Generasi yang Berubah: HP Customer Solution Day Seminar

Posted on 2 April 2008. Filed under: Sastra Teknologi Informasi&Komunikasi |

Generasi masa lalu selalu kuat fondasinya ketika bersaing untuk meraih kemajuan bersama-sama. Persaingan sehat semacam itu terjadi manakala berlangsung proses pembelajaran. Cermin yang dipakai untuk bersaing berkiblat pada tradisi masyarakat dan bangsa pejuang. Bersaing tanpa merusak, bersaing tanpa mempermalukan pihak terkalah. Untuk itu, Rabu 2/4 di Hotel Shangri-La Jakarta bertajuk “How to Win the Competition Utilizing IT Solutions” melalui Mariana Kasim, A. Tony Prasetiantono dan Suryatin Setiawan menyibak peta persaingan yang sehat.

Generasi yang berubah secara alami, konon jauh lebih baik hasilnya ketimbang perubahan yang terjadi secara dipaksakan. Paksa-memaksa yang menghendaki perubahan justru menimbulkan pemicu huru-hara karena tanpa pedoman atau konsep perubahan yang dapat dipertanggungjawabkan. Akibatnya, muncul ketidakpuasan yang merambat dan merangsek pada sendi-sendi kehidupan. Oleh karena itu, cermin yang dipakai wajib dibersihkan terlebih dahulu. Cermin yang bersih transparan layak jadi acuan perubahan yang elegan. Persoalannya perubahan bagaimanakah bagi generasi pengganti yang siap menerima tongkat estafet perubahan tanpa mengganggu tatanan organisasi perusahaan yang cenderung merusak sistem?

Hewlett-Packard atau HP melakukan tinjauan dari sudut pola pikir bebas bertanggung jawab. Acuan perubahan sistem kerjanya jauh dari kesan pekerja dengan mentalitas menerabas. Semua perubahan dibuat menjadi gampang dan mudah dilaksanakan. Terencana dan terukur secara akurat. “Bagaimana cara memenangkan persaingan dengan solusi yang tepat dan berdaya guna?” demikian pertanyaan Mariana Kasim, Wakil Direktur Marketing HP Indonesia seraya mengingatkan ibarat sebuah jalan yang menuju ke Roma, maka HP menawarkan solusi dengan pilihan yang membuat pundi-pundi perusahaan meningkat pendapatannya.

“Tapi apakah Anda memilih jalan yang efisien yang profitable, yang banyak dolarnya, itulah persoalan yang harus dicari solusinya,” ujar Mariana Kasim seraya menunjuk ke arah banner HP berilustrasi menuju jalan yang efisien. Banyak jalan ke Roma, pesannya. Oleh karena itu, HP sebagai pemberi solusi selalu mengoptimalkan infrastruktur di perusahaan.

A. Tony Prasetiantono, Peneliti Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada generasi-yang-berubah.jpg mempertajam peta persaingan dengan mempertanyakan, bagaimana sektor manufaktur menghadapi guncangan ekonomi global? Jawaban atas pertanyaan itu kalau kita bicara ekonomi, kalau mau selamat negara ini ya bangunlah sektor infrastruktur, kata Tony, panggilan Chief Economist BNI. Itulah yang terjadi di Cina. Sebagaimana di Amerika yang muncul kesadaran dengan terbiasa membuat suku bunga selalu rendah.

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia, lanjutnya mencapai angka 6,3% (Triwulan IV/2007). Dorongan pertumbuhan berasal dari ekspor produk-produk. Padahal, problem terbesar Indonesia tergantung dari subsidi melulu. Oleh karena itu, solusi satu-satunya dari segi ekonomi dengan menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM. Menurut SBY, tandas Tony, menjelang Pemilu Juli 2009 harga BBM tidak dinaikkan. “Masalahnya, kenaikannya berapa rupiah?” tanya pengajar program sarjana strata-2 di Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta seraya menyebutkan di Kamboja harga BBM Rp11.500,00 dan di Australia Rp12.000,00. Harapan Tony agar seluruh dunia kompak menekan harga minyak dunia. “Kita harus melakukan ajustment-ajustment karena pertumbuhan ekonomi disumbang dari sektor-sektor usaha kecil menengah.”

Chief Economist Bank BNI itu menggarisbawahi perubahan generasi yang terjadi di perusahaan telekomunikasi terbesar di Republik ini. Telkom, katanya, sekarang banyak mengurangi tenaga kerja, sebagaimana yang dikatakan oleh Direktur Utama PT Telkom, Rinaldi Firmansyah. Sementara itu, di sektor perbankan, katanya, juga mengalami perubahan besar-besaran. Saat ini ada SMS Banking (yang murah), cabang ATM berlokasi di mana-mana, dan aktivitas Internet Banking. “Teknologi meningkatkan efisiensi, tetapi tenaga kerja semakin berkurang,” ujar Tony penuh prihatin sambil menyampaikan informasi bahwa Bank BRI peraih laba terbesar (3,4 triliun) paling top, peringkat kedua BCA, peringkat ketiga Bank Mandiri. Bank Danamon juga sangat bagus karena merambah ke tingkat kabupaten. Persoalan terbesar bagi Indonesia terletak pada dana yang ada di bank yang harus dikeluarkan demi percepatan proyek infrastruktur. Ini yang penting, tegas Tony.

“How to Win the Competition Utilizing IT Solutions” merupakan topik Suryatin Setiawan hp-customer-solution-day-seminar.jpg pada sesi setelah Tony. Ia menggarisbawahi bahwa teknologi kita tidak berdaya saing. Sementara itu, teknologi komunikasi zaman dulu pasti hilang, seperti traditional voice. Oleh karena itu, teknologi komunikasi kita pada hari-hari ini banyak yang bermigrasi ke teks, tidak hanya SMS, imel, chatting. Dalam pergerakan itu semua, marilah bercermin pada contoh layanan Telkom Speedy, yang mula-mula hanya layanan suara, sekarang beralih ke layanan data dan suara. Oleh karena itu, semua perusahaan telekomunikasi di Indonesia harus rajin memberi layanan yang terbaik. “Jalan raya di Indonesia seharusnya jalan raya informasi,” ujar Founder and advisor www.bandungtalentsource.com dengan mantap seraya menambahkan bahwa Jepang dan Korea sudah maju karena sudah membangun informasi. Ini tanggung jawab pemerintah untuk melek internet, dalam hal ini departemen pekerjaan umum harus bisa membuat jalan informasi. Meskipun demikian, kalau kembali ke masa lalu kesannya kemajuan saat ini sangat signifikan. Pada tahun 1990-an awal, kalau kita akses internet masih enggak keluar-keluar juga teks dan gambarnya. Lambat.

Pada saat ini, 2008, kita hidup di zaman empat layar. Layar pertama bioskop, layar kedua televisi, layar ketiga seperangkat dekstop personal computer, dan layar keempat telepon seluler atau handphone. Handphone, kata Suryatin, sangat popoler. Sangat intelijen. “Dalam perkembangan handphone saat ini ampuh luarbiasa, seperti handphone bermerk K-Touch dan Hi Tech. Begitu ampuhnya maka handphone terbaru ini dilempar ternyata juga bisa, enggak apa-apa, enggak rusak. Bandel. Apalagi handphone inipun fiturnya bisa semua, mudah terakses ke satelit. Namun, kata Suryatin skill kita sangat ketinggalan karena kita tidak membangun ekonomi. “Saya pernah datang ke salah satu operator ternyata tenaga ahlinya dari Thailand,” keluhnya. Kata manajernya, karena memang kita tidak memiliki tenaga ahli.

tv-mobile.png  hi-tech.jpg

Gejala baru dari generasi yang berubah saat ini, semua handphone berkamera, lanjut Suryatin. Bollywood yang sarat dengan tari dan tangis pun sekarang diformat untuk handphone. Kalau pebisnis ikut membangun bisnis content maka masuklah dan menjadi dominan di pasar. Dalam contoh lain, analisis Suryatin, Jakarta 2014 deadlock. Begitu keluar rumah, kita dihadang oleh kemacetan di mana-mana. Jadi, warganya tidak bisa ke mana-mana. Oleh karena itu, aktifkan video conferencing, SOHO, internet dan video, search engine, e-commerce, dan e-bay. Bikinlah jendela mengenai Indonesia dalam video, pintanya.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “Generasi yang Berubah: HP Customer Solution Day Seminar”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

oh hp hi tech

siapa yg mao jual hp tv hrap hub saya yawh di
email saya funkboyzrhiyan@yahoo.co.id
tpi ya kira harga bisa di perhitung kn n msh bgus

itu hp yang diatas tipe apa sekalian minta harganya


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: