Antara Tarif Murah dan Manfaat Telepon Selular

Posted on 27 Maret 2008. Filed under: Sastra Teknologi Informasi&Komunikasi |

Murah menjadi idam-idaman bagi setiap orang. Murah kerap juga bergaul akrab dengan harga terjangkau. Oleh karena itu, kata “murah” sering menjadi impian dalam pencapaian hidup masing-masing orang. Apalagi kalau kata murah menjadi kenyataan. Seolah-olah impian seseorang meraih idaman hati terpenuhi lalu terpuaskan. Melalui kata “murah” ini sebetulnya umpan balik pelanggan ke penyelenggara operator telepon selular menjadi kilas balik. Sejauhmana kata “murah” menjadi obat penawar yang sama-sama dinikmati baik bagi pelanggan maupun operator?

“Menagih Janji Tarif Murah Operator” sebagai tema Curah Pendapat (talk show) telah meramaikan dialog antara peserta (pelanggan) dan operator telepon selular. Dengan subtema “Bedah dan Analisa Tarif Voice Operator: Transparansi skema percakapan tarif operator GSM dan CDMA FWA” diskusi berkembang menjadi ajang refleksi dan inovasi. Wigrantoro Roes Setiyadi, pengamat telekomunikasi misalnya, menggarisbawahi kata “menagih janji” dengan pertanyaan, siapa yang menjadi pembuat janji? Lantas, ukuran murah itu bagaimana, dan untuk siapa?

seminar-tarif-operator.jpg

Hadir pada Curah Pendapat tiga pembicara mewakili operator telepon selular, Fuad Fachruddin dari Indosat, Krishna Zulkarnain, Vice President Marketing PT Bakrie Telecom, I Made Hartawijaya, Vice President VAS and New Services PT Exelcomindo, dan pengamat telekomunikasi, Wigrantoro Roes Setiyadi dengan moderator Iman Aulia Hs, Pemimpin Redaksi Selular di 9 Clouds Cafe, Menara Jamsostek lantai 9, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pukul 13.00–17.00 WIB, Kamis 27/3.

“Pernahkah XL, Esia, Indosat berjanji memberi tarif yang murah?” tanya Wigrantoro seraya menggarisbawahi harga murah tidak identik dengan tarif turun. Lantas, ia pun mempertanyakan tarif murah itu bagaimana tolok ukurnya, dan untuk siapa. Meski operator memerlukan izin, tarif, interkoneksi, standarisasi peringkat, tarif murah mencerminkan aspek bisnis dan ekonomi.

Tarif memiliki posisi spesifik dan strategis karena ada aspek sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, formula tarif murah, lanjut Wigrantoro, kita perlu menagih janji tarif murah. “Murah menurut siapa?” tanyanya sambil menganalogikan tarif yang murah menurut bapak X memurah, tapi menurut bapak Y mahal. “Jadi, ditetapkan saja dari enam rupiah menjadi lima ratus rupiah, itu lebih gampang dipahami,” ujar Wigrantoro seraya mempertanyakan, persoalannya tarif murah seberapa menarik bagi pelanggan?

Wacana kompetisi tarif atau persaingan harga itu, katanya, seperti penjual duku dengan kualitas yang sama dan harga yang lebih murah. Pasti seseorang mencari yang kualitas dukunya yang manis baik dan harganya murah. Demikian juga dengan operator telekomunikasi. Itu perusahaan yang mencari untung. Pada hakikatnya tidak ada perusahaan yang merugi. Jadi, tidak ada yang gratis. Operator harus untung.

Pada sesi Fuad Fachroeddin dari Indosat menegaskan bahwa pemahaman yang lebih deskriftif dan jelas tentang tarif murah sangat diperlukan. Namun, pada umumnya kalau kita lihat iklan di billboard dengan pesan komunikasi utama yang menjadi fokus memang tarif murah. “Industri telekomunikasi sangat potensial. Pasar terus tumbuh, terutama di Jawa dan Bali,” ujar Fuad seraya menggarisbawahi, “Dengan demikian, segmen bisnis utama Indosat memiliki tiga strategi selular. Pertama, penambahan jaringan secara selektif. Kedua, penyempurnaan izin distribusi. Ketiga, inovasi produk layanan secara terus-menerus. Contohnya program Poin Plus Plus.”

Krishna Zulkarnain dari Esia yang mendapat julukan pelopor “perang tarif murah” menjelaskan sejak 2005 sampai dengan 2008 Esia tidak mengubah-ubah tarif. “Esia enggak pernah janji,” tegas Krishna seraya menambahkan, ” Esia wajib memberi jasa telekomunikasi ke masyarakat dengan tarif murah yang terjangkau.”

Menanggapi iklan, Wigrantoro menegaskan, iklan yang mengarah perang tarif, iklan ini harus diganti. Bahkan ada juga iklan yang mengarah soal bicara pakai waktu. Manalah mungkin zaman sekarang untuk bicara tidak pakai waktu. “Kalau masih berbasis waktu, iklan tersebut harus diganti,” ujar Wigrantoro pada Curah Pendapat yang dihadiri para pengguna layanan tarif murah prabayar dan pascabayar, profesional di bidang telekomunikasi, mahasiswa dan peminat dunia selular.

Kecenderungan operator berkaitan dengan tarif merupakan strategi bisnis. Pertama, value sama dengan benefit yang bermanfaat pada apa yang pelanggan bayar. Operator yang coverage-nya besar memberi manfaat (benefit) yang lebih besar. Karena efek dari teori jaringan.

Made dari XL menerangkan bahwa tahapan pengembangan selular adalah coverage driven, price driven, service quality driven, dan value added services driven. “XL konsisten dengan tarif termurah. Sebagai kartu GSM dengan tarif termurah. Enggak ada yang disembunyikan. XL paling murah,” ujar Made mantap.

Di Indosat, kata Fuad, ada komunitas Starone yang sudah terbentuk. Tawaran paket Indosat punya paket pilihan benefit-nya. Kebutuhan sesuai dengan satu tarif untuk semua orang.

Wigrantoro mengingatkan bahwa di situs www.detik.com ada poling iklan selular. “Silakan jawab,” pintanya di hadapan ratusan peserta Curah Pendapat. Tentang iklan, kalau tidak mendapat benefit itu tidak mendidik. Asosiasi telepon selular yang mengamati bahasa iklan, mana yang mudah diterima mana yang sulit dan memiliki aspek mendidik terus dipantau. Durasi telepon selular sama dengan durasi yang ada di operator. Harus sinkron. Itu salah satu cara mengetahui tanggung jawab operator dalam kebijakan tarif. Cara yang lain dengan melihat sasaran yang dituju, misalnya melalui PSTN. “Jadi, kalau benefit semakin banyak artinya semakin murah, sedangkan kalau benefit semakin sedikit, artinya semakin mahal,” tutur Wigrantoro.

Pada sesi tanya jawab, Made menengarai bahasa iklan dalam pengawasan asosiasi periklanan Indonesia. “Selama operator enggak ditegur, itu artinya jalan terus. Enggak ada kesalahan dengan bahasa iklan.” Pada dasarnya, katanya, kita ini malas membaca. Contoh waktu beli televisi, langsung colok, lalu menyala. Nah, kita enggak membaca buku manualnya.

Menjelang penutup Curah Pendapat, Wigrantoro menjelaskan bahwa dirinya mempunyai semua nomor operator telepon selular. Maka survei yang ia lakukan menunjukkan, 60 persen responden mempunyai lebih dari satu nomor. Nomor lain, menurut pak Wig panggilannya sebaiknya dikembalikan ke operator saja. Pengembalian nomor ke operator bermaksud untuk meningkatkan kualitas pelanggan. “Ayo ikut saya kampanye Satu Nomor. Pilihlah nomor yang terbaik sesuai dengan pilihan,” ucap pak Wig.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Antara Tarif Murah dan Manfaat Telepon Selular”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

Sayangnya tarif yang murah menjadi jalan bagi para penipu untuk beraksi, dulu mereka beraksi dengan ‘hanya’ mengirim sms bahwa kita menang undian dan sekarang mereka langsung telepon untuk meyakinkan orang. AYO SELAMATKAN HUTAN KITA

jd operator mana sih yang ga mengumbar janji?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: