Tren Cetak Terbatas Sesuai Pesanan

Posted on 25 Oktober 2007. Filed under: Karangan Khas |

Print on demand atau cetak terbatas sesuai permintaan semakin menggejala. Tak ada lagi keruwetan bahwa mencetak naskah harus mencapai sejumlah eksemplar tertentu. Serbaneka pencetakan berskala serbacepat, serbatangkas, serba-terukur karena dipercepat, dipangkas sumber daya manusianya, dan distandarisasikan kualitasnya berkat print on demand. Namun, sejauh mana cetak terbatas sesuai permintaan itu berterima di kalangan penulis dan penerbit?

Dahulu, kalau mau mencetak naskah dengan ide yang cemerlang serbacepat, tak ‘kan mungkin diwujudkan.  Apalagi supercepat yang berkualitas. Semakin diragukan lagi kenyataan itu mampu diwujudkan dengan baik. Namun, kenyataan sekarang sangat bertolak belakang, serbaneka permasalahan cetak-mencetak yang memperlambat sangat berbeda dengan situasi dan kemampuan mesin pada saat ini. Itu sudah menjadi rahasia umum. Cerita usang masa lalu.

Di kalangan penerbit media massa tersebar luas info, cetak terbatas bukan lagi persoalan utama, melainkan kemudahan yang mampu diwujudkan. Penulis dan penerbit yang terikat dengan tenggat dapat melakukan pesanan hanya dalam hitungan hari, bahkan jam. Percetakan sekarang mampu mewujudkan permintaan dengan sepuluh eksemplar sekalipun. Namun, cetak terbatas tetap memiliki aturan juga.

Biasanya cetak terbatas sesuai permintaan dapat dipenuhi dalam hitungan dua kali dua puluh empat jam. Bisa juga lebih cepat dengan beberapa pertimbangan. Pertama, naskah yang dicetak merupakan naskah biasa. Bukan rumus-rumus seperti matematika, kimia, fisika yang ekstrateliti dan ekstrahati-hati, melainkan teks penuh mirip karya sastra seperti novel, kumpulan cerita pendek, dan biografi. Kedua, jilid naskah yang dicetak seperti jilid kawat dan lem. Ketiga, jilid naskah yang dicetak bukan jilid naskah jahit atau benang. Yang terakhir ini barulah berhasil dikerjakan kalau masa edar lebih dari sehari. Alasannya, jilid benang memerlukan prosedur yang lebih panjang dan berliku. Lebih lama pengerjaannya, apalagi kalau secara manual dijahit, kecuali jahit benang dilakukan dengan proses jilid benang di mesin Krisc seperti di percetakan Gramedia.

Atas dasar itu, jilid benang untuk naskah yang masuk kategori print on demand biasanya waktu cetak lebih diperpanjang. Meski demikian, jilid naskah dengan benang memiliki masa awet lebih panjang pula. Misalnya naskah yang menjadi buku karya HAR Tilaar, J.A. Katili, Jakob Oetama, Bill Gates, dengan ketebalan ratusan halaman, naskah ini layak dijadikan buku dokumen. Oleh karena itu, kalau buku sejenis referensi yang masa awetnya diproyeksikan tahunan, maka jilid benang sebagai pilihan yang tepat. Nah, penulis dan penerbit tentu menyambut baik tren penawaran dengan kecepatan cetak dengan kualitas yang semakin mumpuni.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: