Revolusi Daya Beli

Posted on 14 Desember 2007. Filed under: Karangan Khas |

Perkembangan hidup dan kehidupan bermasyarakat saat ini menuju era digital, era menuju ekonomi bebas, dan era reformasi dalam dunia pendidikan. Kalau serbaneka hidup dan kehidupan saat ini berkaitan dengan era ekonomi bebas, semakin tumbuh dan berkembang pesat pula serbaneka barang murah dengan harga terjangkau. Sejauhmana daya beli mempengaruhi tersedianya barang murah dengan harga terjangkau merasuk ke dalam sistem ekonomi masyarakat di dalam kehidupan sehari-hari?

Kemudahan berdagang barang kelontong atau barang pecah belah, seperti panci, ember, tempat makan, tempat minum, perlengkapan dapur rumah tangga, sungguh mudah diperoleh dengan harga yang memadai. Barang elektronik semacam radio kaset, keping cakram DVD, telepon selular, saat ini begitu mudah dibeli. Bahkan ada sinyalemen harga mobil yang baru mulai tahun 2008 sejenis kendaraan keluarga dapat diperoleh dengan uang sejumlah lima puluh jutaan. Mainan anak-anak dengan serbaneka pernik menjadi aksesori anak di mana-mana; mainan ini gampang diperoleh dengan harga yang semakin memurah pula.

Serbaneka kemudahan memiliki barang dengan harga yang terjangkau sungguh melegakan hati; sebagian kesulitan perolehan barang sudah dapat diatasi. Kalau muncul keinginan yang menggebu, cukup kumpul-kumpul uang dalam waktu singkat barang itu sudah ada di hadapan mata. Gampang dan mudah, murah dan sesuai selera. Tak ‘kan lama-lama lagi perlu waktu untuk menabung, keinginan memiliki barang dapat dengan mudah diadakan.

Kemudahan memperoleh barang dengan harga yang terjangkau berlangsung pada pertengahan 2007. Pada 2008 kemudahan memiliki barang semakin mudah lagi manakala barang buatan pabrik atau sentuhan tangan terampil dari negeri Tirai Bambu kian merasuk ke dalam suksma ekonomi masyarakat. Produk negeri Tirai Bambu menjadi harapan perbaikan ekonomi keluarga. Konon negeri ini menjanjikan upah buruh yang murah, ongkos industri yang irit, bahkan produsen barang dari negara manapun begitu tertarik dengan kebijakan Pemerintah Cina.

Seorang ibu penyalur barang plastik buatan Tupperware pernah merasa senang. Keriangan muncul saat barang dagangan dari merk terkenal keluaran produk jaringan perdagangan profesional Tupperware sangat dicari-cari oleh pelanggan. Produk ini menjadi obat penawar yang mengatasi kesulitan bawaan kaum wanita, seperti obat-obatan, makanan dan minuman. Namun, keriangan itu sekarang tinggal kenangan manakala barang buatan negeri Tirai Bambu memangkas hingga perubahan harga besar-besaran. “Harga barang yang sudah didiskon, dan ditambah diskon lagi tetap enggak ada yang beli,” keluhnya seraya memberi alasan penguat bahwa keengganan beli barang dagangannya lantaran produk Cina mampu mengatasi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau.

Era ini berlangsung pada tahun 1900-an sampai dengan 2000-an. Demikian pula dari negeri Groningen industri berat dari negara Jerman atau negara Eropa yang lain. Industri berat dari Asia juga semakin merambah ke seantero dapur ibu-ibu rumah tangga. Pada saat ini harga sebagian alat kebutuhan sehari-hari masih tergolong mahal. Jauh dari jangkauan ekonomi keluarga di Indonesia.

Tatkala industri rumahan mengisi kekosongan dengan harga yang memurah, saat ini kesulitan itu teratasi. Kesulitan hidup berubah menjadi kebahagiaan. Dengan harga yang memurah, sebagian besar masyarakat dapat memiliki barang yang sama. Meski dari segi kualitas jauh dari daya tahan barang itu sendiri, tampaknya sebagian besar masyarakat di Indonesia menepis jauh-jauh karena yang terpenting memenuhi keinginan hatinya. Kalau semua harga menjadi memurah dan menjangkau sebagian besar kebutuhan masyarakat sehari-hari disebut revolusi daya beli.

Perubahan yang cukup mendasar dalam mengukur kemampuan atau daya beli masyarakat jadi tren. Masyarakat semakin menikmati keinginan atas kebutuhan hidup yang dijual dengan harga terjangkau. Begitu itulah revolusi daya beli pada tahun 2007 terjadi di negara Republik Indonesia.****

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: