Bahasa Penilaian Buku SD

Posted on 11 November 2007. Filed under: Bahasaku-Bahasamu |

Sosialisasi penilaian buku sekolah dasar dianggap kurang memadai. Padahal, sosialisasi berupa seminar kerap diselenggarakan oleh lembaga kebahasaan. Apa dan bagaimana penilaian buku sekolah dasar jika ditinjau dari aspek bahasa?

Dari sisi penulis buku pelajaran boleh jadi buku rujukan yang wajib dimiliki belum jelas benar. Apalagi jika penulis dianggap belum cukup berpengalaman. Biasanya editor dari penerbit buku yang menyampaikan buku apa saja yang patut mendapat perhatian bagi penulis buku pelajaran sekolah dasar (SD). Bagi penerbit persoalan kelengkapan buku sering jadi pegangan untuk buku yang masuk kategori dinilai, terutama buku pelajaran yang dinilai dari segi bahasanya. Kelengkapan buku pegangan penulis buku pelajaran yang wajib sebagai pedoman penulisan antara lain,

1.       Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

2.       Pedoman Umum Pembentukan Istilah

3.       Kalimat Efektif

4.       Diksi (Pemilihan dan Pembentukan Kata)

5.       Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia

6.       Kamus Besar Bahasa Indonesia

Berdasarkan keenam buku itu, penulis dapat mempelajari dan menyesuaikan isi pernyataan untuk buku pelajaran seperti berikut ini.

a.       Ejaan berkaitan dengan pemakaian huruf, penulisan kata, penggunaan tanda baca;

b.      Kalimat berkaitan dengan subjek, predikat, objek, keterangan;

c.       Diksi berkaitan dengan pilihan kata yang hemat dan tepat;

d.      Paragraf berkaitan dengan kesatuan dan kepaduan (koherensi);

e.      Pernalaran berkaitan dengan kata dan kalimat yang logis (dapat diterima akal sehat).

Di kalangan penerbit yang kerap mengajukan buku pelajaran untuk dinilai, pada praktiknya memiliki urut-urutan yang jelas. Penilaian buku dari segi kebahasaan mengikuti kriteria dan format yang sangat sederhana.

I.                    Buku Bacaan A

a.       Ejaan = 65

b.      Kalimat = 75

c.       Diksi/Pilihan Kata = 80

d.      Paragraf/Pernalaran = 80

Penilaiannya bisa saja terjadi bahwa buku bacaan A lulus karena nilai rata-ratanya 70 ke atas. Namun, buku yang dinilai lulus ini harus disunting ejaannya.

II.                  Buku Bacaan B

a.       Ejaan = 70

b.      Kalimat = 60

c.       Diksi/Pilihan Kata = 75

d.      Paragraf/Pernalaran = 80

Penilaiannya juga bisa terjadi bahwa buku bacaan B lulus karena nilai rata-ratanya 70 ke atas. Namun, buku yang dinilai lulus harus disunting kalimatnya.

III.                Buku Bacaan C

a.       Ejaan = 65

b.      Kalimat = 60

c.       Diksi/Pilihan Kata = 65

d.      Paragraf/Pernalaran = 70

Sementara itu, buku bacaan C tidak lulus karena nilai rata-ratanya kurang dari 70. Dalam hal ini, mungkin dapat diterbitkan setelah direvisi oleh penulis dan diperbaiki bahasanya.

IV.                Buku Bacaan D

a.       Ejaan = 50

b.      Kalimat = 55

c.       Diksi/Pilihan Kata = 55

d.      Paragraf/Pernalaran = 50

Buku bacaan D tidak lulus karena nilai rata-ratanya jauh di bawah 70, bahkan di bawah 60, tidak diterbitkan dan harus dikembalikan kepada penulisnya.

Atas dasar itu, berlaku pepatah lama bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik; pengalaman menjadi pelajaran terbaik. Namun, kenyataannya sering terjadi, buku yang dinyatakan lulus langsung diterbitkan. Padahal, penilainya sudah pernah menyarankan bahwa segi ejaan atau segi kalimat buku pelajaran itu harus disunting terlebih dahulu. Kasus-kasus seperti buku yang dinyatakan lulus dengan catatan wajib dilakukan perbaikan seperti itulah, menurut Profesor Zaenal Arifin yang membuat pembinaan bahasa yang digalakkan oleh Pusat Bahasa belum memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Itu pulalah  penyebabnya, antara lain, kata pengarang buku “Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah” masih tetap ada kesalahan berbahasa dalam masyarakat, bahkan makin menjadi-jadi. Solusinya, kata Profesor Zaenal Arifin, penulis, penerbit, pejabat harus memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia. “Sikap positif diwujudkan dalam kebanggaan berbahasa, kesetiaan berbahasa, dan kesadaran akan adanya norma atau kaidah bahasa yang harus dipatuhi,” ujar pengarang buku “Morfologi” ini mantap.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: