BSD City Kembali ke Khittah

Posted on 30 Maret 2008. Filed under: Unek-Unek |

Sejak tahun 2000 kawasan BSD cukup sejuk. Kesejukkan merasuki ke pori-pori kulit dengan lancar dan nyaman. Kesejukkan ini menggairahkan untuk berolah raga, entah pagi entah sore. Nyaman dan aman. Mau berlari di pagi hari, jauh dari rasa cemas, ingin sore pun jauh dari rasa gelisah. Kenyamanan berkaitan dengan keaslian rasa sejuk yang merasuki sendi-sendi kehidupan. Keamanan dekat dengan keasyikkan menikmati lari pagi dan sore  mengitari kawasan bebas dari kejaran lalu lalang kendaraan. Kenyamanan dan keamanan mirip saudara kembar. Saling membantu. Bekerja sama. Namun, apakah rasa nyaman dan rasa aman tetap terjaga manakala debu kian menebal dengan warga yang memusatkan pendapatan konsumtif kian meninggi?

bsd-city-kota-modern-tetap-sederhana.gif foresta.gif  greencove.jpg

Tepuk tangan riuh lantang terdengar nyaring dari gedung Wisma BSD. Sejumlah maket bangunan tak dapat menahan sejumlah investor yang membelalakkan mata untuk bertaruh bisnis di kawasan BSD. Konon BSD pemberian nama almarhum Presiden RI kedua, Soeharto. Nama yang berasal dari singkatan Bumi Serpong Damai. Sekarang menjadi Bumi Serpong Damai City atau BSD City plus jargon “Big City, Big Opportunity”. Dengan serbaneka atribut baru membuat kawasan BSD City semakin mantap berkembang menuju dunia baru.

Perkembangan dunia baru mengambil lahan baru seluas seribuan hektare. Dahulu kawasan hutan, kini kawasan perumahan yang dikembangkan di kawasan timur. Saat ini siap memasuki dua ratus hektare ke kawasan barat BSD. Antara Timur dan Barat saling bekerja sama untuk melahap dengan tangkasnya jari-jemari pengembang total enam ribu hektare menjadi kawasan bercita rasa tinggi, berkesibukan tinggi, dan bertingkat-tingkat gedung tinggi.

Dalam suatu bincang-bincang dengan Pamusuk Eneste, Editor Senior di kawasan Depok muncul keheranan. Mas Pam panggilannya, terheran-heran dengan perluasan kampus universitas Indonesia di kawasan Depok tanpa menyisakan sedikit pun gangguan bagi warga sekitar, yang lebih dulu bermukim di kawasan itu. Sejauh-jauh mata memandang, saat ini kawasan universitas Indonesia memang bebas rumah penduduk. Hal ini sangat berbeda dengan kawasan Bintaro tempat mas Pam tinggal, dan kawasan BSD yang disisipi dengan rumah penduduk. “Kok bisa ya, UI bebas rumah penduduk dengan luas yang berhektare-hektare,” cetus mas Pam penuh keheranan.

Perluasan pada tahap awal di timur BSD memakan hutan seribu lima ratus hektare yang menyisakan sisipan rumah penduduk di sana-sini. BSD memang beda kontur tanah dan penduduknya dengan Depok. Meski demikian, tahap kedua perluasan agak agresif dan ekspansif bermunculan dari barat BSD. Tak mengherankan warga BSD sekarang ekstraketat berpenutup mata dan hidung, jika menjauhi debu.

Pembangunannya memasuki ruas jalan tol BSD ke bandar udara Soekarno-Hatta atau jalan arteri dengan garis lurus Serpong–Gading Serpong via tol Jakarta–Merak sungguh luarbiasa. Di pagi hari tetap pastilah siap menerbangkan debu pembangunan. Namun, back to basic atau kembali ke khittah menjadi kodrat manusia yang bekerja sebagai developer atau pengembang kawasan. Sifat manusia yang rendah hati mau tak mau menerima segala kelebihan dengan segala kekurangannya seraya kembali ke fitrah. Ketika kawasan BSD menjadi contoh bagi kawasan pemukiman yang lain, sesungguhnya sebuah kota wajib dikembalikan pada alam asli sebagaimana adanya, seraya menjauhi sebagaimana yang diinginkan oleh pengembang atau developer perumahan BSD.

Kota modern yang hijau, demikian tagline atau jargon yang bermunculan untuk kawasan barat BSD. Kawasan ini kelak tertata rapi. Terencana baik. Tim ahli tata kota lokal yang siap menjaga paru-paru kota BSD mendapat dukungan dari tim arsitektur negeri Kanguru, Australia. Oleh karena itu, cukup beralasan jika sebab-akibatnya kawasan barat jauh lebih baik dibandingkan dengan kawasan timur. Lantas, warga di kawasan barat BSD akan menatap ke kawasan bisnis dan kawasan pendidikan dengan hati yang sejuk.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: