Meneropong Buku Teks Mahasiswa

Posted on 26 Februari 2008. Filed under: Percik Pengalaman |

Buku teks untuk anak TK, murid SD, siswa SMP dan SMA, serta untuk mahasiswa perguruan tinggi memiliki kekhasan. Kalau buku pelajaran untuk murid SD atau siswa SMP dan SMA biasanya dicetak puluhan ribu eksemplar, maka buku teks untuk mahasiswa biasanya hanya dicetak dengan oplah tiga ribu eksemplar setiap cetak. Selain itu, buku pelajaran dapat digunakan di sekolah mana pun di Indonesia. Namun, buku teks mahasiswa biasanya digunakan di lingkungan terbatas. Bagaimana meneropong buku teks mahasiswa berdasarkan syarat yang dapat diterbitkan, kelemahan naskah yang masuk ke penerbit, proses penerbitan buku, pemasaran, kontrak, royalti, dan harga buku?

Pada tahun 70-an, buku teks di Universitas Indonesia (UI) misalnya bisa digunakan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Begitu pula sebaliknya. Buku Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi atau Sosiologi Suatu Pengantar oleh Soerjono Soekanto pada tahun 70-an digunakan di UI dan UGM. Penyebabnya pada saat itu pakar atau ahli disiplin ilmu tertentu masih sedikit. Seorang ahli di UI masih diakui di UGM. Demikian juga sebaliknya.

SintaksiS Akan tetapi, sekarang tidak lagi begitu. Ada kecenderungan, buku yang digunakan di UI tidak digunakan di UGM. Begitu pula sebaliknya. Demikian pula dengan buku Morfologi dan Sintaksis oleh Jos Daniel Parera dari Universitas Nasional Jakarta sudah didampingi atau disaingi dengan buku Morfologi dan buku Sintaksis oleh Prof. Dr. E. Zaenal Arifin dari Universitas Trisakti atau Universitas Mercubuana. Buku-buku lain pun demikian. Meski isi pernyataan yang disampaikan mempunyai perbedaan mendasar, tetaplah pembaca tak begitu mempedulikan, apalagi dosen yang bersangkutan mewajibkan bukunya. Hal ini terjadi karena semakin banyak pakar atau ahli dari berbagai disiplin ilmu. Para pakar tidak hanya ada di satu universitas, tetapi juga ada di beberapa universitas. Selain itu, kini tiap dosen memiliki hak otonom untuk menentukan buku yang digunakan. Pada prinsipnya, tiap universitas ingin menggunakan buku yang ditulis oleh dosen universitas yang bersangkutan.

Bagi penerbit buku teks, keadaan semacam ini merupakan tantangan. Pasar buku teks untuk penerbit terbuka luas karena tiap universitas ingin menggunakan buku yang ditulis dosen universitas bersangkutan. Penerbit bisa menerbitkan buku untuk setiap universitas. Selain itu, satu penerbit melayani semua universitas, entah di Jakarta, entah di Indonesia untuk menerbitkan buku teks.

Atas dasar itu, agar naskah buku teks dapat diterbitkan ada tiga persyaratan: (a) memenuhi syarat secara teknis, (b) buku digunakan di dalam perkuliahan oleh dosen yang menulis buku, dan (c) jumlah mahasiswa pemakai buku cukup signifikan.

Naskah buku teks yang dapat diterbitkan memenuhi syarat teknis, seperti unsur-unsur kelengkapan naskah terpenuhi, mulai dari halaman judul (cover depan) hingga halaman terakhir (biografi singkat). Buku teks itu digunakan oleh penulis bersangkutan untuk mata kuliah yang diampu di universitas tempat ia mengajar. Lebih bagus lagi kalau dosen-penulis itu mengajar di beberapa universitas. Jadi, pasar buku itu lebih luas.

Jumlah mahasiswa yang menggunakan buku sigifnikan. Jika jumlah mahasiswa si dosen-penulis kurang, maka ia bisa bekerja sama dengan dosen lain agar menggunakan buku teks tersebut. Bisa juga dengan minta bantuan teman dosen yang belum menulis buku untuk mata kuliah yang sama agar menggunakan buku teks tersebut dalam perkuliahan.

Kelemahan naskah dari dosen terletak pada (a) kelengkapan naskah, (b) sistematika bab, dan (c) penyajian. Adakalanya penulis menyerahkan naskah ke penerbit tanpa daftar isi, tanpa judul bab, tanpa daftar pustaka, atau tanpa biografi singkat. Padahal, unsur-unsur ini wajib ada dalam naskah. Sering pula lampiran yang diperlukan tak disertakan; baru disertakan setelah editor penerbit menyarankan atau memintanya. Bukan hanya itu, sekiranya ada daftar isi seringkali masih berupa teks saja. Tanpa nomor subbab dan sub-subbab. Demikian pula di dalam naskah. Tidak ditemukan penomoran subbab dan sub-subbab sehingga menyulitkan editor. Kedua kelemahan ini timbul karena ketidaktahuan penulis atas kelengkapan buku atau ketidaktahuan penulis atas tuntutan penerbit. Kelemahan yang lain soal penyajian, khususnya yang menyangkut kebahasaan. Kelemahan ini bukan hanya berkaitan dengan ejaan, seperti tanda-tanda baca, penulisan kata, huruf kapital, melainkan juga huruf miring dan tata bahasa, seperti kata baku, perincian, dan tata kalimat. Kelemahan ini kentara sekali bagi pemula. Oleh karena itu, perlu diselenggarakan pelatihan khusus bagi calon penulis buku teks, terutama bagi pemula. Dengan demikian, kelemahan pada draft buku teks bisa diatasi.

Waktu yang diperlukan guna memproses naskah menjadi buku sangat bergantung pada dua hal, yaitu (a) tebal naskah dan (b) kematangan naskah. Makin tebal sebuah naskah, makin lama pengerjaan, seperti proses penyuntingan, pracetak, pencetakan. Makin matang naskah dari penulis, makin cepat terbit sebagai buku. Naskah tipis atau sedang dan matang rata-rata bisa terbit dalam tempo 3—6 bulan. Naskah tebal dan kurang matang rata-rata terbit dalam tempo 6—9 bulan. Waktu yang dibutuhkan ini masih di luar waktu untuk koreksi pruf-1 dari penulis yang lazimnya berkisar antara tujuh hari sampai 14 hari. Jika pruf-1 lama dikembalikan penulis kepada penerbit, tentu saja dapat menambah lama waktu terbit buku tersebut.

Selain dipasarkan di toko-toko buku, penerbit mengharapkan peran aktif penulis buku untuk memasarkan/mempromosikan buku melalui perkuliahan dan seminar. Dengan demikian, buku cepat mengalami cetak ulang. Namun, selama ini ada kecenderungan, dosen-penulis atau penulis-dosen enggan memasarkan buku. Padahal, ia ingin mendapatkan royalti yang tinggi. Pada tahun 70-an penulis bisa berleha-leha hanya menunggu royalti dari penerbit. Sekarang pada tahun 2000-an penuls wajib aktif mempromosikan dan memasarkan buku karangannya.

Sebelum buku dicetak, penulis menandatangani surat perjanjian penerbitan atau kontrak. Royalti yang diterima penulis sepuluh persen dari harga jual dipotong pajak (15%). Royalti dibayarkan sekali enam bulan atau per semester (Januari dan Juli). Kalau penulis membeli buku mendapat diskon 20% dari harga jual. Harga jual buku ditentukan oleh penerbit. Harga ini bergantung pada oplah, kertas isi buku (HVS/HVO/koran), dan kertas berwarna atau tidak berwarna.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: