Akselerasi Kerja bagi Orang Muda

Posted on 18 Desember 2007. Filed under: Karangan Khas |

Orang muda zaman digital ingin cepat mewujudkan cita-cita. Ia bersegera-berhasrat menggebu-gebu demi pencapaian atas minat yang tersedia di depan mata. Percepatan atau akselerasi pekerja antara hasrat dan minat pada komunitas orang muda sering berbenturan dengan visi dan misi orang tua. Sejauhmana peran orang tua menjaga dan mendukung pencapaian cita-cita orang muda di tempat ia bekerja?

Kecenderungan orang muda ingin mewujudkan segera serbaneka cita-cita. Orang muda identik dengan bekerja cepat, bekerja berkualitas dan bekerja efisien. Itu pola lama. Pola kerja semacam itu memang menjadi idaman bagi pemilik perusahaan di tempat ia bekerja. Kalau sudah terjadi interaksi antara orang tua dan orang muda menuju pencapaian cita-cita demi mewujudkan keberhasilan perusahaan terus-menerus, siapa pun turut mendukung dengan sepenuh-penuhnya.

Sekarang pola kerja orang muda maunya serbainstan, serbacepat, serbakualitas, dan serba-efisien. Namun, ia kerap menjadi batu sandungan bagi orang tua manakala muncul mental menerabas. Mentalitas menerabas tanpa mata tanpa hati, lagi-lagi justru menimbulkan kekhawatiran. Rasa khawatir, cemas, gelisah, waswas, curiga berlebihan dan ekstrahati-hati kerap muncul dari sikap orang tua. Oleh karena itu, majulah maju bagi orang muda yang memanfaatkan digitalisasi dengan tetap berpegang teguh pada prinsip orang tua yang menjaga kenyamanan dan kenikmatan hidup. Orang tua saat ini sedang menikmati keberhasilan perusahaan.

Pegangan pokok dalam dunia kerja bagi orang tua kebanyakan terdiri atas visi, misi, rancangan kerja, sumber daya manusia dan sumber daya modal, keterampilan profesional, dan insentif yang memadai. Oleh karena itu, saat orang tua bekerja hingga saat ini, ia tetap berpegang teguh pada visi dan misi yang menuju keberhasilan perusahaan.

Kecenderungan cara bekerja orang muda di era digitalisasi ini tampak antara lain:

1. menghilangkan visi;

2. melenyapkan misi;

3. mengabaikan rancangan kerja;

4. mengesampingkan sumber daya modal yang memadai seraya menepis kemampuan profesional sumber daya manusia;

5. menganggap sepele kemampuan profesional dengan mempertahankan asas kroni, asas primordial, asas nepotisme;

6. melemahkan daya dorong dan motivasi kerja dengan insentif yang jauh dari memadai.

Keenam unsur untuk mencapai keberhasilan perusahaan saling berkaitan erat. Namun, dalam praktik, orang muda belum memiliki fondasi untuk mewujudkan keberhasilan kerja yang memuaskan. Sering terjadi salah satu unsur bagi orang muda dengan sengaja dihilangkan. Kalau sudah terjadi seperti itu, hasil kerjanya, seperti pengembangan tanpa arah atau pengembangan yang tersendat-sendat jika mengabaikan unsur visi dan misi kerja. Bahkan orang muda yang ingin cepat dengan penuh nafsu mewujudkan hasrat pencapaiannya sering mengakibatkan pemborosan, frustasi, dan keragu-raguan yang menggerogoti kemajuan perusahaan.

Orang muda dalam kategori ini di kalangan dunia bisnis mencapai umur 45 tahun. Batasan orang muda produktif antara umur 35 dan 45 tahun. Oleh karena itu, umur di atas 45 perlahan-lahan mulai memasuki masa purnabakti di usia 60 tahun yang memberi pedoman kerja bagi orang muda. Tantangan orang muda pada era digitalisasi terhadap kehidupan sesamanya dan kepentingan perusahaan yang bervisi global justru terbuka seluas-luasnya sebagai peluang.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: