Proses Kreatif Penulis

Posted on 31 Januari 2008. Filed under: Percik Pengalaman |

This post was published to johnherf at 13:29:03 31/01/2008

Category Percik Pengalaman

Proses kreatif penulis sering muncul tak terduga. Ia melewati proses panjang. Mulai dari dorongan pertama untuk menulis, pengendapan ide, penggarapan, hingga akhirnya tercipta sebuah tulisan yang utuh dan siap dinikmati oleh pembaca. “Saya selalu digoda oleh pertanyaan-pertanyaan: ada apa sebenarnya di balik sebuah karya sastra? Bagaimana munculnya ide pada seorang pengarang? Bagaimana menggarap dan mengembangkan ide itu? Bagaimana proses terakhir (penyelesaian) sebelum karya itu dikirimkan ke salah satu media atau penerbit?” Demikian sejumlah pergumulan batin Pamusuk Eneste, 57 tahun yang terungkap ketika mempersoalkan proses kreatif penulis. Tulisan berjuluk “Aneh dan Tak Terduga” (Matabaca 17/2/06) berikut ini mengungkap proses kreatif kepengarangannya.

clip_image002


Aneh

Ketika masih kuliah di Fakultas Sastra UI, Rawamangun, Jakarta Timur, tahun 70-an, ada seorang kenalan saya (seorang mahasiswa juga) yang menurut teman-teman waktu itu dianggap “aneh”. Kenapa? Kenalan saya itu ternyata rajin sekali menghadiri pesta pernikahan yang diadakan di berbagai restoran Jakarta.

Apakah kenalan saya itu mengenal pengantin pria atau pengantin wanita yang pestanya dia datangi itu? Dengan kalem kenalan itu menjawab, “Tidak.”

“Lho, kok bisa?” tanya saya.

“Kenal atau tidak kenal, tidaklah penting,” kata kenalan itu. “Yang penting kita ‘pede’ saja. Ketika kita menyalami pengantin laki-laki, kita akan disangka orang adalah kerabat/kenalan pengantin wanita. Pengantin wanita pun sebaliknya: akan menyangka kita adalah kerabat/kenalan pengantin pria.”

“Jadi, no problem, tambahnya.

Aman. Ya, aman, asalkan kita “tebal muka” alias “muka badak”, pikir saya.

Diam-diam saya pun “kagum” pada kenalan itu.

Menurut kenalan saya itu, kita tidak mungkin diusir dari tempat pesta. Di pihak lain, kita bisa makan sekenyangnya dan sepuasnya. Gratis!

Adegan datang ke pesta pernikahan dan dialog yang mirip dengan dialog di atas kemudian muncul dalam cerpen saya “Wolfgang Kipkop”.

Dalam cerpen ini, kenalan itu saya jadikan tokoh utama. Tentu nama sesungguhnya tidak saya pasang; nama kenalan itu saya samarkan menjadi Wolfgang Kipkop.

Kalau hanya peristiwa datang ke pesta pernikahan, pastilah cerpen itu kurang seru. Jadi, perlu ditambahkan “bumbu penyedap” agar cerpen itu lebih “enak”.

Kebetulan, ada kenalan lain yang menarik perhatian saya ketika tinggal di Hamburg, Jerman, tahun 1978–1981. Kenalan saya itu orang Indonesia, yang kalau mengobrol senang menyebut-nyebut “nama besar” dalam percakapan. Setiap mengobrol dengan dia, kenalan itu pasti menyebut sejumlah “nama besar” (orang Indonesia) yang

— katanya – dia kenal.

Watak tokoh terakhir ini saya gabungkan ke dalam tokoh fiktif Wolfgang Kipkop di atas. Selebihnya adalah imajinasi saya.

Cerpen “Wolfgang Kipkop” pertama kali dimuat di majalah Horison tahun 1980 dan dimuat kembali dalam kumpulan cerpen saya yang pertama, Orang-Orang Terasing (Gunung Agung, 1984).

Di Sekitar Kita

Saya sangat tertarik dengan tokoh-tokoh “aneh” atau unik dalam kehidupan ini. Tokoh-tokoh seperti itulah yang banyak saya abadikan dalam cerpen-cerpen saya.

Tanpa kita sadari, sebetulnya banyak watak/tokoh “aneh” di sekitar kita. Mungkin saja tokoh itu orang yang dekat dengan kita: suami kita, istri kita, anak kita, tetangga kita, saudara kita, kakak/adik kita, keponakan kita, teman kelas, teman kuliah, atau bahkan teman sekantor kita. Setelah dipoles di sana-sini, kita tinggal memindahkannya ke dalam cerpen, karya fiktif.

Kadang-kadang saya pun sampai pada kesimpulan: setiap orang sebetulnya “aneh” bagi orang lain. Yang biasa bagi seseorang, boleh jadi “aneh” bagi orang lain. Sebaliknya pun begitu: yang biasa bagi orang lain, ternyata “aneh” bagi kita.

Itu pula sebabnya, saya senang memilih nama-nama yang tak lazim sebagai tokoh-tokoh cerpen saya. Misalnya, tokoh “Grisbah”, “Biberkop”, “Jimi Pendolix”, “Cikitita”, “Gimbel”, “Isabel Blumenkol”, dan “Pedro Padrone”. Nama-nama tokoh ini sekaligus saya jadikan judul-judul cerpen dalam kumpulan cerpen saya yang kedua, Isabel Blumenkol (Gunung Agung, 1986).

clip_image004

Tak Terduga

Selain dipenuhi banyak “keanehan”, dalam kehidupan ini pun sangat banyak hal tak terduga. Bayangkan. Tiba-tiba saja si X yang tak sakit apa-apa meninggal dunia. Orang yang tadinya bodoh dan tidak pintar di sekolah, tahu-tahu menjadi pejabat penting atau menjadi orang kaya. Orang yang tadinya akrab berpacaran, tahu-tahu bubar. Sebaliknya, orang yang tadinya tidak berpacaran, dalam waktu singkat, tahu-tahu menjadi suami istri yang rukun dan damai.

Mau contoh kongkret? Ingatlah Syah Iran, Reza Pahlevi. Siapa sangka dia akan tersingkir dari singgasana kekuasaan tahun 1979? Siapa sangka Presiden Rumania, Nicolae Ceausescu akan dibantai oleh rakyatnya sendiri di ujung tahun 80-an? Siapa sangka Arswendo Atmowiloto akan tersandung pada awal tahun 90-an hanya karena sebuah angket di tabloid Monitor? Siapa sangka Presiden Soeharto akan dilengserkan bulan Mei 1998?

Pendek kata, banyak hal dalam kehidupan yang serba-tak-terprediksi. Betapa sering, misalnya, kita bertemu dengan seseorang yang tidak kita kenal dan barangkali juga tak kita sukai. Namun, dengan apa boleh buat, kita “terpaksa” bertemu dengan orang itu. Itulah yang dialami tokoh Aku dan tokoh Jenderal Gantole dalam cerpen “Jenderal Gantole” (dimuat dalam Orang-Orang Terasing, 1984). Tokoh Aku – tanpa dimauinya — selalu saja bertemu dengan Jenderal Gantole: di bemo, di bus antarkota, di bioskop, dan di mana saja …

Ketakterdugaan juga berlaku bagi Bildog, tokoh utama cerpen “Bildog”. Tanpa tahu apa-apa, tokoh Bildog dituduh polisi membunuh wanita bernama Greis. Bildog diminta (lebih tepat: dipaksa) oleh polisi untuk mengaku bahwa ia telah membunuh Greis. Namun, Bildog bersikukuh bahwa ia tak membunuh Greis. Bildog merasa dipojokkan! Namun, ia tak berdaya dan akhirnya harus mendekam di sel polisi dan … tidak pernah kembali ke apartemennya. Cerpen ini dimuat di harian Kompas tahun 1982, kemudian dimuat kembali dalam Orang-Orang Terasing (1984).

Empat Buku

Ada dua cerpen saya yang diterjemahkan ke bahasa Inggris, yaitu “Sang Kritikus” dan “Jenderal-Jenderal”; keduanya pernah dimuat dalam majalah Horison, Februari 1980.

Keduanya diterjemahkan oleh David T. Hill, pengajar di Universitas Murdoch, Perth, Australia. Kedua cerpen dalam versi Inggris mula-mula dimuat dalam majalah Tenggara (No. 39/1997), kemudian dimuat pula dalam buku Beyond the Horizon: Short Stories from Contemporary Indonesia (Clayton, Victoria: Monash Asia Institute, 1998) dengan editor David T. Hill.

Sampai sekarang, saya tak mengerti, mengapa kedua cerpen itu dipilih David T. Hill untuk diterjemahkan.

Kedua cerpen itu (versi Indonesia) dimuat dalam kumpulan cerpen saya yang keempat, Jenderal-Jenderal yang diterbitkan Indonesia Tera (2001). Ada sedikit catatan mengenai kumpulan cerpen ini.

Sebetulnya, kumpulan ini sudah saya siapkan tahun 1994 dan juga sudah diberi kata pengantar oleh H.B. Jassin. Namun, entah kenapa, cerpen ini belum juga saya serahkan ke penerbit sebelum tahun 1998. Itulah sebabnya, kumpulan ini baru terbit setelah tahun 1998, setelah “era reformasi”. Sayang, H.B. Jassin tak sempat menyaksikannya terbit karena beliau wafat 11 Maret 2000.

Kumpulan cerpen saya sampai sekarang baru empat buah, yaitu Orang-Orang Terasing (1984), Isabel Blumenkol (1986), Tuan Gendrik (1993), dan Jenderal-Jenderal (2001). Meski begitu, saya tetap merasa belum berbuat apa-apa. Memulai menulis cerpen tetap saja susah bagi saya … sampai sekarang!

clip_image006

“Penghamilan”

Saya sering merasa iri pada Putu Wijaya yang – kelihatannya — bisa mencerpenkan apa saja. Meski saya katakan banyak yang “aneh” dan tak terprediksi dalam kehidupan ini, saya tak bisa setiap saat menulis cerpen.

Saya ingat cerpenis Wildan Yatim, yang membutuhkan masa “penghamilan” untuk menulis cerpen (lihat Proses Kreatif, Gramedia, 1982, hlm. 104). Saya merasa, saya pun mengalami hal serupa. Kalau ada ide untuk menulis cerpen, saya masih perlu mengendapkannya selama beberapa waktu. Setelah masa pengendapannya cukup, barulah tiba saatnya duduk di depan mesin tik (tahun 70-an dan 80-an) atau komputer.

Putu Wijaya konon bisa menulis cerpen “sekali jadi” dan tak pernah membaca cerpen yang sudah dia tulis. Kata Putu, “Jarang sekali saya menulis dengan persiapan sempurna, apalagi dengan membuat kerangka. Saya pun tak pernah menulis dua kali. Dengan kata lain, sekali tancap jadi. Kalau macet, saya simpan. Satu ketika nanti saya baca kembali, lalu saya lanjutkan. Mengetik ulang jarang sekali” (lihat Proses Kreatif, Gramedia, 1982, hlm. 167).

Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan satu cerpen. Biasanya saya perlu 2–3 hari guna menyelesaikan satu cerpen. Itu kalau lagi lancar. Kalau tidak lancar, bisa satu minggu, bisa juga satu bulan. Semua tergantung dari suasana hati.

Cerpen yang sudah jadi masih saya baca beberapa kali. Saya koreksi. Saya perbaiki dengan mesin tik atau komputer. Sampai akhirnya saya merasa mantap dan siap mengirimkannya ke media cetak.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

7 Tanggapan to “Proses Kreatif Penulis”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

sa;am kenal dari saya…saya seorang mahasiswa yang senang menulis cerpen,tapi terkadang saya sering mengalami kebuntuan dalam membuatnya…tolong beri saya saran apa yang harus saya lakukan bila sedang mengalami hal tersebut…ini e-mail saya bekti.vanvries@yahoo.com..trim’s

menulis cerpen itu gampang. Ceritanya pendek, masalahnya pendek, halamannya pun pendek. Oleh karena itu, namanya cerita pendek. Cerita pendek menjadi luas dan berkembang luas, dengan permasalahan yang semakin kompleks kalau Bekti melanjutkan cerita menjadi panjang. Namanya novel. Nah, novel menjadi sulit karena ceritanya panjang, permasalahannya kompleks, halaman tulisannya pun menjadi semakin panjang.

Atas dasar itu, kalau Bekti mengalami kebuntuan lagi bercerita. Sarannya lakukan pentahapan cerita, tulis poin-poin penting apa saja yang mau Bekti sampaikan, penokohan perlu Bekti pertajam, perdalam, dan perlukah tokoh itu muncul.

Terakhir yang tidak kalah penting berkaitan dengan untuk apa Bekti menulis cerpen, siapa pembaca cerpen Bekti kelak, di mana peristiwa dalam cerpen itu terjadi, kapan terjadi, kenapa Bekti menulis cerpen, kenapa muncul cerpen itu, bagaimana teknik penulisan. Lantas, media manakah yang akan Bekti kirimi untuk memuat cerpen.

terima kasih mas atas saran-sarannya…sekarang cerpen saya sudah jadi dan saya sedang membuat cerpen yang baru lagi…mas boleh gak minta trik-trik agar cerpen saya diterima di media? terima kasih….

[…] terasing karya Pamusuk Eneste adalah salah […]

blognya menarik…🙂

Omong2, ini tulisan dari Bung Pamusuk Eneste sendiri??

ehemm, boleh atuh idenya. thanx,

minta cerpen bildog donk


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: