Menikmati vs Menghindari Micin Penyedap Masakan

Posted on 14 November 2007. Filed under: Opini |

Tanpa garam masakan serasa belum lengkap. Tanpa micin sebuah masakan hambar tak terasa sedap. Sejauhmana micin menjadi bumbu penyedap masakan yang wajib ada pada setiap rumah tangga?

Serbaneka lembaga riset di Amerika, Eropa, Jepang, Australia, Taiwan, Thailand, dan Indonesia pernah meneliti keamanan penggunaan vetsin atau monosodium glutamat (MSG). Hasilnya mengukuhkan vetsin atau MSG sebagai bumbu masak yang aman. Pengukuhan ini seolah-olah mendapat penguatan, sejak food and drag administration atau FDA mencantumkan vetsin atau MSG ke dalam daftar generally recognized as safe atau GRAS. Tingkat keamanan vetsin atau MSG menurut GRAS setara dengan penggunaan garam dan gula.

Pada 1970, 1973, 1987 organisasi kesehatan sedunia (World Health Organization) yang bermukin di Jenewa, Swis dan organisasi pangan dan pertanian (Food and Agriculture Organization) menegaskan keamanan vetsin atau MSG tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, Persatuan Pabrik Monosodium dan Glutamate dan Glutamic Acid Indonesia (P2MI) aktif menjelaskan manfaat vetsin atau MSG.

Vetsin, MSG atau bahasa sehari-harinya “micin” bersumber dari tetes tebu sebagai hasil penggilingan gula di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah plus bahan nabati atau tumbuh-tumbuhan seperti tapioka. Namun, ada sejumlah penikmat masakan yang menghindari micin.

Menurut Maria Silabakti, organis, penikmat serbaneka masakan, ia menghindari micin lantaran salah satu bahan untuk micin dapat memengaruhi cara kerja otak. “Kita menjadi lambat berpikir, mudah lupa,” kata penikmat masakan apa pun ini mantap, seraya menambahkan, selain itu, micin berbahan dasar dari bahan alami, misalnya minyak bumi atau bahan buatan.

Ia menegaskan bahan buatan ini yang berasal dari minyak bumi atau bahan-bahan lain seperti di negeri Tirai Bambu. “Contoh di Cina, ada telur buatan yang dibikin dari tepung dan sebagainya, tetapi hasilnya seperti telur asli,” ujar Maria Silabakti seraya meyakinkan wacana semacam itu pernah ada di milis. Meski demikian, menurut buku “MSG Vetsin” yang diterbitkan oleh P2MI, desas-desus bahwa di luar negeri ada MSG yang diolah dari bahan baku sisa minyak bumi itu perlu dibantah karena tidak benar.

Maria Silabakti, penikmat serbaneka masakan menambahkan, micin sebetulnya kata yang muncul karena salah pengucapan saja dan demi kemudahan pelafalan. “Saya sendiri kalau di warung-warung bilangnya juga micin. Kalau bilang vetsin, pedagang tidak mengerti, bahkan kadang-kadang saya bilang Sasa atau Miwon atau Ajino Moto supaya jelas, hehehe,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Christina Sri Harsini, ketika ditanya kenapa makan tanpa micin, katanya kurang tahu juga saya. Kata orang, tambah Ninuk, panggilan akrabnya, kalau kebanyakan vetsin bisa bikin kanker.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “Menikmati vs Menghindari Micin Penyedap Masakan”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

micin adalah politik dunia yang terbuat dari 3 bahan yang haramm di konsumsi di antaranya adalah minyak babi. micin di ciptakan untuk menghancurkan umat islam di indonesia. micin tidak bisa di cerna oleh tubuh manusia dan mengandung virus yang mematikan yang mengakibatkan semua penyakit itu timbul. para dokter dan ilmuan serta pemerintah negara di sogok untuk merahasiakanya. micin sangat bagus untuk ikan dan tambak tambak ikan. dan bisa untung besar jika para penambak ikat di pupuk dengan micin.

thanks for tha info
more about msg…
visit us…

trkait mnyak babi, apa itu trdapat di semua micin? kl ya, knp MUI mendiamkannya?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: