Satu Ponsel Satu Kartu

Posted on 31 Maret 2008. Filed under: Opini |

Ponsel merambah sendi-sendi kehidupan masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia, khususnya bagi warga Ibu Kota. Tanpa ponsel ibarat denyut nadi kehidupan yang berhenti karena tanpa jantung. Ponsel mengisi sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Ponsel menunjukkan tren teknologi yang semakin akrab dengan pengguna. Tak ada anggota keluarga nirponsel. Nyaris dalam satu keluarga kini wajib berponsel. Apalagi di kota-kota besar. Meski kekecualian kerap bisa dimaklumi pada keluarga yang menjauhi ponsel di dalam kehidupan sehari-hari. Tak mengherankan tatkala ulasan seputar ponsel makin marak artinya roda ekonomi di sektor riil tumbuh sehat mengisi ekonomi keluarga sehari-hari. Sejauhmana keakraban antara pengguna dan ponsel sungguh-sungguh mengisi kebutuhan hidup sehari-hari?

Ponsel atau telepon selular menjadi benda ajaib. Dahulu kala orang sibuk mencari koin untuk menelepon. Di mana-mana koin atau logam bernilai rupiah seratusan memenuhi saku, entah saku di celana entah saku di kemeja. Koin tiba-tiba menjadi logam ajaib. Ia terhubung ke negeri seberang, ia memperlancar roda perekonomian. Pundi-pundi terisi lantaran kocek penuh berkat pemasukan koin telepon. Saat itu, jasa baik PT Telkom menyebarluaskan seperangkat telepon sehingga pengguna dapat terkoneksi melalui logam seratusan.

Zaman dahulu berubah cepat menuju zaman yang sesuai dengan tuntutan kemajuan teknologi. Setelah koin telepon merambah ke sentra-sentra bisnis, kemudian posisi bertelepon via koin tidak laku lagi. Perlahan-lahan semakin banyak orang yang menikmati pager. Alat pehubung yang lebih pribadi sifatnya. Alat komunikasi ini membuka cakrawala baru dalam dunia pertelekomunikasian. Di mana-mana nomor pager disebarluaskan, entah melalui kartu nama, entah melalui alamat pribadi lengkap dengan nomor pager.

Berlalunya waktu cepat sekali, tahu-tahu pager ditinggalkan oleh pengguna setianya. Jadilah pager sebagai barang teknologi lama manakala telepon selular memasuki relung-relung bisnis dan komunikasi antarpribadi. Meski berharga sangat mahal, seperangkat ponsel menjadi aksesori gaya hidup bagi pebisnis. Citra diri melekat erat pada saat ponsel mempermudah komunikasi menjadi teman setia. Tak ada lagi waktu terbuang tanpa ponsel.

Dari koin telepon, lalu pager, kemudian ponsel, entah apalagi yang menjelejahi komunikasi sehari-hari. Yang pasti, ponsel harganya semakin memurah. Artinya, harga ponsel semakin terjangkau bagi kebanyakan masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia. Mulai dari lapisan bawah sampai dengan lapisan atas, mulai dari golongan tukang batu sampai dengan tukang insinyur. Ponsel tersedia di saku. Ponsel tak patut ditinggali di rumah.

Pemakai ponsel sekarang sering berkerumunan di pelbagai lokasi mengikuti perkembangan fiturnya. Penjual ponsel juga berseliweran di seantero pelosok negeri subur makmur ini. Bahkan sekarang peminat ponsel ketika melihat ponsel untuk dimiliki memiliki kriterianya bahwa pertama harga ponsel yang memurah. Kedua ada video, ketiga musik, keempat rekaman suara yang bagus. Kelima mampu menerima dan mengirim imel (pos-el). Komplet. Lengkap. Serbabisa.

Kalau lagi menyetir mobil, pengguna bisa mendengarkan rekaman suara untuk dilantunkan. Hal itu bermanfaat kalau pengguna akrab dengan dunia tarik suara.

banner_promo.gifimg_2776.jpgsonyericssonz800i.jpgkartu-ponsel.jpg

Tak mengherankan kalau ketinggalan ponsel, pemiliknya sangat gelisah. Pikiran tiada menentu. Demikian ponsel yang memenuhi kebutuhan hidup.

Akan tetapi, kodrat masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia yang akrab dengan tradisi pulang kampung pada hari raya membuat fungsi dasar ponsel jadi sangat penting. Biarpun saat ini ponsel memiliki serbaneka fitur, tetap saja ada yang terpenting dari semua kebutuhan dasar, yakni pengguna bisa telepon-teleponan dan esemesan.

Pengguna ponsel akhirnya secara cermat mengamati perkembangan teknologi. Walau yang dipilih oleh pengguna hanya berteleponria dan beresemesan. Kalau mau ikut perkembangan zaman, pengguna dapat membeli ponsel yang baru juga. Namun, ponsel berfitur lengkap dengan harga jutaan memiliki konsekuensi penambahan biaya akses. Ada uang ada barang, begitu kata pepatah lama.

Meski demikian, saat ini biaya akses internet melalui ponsel misalnya semakin memurah. Sebagaimana hukum ekonomi bila harga memurah pada galibnya pengguna ponsel bertambah-tambah. Di lapangan, hukum ekonomi tak selalu mengikuti garis lurus dengan deret ukur. Tetap saja bagi kebanyakan orang akses internet yang memurah tidak otomatis meningkatkan pengguna ponsel.

Pada akhirnya pakai ponsel bagi kebanyakan orang kembali pada kebiasaan lama, yakni menelepon dan ditelepon atau mengirim esemes atau di-esemes. Kalau pakai ponsel baru cuma karena hilang atau rusak, barulah beli lagi ponsel yang baru. Kenapa perlu ganti ponsel? Jawaban atas pertanyaan itu biasanya juga cuma lantaran terlihat trendi sesuai dengan perkembangan zaman.

Perkembangan ponsel memasuki area fashion. Selain untuk bergaya, ponsel juga berfungsi untuk melihat tayangan televisi, mendengarkan radio, dan memotret. Serbaneka fitur yang dibenamkan oleh vendor ponsel sungguh-sungguh membuat pengguna tergila-gila. Entah pemakai entah penjual berhasrat mencoba semua fitur. Semua ada apa pun bisa, kata pepatah lama (lagi).

Tak mengherankan jika seseorang memiliki dua ponsel, kerabat lain mempunyai lima ponsel, tetangga sebelah sepuluh ponsel, bahkan sahabat karib punya belasan ponsel. Semua ponsel yang dimiliki aktif semua. Kartu dengan sejumlah operator yang ada di negeri ini seluruhnya dimiliki. Itulah yang terjadi seperti yang dialami oleh Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, Pengamat Hukum dan Kebijakan Telematika pada Curah Pendapat (Talk Show) dari Cellular Community di Menara Jamsostek, Kamis 27/3. Ia mengaku selalu mendapatkan ponsel plus kartu, entah dari vendor entah dari operator. Meski demikian, praktisi teknologi internet ini mengajak penggila ponsel untuk kembali ke kodrat, yakni menggunakan satu ponsel dan memakai satu kartu. Kampanye satu ponsel satu kartu untuk mengembalikan keaslian pendapatan operator yang diperoleh oleh operator dengan sebenar-benarnya. Istilah asingnya ARPU, yang merupakan kepanjangan dari Average Revenue per User or Average Revenue per Unit. Jauh dari kesan fiktif jumlah pelanggan lantaran yang tercatat di operator menjadi bertolak belakang dengan kenyataan. Pengguna ponsel yang sesungguhnya lebih membantu penghitungan angka yang konkret. Hal ini sangat berbeda bila pengguna memiliki serbaneka kartu plus ponsel, lalu yang aktif cuma satu.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: