Kayam Lebih Piawai daripada Bondan

Posted on 13 April 2008. Filed under: Apa&Siapa |

Perjalanan hidup seorang tokoh menjadi pelajaran hidup sangat berharga bagi orang lain. Tak segan-segan seseorang mengisahkan perjalanan hidup manakala suri teladan menyertai perjalanan hidupnya; perjalanan yang menampakkan jati diri yang tak hanya bayang-bayang dari sebuah profesi. Tak segan-segan pula orang belajar menyiasati hidup dan kehidupan. Di antara pelajaran hidup dan kehidupan yang serbaneka suri teladannya, sosok Bondan Winarno, 58 tahun semakin akrab dan berterima bagi pencinta kuliner se-Tanah Air. Perjalanan hidup arek-arek Suroboyo, yang tujuh belas hari lagi pas dengan hari kelahirannya patutlah diteladani. Bagaimanakah catatan perjalanan hidup dan kehidupan Bondan Winarno saat menafasi hari-harinya yang semakin panjang?

Catatan “semoga seri ini akan meningkatkan kecerdasan lidah kita” menjadi pembuka sampul buku “Kuliner”. Sebuah buku serial Pustaka Rumah berupa catatan “Tempat Makan Jakarta Tempo Doeloe”. Dengan gaya penuh pesona senyuman Bondan Winarno yang terpampang jadi perias sampul buku persembahan Jalansutera. Sebuah buku yang menggagas ulasan tempat-tempat makan Jakarta tempo doeloe yang masih bertahan sampai Februari 2008, saat buku ini diterbitkan; buku yang disajikan dengan gaya khas Jalansutra itu dijamin membuat “ngiler”.

Kayam Lebih Piawai daripada Bondan 1 Kalau perjalanan hidup Bondan Winarno ditarik pada masa empat puluh tujuh tahun silam, persisnya pada 1961, ia mengaku kematian siap menyambutnya. “Rasanya saya akan mati,” tutur Bondan, panggilannya tatkala menceritakan saat latihan Pramuka untuk ketangkasan melintasi sungai, yang membuat ia terpeleset dan jatuh ke dalam sungai. Ia hanyut.

Kisah pendidikan formal pria kelahiran 29 April 1950 di Surabaya ini agak kacau. Menurut buku “Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985–1986” halaman 1198, ibunya ingin Bondan menjadi dokter, atau insinyur. Di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, Universitas Diponegoro, Semarang, ia tidak sampai selesai. Gagal jadi arsitek. Bondan keburu jadi juru kamera Puspen Hankam, di Jakarta (1969–1970).

Setelah itu, ia berpindah-pindah kerja, tetapi tetap tidak lepas dari lingkup komunikasi massa. Pada awalnya, ia merintis karier sebagai newsreel cameraman, lalu ia menjadi tenaga pelatih di bidang komunikasi Keluarga Berencana. Selanjutnya kecemplung di dalam urusan periklanan. Lantas, ia bekerja di perusahaan multinasional Union Carbide. Pada akhirnya “matanya terbuka” dalam disiplin manajemen baru. “Terus terang, itulah sekolah saya,” kata Bondan, suami dari Yvonne, keturunan Belanda yang diberkati dengan tiga anak.

Kayam Lebih Piawai daripada Bondan 2 Sempat bertugas sebagai wartawan ke pelbagai negeri, sebagian pengalaman dari Kenya, Afrika, ia tuangkan menjadi cerita pendek. “Gazelle” tajuk cerita pendeknya ternyata memenangkan hadiah pertama lomba penulisan cerita pendek di majalah Femina, 1984.

“Sehari saja tidak menulis, rasanya ada yang mengganjal di hati,” kata Bondan, pengasuh rubrik “Kiat” Tempo (1984–1987). Bondan mengaku bisa menulis di manapun ia mau, seperti di pesawat udara, di mobil, di toilet. Hasil tulisan pengisi rubrik Kiat (kolom pendek soal-soal manajemen) menegaskan, begitu ada kemauan, ia menulis. Kapan saja dan di manapun tempatnya.

Kisah karier Bondan tampak nyata “jatuh bangun”-nya. Selain perjalanan karier berpuluh-puluh tahun malang-melintang dalam media massa, ia pun sulit lepas dari perpindahan tempat tinggal, seperti di Bukit Sentul atau di Bintaro Jaya Sektor Sembilan, yang embrionya dari Jalan Surabaya dua Jakarta Pusat.

Kini orang lebih mengenal Bondan sebagai pelopor bangkitnya “kuliner”. Entah di stasiun televisi, entah di milis (mailing-list) Jalansutera, Bondan semakin mumpuni menafasi hari-hari hidupnya yang semakin panjang. Antara Bondan dan Kuliner semakin bergandengan erat memanggil orang-orang muda penerus cita-citanya. Sekarang kian bermunculan pembawa acara dan pewarta di pelbagai media massa yang antusias mewartakan kuliner hingga ke pelosok Nusantara. “Sejak lima tahun belakangan ini memang tampak nyata sekali komersialisasi informasi tentang kuliner melalui berbagai media,” tulis Bondan.

Teman saya, Butet Kartaradjasa, lanjutnya, suka sekali mengutip referensi tentang ‘kecerdasan lidah’, yang dulu sering dipakai sebagai olok-olok semasa hidup Umar Kayam. Dalam Kata Pengantar buku “Kuliner”, Bondan melanjutkan cerita bahwa almarhum Kayam memang diakui kecerdasan lidahnya oleh teman-teman dekatnya. Seandainya Mas Kayam masih hidup, saya yakin dia akan jadi pemandu Wisata Kuliner yang lebih piawai daripada saya.”***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Kayam Lebih Piawai daripada Bondan”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

minta kontak atau email mas bondan donk….


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: