 16 Maret 2002. Kini, 16 Maret 2008 karya Umar Kayam jadi perhatian intensif dan masuk dalam pelajaran Sastra dan Bahasa di sekolah-sekolah di Republik Indonesia. Sejak kelahiran 30 April 1932 sampai dengan peringatan 76 tahun Umar Kayam — sembilan hari lagi — salah satu buku “Umar Kayam: Karya dan Dunianya” berkisah tentang dunia dan karyanya. Buku ini disampaikan oleh B. Rahmanto dengan lugas. Berikut ini bagian petikan seputar biografi Umar Kayam.

Menurut Umar Kayam, novel lebih efektif untuk memahami kehidupan secara tepat, dibanding apabila ditulis dalam bentuk tulisan ilmiah. Karya sastra itu, katanya dibangun oleh pengarangnya berdasarkan perenungan, penafsiran, dan penghayatannya terhadap realitas sosial serta lingkungan sosial masyarakat di mana pengarang itu hidup dan bermasyarakat. Oleh karena itu, sastra yang bermutu (Umar Kayam menggunakan istilah sastra yang “Sastra” S dengan huruf kapital), menurut Umar Kayam adalah karya sastra yang banyak memperbincangkan kembali kehidupan dalam serba kemungkinan. Umar Kayam mengawali kepengarangannya pada tahun 60-an sampai dengan akhir hayatnya, Sabtu, 16 Maret 2002.

Umar Kayam dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932. Ia menikah dengan Roosliana Hanum, 1 Maret 1959, dikaruniai dua orang putri. Yang sulung bernama Sita Aripurnami dan si bungsu Wulan Anggraeni. Meninggal dunia di Jakarta menjelang usianya genap 70 tahun, Sabtu, 16 Maret 2002. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet, Jakarta.

Umar Kayam berasal dari keluarga guru. Ayahnya seorang guru Hollands Inlands School (HIS; sekolah dasar untuk anak-anak priayi yang menyiapkan priayi-priayi gubernemen pada saat pemerintahan kolonial Belanda) di Mangkunegoro, Surakarta. Di sekolah dasar, ia sekelas dengan Wiratmo Soekito — budayawan yang kelak terkenal sebagai konseptor Manifes Kebudayaan — yang dipanggilnya sebagai Kliwir. Kegemaran membaca buku secara dini diperoleh dari ayahnya yang mempunyai perpustakaan pribadi. Waktu di MULO (sekarang SMP), secara sembunyi-sembunyi — karena takut dimarahi ibunya — ia banyak membaca roman-roman yang seharusnya baru boleh dibaca setelah ia dewasa, seperti novel Margaret Mitchel Gone with the Wind yang sudah ada terjemahannya dalam bahasa Belanda pada saat itu. Ia bisa menikmati novel yang mengisahkan perang saudara di Amerika Serikat, walaupun secara jujur ia mengatakan bahwa banyak yang tidak dipahami.

Menurut Umar Kayam, saat ia di sekolah dasar ada keharusan untuk membaca dongeng-dongeng, dan ada pelajaran bercerita di depan kelas dalam bahasa Belanda. Diakuinya pendidikan Belanda memang baik, teratur, dan disiplin. Di kelas lima HIS, ia menguasai bahasa Belanda. Sehari-harinya, bersama orang tuanya ia berbicara dalam bahasa Jawa halus (kromo) campur Belanda. Bahasa Melayu bukan bahasa sehari-hari. Ia les bahasa Melayu sore hari. Baru pada masa pendudukan tentara Jepang, bahasa Indonesia diwajibkan secara intensif sebagai bahasa pengantar. Meski kelak ditulisnya dalam novel Para Priyayi bahwa pada masa pendudukan tentara Jepang sangat represif dan menyakitkan sekaligus mengerikan khususnya di bidang pelanggaran hak-hak asasi manusia secara semena-mena, menurutnya, salah satu tindakan pemerintah pendudukan Jepang yang dapat dinilai positif adalah … Jepang berjasa mengindonesiakan kita dalam waktu sekejap. Pemerintah Dai Nippon memerintahkan semua buku pelajaran harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Belanda dilarang dipergunakan sebagai alat komunikasi resmi.

Ia mulai belajar mengarang saat duduk di SMA Bagian A (Bahasa) di Jogjakarta. Awalnya, karena memenuhi tugas pelajaran mengarang dengan tema-tema yang diberikan oleh gurunya. Bersama teman-teman sekelas, seperti Nugroho Notosusanto dan Daoed Joesoef (dua-duanya pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI), Umar Kayam mendapat tugas mengelola majalah dinding sekolah. Di majalah dinding itulah Umar Kayam dan teman-temannya mengekspresikan tulisan dalam bentuk puisi (katanya yang paling banyak), cerpen, esai, dan pembicaraan karya-karya pengarang, seperti Tagore, S. Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Chairil Anwar. Puisi-puisi Chairil Anwar dinilai sangat mengagetkan, tidak bisa dimengerti, tetapi sangat memukau mereka. Sajak “Derai-Derai Cemara” dan “Senja di Pelabuhan Kecil” sangat disukai Umar Kayam sehingga hafal di luar kepala sampai menjelang akhir hidupnya. Pada saat ia duduk di bangku SMA itulah cerpen pertamanya yang berjudul “Bunga Anyelir” — yang berkisah tentang seorang remaja yang membawa seikat bunga anyelir untuk pacarnya di rumah sakit — dimuat di sebuah majalah yang terbit di Jakarta (sayang ia lupa menyebutkan apa nama majalah itu).

Setamat dari SMA (1951), Umar Kayam melanjutkan pendidikan di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Ia merintis ruang kemahasiswaan “Universitaria” di RRI Nusantara II Yogyakarta yang berisi berita dan kegiatan mahasiswa — sampai sekarang acara itu tetap mengudara sehabis berita siang di RRI Jogjakarta — dan mendirikan majalah mingguan bertajuk Minggu. Minatnya terhadap dunia pers ini kelak tersalurkan lewat kolom rutin di halaman depan yang diterbitkan di harian Kedaulatan Rakyat setiap Selasa sejak 12 Mei 1987 sampai dengan pertengahan tahun 2000. Kolom ini menarik minat banyak pembaca karena dituturkan dengan singkat, penuh humor cerdas, canda, tidak ngotot, kadang tidak secara langsung menyampaikan sindiran, protes, usul, dan nasihat. Kolom ini akhirnya dikumpulkan dan diterbitkan kembali menjadi empat buku. Tatkala menjadi mahasiswa, Umar Kayam juga aktif berkesenian, bahkan sempat menyutradarai Rendra dalam pentas drama dengan lakon “Hanya Satu Kali”.

Tahun 1955 Umar Kayam menyelesaikan sarjana mudanya, lalu bekerja di Jakarta beberapa tahun. Ia kemudian melanjutkan kuliah di Amerika Serikat, memperoleh gelar Master of Education dari New York University School of Education (1963), dan akhirnya memperoleh gelar Doctor of Philosophy di Cornell University dengan disertasi berjudul “Aspects of Interdepartmental Coordination Problems in Indonesian Community Development” (1965).

Sepulangnya dari Amerika Serikat, oleh Presiden Soeharto ia ditunjuk menjadi Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan RI (1966–1969); kemudian ia terpilih untuk menggantikan Trisno Sumardjo (1969–1972) sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, dan selama itu pula ia merangkap sebagai Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ; sekarang Institut Kesenian Jakarta, IKJ) di Jakarta, di samping sebagai anggota Boards of Trustee International Broadcast Institute yang berpusat di Roma, Italia selama dua tahun. Jabatan lain yang pernah diemban adalah Direktur Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Hasanudin, Ujungpandang (1975–1976), Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan di UGM (1977–1997), dosen pascasarjana UGM, dan dosen kontrak di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (1998–2001). Ia dikukuhkan menjadi guru besar Fakultas Sastra UGM dengan pidato bertajuk “Transformasi Budaya Kita” yang diucapkan di depan rapat senat terbuka Universitas Gadjah Mada, 19 Mei 1989, dan pamit pensiun dalam seminar untuk Umar Kayam sehubungan dengan purnabakti sebagai guru besar Fakultas Sastra UGM, 11–12 Juli 1997.

Umar Kayam juga pernah bermain film dan sinetron, antara lain dalam film Karmila yang disutradarai oleh Ami Priyono, memerankan Bung Karno dalam film Pengkhianatan G-30-S/PKI dengan sutradara Arifin C. Noer, dan berperan sebagai Pak Bei dalam sinetron yang diangkat dari novel Arswendo Atmowiloto yang berjudul Canting.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Memperingati 76 Tahun Umar Kayam”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: