Mengenal Korea Melalui 12 Cerpen

Posted on 18 Januari 2008. Filed under: Resensi |

Kecenderungan karya sastra negeri Ginseng kian berterima di Tanah Air. Serbaneka karya sastra Korea ternyata sudah merambah ke negeri gemah ripah loh jinawi. Oleh karena itu, masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia semakin mengenal Korea melalui karya sastra. Peluncuran buku “Laut dan Kupu-Kupu: Kumpulan Cerpen Korea” menunjukkan kehadiran 12 cerpen negeri Ginseng yang penulisannya mirip dengan perilaku dan budaya di Republik Indonesia. Adakah nilai-nilai prinsip yang berbeda dengan karya sastra Indonesia?

Teknis terjemahan dua belas cerita pendek atau cerpen Korea, menurut Profesor Doktor Koh Young Hun (penerjemah), sangat sedikit perkembangan spiritual yang jujur ada di dalam karya sastra pada umumnya. “Bacalah cerpen Korea ini, ada perkembangan spiritual yang sangat menarik. Semua berkecamuk. Itu yang membedakan dengan karya sastra lain. Di industri populer hal ini tidak ada,” kata Pak Koh, panggilan akrab pengajar di Departemen of Malay-Indonesian Studies, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea.

Mengenal Korea Melalui Karya Sastra Senada dengan pendapat Prof. Koh, rekan penerjemah yang lain Tommy Christommy, 49 tahun, pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan Associate Professor Hankuk University of Foreign Studies, Seoul menambahkan, karya sastra Korea, penulisnya lebih jujur. Orang tua boleh didebat, misalnya. Oase kejujuran ini terjadi di tengah-tengah masyarakat Korea masuk dalam negara ketujuh besar sebagai negara yang patut diperhitungkan. “Kalau marah harus marah, terekspresi dengan jelas,” ujar peraih Ph.D. dalam kajian wilayah Asia Tenggara dari Australian National University, Kanbera.

Peluncuran cerita pendek Korea “Laut dan Kupu-Kupu: Kumpulan Cerpen Korea” (370 + xix halaman) di Bentara Budaya Jakarta, Kamis 17/1 ini mengungkap dengan lebih jelas sosok Korea dalam serbaneka kehidupan melalui kedua belas cerpen pilihan. Diterjemahkan oleh Koh Young Hun dan Tommy Christomy. Kedua belas cerpen ini mewakili mulai dari perjalanan cerpen Korea sejak perang Korea 1950, zaman industrialisasi, gerakan rakyat nasionalis, hingga imajinasi baru abad ke-21.

Laut dan Kupu-Kupu Maman S. Mahayana, 51 tahun, penulis Kata Pengantar yang bertindak sebagai moderator bedah buku, bahwa kesan terjemahan pada buku ini tidak terasa. Detail pengarang kuat sekali. Pembaca bisa memahami gambaran pegunungan, bukit, meski tempat itu belum pernah dikunjungi. Latar belakangnya kuat. “Ini menjadi inspirasi tokoh agar jangan meninggalkan ketokohannya,” ujar pengamat sastra ini.

Embrio terjemahan menurut Prof. Koh bermula dari ajakan STA (Sutan Takdir Alisyahbana). Waktu itu, 20 tahun yang lalu, di ruang direktur Unas Jakarta, STA meminta tolong terjemahkan karya Korea untuk negara Indonesia. Suruhan ini tidak bisa segera terlaksana. “Saya malas,” ujar pengajar bahasa Korea di Universitas Nasional, Jakarta (1988–1900). Ia menambahkan, apalagi di kalangan akademisi Korea pada umumnya dosen lebih senang membuat makalah. “Menerjemahkan buku tidak bisa naik pangkat. Menerjemahkan itu kerja yang membosankan.”

Menurut Prof. Koh, budaya priyayi ada juga di Korea. Itu sebenarnya kesamaan Korea dengan Indonesia. Pertukaran budaya, walau tak memuaskan juga ada. Selain itu, kalau di Korea tidak begitu banyak majalah sastra, meski ada Dewan Bahasa dan Sastra Korea dan setiap tahun diadakan pemberian hadiah sastra. Peraih gelar doktor dalam bidang sastra Indonesia dari University of Malaya, Kuala Lumpur dengan tesis berjuluk “Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-Novel Mutakhirnya” ini berharap, mudah-mudahan lebih banyak sastrawan Indonesia diundang ke Korea.

kumpulan cerpen Korea

Pilihan kedua belas cerpen yang dibukukan ini bermula dari kunjungan sepuluh orang yang melawat ke Indonesia dan mengadakan simposium di Universitas Indonesia, kata Prof. Koh. “Penerbitan buku ini tepat waktu karena film-film Korea dan kesenian tradisional Korea mulai aktif diperkenalkan.” Buku terjemahan selesai selama satu tahun. Bertindak sebagai editor, Hamsad Rangkuti (sastrawan).

Peluncuran dan bedah buku ini menjadi semarak dengan pementasan salah satu cerpen. “Kerja, Nasi, Kebebasan” karya Kim Nam Il sebagai karya sastra gerakan rakyat nasionalis Korea pada 1980-an diterjemahkan dalam bentuk gerak. Persiapan pementasan memakan waktu satu minggu. “Meski sutradara sempat tidak mau mementaskan, tapi saya ancam dengan berbagai cara, akhirnya tampil seperti sekarang ini,” komentar Maman S. Mahayana. Berikut ini konsep garapan yang mendramatisasikan pementasan cerpen Korea itu.

PEMENTASAN CERPEN KOREA KERJA, NASI, KEBEBASAN KARYA KIM NAM IL
OLEH SANGGAR SENI OBOR SAKTI BOGOR BEKERJA SAMA DENGAN
LABORATORIUM KESENIAN FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PAKUAN
Sutradara: Atang Supriatna
Para Pemain: (1) Bram, (2) Indri Prasetyanti, (3) Jamal Gentayangan, (4) Ulis lyok, (5) Khampheng

Konsep Garapan
Cerpen “Kerja, Nasi, Kebebssan” karya Kim Nam Il menceritakan sebuah masyarakat kelas pekerja yang seperti tidak dapat melepaskan diri dari belenggu rutinitas sistem kerja. Semacam potret sosial ketika masyarakat Korea terjerat oleh situasi global. Di sana, paradigma komunikasi yang harusnya membangun hubungan lebih akrab, justru terjadi sebaliknya. Komunikasi elektronik pada kenyataannya, miskin pesan karena esensi komunikasi manusia adalah bahasa tubuh.

Begitulah, saya memilih menggarap cerpen itu untuk pementasan ini, dibandingkan cerpen lain yang tampak lebih kontemplatif. Alasan lainnya adalah adanya kekhawatiran saya kehilangan sublimitasnya mengingat proses garap yang sangat pendek.

Bagaimana tema cerpen itu diterjemahkan sebagai pementasan yang menekankan bahasa gerak dan terikat oleh ruang? Sebagai karya terjemahan, cerpen itu telah mengalami sedikitnya tiga tahap penafsiran: (1) tafsir pembaca teks dalam bahasa pertama, (2) tafsir penerjemah, (3) tafsir pembaca teks terjemahan. Sebagai pembaca karya terjemahan, secara keseluruhan, saya tak menghadapi persoalan serius memahami antologi cerpen ini mengingat terjemahannya yang sangat baik. Jadi, meskipun saya tidak dapat menangkap rasa bahasanya (bahasa Korea), saya masih menemukan kekuatan rasa estetiknya yang begitu menekan, sehingga memberi impresi yang kuat yang sekaligus menimbulkan kegairahan daya ungkap.

Masalahnya ternyata tidak berhenti sampai di sana. Masalah laim terjadi ketika pemahaman saya itu harus diterjemahkan kembali dalam bentuk pementasan. Saya harus mempertimbangkan aspek lain berkenaan dengan segala perangkat pementasan. Di situlah tafsir berikutnya terjadi. Penari, aktor, dan pemusik coba menafsirkan cerpen itu sesuai dengan kapasitasnya. Maka, setain tampak adanya semacam keliaran imajinatif, juga ada ruang kebebasan tafsir yang kemudian menjelma gerak ekspresif dan bunyi. Oleh karena itu, dalam garapan ini, eksplorasi isi lebih dominan dibandingkan eksplorasi bentuk.

12 Cerpen Korea Pada akhirnya, saya menyadari bahwa setiap kreativitas menuntut adanya berbagai kebaruan daya ungkap. Bagaimanapun juga, karya seni berada dalam posisi sangat personal yang mencerminkan elan vital yang menjadi jiwa karya yang bersangkutan. Jadi, dalam pementasan ini, saya coba tetap setia pada elan vital itu.

Selamat menikmati!
Bogor, 16 Januari 2008
Atang Supriatna

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

7 Tanggapan to “Mengenal Korea Melalui 12 Cerpen”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

Terima kasih ulasannya, dengarkan di Kabar Buku BBC juga

harganya berapa pak?

saya baru beli bukunya dan saya terlibat emosi di di dalamnya. Perspektif baru mempelajari sastra Korea. Sangat menarik menambah wawasan..Permisi saya menyimpan tuulisan blognya…menarik.salam!

ketika saya membaca buku tentang laut dan kupu-kupu, saya langsung tertarik untuk saya jadikan sebagai bahan skripsi saya? dalam hal ini saya meneliti tentang Hubungan antara Kritik Sosial dan Protes Sosial.

Waduh pengen beli tuh…
Beli dimana and harganya berapa??

Saya sangat kagum dengan tulisan2nya..harap d beri kiat2nya..bgmn cra mnulis sbuah karya yg bgs dan menarik..

[…] sebuah artikel yang berjudul Mengenal Korea melalui 12 Cerpen (https://johnherf.wordpress.com/2008/01/18/mengenal-korea-melalui-12-cerpen/), di sana disebutkan salah sebuah pendapat Profesor Doktor Koh Young Hun bahwa dalam kumpulan […]


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: