Menyambut Gelar Doktor HC W.S. Rendra

Posted on 3 Maret 2008. Filed under: Apa&Siapa |

Penganugerahan gelar doktor honoris causa oleh Universitas Gadjah Mada, Selasa 4/3/08, pukul 10.00 WIB kepada W.S. Rendra dalam bidang Seni dan Budaya merupakan gelar akademik kehormataRendran. Sebelumnya, sejumlah tokoh Indonesia, seperti kritikus sastra H.B. Jassin, budayawan Sutan Takdir Alisyahbana, dan pelukis Affandi mendapat gelar doktor honoris causa (HC). Dalam pidato promosi doktor ini, W.S. Rendra menyampaikan “Megatruh Kambuh: Renungan Penyair dalam Menghadapi Kalabendu”. Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng, Ph.D. bertindak sebagai pengundang. Drs. Pamusuk Eneste, 57 tahun ikut memperingati penganugerahan gelar doktor itu. Berikut ini tulisan Mas Pam, panggilan akrab Editor Sastra dan Bahasa Indonesia (sejak 1982) yang berjuluk “Menjadi Editor Buku Rendra”.

Pengantar

Dua kali saya menjadi editor buku Rendra. Pertama, untuk buku Rendra, Mempertimbangkan Tradisi (Jakarta: Gramedia, 1983 — 129 halaman; format 14 x 21 cm). Kedua, untuk buku mengenai Rendra yang ditulis Bakdi Soemanto, Rendra: Karya dan Dunianya. (Jakarta: Grasindo, 2003 — 205 halaman; format 14 x 21 cm).

Buku pertama berisi 16 esai Rendra yang dimuat di media cetak (Basis, Kompas, Sinar Harapan, Angkatan Bersenjata, dan Budaya Jaya) dan dibacakan pada berbagai kesempatan selama kurun waktu 15 tahun (1967–1982). Buku kedua merupakan pembicaraan karya Rendra secara keseluruhan (sajak, drama/teater, dan cerpen) dan bersifat apresiatif.

Tulisan ini merupakan pengalaman saya menangani proses penerbitan kedua buku itu: mulai dari mengumpulkan karangan, memilah-milah karangan, menyiapkan pengetikan, memeriksa naskah yang ditik ulang (untuk buku pertama), mencari penulis, menyunting naskah di layar komputer (untuk buku kedua), membaca pruf (1, 2, 3, dan seterusnya), sampai dengan fiat cetak.

Mempertimbangkan Tradisi

Pada tahun 1983, Penerbit Gramedia mulai merintis penerbitan buku-buku sastra, baik karya kreatif maupun kumpulan karangan atau bunga rampai. Saat itu, saya ditugasi merancang dan menangani penerbitan buku-buku tersebut. Khusus untuk kumpulan karangan, Rendra termasuk nama tokoh yang karyanya perlu dibukukan, di samping nama-nama lain, seperti H.B. Jassin, A. Teeuw, Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, dan Umar Junus — untuk menyebut beberapa nama. Di samping ketokohannya dalam sastra Indonesia, ternyata banyak karangan (esai) Rendra yang berserak-serak di berbagai media cetak; karangan-karangan itulah yang perlu dihimpun dalam satu buku.

Buku Mempertimbangkan Tradisi saya siapkan ketika Rendra masih tinggal di Tomang Tinggi, Jakarta Barat. Oleh karena itu, bersama rekan saya yang juga editor Penerbit Gramedia, Frans M. Parera, beberapa kali saya mengunjungi Rendra guna meminta izin, menunjukkan tulisan-tulisan yang akan dibukukan, dan memperlihatkan kerangka buku.

Selain menjadi editor buku, saya merangkap editor penerbit yang menangani buku itu dalam proses penerbitannya di Gramedia. Oleh karena itu, saya harus mengumpulkan sejumlah tulisan Rendra yang berserak-serak, memilah-milahnya menjadi beberapa bagian, dan menyiapkan pengetikan ulang tulisan-tulisan yang masih berbentuk kliping koran, fotokopi, ataupun makalah. (Saat itu editor belum lazim bekerja dengan komputer. Jadi, semua tulisan harus ditik ulang dengan mesin tik “sebelas jari”.)

Penulis kata penutup buku adalah Ignas Kleden. Sambil membawa naskah Rendra yang ditik ulang, bersama Frans M. Parera, saya menyambangi Ignas Kleden yang waktu itu bermukim di Ciledug, Tangerang. Seperti biasa, Ignas Kleden menulis kata penutup yang cukup panjang (21 halaman-buku format 14 x 21 cm!) kendati penerbit hanya mengharapkan sekitar 10 halaman tik-folio, 2 spasi.

Tak ada masalah dalam proses penerbitan Mempertimbangkan Tradisi, apalagi Rendra memercayakan sepenuhnya kepada penerbit pengoreksian cetak coba (pruf-1). Namun, masalah kecil muncul ketika hendak teken kontrak. Rendra meminta royalti di luar kelaziman penerbit. Setelah berunding, akhirnya kedua pihak menyepakati royalti sebesar 12,5%.

Buku Mempertimbangkan Tradisi sempat mengalami sekali cetak ulang. Barangkali karena saat itu (1983) belum ada kumpulan esai Rendra dan Mempertimbangkan Tradisi merupakan kumpulan esainya yang pertama. Namun, tidak tertutup kemungkinan, buku ini mengalami cetak ulang karena judul buku yang melawan arus. Di tengah “arus modernisasi” yang gencar saat esai itu ditulis tahun 1971, Rendra justru menawarkan tradisi untuk dipertimbangkan. Dalam esai pendek (dimuat di majalah Basis, Mei 1971) yang sekaligus menjadi judul buku, “Mempertimbangkan Tradisi”, dengan tegas Rendra menyatakan bahwa “Tradisi bukanlah sesuatu benda mati. Seharusnya ia adalah sesuatu yang tumbuh dan berkembang, sesuai dengan kehidupan. Tradisi diciptakan manusia untuk kepentingan hidup dan bekerja” (hlm. 6). Rendra pun mengakui bahwa dalam berkarya, ia “banyak mendapat pertolongan yang bermanfaat dari tradisi kesenian yang sudah ada” (hlm. 4). Rendra kemudian memaparkan, “Demikianlah, setelah merenungkan dan mengingatkan kembali, terkenanglah saya bagaimana tradisi telah membimbing saya dalam hampir semua karya saya yang disebut oleh resensen sebagai karya-karya eksperimental, yang mengajukan pembaruan-pembaruan. Kakawin Kawin dibimbing oleh tradisi romantik tembang-tembang palaran orang Jawa. Sajak-Sajak Sepatu Tua dan sajak-sajak saya yang terbaru dibimbing oleh tradisi bahasa koran. Kumpulan sajak Masmur Mawar dan pementasan Kasidah Barzanji dibimbing oleh tradisi spritual mitologi Dewa Ruci dari orang-orang Jawa. Pementasan Oidipus Rex dibimbing oleh tradisi teater rakyat Bali. Gaya pementasan Macbeth diilhami oleh folklore masyarakat desa di Jawa Tengah. Dan Teater Mini Kata saya itu bukankah sangat erat hubungannya dengan tradisi permainan image dalam tembang dolanan anak-anak Jawa? Pendidikan dasar bagi imajinasi saya, saya dapatkan dari tembang dolanan itu” (hlm. 5).

Ignas Kleden dalam kata penutupnya memuji Rendra sebagai “salah satu dari sedikit seniman Indonesia, yang mau dan mampu merumuskan pemikiran kebudayaan dan pendirian-pendiriannya” dan “penyair yang sanggup menjelaskan kepenyairannya dalam bentuk prosa, dan pemikir yang sanggup menuliskan pikirannya dalam bentuk puisi” (hlm. 101).

Saat ini, buku Mempertimbangkan Tradisi sudah termasuk kategori “buku langka” karena tidak dicetak ulang lagi. Kalau masih ada yang menjual, mungkin hanya bisa dibeli di kios/toko buku loak.

Rendra: Karya dan Dunianya

Buku Bakdi Soemanto, Rendra: Karya dan Dunianya terbit dua puluh tahun sesudah Mempertimbangkan Tradisi. Ketika Mempertimbangkan Tradisi terbit, saya masih menjadi editor di Penerbit Gramedia. Pada tahun 1989, Penerbit Gramedia mendirikan penerbit baru dengan nama Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia, biasa disebut Penerbit Grasindo. Penerbit Gramedia kemudian berganti nama menjadi Penerbit Gramedia Pustaka Utama, biasa disingkat GPU. Saya sendiri ditugasi menangani buku-buku sastra di Penerbit Grasindo.

Sejak tahun 1999, Penerbit Grasindo menerbitkan serial pembicaraan mengenai pengarang Indonesia dan karyanya: “Pengarang: Karya dan Dunianya”. Buku dirancang untuk menjadi bacaan siswa setingkat SMU, guru, dan umum (bukan kalangan sastra).

Serial diawali dengan buku Th. Sri Rahayu Prihatmi, Nh. Dini: Karya dan Dunianya (1999). Buku mengenai Rendra termasuk yang perlu diterbitkan di samping buku mengenai Putu Wijaya, A.A. Navis, Ahmad Tohari, Y.B. Mangunwijaya, Umar Kayam, Budi Darma, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono — untuk menyebut beberapa nama.

Ketokohan Rendra dalam sastra Indonesia tentu tak perlu diragukan lagi. Sajak-sajaknya (Ballada Orang-Orang Tercinta, Empat Kumpulan Sajak, Blues untuk Bonnie, Sajak-Sajak Sepatu Tua, Potret Pembangunan dalam Puisi, Disebabkan oleh Angin, Orang-Orang Rangkasbitung, Perjalanan Bu Aminah, dan Mencari Bapa), cerpen-cerpennya (Ia Sudah Bertualang), drama-dramanya (Dataran Lembah Neraka, Orang-Orang di Tikungan Jalan, Selamatan Anak-Cucu Soleman, Mastodon dan Burung Kondor, Kisah Perjuangan Suku Naga, Sekda, Penembahan Roso, Tuyul Anakku), drama-drama terjemahannya, Bengkel Teater dan pementasannya, keaktorannya, dan pemikirannya (Tentang Bermain Drama, Mempertimbangkan Tradisi, Penyair dan Kritik Sosial, dan Megatruh) telah membuktikan bahwa karyanya perlu dibahas dalam satu buku tersendiri.

Setelah saya cari-cari dan diskusikan dengan beberapa teman (di dalam maupun di luar penerbit), akhirnya Penerbit Grasindo sampai pada kesimpulan, orang yang tepat dan pas membicarakan Rendra dan karyanya adalah Bakdi Soemanto. Mengapa? Pertama, Bakdi Soemanto pernah aktif di Bengkel Teater; jadi, ia pasti banyak mengenal dan mengetahui Rendra dan kepengarangannya. Kedua, Bakdi Soemanto banyak menulis tentang Rendra. Ketiga, Bakdi Soemanto adalah seorang akademisi, yakni dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Keempat, secara kebetulan, Bakdi Soemanto dan Rendra sama-sama “wong Solo”.

Buku Rendra: Karya dan Dunianya dirancang, diproses, dan terbit ketika Rendra sudah bermukim di Depok, Jawa Barat. Jadi, saya tidak wajib mengunjungi Rendra karena penulis buku adalah Bakdi Soemanto, yang bermukim di Yogyakarta. Saya cuma berkorespondensi dan ber-esemes (= SMS) ria dengan Bakdi Soemanto. Jika kebetulan sedang bertugas ke Yogyakarta, saya sempatkan sowan ke rumah Bakdi Soemanto di Jalan Podang, Demangan Baru.

Untuk buku Bakdi Soemanto ini, saya cuma bertindak sebagai editor penerbit yang menangani naskah di penerbit. Boleh dikata, dibandingkan dengan Mempertimbangkan Tradisi, tugas saya kali ini lebih ringan. Saya hanya perlu menguber-uber Bakdi Soemanto agar naskah tentang Rendra cepat diselesaikan. Selain itu, saya pun harus mengingatkan Bakdi Soemanto setiap bulan agar batas waktu penyerahan naskah tidak molor sehingga jadwal terbit buku tidak ikut molor.

Teknologi komputer ternyata sangat membantu editor di penerbit. Sesudah menerima naskah Bakdi Soemanto (dalam bentuk print-out dan disket), saya kemudian melakukan penyuntingan naskah di layar komputer. Sesudah disunting, naskah dicetak lagi. Bersama disket, naskah-cetak komputer itu saya teruskan ke bagian pracetak/produksi untuk dibuatkan cetak cobanya (pruf). Kesalahan pada pruf-1 diperbaiki pada pruf-2, dan seterusnya, sampai naskah “bersih” dan siap cetak (clean copy).

Dibandingkan dengan penanganan naskah Mempertimbangkan Tradisi tahun 1983, saya merasa penanganan naskah Rendra: Karya dan Dunianya tahun 2003 lebih ringan. Mengapa? Proses komputer tidak ada pada naskah Mempertimbangkan Tradisi. Jadi, naskah Mempertimbangkan Tradisi yang sudah ditik ulang harus saya baca dari A sampai Z. Kalau ada salah tik atau kesalahan lain harus saya koreksi langsung pada halaman-halaman bersangkutan. Naskah yang penuh dengan coretan-coretan itulah yang diteruskan ke bagian produksi dan selanjutnya diteruskan lagi ke percetakan. Di percetakan, seorang seter membuat cetak coba (pruf) dengan membaca naskah yang dicorat-coret tadi. Bayangkan betapa mumet-nya si seter! Cara semacam ini pastilah sangat membuka peluang untuk terjadinya banyak kesalahan pada pruf-1. Banyak kesalahan berarti diperlukan banyak waktu untuk mengoreksinya (di penerbit) dan banyak waktu pula bagi percetakan guna memperbaikinya pada pruf-2, pruf-3, dan seterusnya. Semua itu pada akhirnya akan membuat buku terbit lebih lama.

Itulah sebabnya proses penerbitan Mempertimbangkan Tradisi lebih lama dibandingkan dengan proses penerbitan buku Rendra: Karya dan Dunianya.

Tak ada masalah berarti dalam proses penulisan buku Bakdi Soemanto ini. Namun, dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM ini mengalami sedikit kesulitan “sebab tidak semua karya Rendra dibukukan, terutama drama yang ditulisnya pada saat ia masih duduk di SLTP dan SMU” (hlm. x).

Masalah lain muncul ketika Bakdi Soemanto hendak akan membicarakan cerpen-cerpen Rendra yang dihimpun dalam Ia Sudah Bertualang. Buku terbitan NV Nusantara tahun 1963 (97 halaman; format 12,5 x 18 cm; kulit depan dirancang oleh Motinggo Boesje) ini tak dimiliki Bakdi Soemanto. Buku yang memuat 9 cerpen ini memang sudah lama menjadi “buku langka” (alias “hilang” dari pasaran) karena tidak lagi dicetak ulang meski kumpulan cerpen ini menurut Bakdi “ …sungguh-sungguh bermutu tinggi. Semua cerita pendek yang jumlahnya sembilan judul itu memiliki bobotnya sendiri-sendiri yang menarik” (hlm. 182).

Untunglah kumpulan cerpen Ia Sudah Bertualang masih tersimpan rapi di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dengan bantuan Oyon Sofyan, saya mendapatkan fotokopi buku yang telah berusia 40 tahun (pada tahun 2003) itu. Fotokopi itulah kemudian yang saya teruskan kepada Bakdi Soemanto di Yogyakarta.

Bakdi Soemanto tergolong pengarang yang kooperatif. Ia menyerahkan sepenuhnya pengoreksian pruf-1 kepada penerbit. Dengan demikian, buku Rendra: Karya dan Dunianya bisa cepat terbit.

Setelah membahas keseluruhan karya Rendra (drama/teater, sajak, dan kumpulan cerpen), Bakdi Soemanto akhirnya sampai pada kesimpulan ini. “Sebagai penyair, pembaca sajak, penulis lakon, aktor, dan penulis esai, Rendra selalu menempatkan diri berada di tengah persoalan manusia. Ia sendiri merumuskannya sebagai manjing ing sajroning kahanan atau selalu berada dalam situasi yang sedang aktual. Hal ini sudah ia pelajari semasa kecil. Inilah salah satu kunci memahami Rendra dan karya-karyanya” (hlm. 200).

Penutup

Saya tak tahu, apakah masih akan menangani buku Rendra (atau mengenai Rendra) pada masa mendatang. Siklus di atas menunjukkan, saya menangani buku Rendra sekali 20 tahun.

Saya masih bermimpi, suatu saat akan menangani sajak-sajak Rendra. Sayangnya, semua sajak-sajak Rendra sudah di penerbit lain. Ballada Orang-Orang Tercinta, Empat Kumpulan Sajak, Blues untuk Bonnie, Sajak-Sajak Sepatu Tua, Potret Pembangunan dalam Puisi, dan Disebabkan oleh Angin sudah di Pustaka Jaya, Jakarta. Orang-Orang Rangkasbitung di Bentang, Yogyakarta. Perjalanan Bu Aminah dan Mencari Bapa di Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Ah, jangan-jangan saya memang cuma bermimpi.


Pamusuk Eneste (Foto johnherf) Saya berterima kasih kepada Sdr. Djony Herfan atas masukan yang diberikannya terhadap tulisan ini.

Ketika tulisan ini saya buat, saya seperti disadarkan, satu buku untuk membicarakan keseluruhan karya Rendra ternyata tidak cukup. Barangkali diperlukan banyak buku mengenai Rendra: buku yang khusus membicarakan sajak-sajaknya, buku tentang drama-dramanya (termasuk drama-drama terjemahan), buku mengenai cerpen-cerpennya, buku mengenai Bengkel Teater dan pementasan, buku tentang pembacaan puisi, dan buku mengenai pemikiran.

Tulisan ini dibuat untuk memperingati WS Rendra dalam “70 Tahun Rendra: Hadir dan Mengalir”, 280 halaman, berisi pengakuan dan kesaksian 56 tokoh tentang Rendra plus Biografi Rendra http://www.burungmerak.com seratus ribu rupiah. Buku ini dapat dipesan melalui Dwi Klik Santosa wisanggeni_timur@yahoo.com, HP +62856 8188627.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: