Perjalanan Mudik ke Kampung Halaman

Posted on 10 Oktober 2007. Filed under: Percik Pengalaman |

Sejumlah kata umum dan kata khusus bermunculan menyambut semarak Idul Fitri. Beberapa contoh kata dan istilah itu, seperti mudik (pulang kampung), ketupat, te-ha-er, salat Ied, takbiran, beduk, kartu lebaran, silaturahmi, parsel, dan hari H. Yang menarik dari seputar kata dan istilah Idul Fitri, ternyata tetap yang uniklah yang bertahan sebagai tradisi. Untuk itu, Deisya Rasikania, 18 tahun mahasiswi dari Politeknik Negeri Jakarta punya cerita dan kisahnya.

Mudik lebaran di tahun 1998 merupakan perjalanan mudik terpanjang dan paling berkesan (dari sekian banyak lebaran yang kulewati). Lebaran saat itu menghabiskan waktu selama dua minggu di sepanjang perjalanan, dan seminggu di kediaman nenek.

Saat itu, aku dan keluargaku memulai perjalanan dari rumah kami di kota kecil, Ende di pulau Flores. Kami berangkat dengan membawa mobil pribadi, Kijang, yang saat itu terkenal dengan iklannya yang memuat seluruh keluarga. Ya, seperti itulah rombongan kami: aku, ayah, ibu, adik dan pamanku. Kami membawa banyak perbekalan dan oleh-oleh. Namun, oleh-oleh yang dibawa cukup unik, yakni sekarung batu-batuan kecil berwarna hijau dan biru, yang kami beli dipinggir pantai. Batu itu merupakan batu hias untuk di taman dan merupakan batu yang jarang ditemui di pulau Jawa.

Perjalanan di pulau Flores menyajikan pemandangan alam yang menakjubkan di setiap jalan. Hamparan dataran rendah dengan rumput-rumputnya dan pemandangan di pinggir pantai membuat kami semakin mengagumi dan mensyukuri ciptaan-Nya. Apalagi perjalanan dilakukan pada bulan ramadan menjelang lebaran. Di pulau ini tak banyak rumah penduduk yang kami temui. Masjid-masjid pun sangat jarang, mengingat umat Islam merupakan minoritas penduduk.

Dari Flores menuju ke Sumbawa menggunakan kapal Ferry. Penyeberangan ke Sumbawa memakan waktu sekitar delapan sampai sebelas jam. Penyeberangan ini juga melewati dua pulau objek wisata di Nusa Tenggara Timur, pulau Komodo dan pulau Bica. Sampai di Sumbawa, kami mendapati pemandangan yang berbeda, yakni pasar tradisional penduduk yang dipenuhi oleh orang-orang yang mengenakan sarung. Sarung tersebut tidak hanya dipakai untuk menutupi bagian kaki, tetapi juga bagian wajah. Jadi, penampilan masyarakat di tempat itu seperti “ninja-ninja”. Mereka kebanyakan datang menaiki delman. Begitulah perjalanan di pulau Sumbawa dan Mataram, banyak delman, hamparan padang rumput savana, kuda-kuda menghiasi padang rumput, masjid di setiap tempat dan orang-orang bak “ninja”.

Lain halnya di Bali. Selain pemandangan yang indah, kebudayaan masyarakat pun berbeda. Ada satu pengalaman menarik. Ketika kami melewati sebuah sungai, kami melihat beberapa orang, pria dan wanita sedang mandi di sungai. Mereka sama sekali tidak mengenakan busana. Astaghfirullah, kami disajikan reality show di bulan ramadan dari layar kaca mobil.

Lain di Flores, Bali dan Mataram, di Jawa, arus mudik lebaran semakin terasa. Kami mengambil jalur selatan pulau Jawa untuk menghindari kepadatan kendaraan di jalan. Namun, benar saja, ternyata di sepanjang perjalanan kami nyaris selalu terjebak macet. Pemandangannya sungguh kontras dengan perjalanan sebelumnya. Begitulah perjalanan mudik selama seminggu ke kampung halaman dari Garut, Jawa Barat.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: