Biopori sebagai Peresap Air yang Mengatasi Banjir dan Sampah

Posted on 21 Februari 2008. Filed under: Advertorial |

Lubang resapan Biopori, begitulah namanya. Saat ini Biopori menjadi populer berkat jasa baik Kamir S. Brata yang menerapkan teknologi tepat guna untuk mengatasi banjir dan sampah, memelihara kelestarian air bawah tanah.

clip_image003

Ir. Kamir R. Brata, M.Sc., staf konservasi tanah dan air Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor menjelaskan lubang resapan biopori atau LRB adalah lubang silindris yang dibuat ke dalam tanah dengan diameter sepuluh sampai dengan tiga puluh sentimeter. Pada leaflet Biopori dijelaskan, kedalamannya sekitar seratus sentimeter atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi sampah organik untuk mendorong terbentuknya biopori. Biopori adalah pori berbentuk liang (terowongan kecil) yang dibentuk oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman.

Gubernur Jawa Barat seperti tampak pada dokumentasi foto tengah membuat LRB yang berfungsi sebagai teknologi tepat guna ramah lingkungan untuk meningkatkan laju peresapan air hujan dan memanfaatkan sampah organik ke dalam tanah.

Sepuluh manfaat LRB

(1) memelihara cadangan air tanah, (2) mencegah terjadi keamblesan (subsidence) dan keretakan tanah, (3) menghambat intrusi air laut, (4 )mengubah sampah organik menjadi kompos, (5) meningkatkan kesuburan tanah, (6) menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah, (7) mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya genangan air seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah, (8) mengurangi masalah pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan (9) mengurang emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), (10) serta mengurangi banjir, longsor, dan kekeringan.

Contoh lokasi pembuatan LRB

LRB dapat dibuat di dasar saluran yang semula dibuat untuk membuang air hujan (foto pertama kiri), di dasar alur yang dibuat sekeliling batang pohon (foto 2 di tengah) atau batas taman (foto 3 kanan).

clip_image007

clip_image009

clip_image011

Cara membuat LRB

1. Buat lubang silindris ke dalam tanah dengan diameter sepuluh sentimeter, kedalaman sekitar seratus sentimeter atau tidak melampaui kedalaman air tanah pada dasar saluran atau alur yang telah dibuat. Jarak antarlubang 50–100 cm.

2. Mulut lubang dapat diperkuat dengan adukan semen selebar dua sampai dengan tiga sentimeter, setebal dua sentimeter di sekeliling mulut lubang.

3. Segera isi lubang LRB dengan sampah organik yang berasal dari sisa tanaman yang dihasilkan dari dedaunan pohon, pangkasan rumput dari halaman atau sampah dapur.

4. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang menyusut karena proses pelapukan.

5. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang.

Setelah pembuatan LRB, jumlah LRB yang perlu dibuat berkaitan dengan banyaknya lubang yang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut ini.

Jumlah LRB

Intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap (m2)

Laju Peresapan Air per Lubang (liter/jam)

Sebagai contoh untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air per lubang tiga liter per menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap, perlu dibuat sebanyak (50 x 100): 180 = 28 lubang.

Bila lubang yang dibuat berdiameter sepuluh sentimeter kedalaman seratus sentimeter, setiap lubang dapat menampung 7,8 liter sampah organik. Itu artinya tiap lubang dapat diisi sampah organik dapur dua sampai dengan tiga hari. Dengan demikian, 28 lubang baru dapat dipenuhi sampah organik yang dihasilkan selama 56-–84 hari (dalam kurun waktu tersebut lubang perlu diisi kembali).

Biaya yang dikeluarkan

Pembuatan LRB dipermudah dengan alat bor tanah. Desainnya disesuaikan untuk kegunaan peresapan air yang memakai pendekatan Biopori. Alat bor LRB juga diperlukan untuk mempermudah pemanenan kompos yang terbentuk bersamaan dengan pemeliharaan LRB.

Bila satu lubang LRB dapat dibuat dalam waktu sepuluh menit, tiap rumah tangga perlu membuat 30 LRB. Itu artinya pekerjaan selesai dalam waktu 300 menit (lima jam). Jadi, perlu sehari per orang kerja (Rp 35 000,-).

Bila setiap rumah tangga ingin memiliki bor LRB dengan harga bor Rp175.000,00-–Rp200.000,00), maka diperlukan biaya (Rp205 000,00–Rp235 000,00). Biaya itu dapat berkurang bila satu bor tanah dimiliki bersama oleh beberapa orang.

clip_image005Tim Biopori IPB

Bagian Konservasi Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Telepon 0251 422321, Faksimile 0251 629358. Situs web http://www.biopori.com. Imel sekretariat@biopori.com. Bagi peminat bor LRB dapat menghubungi Ir Wahyu Purwakusuma, MSc. HP 0817225172 atau 08561801919

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

10 Tanggapan to “Biopori sebagai Peresap Air yang Mengatasi Banjir dan Sampah”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

Saya sangat berkeinginan sekali dengan design bor lubang resapan biopori, bisa ngga saya mendapatkan designnya…????

untuk sumur resapan ini sy rasa bagus untk diterapkan, khususnya dikawasan yang berlangganan banjir.
dalam hal ini sy pikir untuk daerah dgn kondisi dataran yang rendah diperlukan banyak lubang untuk biopori. hal ini diseimbangkan dgn curah hujan yang tinggi.
atau mungkin bisa dibuat lubang biopori dgn diameter yang besar, sekiranya 2-3 meter.
namun demikian tanpa didukung oleh sistem drainasi maka curah hujan yang tinggi akan menyebabkan banyak air yang tergenang. berhubung dengan kondisi skrg dapat dilihat banyak rumah2 yg pekarangannya dicor semen. sehingga makin banyaknya air permukaan yang mengalir. sekian, thanks

Di mana bisa membeli bor biopori? Bagaimana caranya? Saya di Jepara, Jawa Tengah, kalau harus transfer bank, nomor rekeningnya berapa, atas nama siapa?

saya sangat tertarik dengan biopori, kebetulan sekarang saya sedang mengusulkan pembuatannya di daerah saya, Sunter Agung. Jakarta Utara.
bagaimana pendapat anda? karena saya juga masih belum paham bagaimana menentukan titik pengeboran & belum mendapatkan sekiranya yang dapat memberikan pen-sosialisasian ke warga?

Berapa lama waktu yg digunakan 1 LRB untuk mendekomposisikan sampah?

apakah bagian dari penanaman lubang biopori bisa berakibat pada kekuatan tanahh? takutnya tanah tidak akan kuat lagi jika dilubangi terus menerus..
buku yang ada referensi biopori apa ya, jika boleh tau,.. saya ada pelajaran seminar, jadi perlu,.. thx b4..

maaf saya masih awam,
tetapi di sekeliling masjid tempat kami dibuat LRB sedalam sekitar 50-100 cm. diatasnya ditutup teralis agar orang tidak kejeblos kalau terinjak.
Namun kedalam RLB tadi tidak diisi sampah organik.
Apakah bermanfaat tanpa sampah organik?

[…] BANJIR LEWAT LUBANG SERAPAN BIOPORI « NULES-NULES Inspirasi – Membuat Resapan Air Biopori « Biopori sebagai Peresap Air yang Mengatasi Banjir dan Sampah … B R O K E N E A R T H – Kamir R. Brata, Penemu Teknologi Biopori Jumadi’s Site – Teknologi […]

This was really useful for my PLBJ project.

ngomong-ngomong…pengembangan Lubang resapan Biopori di tahum 2012 nanti gmana ya,,,,daerah bandung kab… sring banjir tuh…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: