Memahami Teknik Wawancara

Posted on 22 Januari 2008. Filed under: STAaDNSa | Tag: |

Perhatikan dengan saksama kutipan gaya wawancara berikut ini.
Wawancara Rachmawati Soekarnoputri:
”Kami Ingin Mahasiswa yang Kritis”

Dalam perjuangan mendirikan Universitas Bung Karno (UBK), Rachmawati Soekarnoputri rupanya tak kenal menyerah, apalagi putus asa. Setelah dua windu ia menunggu, impiannya terwujud juga. Wanita berputra tiga ini menuturkan berbagai pengalamannya—termasuk tiga kali gagal meluncurkan UBK—kepada Hardy R. Hermawan dari TEMPO (majalah).

Apa kegiatan Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) dan kapan berdirinya?
Kami berdiri sejak 1981, untuk pendidikan dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Sayang, tekanan politik yang besar membuat kegiatan itu tak bisa dilaksanakan.
Anda sebelumnya tidak merasa bahwa pendirian UBK pada 1983 akan dilarang oleh Soeharto?
Sebenarnya sudah merasa, tapi saya tidak mau berburuk sangka.
Anda tidak memprotes?
Saya tanya ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tapi tidak ada hasil. Sistem politiknya memang begitu. Mereka merasa cukup dengan menunjukkan surat yang menyatakan ada instruksi presiden yang melarang UBK.
Apa tujuan utama pendirian kampus UBK ini?
Sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 31 UUD 1945, di mana Bung Karno adalah salah seorang perumusnya, kami ingin turut serta mencerdaskan bangsa. Bagi kami, pendidikan adalah hak setiap rakyat. Semakin banyak lembaga pendidikan yang bisa menawarkan sesuatu yang bisa mencerdaskan, itu lebih baik. Karena itulah kami sejak 1983 berniat mendirikan UBK.
Mengapa memakai nama Bung Karno?
Beliau adalah bapak semua anak bangsa. Jangan lupa, beliau adalah seorang intelektual yang melahirkan ide-ide yang besar. Wajar jika kami ingin melestarikan dan mengembangkan ajaran-ajarannya yang besar itu melalui pendirian sebuah universitas yang menggunakan nama beliau. Bung Karno mendapatkan 26 gelar doktor kehormatan dalam tujuh disiplin ilmu dari 26 kampus di 19 negara di seluruh dunia. Kampus besar seperti Columbia University di New York, Michigan University, dan Al Azhar University di Mesir, serta semua kampus besar di Indonesia, mengakui kebesaran beliau.
Ajaran Bung Karno yang seperti apa?
Marhaenisme, nasionalisme, kemerdekaan dalam bidang politik, berdikari secara ekonomi, dan berkebudayaan nasional.
Anda yakin bahwa ajaran Bung Karno masih relevan untuk masa kini?
Ya, masih sangat relevan. Ajaran Bung Karno tentang pembentukan karakter bangsa itu perlu sekali untuk menegaskan identitas kita menghadapi globalisasi. Konsep berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) dalam hal ekonomi sudah jauh-jauh hari diajarkan Bung Karno sebelum ada yang meneriakkan ekonomi kerakyatan sekarang ini. Lalu, marhaenisme dibutuhkan untuk meningkatkan kepekaan sosial. Ajaran-ajaran Bung Karno itu universal.
Mahasiswa seperti apa yang Anda harapkan?
Yang kritis. Selain cerdas dalam ilmunya, dia juga punya kepekaan sosial dan bisa melakukan kontrol sosial terhadap pemerintah.

Memahami isi pernyataan pada teknik wawancara

j0422389 Isi wawancara itu mengungkapkan keinginan subjek (Rachmawati Soekarnoputri) yang belum  berhasil diwujudkan. Ini menjadi penting kita ketahui. Kenapa? Sebab kita juga mempunyai hasrat yang ingin diwujudkan. Ada cita-cita. Boleh jadi keinginan itu mirip dengan keinginan Rachmawati Soekarnoputri. Jika kemiripan dalam mewujudkan keinginan berhasil dipublikasikan maka kepuasan hati tercapai, baik dari subjek (Rachmawati Soekarnoputri) maupun pembacanya. Tujuan wawancara pun berhasil. Itulah kata kunci sebuah wawancara.Wawancara yang gagal mengakibatkan kekecewaan bagi pembaca karena kepentingannya tidak terpenuhi. Perhatikan, pewawancara yang berpengalaman, ia sering menutup perbincangan seperti jawaban Rachmawati Soekarnoputri. Yang penting, kata kunci bukan berarti kata pertama, melainkan sebagai kata penutup.

 

j0422375 Deskripsi wawancara yang memperhatikan kata penutup itu sesungguhnya kita sudah mengerti. Namun, teknik penulisannya belum semua pewawancara memahami. Jadi, siapkanlah kertas untuk mencatat, agenda mini atau bloknot: di manapun, kapan saja, dalam situasi apa pun, dan dalam keadaan bagaimanapun tidak enaknya. Boleh juga dilengkapi dengan alat perekam. Nah, siapa saja yang biasanya berhasil menjadi pewawancara selalu dimulai dengan mencatat, dengan memperhatikan masa lalu, saat ini, dan yang akan datang.

Akan tetapi, sebelum menemukan kata pertamanya, pewawancara bisa berminggu-minggu melakukan riset, mengamati subjek dari berbagai sisi, berbicara dengan kawan-kawan, musuh-musuh dan kerabatnya. Ia bisa ikut makan siang dengan subjek di rumahnya, sambil mencatat. Kata pertama sering melancarkan perbincangan hingga kata penutup membuat keutuhan sebuah wawancara.

Adakalanya ada detail yang hilang yang kita abaikan selama berhari-hari. Belakangan baru kita tahu ada yang kurang. Jika demikian yang terjadi, carilah lagi informasi yang bermanfaat bagi pembaca.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Memahami Teknik Wawancara”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

Bagaimana cara memperbaiki penutup wawancara yang salah?

Saya ingin tahu apa saja teknik wawancara


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: