Pak Harto Wafat

Posted on 28 Januari 2008. Filed under: Album |

Liputan media seperti Media Indonesia dalam “Berita Utama” dan “Editorial” jadi menarik untuk mengenang kembali Jenderal Soeharto. Keunikan koran ini selalu menuliskan Soeharto dengan sebutan takzim Pak Harto, persis seperti yang tertera pada teks Metro TV dan yang dilisankan oleh pembaca berita atau pembawa acara. Padahal, koran Kompas menulis judul utama “Warisan Soeharto” dan koran Tempo “Dia Telah Pergi: Soeharto (8 Juni 1921–27 Januari 2008). Berikut ini teks yang penting untuk disampaikan dari Media Indonesia (Senin 28/1/08).

Pak Harto Berpulang (8 Juni 1921–27 Januari 2008)

JAKARTA (MI): Bangsa Indonesia berkabung. Pak Harto, mantan presiden kedua Republik ini, wafat pada pukul 13.10 WIB kemarin di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta dalam usia menjelang 87 tahun. Ia wafat karena gagal multiorgan setelah dirawat selama 24 hari. ….

Foto: Media Indonesia/Agung Wibowo

PAK HARTO (8 Juni 1921–27 Januari 2008) telah berpulang.

Suara Para Pengganti

Pak Harto merupakan anugerah Tuhan YME kepada bangsa Indonesia, anugerah yang telah mengalami bentukan oleh rakyat dan oleh sejarah, baik sejarah perjuangan nasional Rakyat Indonesia sendiri maupun sejarah regional dan sejarah dunia.

Pak Harto pandai menyerap masukan-masukan dari rakyat dan sejarah, karena di samping sifat-sifat pribadi lainnya, beliau orang yang sangat manusiawi dan memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi sehingga selalu mampu memberi respons getaran lingkungannya. (BJ Habibie, Presiden ke-3, 21 Mei 1998–20 Oktober 1999)

Kita jangan melupakan tiga jasa besar Pak Harto bagi negeri ini.

Pertama, dia mengajak bangsa kita untuk memperhitungkan segala sesuatu. Jasa kedua, Pak Harto selalu merencanakan segala sesuatu.

Pak Harto membuat rencana pembangunan yang bertahap sehingga bisa memperhitungkan target dan strategi. Pemerintahan yang sekarang enggak ada yang begitu.

Jasa ketiga adalah pemerintahan HM Soeharto berorientasi kepada rakyat kecil. (Abdurahman Wahid, Presiden ke-4, 20 Oktober 1999–23 Juli 2001)

Pak Harto berpesan agar saya menjaga NKRI dan Pancasila. Sebagai pesan dari orang tua, saya dan PDIP berkomitmen menjalankan apa yang dititipkan itu.

Selain itu, bangsa Indonesia juga harus memberikan penghargaan kepada pemimpin yang pernah berjasa bagi bangsa ini.

Ketika Pak Harto memimpin, mungkin ada salah. Tapi, segala kesalahan yang pernah dibuat harus dimaafkan. Jangan sampai ada dendam sedikit pun kepada Pak Harto.

Hal yang terpenting lainnya adalah hubungan silaturahim antara keluarga Bung Karno dan Pak Harto sangat baik. (Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5, 23 Juli–20 Oktober 2004)

Hari ini semua berduka dengan wafatnya Pak Harto. Atas nama negara, rakyat, pemerintah, dan selaku pribadi saya mengucapkan belasungkawa.

Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mendoakan almarhum agar diterima di sisi Tuhan Yang Mahakuasa Allah SWT sesuai dengan pengabdian jasa dan amal baktinya.

Saya mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada salah satu putra terbaik bangsa yang amat besar jasa-jasanya bagi negeri tercinta. (Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6, 20 Oktober 2004–sekarang)

Selamat Jalan Pak Harto

SETELAH dirawat intensif 24 hari, Pak Harto akhirnya tutup usia. Ia wafat pada usia menjelang 87 tahun. Ia pergi selamanya dengan duka panjang dan derita yang dalam.

Duka yang panjang karena Pak Harto wafat dengan status hukum mengambang. Ia tidak pernah divonis bersalah oleh pengadilan, tetapi nama baik dan nama besarnya pun tidak pernah dipulihkan yang berkuasa hingga ia mengembuskan napas terakhir.

Derita yang dalam bukan saja karena ia mengidap komplikasi penyakit dan karenanya keluar masuk rumah sakit berkali-kali. Derita yang dalam itu karena ia pun mesti menyaksikan rasa ‘sakit’ yang lain, di antaranya anaknya, Tommy Soeharto, masuk penjara.

Itulah nasib yang dialami seorang tokoh besar yang pernah memimpin negara ini selama (tepatnya) 31 tahun. Tokoh besar yang menjadi presiden kedua Republik ini, yang diberi gelar Bapak Pembangunan, dan dinobatkan sebagai jenderal besar.

Namun, semuanya itu seketika lenyap. Semua keberhasilannya memimpin negara ini seketika runtuh dihajar reformasi. Semua jasanya pupus ditelan hujatan.

Akan tetapi, seiring dengan perjalanan waktu, perlahan bersemi kembali penilaian yang seimbang dan proporsional. Presiden telah berganti empat kali setelah Pak Harto dijatuhkan dari kekuasaannya dan rakyat kecil dapat membandingkan kehidupan mereka di bawah tiap presiden. Manakah yang lebih mudah hidup, di masa Pak Harto, ataukah masa sesudahnya, yaitu masa Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY sekarang?

Jawabnya, semakin banyak rakyat yang kembali menyuarakan bahwa lebih mudah hidup di masa Pak Harto. Itulah penilaian yang berangkat dari mahalnya harga beras, seringnya antre minyak tanah, langkanya minyak goreng, meroketnya harga kedelai, dan hingga untuk makan tempe pun rakyat mengalami kesulitan.

Dengan jujur harus dikatakan masa Orde Baru merupakan masa stabilitas politik yang terlama dengan pertumbuhan ekonomi sangat mengesankan, yaitu rata-rata 7%. Itulah masa puskesmas dibangun, SD inpres didirikan, dan bahkan itulah era Republik Indonesia menjadi pemimpin kawasan Asia Tenggara yang disegani dan dihormati.

Setelah Pak Harto jatuh, rasa hormat itu masih dijunjung tinggi oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. Tiap kali datang ke Indonesia, kedua pemimpin itu selalu mengunjungi Pak Harto di kediamannya. Terakhir, keduanya datang khusus menjenguk Pak Harto yang sedang kritis di Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Tentu Pak Harto memiliki banyak kelemahan. Satu di antaranya yang terpokok adalah berkuasa terlalu lama. Ia tidak percaya kepada demokrasi dan tegaknya hukum tanpa pandang bulu. Ia mematikan checks and balances. Ia membiarkan bahkan memelihara korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Akan tetapi, sampai Pak Harto tutup usia, setelah presiden berganti berkali-kali, tidak seorang pun di antara kita yang berani mengatakan hukum telah tegak di negeri ini. Bahwa korupsi, kolusi, dan nepotisme telah lenyap dari Bumi Pertiwi. Sebaliknya, tidak berlebihan untuk mengatakan hukum semakin runtuh dan korupsi semakin merajalela ke daerah-daerah mengikuti prinsip otonomi dan desentralisasi.

Pak Harto telah meninggalkan kita. Ia pergi dengan mewariskan banyak hal, yang mengundang baik hujatan maupun kekaguman. Di antara yang mengagumkan ialah gayanya memimpin yang tenang, berani mengambil keputusan, dan penuh wibawa. Gaya memimpin yang menimbulkan rasa segan dan hormat.

Selamat jalan Pak Harto….

(Editorial Media Indonesia, 28/1/08)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: